
"Maaf Loli... Aku harus segera masuk ke kamar dulu, ya" ucap Anita pelan-pelan segera melepaskan dirinya dari Lolita, menghindari rasa malunya.
"Eeeh.... tunggu" ucap Lolita hendak menghentikan Mami kecil nya tersebut.
"Jangan-jangan tanda itu...." lanjut Lolita menerka-nerka setelah melihat sesuatu di kulit leher Anita.
Kemudian mengalihkan pandangannya pada ayahnya tersebut. Dengan sorot mata yang mencari-cari pembenaran sambil berbuat usil pada ayahnya tersebut.
"Daddy..." ucap Lolita sambil mencium-ciumi aroma tubuh ayahnya tersebut untuk mencari tahu apa yang sedang di pikirkan nya itu benar.
Sementara Alex yang sedang menggendong anak laki-lakinya, mereka berdua saling menatap dan melihat Lolita yang sedang memutari dirinya sambil mencium-ciumi aroma tubuhnya, merasa bingung dan aneh melihat tingkah laku anak perempuannya tersebut.
"Daddy... Kakak sedang apa?" ucap Alexa merasa bingung melihat kakak nya yang bersikap aneh.
"Tidak tahu sayang..." ucap Alex merasa tidak mengerti juga.
"Loli apa yang kau lakukan, sayang?" lanjut Alex berbicara pada anak perempuannya.
"Sebentar Daddy... Aku sedang mencari tahu apakah aku akan segera memiliki adik lagi atau tidak?" ucap Lolita membuat Alex teringat sesuatu dan segera menurunkan anak laki-lakinya tersebut dari gendongannya.
"Ah.. iya Daddy lupa. Daddy harus segera ke kamar dulu. Kamu sama kakak mu dulu ya sayang. Nanti kita main lagi, ok" ucap Alex segera berniat menghindari anak perempuannya dari pertanyaan yang aneh-aneh nantinya.
"Sayang... tolong jaga adik mu dulu, ya" ucap Alex pada Lolita setelah dia menurunkan anak laki-lakinya tersebut.
"Tunggu sebentar... Aku belum selesai daddy" ucap Lolita pada ayahnya.
"Hemm... melihat mereka yang tiba-tiba gugup dan menghindari ku seperti itu, pasti sudah terjadi sesuatu di antara mereka" ucap Lolita merasa yakin.
"Maksud Kak Loli apa?" tanya Alexa yang mendengar kakak perempuannya berbicara sendiri.
"Itu artinya... kamu akan segera memiliki calon adik...." ucap Lolita dengan antusiasnya dan mengangkat tubuh Alexa merasa senang dengan apa yang di pikirkan nya saat ini.
"Benarkah?... Horeee... " ucap Alexa ikut merasa senang mendengar hal tersebut.
"Tapi.. Bagaimana Kak Loli tahu?" ucap Alexa dan kembali bertanya pada Lolita.
"Ehmm itu... Rahasia..." ucap Lolita sambil tersenyum mengajaknya bercanda sambil menoel hidung Alexa setelah dia menurunkannya.
Sementara itu di kamar, Anita nampak merasa malu sendiri setelah dia buru-buru menutup pintu kamarnya.
Dia merasa malu namun juga merasa senang setelah apa yang telah di lalui nya bersama Alex saat itu.
"Ya Tuhan... Bagaimana aku bisa melakukannya" ucap Anita merasa tak percaya sudah melakukan hal tersebut bersama Alex.
"Tapi dia benar-benar membuat ku tidak berdaya dan aku... " ucap Anita merasa malu sendiri untuk melanjutkan apa yang tengah dipikirkannya sendiri.
Anita nampak senyam senyum sendiri meski sudah berada di dalam kamarnya. Namun wajar meronanya masih saja terlihat dan dengan sikap salting setiap kali memikirkan hal tersebut.
Kemudian Anita segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya sebelum malam makin larut.
Begitu pun dengan Alex, dia nampak terlihat bahagia dan senang. Untuk nya bayangan tadi di momen sunset adalah salah satu hal yang tidak dapat di lupakan.
Dia tidak menyangka bahwa Anita akan membiarkannya melakukan hal itu di sebuah mobil. Namun hal itu bukanlah masalah untuknya.
Akan tetapi, Alex merasa sedikit menyayangkan karena dirinya tidak dapat leluasa dan tidak dapat lebih lama lagi menautkan perasaan yang selama ini dia simpan bertahun-tahun lamanya.
Namun untuk saat ini, dia sudah merasa lebih baik dan bahagia.
Tapi dia harus segera merencanakan peresmian pesta pernikahan dan mengumumkannya, sebelum Anita bisa kapan saja berubah pikiran, pikir Alex.
Sementara itu, Anita yang sudah selesai dengan aktivitas bersih-bersih tubuhnya segera ke dapur.
__ADS_1
Dia merasa kelaparan setelah tadi menemani Alex bergulat di dalam mobil, selain itu dia juga memang belum makan setelah makan siang tadi.
Dan Alex juga tidak peka, tidak membawanya makan malam lebih dulu. Mungkin karena Alex juga tidak tahu kalau akan terjadi hal yang sudah lama di idam-idamkannya tersebut akan terlaksana saat itu.
Dan kini Anita berniat untuk memasak sendiri tanpa harus membangunkan Mbo Inah untuk membantunya.
Anita hanya akan membuat masakan yang sederhana saja, cukup untuk membuat kenyang perutnya dan juga Alex.
Dia ingin membuat sesuatu yang spesial untuk Alex, namun waktu juga sudah begitu malam. Akhirnya dia memasak seadanya saja, tidak tahu Alex akan suka atau tidak.
Tapi yang jelas Anita tahu kalau Alex juga pasti belum makan malam. Jadi, mau tidak mau dia juga harus menyiapkan makanan untuk Alex.
Setelah beberapa saat, akhirnya Anita selesai membuat dua porsi nasi goreng untuk dirinya dan juga Alex.
Mengingat Lolita dan juga anak laki-lakinya pasti sudah makan malam. Dan kini mereka juga pasti sudah tidur di kamarnya masing-masing.
Dua porsi nasi goreng sudah di atas meja makan yang berada di dapur.
Anita hendak mencuci tangan nya terlebih dahulu di depan wastafel cuci piring, dan setelah itu dia berniat untuk memanggil Alex untuk makan malam bersama.
Namun tiba-tiba dari arah belakangnya ada seseorang yang ikut mencucikan tangannya di bawah guyuran air keran.
Anita merasa terkejut, namun dia tidak berani untuk berbalik badan. Dia sudah tahu siapa yang sedang memeluknya dari belakang, dari wangi aroma tubuhnya dia sudah mengira bahwa itu adalah Alex.
Membuat Anita kembali merasakan hati yang berdebar-debar, terlebih saat tiba-tiba Anita teringat kembali keperkasaan Alex yang beberapa jam lalu baru dia rasakan.
Hal itu, entah mengapa membuatnya merasa panas dingin dan malu setengah mati. Apalagi merasakan posisi saat ini, membuatnya jadi serba salah dan salah tingkah.
Sementara Alex yang sedang berada tepat di belakang Anita, seperti sedang sengaja terus mendekati Anita dan sesekali sengaja menekankan tubuhnya ke tubuh Anita.
Entah apa yang ingin dia lakukan pada Anita, tapi yang jelas saat ini Alex nampak terlihat di mabuk cinta lagi dan lagi.
Tidak ada pembicaraan saat ini, yang ada rasa gugup Anita dan sikap Alex yang semakin menunjukkan keagresifannya pada Anita.
Alex benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera membalikkan tubuh Anita untuk menghadapnya.
Di lihatnya Anita begitu cantik dan menggoda saat ini, terlebih dengan rambut yang baru di cucinya masih nampak terlihat basah dan menambah kesan seksi di mata Alex.
Sementara Anita hanya dapat memejamkan matanya berkali-kali sambil sedikit-demi sedikit menghindari sentuhan tangan Alex yang membuatnya terus-terusan merasa geli.
"Tut... tuan..maaf. Bisakah kita makan malam lebih dulu" ucap Anita merasa malu dan mencoba menghalangi Alex menciomnya di tempat tersebut.
"Tuan?.. Lagi-lagi kau memanggilku tuan. Apa kau ingin mendapat hukuman dari ku?" ucap Alex dan menggoda Anita sambil usil memeluknya kembali sebagai hukuman karena terus memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Tidak.. tidak.. baiklah. Aku tidak akan memanggil tuan lagi. Tapi sekarang tolong lepaskan aku. Lebih baik kita makan dulu, aku sudah lapar" ucap Anita sambil terus berusaha meminta untuk di lepaskan oleh Alex.
Dan Alex yang mendengar Anita berkata sudah lapar, dia pun segera melepaskannya. Dia baru ingat kembali, bahwa Anita juga pasti belum makan dari tadi sore dan tentu Alex tidak ingin membuat Anita kelaparan saat ini.
"Baiklah.. Aku akan melepaskan mu. Tapi ingat, jangan pernah memanggilku tuan lagi... Sekarang ayo kita makan;" ucap Alex pada Anita sambil melepaskannya.
Kemudian mereka pun makan berdua bersama.
Meski sebenarnya, pantang bagi Alex untuk makan malam jika sudah melewati waktu jam makan malam.
Tapi melihat nasi goreng yang sudah tersedia di atas meja makan dan pastinya Anita yang telah membuatnya, membuat Alex tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut.
Alex nampak menikmati nasi goreng buatan Anita, sambil terus tersenyum menatap pujaan hatinya tersebut.
Begitu pun juga dengan Anita, tapi dia lebih terlihat malu-malu kucing di bandingkan dengan Alex.
Mereka nampak saling memandang satu sama lain sesekali.
__ADS_1
Kemudian Alex memulai pembicaraan dengan Anita.
"Anita... Hari ini aku benar-benar bahagiaaaa... sekali. Setelah sekian lama, aku tidak menyangka kamu dapat memaafkan aku dan menerima ku kembali sebagai suami mu" ucap Alex dan menghentikan makannya setelah tinggal sedikit, lalu perlahan kembali mendekati Anita dan berkata di dekat telinganya.
"Aku merasa ini seperti mimpi... Dan jika ini benar-benar mimpi, aku harap aku tidak terbangun. Karena aku ingin seperti ini terus bersamamu, berdekatan denganmu tanpa kamu harus membenciku lagi" lanjut Alex berbicara pada Anita hingga membuatnya mengalihkan padanya pada Alex yang saat ini sedang bersimpuh di hadapan Anita sambil memegang kedua tangan dan menatapnya dalam-dalam.
Anita yang mendengar hal itu merasa tersentuh, dia tidak mengira laki-laki yang selama ini dia sempat benci ternyata begitu mencintainya sangat dalam.
Selama ini kebencian yang dia tanamkan dalam hatinya hanyalah imajinasi dan prasangka buruknya saja terhadap Alex. Tanpa menilai Alex dari sisi lainnya.
Tapi kini Anita sudah tahu, dan perasaannya juga sudah berubah total pada Alex. Anita kini sudah dapat menerima Alex dan memaafkan segala kesalahannya yang di akibatkan salah paham di antara mereka.
Melihat semuanya baik-baik saja dan prasangka yang di pikirkan olehnya sendiri kini sudah musnah bersama apa yang telah dilihatnya sendiri.
Bahwa Lolita sebagai sahabatnya sendiri kenyataannya merestui hubungan dirinya dengan ayah sahabatnya tersebut.
Dan Alex yang selama ini Anita sangka tidak mencintainya, ternyata sebaliknya. Alex begitu benar-benar mencintainya selama ini.
"Maafkan aku... selama ini aku pergi begitu saja tanpa berniat untuk menjelaskannya.. Aku tidak menyangka kamu sungguh-sungguh mencintai ku. Maafkan aku telah salah paham padamu" ucap Anita merasa sedih dan baru menyadari betapa Alex mencintainya.
"Tidak sayang... kamu jangan menangis. Ini semua salahku. Aku yang saat itu membuat mu terluka dan sakit hati. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Jangan menangis lagi... Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau membuat mu menangis lagi" ucap Alex penuh haru dan rasa penyesalan yang dalam saat teringat dulu dia begitu marah dan memperlakukan Anita dengan begitu buruk sebelum Anita benar-benar pergi waktu itu.
"Dan Anita... Apakah kamu juga sungguh-sungguh mencintaiku dan menerima aku apa adanya?" ucap Alex kembali, sambil menengadah melihat Anita yang saat ini masih dengan posisi bersimpuh di hadapan Anita yang duduk di kursi.
"iya.." Anita hanya mengangguk tersenyum sambil menahan air matanya.
"Meskipun aku semakin bertambah tua dari mu?" ucap Alex kembali meyakinkan dirinya sendiri, mengingat perbedaan usia yang terbilang cukup jauh berbeda.
Sementara Anita lagi-lagi menjawabnya dengan anggukan kembali.
"Terima kasih Anita...." ucap Alex merasa senang sambil berdiri kembali.
"Tapi aku ingin mendengar langsung dari mulut mu sendiri, kalau kamu benar-benar mencintai ku juga. Cobalah katakan!" ucap Alex dan meminta Anita untuk mengatakan perasaan cintanya langsung.
"Waktu itu kan aku sudah pernah mengatakannya?" ucap Anita mengingat perasaan cintanya sudah dia katakan saat di momen sunset tadi, masih merasa malu jika harus mengatakan cintanya kembali pada Alex.
"Kapan?.. Sepertinya aku belum pernah mendengarnya" ucap Alex berpura-pura tidak mengingatnya dan berusaha menggoda Anita kembali.
Membuat Anita merasa bertambah malu jika harus benar-benar mengingatkan Alex dimana dia mengatakan bahwa dia juga mencintainya.
"Baiklah.. baiklah.. Aku akan mencobanya lagi" ucap Anita pada Alex.
"Eehhm... Aku.. aku.." lanjut Anita mencoba menyatakan perasaannya, tapi ternyata tidak semudah meluapkan kekesalannya saat dia sedang marah pada Alex.
"Iya.. aku apa, sayang?" ucap Alex tidak sabaran, membuat Anita lagi-lagi merasa gugup.
Padahal dia tinggal mengatakan, aku cinta padamu Alex. Tapi baginya kata-kata itu, begitu kelu dan sulit untuk di ungkapkan pada Alex.
"Aku... Aku mencintaimu mu, tuan" ucap Anita tanpa berani menatap Alex dan cepat-cepat mengalihkan suasana untuk segera membereskan bekas makan malam mereka berdua yang baru saja di rasa selesai.
"Sekarang biarkan aku membereskan meja makan makan ini" lanjut Anita masih merasa gugup meski sudah mengatakan hal tersebut sambil cepat-cepat mengangkat piring-piring di atas meja dan hendak mencucinya langsung.
"Tunggu sayang... Kau belum benar mengatakannya" ucap Alex sedikit protes sambil mengganggu Anita yang hendak mencuci piring. Dia masih belum menerima dengan pernyataan cinta Anita yang dirasa belum benar mengatakannya.
"Apa lagi, tuan. Aku kan sudah mengatakannya" ucap Anita sambil menaruh piring-piring tersebut kedalam wastafel.
"Tuh... tuh kan. Kau mengulangnya lagi. Kau menyebutku apa barusan?" ucap Alex tidak terima dengan sebutan kata tuan untuknya.
"Sudah... biarkan saja piring-piring itu. Besok juga akan ada yang membereskannya" lanjut Alex berbicara, saat Anita mulai berpura-pura menghindarinya lagi dengan hal tersebut.
"Sekarang... aku ingin mendengar kata-kata cintamu dengan benar" ucap Alex sambil menarik tubuhnya dan mendekatkan wajah Anita dengan wajahnya.
__ADS_1