
Ke esokkan harinya Aulia membersihkan rumahnya dan setelah semuanya selesai, dia segera melangkahkan kakinya menuju dapur dimana dia sudah menyiapkan makanannya sejak pagi. Aulia menatap satu-persatu kursi dimana kakak dan neneknya duduk untuk makan bersama. Tapi pagi itu dia hanya makan sendiri.
Aulia adalah seorang laki-laki tapi air matanya begitu mudah untuk mengalir jika mengingat nenek dan kakeknya, Aulia merasa dirinyalah yang menyebabkan kematian kakek dan neneknya jika dia bukan seorang harimau jadi-jadian maka tidak akan ada kejadian seperti ini.
"Tidak aku tidak ingin terus-menerus dalam kesedihan seperti ini," ucapnya dia menyeka air matanya. Setelah selesai makan Aulia pun segera pergi ke kebunnya, sampainya di kebun itu dia melihat semua tanaman begitu subur.
"Nenek lihatlah kebun yang nenek tinggalkan begitu sangat subur dan hijau Aulia tidak tahu sampai kapan harus menjaganya," ucapnya.
Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kebun itu dan membersihkan rumput-rumput yang mulai tumbuh agar tidak merusak tanaman tersebut.
DI TEMPAT LAIN
Bara berada di warung Gadis disana dia tidak memakan apapun.
"Bara kenapa kamu melamun saja? apa kamu tidak ingin memakan sesuatu?" tanya Gadis yang berdiri di depan Bara.
Bara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"O-iya Aulia ke mana biasanya kalian selalu berdua?" tanya Gadis.
"Gak tahu mungkin dia berada di rumahnya," jawab Bara.
"Mmm... Apa kalian lagi berantem?" tanya Gadis dia pun menarik sebuah kursi dan duduk di samping Bara.
"Tidak kami berdua tidak pernah bertengkar untuk apa kami harus bertengkar," jawab Bara.
"Mana tahu kaliankan suka seperti itu, kadang bertengkar kadang baikkan lagi seperti anak kecil," ucap Gadis tersenyum.
Bara hanya membalas senyuman.
"O-iya Gadis aku mau tanya sesuatu sama kamu," ucap Bara.
"Tentu saja mau tanya apa," jawab Gadis.
__ADS_1
"Apa kamu masih mengharapkan cintanya Aulia?" tanya Bara menatap lurus ke mata Gadis.
Mendadak hening sesaat. Kemudian Gadis pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Aku butuh jawaban kamu, bukan hanya bahasa isyarat seperti itu," ucap Bara.
"Tidak, aku sudah tidak mengharapkan cintanya. Kamu tahukan kita bertiga sudah berteman sejak kecil. Jadi aku tidak mau hanya karena cintaiku kepada Aulia dan aku tidak ingin bersahabatan kita hancur hanya karena cinta." Gadis pun tersenyum.
Setelah mereka bercerita panjang, tiba-tiba datang segerombolan anak muda masuk ke dalam warung Gadis meraka adalah anak-anak muda dari desa sebrang.
"Buk kami pesan cemilan sama kopi hitam lima ya buk." Pesan anak muda itu.
"Hei kalian masih ingat gak orang desa sebelah yang di serang harimau itu," ucap salah satu anak muda itu.
"Masihlah emngnya kenapa?" tanya yang lain.
"Mereka keren banget kan mereka bisa berubah wujud gitu," jawabnya.
"Kamu sudah gila! apa, masak harimau jadi-jadian di bilang keren mereka itu jahat," ucap yang lainnya.
"Kalau kejadian tersebut menimpa kamu sendiri, apa kamu masih bisa bilang kalau itu keren?" tanya temannya.
"Ya gaklah amit-amit," jawabnya.
"Bara aku antar minuman mereka dulu ya," ucap Gadis bangkit dari tempat duduknya.
Bara menganggukkan kepala.
Gadis segera mengatar pesanan anak-anak muda itu.
"Ini bang cemilan sama minumannya," ucap Gadis meletakkan napan kopi itu di atas meja mereka.
"Gadis kamu itu makin hari makin cantik aja, kita udah lama juga gak ketemu," ucap salah satu anak muda itu, dia pun memegang tangan Gadis.
__ADS_1
"Apa-apaan ini lepasin!'' Gadis menarik-narik tangannya agar lepas dari pegangan orang itu.
"Duduk dulu dong temanni kita minum." tanpa melepaskan genggamannya.
Bara melihat kejadian itu dia mengambil satu buah batu grigil dan melemparnya ke arah pemuda itu. Dengan cepat Bara mengalihkan pandangannya agar mereka tidak tahu siapa yang melempar.
"Aduhh! siapa yang melempar saya?" tanya pemuda itu sambil mengusap kepalanya.
"Mana kita tahu, setan! kali yang lempar," jawab teman-temannya.
Pemuda itu melihat ke arah Bara yang sedang tersenyum pemuda itupun mendekati Bara.
Prak!.. Pemuda itu memukul meja yang berbeda di depan Bara.
"Kau yang sudah melempar saya?" tanya sang pemuda.
Bara hanya diam saja tanpa memperdulikan orang itu.
"Kau jangan macam-macam dengan saya." ucap pemuda itu menatap tajam ke arah Bara.
"Saya tidak melempar kamu, untuk apa saya melepar kamu," ucap Bara sambil menyeruput kopinya.
Pemuda itu mengangkat tangannya dia ingin memukul Bara. Tapi dengan cepat Bara menangkap tangan pemuda itu dan hampir mematahkannya.
"Pergi dari sini atau kau tidak akan selamat." Bara menatap orang itu.
Pemuda itu kembali menghampiri teman-temannya dan mengajak mereka pergi dari warung itu. Setelah mereka pergi, Bara mendekati Gadis dan berdiri di sampingnya.
"Kamu kalau jadi perempuan itu harus kuat kalau aku tidak ada disini, mau jadi apa kamu." Bara pun pergi meninggalkan warung Gadis.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG