
Hari itu Sadam dan Kaila menceritakan apa yang mereka dengar dari warga, ada kejadian saat hujan itu. Saat itu Bara juga berada di rumah Aulia, Bara dan Aulia saling pandang setelah mendengar cerita dari Sadam dan Kaila.
''Apa kalian tahu kejadian itu?'' tanya Kaila.
''Tidak kami tidak akan tahu, jika kalian tidak menceritakannya,'' sahut Aulia.
''Benar kata Aulia kami tidak akan tahu, jika kalian tidak menceritakannya,'' sahut Bara.
''Itulah kenapa saya, selalu melarang kalian jika kalian pergi di saat cuaca lagi kurang baik. Karena di hutan jika sudah hujan maka maka air sungai akan besar,'' ucap Aulia.
''Kita minta maaf sama lo dan Bara, karena sudah salah paham dengan kalian kita pikir harimau putih itu adalah kalian berdua,'' ujar Sadam.
''Tidak apa kami sudah memaafkan kalian,'' sahut Aulia sambil tersenyum.
Anak kota itu tidak akan mengetahui bahwa Aulia dan Bara juga seorang harimau jadi-jadian rahasia tersebut tetap terjaga sampai mereka pulang ke kota mereka. Tetapi selain itu Aulia tetap akan menghilangkan ingatan mereka tentang segala yang terjadi di desa tersebut.
''Naura besok kita harus pulang ke kota, apa kamu sudah siap menjelaskan kepada orang tua mu apa yang terjadi?'' tanya Kaila.
''Nak Kaila Nauranya belum bisa pulang, karena dia harus di obati dulu sampai sembuh,'' sahut Bu Lilis sambil membawa nampan yang berisi minuman.
''Bagaimana kalau kita jangan pulang dulu, tunggu sampai aku sembuh kalau kalian pulang siapa yang akan menemani ku disini,'' ucap Naura.
''Ya sudah gue hubungi bos dulu, kita bilang saja kalau tanaman itu masih belum kita dapatkan. Kita juga bisa tinggal berapa hari lagi disini,'' ucap Kenzo.
Mereka pun Menganggukkan kepala meraka bersamaan. Mereka bertiga kembali ke rumah tempat tinggal mereka, Naura harus tinggal di rumah Aulia untuk beberapa hari.
Aulia dan Bara pergi ke perkebunan mereka berdua duduk di sana.
''Apa yang kamu lakukan agar Naura cepat sembuh?'' tanya Bara.
''Mengobatinya seperti biasa dengan tanam-tanaman yang ada di hutan ini,'' sahut Aulia.
''Lebih cepat lebih baik, kita juga harus ke Gua tujuh itu kalau tidak para siluman akan mengambil pedang itu lebih dulu,'' ujar Bara.
__ADS_1
''Waktu itu kamu sempat bilang pemilik pedang tersebut, seorang tabib apa dia bisa mengobati Naura?'' tanya Aulia.
''Tentu saja bisa, tapi kita kan tidak tahu dimana keberadaan tabib itu,'' ucap Bara.
DI TEMPAT LAIN
Bu Lilis mengobati mata Naura dengan dengan obat herbal yang sudah di tumbuk halus.
''Apa kamu merasakan sakit?'' tanya Bu Lilis.
''Tidak nek masih biasa saja,'' sahut Naura.
''Ya sudah kamu duduk saja disni, nenek mau buat makanan buat kalian,'' ucap Bu Lilis meninggalkan Naura di ruang tamu sendirian.
Tiba-tiba saja Naura mendengar langkah kaki seseorang yang ingin mendekatinya.
''Siapa disana?'' tanya Naura.
Naura mengusap dadanya karena merasa terkejut.
''Kamu tidak perlu takut, saya tidak akan menyakiti kamu,'' ujar Aulia.
Tanpa sepengetahuan Naura Aulia duduk di depan Naura. Dia mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya untuk mengobati Naura. Tapi
Naura masih merasakan kalau Aulia masih berada di dekatnya Naura mencoba memanggil Aulia.
''Aulia apa kamu masih disini?'' tanya Naura.
Aulia tidak menjawabnya dia hanya fokus mengobati Naura.
MALAM HARINYA
Aulia meminta bantuan kepada Raja Agra kakeknya untuk menyembuhkan mata Naura yang masih tidak bisa melihat.
__ADS_1
Malam itu Naura tidur bersama buk Lilis Aulia masuk ke dalam kamar neneknya untuk melihat bagaimana keadaan Naura sekarang.
Sang nenek sudah tahu jika Raja Agra akan datang untuk mengobati Naura.
"Apa yang terjadi kepada gadis ini?'' tanya Raja Agra.
Aulia menceritakan semua kejadian tersebut kepada kakaknya, dan Raja Agra sangat paham dengan kekuatan murid dari Bagaskara tersebut.
Raja Agra mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya untuk mengobati Naura. Tiba-tiba saja mata Naura menjadi panas dan sakit membuat dia terbangun dari tidurnya. Berapa saat berlalu Naura kembali tertidur.
Raja Agra mengajak Aulia pergi karena dia ingin menyampaikan sesuatu kepada cucunya itu.
"Ada apa kek, kenapa kakek membawa aku kemari?" tanya Aulia.
"Setelah gadis itu sembuh suruh mereka secepatnya pergi dari desa ini, kalau tidak para siluman akan terus menganggu mereka para siluman hanya menginginkan kamu dan Bara juga kitab itu," ucap Raja Agra.
Aulia tidak ingin menyuruh Naura untuk secepatnya pergi dari desa, karena Aulia memiliki perasaan kepada Naura. Dia tahu jika Naura pergi mereka belum tentu bisa bertemu lagi.
"Tapi kek jika mereka masih ingin, berada di desa ini bagaimana?" tanya Aulia.
"Tidak bisa, mereka akan berada di dalam bahaya jika terus di desa ini," sahut Raja Agra, "apa kamu menyukai gadis itu?" tanya Raja Agra.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
cerita ini masih tentang Naura
__ADS_1