
Keesokan paginya saat Anita sedang memasak dan menyiapkan sarapan pagi bersama Mbo Inah.
Terlihat di kamar Rio, tidak biasanya dia mulai menggeliat dan hendak bangun pagi-pagi. Mungkin karena dia mulai terbiasa karena tuntutan pekerjaan kantoran yang mewajibkannya harus segera bangun pagi-pagi.
Dengan kepala yang masih terasa pening dan perasaan yang angot-angotan untuk bangun pagi. Pelan-pelan Rio mengucek mata yang masih memaksanya untuk tetap tidur di kasur empuknya.
Dengan pantat yang di paksakan untuk bangun terlebih dahulu dan kepala yang masih dia tempelkan di bantal kasurnya. Rio berusaha untuk bangun dari rasa kantuknya.
Kemudian dengan perlahan sambil tetap menutup matanya Rio mulai beranjak dari kasur nya dan melangkahkan kaki menuju dapur berniat untuk mengambil air minum terlebih dahulu, karena merasa haus.
Sementara Alex yang sedang siap-siap menggunakan pakaian kerjanya dengan santai mulai mengenakan satu persatu pakaian dan barang-barang yang sudah tadi di siapkan Anita di atas kasur ranjangnya.
Alex terlihat biasa saja dan penolakan Anita semalam tidak membuatnya bereaksi berlebihan.
Dia merasa Anita masih tetap miliknya karena dia masih sah sebagai istrinya. Itu membuatnya sedikit lebih tenang, terlebih setelah Alex mengutarakan perasaannya pada Anita.
Dan selama Anita tidak mengungkit lebih lanjut keinginannya untuk berpisah dengan Alex, selama itu pula dia masih bisa tenang dan akan terus berusaha membuat Anita segera menyatakan perasaan cintanya.
Sementara itu Anita yang tidak tahu bahwa Rio sudah bangun lebih pagi. Dengan masih santainya Anita menyiapkan setiap makanan yang telah di masaknya bersama Mbo Inah.
Hingga pada akhirnya saat Rio hendak ke dapur dan hendak melewati meja makan keluarga. Tiba-tiba mata Rio samar-samar memperlihatkan seorang gadis yang selama ini dia cari-cari dan dia rindukan sosoknya.
Namun Rio yang masih merasa takut, bahwa apa yang sedang matanya tunjukan saat ini tidaklah nyata alias mimpi atau sedang berhalusinasi lagi.
Dia segera mengucek-ngucek matanya agar lebih jelas melihatnya. Tiba-tiba terlihat senyum bahagia dari raut wajah Rio saat matanya menampakkan wajah Anita yang lebih jelas lagi.
Namun dia masih belum merasa yakin, lalu kemudian ada seorang pelayan laki-laki yang sedang lewat di depannya. Cepat-cepat Rio meminta pelayan tersebut untuk mencubitnya.
"Heh kau kemari. Coba kau cubit tanganku sekarang!" ucap Rio dan meminta pelayan tersebut untuk mencubitnya.
"Tuan, apa anda yakin?" tanya pelayan tersebut dengan raut wajah heran dan bingungnya, dia merasa ragu untuk melakukan apa yang di pinta Rio padanya.
"Malah bengong lagi. Cepat lakukan!" pekik Rio meminta pelayan tersebut untuk segera melakukannya.
"Tapi tuan jangan marah kalau aku melakukannya" ucap pelayan tersebut tidak ingin nantinya di salahkan.
"Iya tenang saja. Tidak akan. Cepat lakukan" ucap Rio tidak sabaran.
"Kau yang benar saja. Kau ini laki-laki apa bukan?. Lembut sekali melakukannya" kesal Rio sambil berkaca pinggang pada pelayan tersebut.
"Yang kau lakukan itu menyentuhku bukan mencubit ku. Apa kau ingin menggodaku, hah?. Lakukan yang benar, cubit tanganku lebih keras!" kesal Rio sambil berseloroh dan kembali meminta pelayan tersebut untuk mencubitnya lebih keras.
Rio meminta hal tersebut supaya dia merasa yakin bahwa apa yang sedang di lihatnya bukanlah mimpi ataupun hanya khayalan semata.
"Aaaww..." teriak Rio merasa kesakitan sampai terdengar oleh Anita dan Mbo Inah yang sedang menata dan menyiapkan sarapan pagi.
"Sialan kau. Itu terlalu keras" pekik Rio merasa kesal sambil cepat-cepat mengusap tangannya yang tadi pelayan cubit.
Namun tiba-tiba kembali dia merasa kegirangan karena sudah tahu bahwa dia tidaklah bermimpi.
"Tapi..... Terima kasih. Ternyata aku sedang tidak bermimpi" ucap Rio yang dalam sekejap berubah kegirangan hingga dia mencubit wajah pelayan tersebut dengan gemas dan tertawa.
Kemudian Rio segera beranjak dari tempat tersebut dan berlari hendak menemui Anita.
Sementara pelayan tersebut terlihat merasa heran dan pasrah.
__ADS_1
"Nasib... nasib... Jadi pelayan begini amat serba salah" ucap pelayan tersebut sambil mengusap-usap kedua pipinya yang tadi di cubit balik oleh Rio.
Sementara itu Anita dan Mbo Inah yang merasa bingung karna telah mendengar teriakan seseorang saling menatap penasaran suara siapa yang berteriak.
"Mbo dengar gak?" tanya Anita pada Mbo Inah di depan meja makan.
"Iyah. Sepertinya itu suara den Rio. Tapi tumben sekali dia sudah bangun pagi-pagi" ucap Mbo Inah yang sudah tahu kebiasaan ponakan tuannya tersebut yang terbiasa bangun siang jika sedang menginap di rumah tersebut.
"Kak Rio?" ucap Anita merasa kaget karena lupa bahwa semalam Rio telah menginap di rumah tersebut dan dia merasa takut bahwa Rio akan membuat Alex tahu bahwa dirinya ternyata adalah teman anaknya sendiri.
Entah apa yang membuat Anita merasa khawatir jika sampai Alex tahu bahwa dirinya adalah sahabat anaknya.
Sementara itu, tiba-tiba Rio datang sambil memanggil-manggil nama Anita dengan bahagia.
"Anita...Anita...kau ke mana saja. Aku sudah lama ingin bertemu denganmu" teriak Rio sambil berlari menghampiri Anita.
Sementara Anita yang merasa kaget hanya menatapnya heran dan bingung.
Tapi tiba-tiba dengan spontan Rio langsung memeluk Anita dan berputar sambil mengangkat tubuh Anita. Saking rindunya Rio tidak sadar bahwa dia terlalu berlebihan melakukan hal tersebut pada gadis yang bukan siapa-siapa untuknya.
Anita yang merasa kaget berusaha meminta Rio untuk segera melepaskannya. Namun Rio tidak memperdulikannya.
"Kak Rio, apa-apa ini. Cepat turunkan aku" ucap Anita meminta Rio untuk menurunkannya.
Mbo Inah yang melihatnya hanya bisa menganga dan menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang tengah di lakukan ponakan tuanya tersebut pada Anita.
Dan dalam waktu yang bersamaan setelah tadi Alex mendengar nama Anita terus-terusan di sebut. Dan tahu suara siapa yang sedang berteriak, segera Alex bergegas keluar kamar dan melihat ke adaan.
"Dasar anak itu. Pasti ini si Rio, ulah apa lagi yang dia buat. Pagi-pagi begini sudah teriak-teriakan" ucap Alex sambil menuruni tangga.
Tentu saja Alex tidak dapat menerima hal itu. Dia segera meminta Rio untuk melepaskan Anita dari pelukannya.
Bahkan Alex tidak mengerti kenapa Rio bisa sampai mengenal Anita dan sampai merindukannya seperti itu.
"Ee... e..eh... Apa yang kau lakukan. Cepat turunkan gadis itu. Dasar anak bandel, berani-beraninya memeluk anak gadis orang begitu saja. Kau pikir dia itu siapa, seenaknya saja melakukan hal itu" ucap Alex sedikit kesal sambil memukul-mukul Rio dengan koran yang tadi dia sempat bawa untuk di gunakan memukul pelan ponakannya tersebut.
Hingga akhirnya membuat Rio terpaksa menurunkan Anita dari pelukannya.
"A..a.. ampun, Om. Aku khilaf, aku rindu sama dia. Sudah lama aku tidak bisa bertemu dengannya" ucap Rio berkata jujur pada pamannya tersebut sambil menahan pukulan Alex terhadapnya.
Membuat Alex tiba-tiba menghentikan pukulannya, merasa heran. Bagaimana ponakannya tersebut dapat mengenal Anita.
"Jadi kalian sudah saling mengenal?" tanya Alex penasaran.
"Tentu saja, Om. Bagaimana mungkin aku tidak mengenali gadis secantik Anita" seloroh Rio sambil menyapu dagu Anita yang masih berada di sampingnya.
"Hehh... kendalikan tangan kotor mu itu!" kesal Alex sambil menggeplak tangan Rio yang tadi di gunakannya untuk menyentuh dagu Anita. Tidak terima istrinya di colek-colek oleh ponakannya sendiri.
"Lebih baik kau cepat mandi sana!. Apa kau tidak akan pergi ke kantor, hah?!" bawel Alex pada ponakannya tersebut, tidak terima Anita berlama-lama di lihat ponakannya tersebut dengan pandangan yang tidak biasa.
"I..iya Om. Sabar napa. Lama-lama Om kaya mami, bawel banget" seloroh Rio berani berkomentar mengenai pamannya sendiri di hadapannya langsung.
"Eeeh.... kau ini" ucap Alex sambil kembali menggeplak kepala Rio dengan koran yang tadi masih di bawanya.
Membuat Rio segera pergi dari hadapan pamannya sambil mengusap-usap kepalanya sendiri, menuju kamarnya lagi untuk segera bersiap-siap.
__ADS_1
Beruntung Alex tidak terlalu mempertanyakan bagaimana Anita dan Rio bisa saling mengenal dan terlihat sedekat itu.
Alex nampak terlihat cemburu saat melihat apa yang sudah di lakukan ponakannya pada Anita. Hingga dia mulai bertanya pada Anita yang sedang berada di hadapannya.
"Bagaimana kau bisa mengenal ponakanku?" tanya Alex terlihat kesal, tapi dia mencoba untuk tidak terlihat marah di depan Anita.
"I..itu..." ucap Anita terlihat gelagapan, merasa bingung harus berkata apa.
"Sudahlah... lupakan. Lebih baik kau segera siapkan sarapan paginya. Sebentar lagi aku mau berangkat ke kantor" ucap Alex tidak ingin mendengar bagaimana mereka bisa bertemu dan sampai sedekat tadi dan berusaha menyembunyikan kekesalannya dengan tidak menatap Anita langsung.
Meski Alex penasaran bagaimana mereka bisa terlihat sedekat itu. Tapi dia tidak ingin mendengar cerita tentang mereka berdua yang menurut Alex pasti akan membuatnya merasa kesal dan cemburu lagi.
Kemudian diapun sarapan pagi dengan wajah betenya, namun setelah selesai makan Alex tidak langsung pergi ke kantor. Dia masih menunggu ponakannya tersebut untuk keluar dari kamarnya.
Beberapa menit telah berlalu tapi Rio tidak kunjung datang. Alex curiga bahwa Rio sengaja berlama-lama di dalam kamar menunggu dirinya pergi berangkat ke kantor lebih dulu.
Alex curiga Rio memanfaatkan kepergiannya supaya dia bisa melihat Anita lebih lama lagi tanpa di ganggu olehnya.
Rupanya apa yang di pikirkan Alex ternyata benar.
Rio terlihat beberapa kali melihat jam di tangannya. Memastikan bahwa itu waktunya Alex untuk berangkat ke kantor.
Kemudian pelan-pelan dia mulai keluar dari kamarnya. Rio diam-diam ingin melihat pamannya lebih dulu pergi ke kantor, supaya dia dapat melihat Anita lebih lama lagi.
Dia tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Anita kembali di rumah pamannya sendiri.
Tapi itu membuatnya merasa senang, dia tidak perlu lagi mencari ataupun menunggu-nunggu ke hadiran pujaan hatinya. Apalagi kalau dia sampai tahu bahwa sebenarnya Anita telah bekerja di rumah pamannya tersebut.
Setelah Rio memastikan pamannya tidak ada di meja makan, dia cepat-cepat hendak menemui Anita.
Namun sebelum niatnya kesampaian, tiba-tiba entah dari mana Alex muncul dan mengejutkannya.
"Heh kau mau kemana?" ucap Alex mengejutkan ponakannya.
"Eh... Om kok masih ada disini?" ucap Rio balik bertanya sambil tersenyum kecut setelah dia sempat kaget mendengar suara pamannya tersebut.
"Kenapa kau baru keluar dari kamar. Apa kau tidak berangkat ke kantor hari ini?" tanya Alex balik bertanya lagi.
"Aku ngantor Om. Ini baru mau sarapan dulu" ucap Rio berusaha mengelak, tidak ingin membuat pamannya marah-marah lagi.
"Tidak perlu sarapan disini. Sekarang kau ikut aku" ucap Alex terlihat kesal sambil menjewer telinga Rio seperti anak kecil.
"Tat...tapi Om, aku kan belum sarapan.. aaw..aw.. ampun Om" ucap Rio mencoba menolak.
"Aku bilang tidak perlu. Mbo Inah sudah menyiapkan sarapan untuk mu di mobil" ucap Alex tidak mau mendengar alasan apapun dari Rio yang membuatnya bisa berlama-lama di rumahnya.
"Tapi Om.. aku kan bawa motor" lagi-lagi Rio berusaha menolak untuk ikut bersama Alex.
"Nanti orang ku yang akan mengantarkannya ke rumah mu. Sekarang kau ikut aku" ucap Alex tidak mau di bantah.
Hingga akhirnya Rio pasrah dan menurut, ikut bersama Alex ke dalam mobilnya. Meski terlihat jelas kekecewaan yang nampak dari wajah Rio.
Sementara Alex lebih merasa tenang tidak lagi merasa khawatir Anita akan di dekati oleh ponakannya tersebut. Dia lebih memilih bolak balik mengantarkan Rio ke kantornya terlebih dahulu.
Beruntung Alex seorang bos, jadi dia bisa datang ke kantor sesuka hatinya, meskipun sebenarnya jarang dia lakukan.
__ADS_1