Harimau Aulia

Harimau Aulia
Obat untuk Naura


__ADS_3

''Nenek nginaplah disini dulu takutnya nanti Naura sakit lagi temani kami untuk malam ini saja,'' ujar Kaila.


''Baiklah nenek akan tidur disini, Aulia kamu pulanglah dulu karena di rumah kita tidak ada orang tidurlah kamu dengan Bara di rumah,'' ujar Bu Lilis.


''Baiklah nek, nanti kalau terjadi sesuatu panggil saja kita,'' sahut Aulia.


Aulia dan Bara pun pulang ke rumah Aulia. Malam itu mereka berdua tidak tidur sepanjang malam karena mereka ingin berjaga-jaga jika terjadi sesuatu kepada orang kota itu, mereka berdua akan segera datang.


''Aulia boleh aku bertanya sesuatu kepada mu,'' ujar Bara.


''Tentu saja mau tanya apa?'' tanya Aulia.


''Tapi kamu jangan marah ya,'' ujar Bara.


''Emm, iya aku tidak akan marah,'' sahut Aulia tersenyum.


''Apa kamu menyukai Narua?'' tanya Bara.


Aulia menatap Bara setelah mendengar pertanyaannya tentang Naura.


''Tukan tadi katanya tidak marah,'' ujar Bara.


''Siapa yang marah aku gak marah,'' sahut Aulia sambil membaringkan tubuhnya.


''Keliatan dari wajah kamu kalau kamu itu marah, ayo jawab pertanyaan ku tadi,'' ujar Bara.

__ADS_1


''Tidak aku tidak menyukainya,'' sahut Aulia.


''Tidak mungkin kamu tidak suka sama Naura, cara kamu memperlakukan dia itu sangat kelihatan kalau kamu menyukainya, perhatian kamu saat dia sakit seperti itu, kamu begitu khawatir,'' ujar Bara.


''Itu sudah biasa sama siapapun aku perhatian, saat kamu sedang sakit aku juga khawatirkan?'' tanya Aulia.


Subuh pun tiba, Aulia dan Bara melaksanakan salat subuh, setelah berapa menit berlalu Aulia segera ke dapur untuk memasak karena sang nenek tidak ada di rumah.


''Aulia kamu sedang apa?'' tanya Bara melihat Aulia sibuk di dapur.


''Aku lagi buat sarapan pagi buat kita, dan juga untuk orang kota itu pasti mereka belum makan,'' sahut Aulia.


Bara hanya tersenyum saja melihat Aulia.


''Kenapa? kamu senyum-senyum seperti itu?'' tanya Aulia.


''Buat semua orang yang ada di rumah itu, bukan hanya untuknya,'' sahut Aulia.


Aulia dan Bara sudah berada di rumah tempat anak kota itu, Aulia melihat Naura masih terbaring di atas tempat tidurnya Aulia menatapnya tajam tanpa berkedip.


''Perasaan macam apa ini, kenapa? saat aku menatapnya jantungku berdebar kencang,'' batin Aulia sambil memegang dadanya.


''Aulia kamu harus mencari obat untuk Naura karena panas tubuhnya sangat tinggi,'' ujar Bu Lilis.


''Apa? dia sakit nek?'' tanya Aulia.

__ADS_1


''Iya tubuhnya sangat panas,'' sahut Bu Lilis.


''Ya sudah aku akan segera pergi mencari obatnya,'' ujar Aulia.


''Kamu tidak perlu pergi jauh-jauh, di rumah kita ada obatnya ambillah di rumah dan segeralah kembali,'' ujar Bu Lilis.


Aulia pun pergi mengambil obat, tidak butuh lama Aulia sudah kembali ke rumah itu, Bu Lilis segera membuat obat dan meletakkannya di kening Naura.


''Kenapa? kamu menatap Naura seperti itu apakah kamu menyukainya?'' tanya Kaila yang berdiri di samping Aulia.


''Omong kosong apa? yang kamu katakan?'' tanya Aulia.


''Aku tidak berkata omong kosong, aku hanya berkata yang sebenarnya, bawah kamu memang menyukai Nuara,'' ujar Kaila.


''Aku tidak menyukainya aku hanya merasa kasihan saja terhadap dia, itu saja,'' sahut Aulia.


''Aku tidak tahu hati seseorang, tapi sebelum kamu benar-benar menyukai Naura. Aku akan memberi tahu kamu sesuatu bawah Naura sudah di jodohkan oleh orang tuanya,'' ujar Kaila.


''Aku tidak peduli soal itu, aku hanya ingin dia cepat sembuh dan pergi dari desa ini,'' sahut Aulia pergi meninggalkan Kaila.


.


.


.

__ADS_1


.


. BERSAMBUNG


__ADS_2