Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Menangis Seperti Anak Kecil


__ADS_3

Lalu setelah Anita membawanya ke puskesmas dan sebagian wajah Alex di penuhi dengan plester, segara Alex menyuruh Rafi untuk menjemput mereka ketempat tersebut.


Tidak perduli jauh atau dekat, Alex meminta Rafi untuk segera datang membawanya bersama para bodyguardnya.


Bukan karena Alex mengkhawatirkan nyawanya sendiri tapi karena dia merasa khawatir pada Anita, terlebih saat melihat kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan dirinya untuk melindungi Anita bila mana terjadi situasi yang sama bertemu kembali dengan para preman atau penjahat lainnya.


Beberapa jama kemudian Rafi pun datang dengan para bodyguardnya yang siap untuk menjaga Alex kapan pun dan di manapun.


Namun sebelum kedatangan Rafi dan para bodyguardnya.


Terlihat Anita yang merasa khawatir pada Alex tanpa dia sadari ke khawatirannya melebihi seorang asisten kepada tuannya.


Kemudian setelah Anita melihat suster sudah selesai dengan tugasnya, membantu mengobati luka-luka Alex dan memberi plester di beberapa tempat di wajah Alex. Dan suster tersebut segera pergi meninggalkan ruangan Alex.


Membuat Anita tiba-tiba kembali menangis dan bertanya dengan sikap Alex yang terbilang berlebihan membantunya dari ancaman para preman tadi.


"Tuan. Apa yang anda lakukan. Kenapa tuan melakukan hal ini. Apa anda tidak memikirkan nyawa anda sendiri. Apa anda tidak memikirkan putri anda yang mungkin saja bisa sedih jika mendengar tuan terluka seperti ini" ucap Anita sambil menahan tangisnya, bertanya berturut-turut tanpa berniat untuk mendengarkan alasan Alex melakukannya.


Sementara air matanya terus bercucuran, ikut terjatuh berbarengan dengan setiap pertanyaan yang tidak mau dia mendengar alasan Alex kenapa tuannya bisa sampai melakukan hal itu untuk membantunya.


"Kenapa tuan tidak membiarkan saja aku di bawa oleh mereka. Dengan begitu tuan pasti tidak akan babak belur seperti ini" lanjut Anita sambil mengisi setiap kata-kata dengan isakan tangisnya yang terlihat seperti anak kecil.


Membuat Alex tersenyum simpul melihat Anita menangis seperti itu. Dengan keadaannya yang masih terluka berbaring di atas tempat tidur puskesmas setempat.


"Kenapa tuan malah tertawa, bukannya menjawab pertanyaan ku. Membuatku jengkel saja" ucap Anita kembali kesal saat melihat Alex seperti itu, di samping tempat tidurnya.


Namun tanpa di sangka-sangka, Alex malah melakukan hal romantis pada Anita. Ketimbang Alex menjawab pertanyaan dan menanggapi kekesalannya.


Perlahan-lahan Alex bangkit dari posisi tidurnya dan tiba-tiba mengahapus air mata Anita dengan pelan-pelan sambil memberikan senyuman manisnya yang selama ini tidak pernah Anita lihat setulus itu.


Membuat Anita merasa tenang, dan entah apa yang di rasakan Anita saat ini. Namun yang pasti membuat hatinya tiba-tiba menghangat dan deg-degan saat Alex memperlakukannya dengan lembut seperti saat ini.


Alex nampak berbeda dengan sikapnya yang biasanya sering membuat Anita kesal dan uring-uringan sendiri.


Selama beberapa saat Alex memperlakukannya dengan lembut hingga membuat hati Anita tersentuh.


Namun beberapa saat kemudian Alex kembali dengan mode menyebalkannya, tanpa Anita dapat menebaknya sama sekali.


"Kalau aku membiarkanmu di bawa oleh mereka. Bagaimana kau akan bertanggung jawab dan membayar hutang-hutangmu juga padaku" seloroh Alex saat Anita menatapnya dengan serius.


"Jadi... kau jangan gr dulu. Mengerti!" lanjut Alex pada Anita sambil sedikit mendorong jidat Anita dengan telunjuknya pelan.


Membuat Anita merasa tak percaya dan membuatnya malah bertambah menangis kencang seperti anak kecil yang direbut mainannya begitu saja.

__ADS_1


"Heh.. kenapa kau malah menangis bertambah kencang begini. Seperti anak kecil saja" panik Alex melihat Anita seperti itu.


Beruntung tidak ada pasien lain di ruangannya.


"Sudah jangan menangis lagi. Cup... cup..cup.. cuuup" seloroh Alex mencoba menenangkan Anita sambil repleks memeluk Anita supaya berhenti menangis lagi.


Membuat Alex terlihat seperti orang tua yang sedang menenangkan anaknya yang sedang menangis karena di ganggu temannya yang nakal.


Namun berbeda dengan penglihatan seorang dokter yang tiba-tiba masuk untuk melihat keadaan dan kondisi Alex. Tapi tidak sengaja melihat Alex dan Anita yang sedang berpelukan dan terlihat romantis menurut Dokter tersebut.


"Ehemm... " ucap Dokter tersebut mengganggu keromantisan Alex dan Anita, pikir Dokter.


Membuat Alex melepaskan pelukannya dan Anita segera menghapus air matanya, merasa malu.


"Selamat sore, maaf mengganggu kalian" ucap Dokter dengan sopan.


"Nona tenang saja. Suami anda baik-baik saja" lanjut Dokter tersebut membuat Anita diam-diam bertambah malu saat mendengar Dokter tersebut mengira Alex adalah suaminya. Meskipun kenyataannya Alex memang suaminya sekarang ini.


"Dia hanya perlu beristirahat dengan cukup untuk mengembalikan staminanya. Dan luka memar di wajah dan tubuhnya nanti akan dapat sembuh dengan sendirinya. Yang penting, nanti setelah pulang anda merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang" ucap Dokter tersebut menjelaskan.


Membuat Anita semakin bertambah gugup dan salah tingkah mendengar ucapan Dokternya yang seperti itu.


Anita hanya mengangguk berpura-pura mengerti menanggapi ucapannya sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tanpa berkata sepatah katapun pada Dokter tersebut.


"Dan untuk anda, nona. Luka di leher anda juga jangan lupa untuk di perhatikan, meskipun tidak parah. Anda tetap harus memperhatikannya baik-baik agar tidak terjadi infeksi kedepannya" ucap Dokter tersebut pada Anita setelah tadi lebih dulu mengobati luka Anita tanpa Alex menyadarinya.


Membuat Alex sedikit kaget mendengarnya tidak menyadari bahwa Anita juga ikut terluka di lehernya.


"Kalau begitu, saya pamit keluar. Semoga kalian cepat sembuh dan kembali sehat seperti sediakala" ucap Dokter tersebut dan sedikit mendoakan lalu segera pergi meninggalkan mereka kembali berduaan.


"Terima kasih, Dok" ucap Alex dan Anita berbarengan pada Dokter tersebut.


Kemudian setelah dokter pergi meninggalkan mereka berdua. Alex merasa penasaran dengan luka yang di terima Anita di lehernya.


"Kemari" ucap Alex pada Anita, memintanya untuk lebih dekat menghadapnya.


Anita pun merasa bingung, namun dia tetap mengikuti perintah Alex.


"Lihat ke atas" pinta Alex pada Anita.


"Maksud ku mendongak" ucap Alex kembali meminta, saat Anita hanya menggerakkan matanya saja ke atas.


"Kenapa kau tidak memberitahu ku kalau lehermu juga ikut terluka?" tanya Alex, sambil melihat leher Anita yang terluka lebih dekat.

__ADS_1


Membuat Anita yang hendak ingin menjawabnya dan kembali meluruskan tatapan wajahnya, tanpa di sengaja malah membuat bibir Anita menyentuh pipi Alex dan hampir menyentuh bibirnya juga yang saat itu masih dalam posisi melihat leher Anita terlalu dekat.


Membuat mereka lagi-lagi saling bertatapan dan sedikit merasa aneh di hati mereka masing-masing.


Dan lagi-lagi Rafi memergoki mereka seperti sedang berciuman. Saat dia tidak sengaja membuka tirai untuk melihat keadaan tuannya tersebut.


Membuatnya kembali merasa bersalah dan malu sendiri melihat tuannya kedapatan seperti itu.


"Ma..maaf, tuan" ucap Rafi sambil segera berbalik dan menutup kembali tirai tersebut.


Membuat Anita juga merasa salah tingkah dan segera sedikit menjaga jarak dari Alex.


Tapi tidak dengan Alex, yang terlihat tenang namun sedikit merasa terganggu dengan kehadiran asisten pribadinya tersebut yang tiba-tiba dan terus saja kebetulan memergokinya sedang terlihat intim dengan Anita.


Alex terlihat menahan emosi dan menutup matanya supaya tidak dapat meluapkan emosinya di depan Anita. Kemudian menarik nafas kasar sambil membuka matanya kembali.


Lalu Alex segera mencoba berbicara pada Rafi dan mencoba menormalkan keadaan.


"Bagaimana, apa kau sudah membawa mereka bersamamu?" tanya Alex pada Rafi sambil tetap berada di atas tempat tidurnya.


Sementara Anita dengan ragu-ragu segera membuka tirai yang menutupi tempat tidur Alex.


Dan juga Rafi segera berbalik menghadap Alex dan sedikit menundukkan kepalanya, merasa tidak enak hati dan takut melihat tatapan bosnya yang mungkin saja marah dengan sikapnya tadi yang tidak sengaja lancang.


"Su..sudah, tuan. Saya sudah membawa para bodyguard. Mereka sedang menunggu di luar" ucap Rafi sedikit terbata-bata sambil tetap menundukkan kepalanya di hadapan Alex.


"Kalau begitu suruh mereka untuk bersiap-siap. Kita akan segera kembali ke kota sekarang. Aku tidak mau berlama-lama di kampung ini" ucap Alex pada asisten pribadinya.


Namun tanpa Alex sadari sedikitnya membuat Anita merasa bersalah mendengar kata-kata Alex yang seperti itu.


Anita merasa karena Alex ikut bersamanya ke kampung. Membuat Alex harus menerima kejadian buruk menimpa dirinya seperti saat ini.


Namun Alex yang tidak sengaja melihat Anita manyun, tiba-tiba membuatnya ikut merasa bersalah.


Padahal maksud Alex tadi berkata seperti itu, karena dia tidak ingin melihat para preman tadi menyakiti Anita dan mengejar-ngejarnya lagi.


"Kenapa kau malah manyun, cepat bersiap-siap. Kita akan segera kembali ke kota sekarang juga" ucap Alex tidak perduli lagi dengan apa yang di pikirkan Anita tentang apa yang tadi di katakannya pada Rafi.


"Iya... tuan" ucap Anita lirih masih dengan bibir manyunnya.


Kemudian mereka pun segera berangkat setelah Rafi membayar semua biayanya perawatan Alex dan Anita.


Juga Anita yang sambil membantu Alex berjalan menuju mobilnya. Dengan di ikuti para bodyguard Alex yang siap menjaganya selama perjalanan nanti.

__ADS_1


__ADS_2