Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Tinggal Selembar


__ADS_3

Setelah selesai menonton, Rio masih terlihat tidak bersemangat dan malas mengobrol. Hingga akhirnya dia langsung mengajak Dewi untuk pulang dan mengantarkannya sampai ke tempat tinggalnya.


Dewi yang merasa kesal dan marah karena sikap Rio yang berubah mengabaikannya, langsung membanting tas ke tempat tidur saat dia sudah berada di dalam kamarnya.


Dewi yang kesal langsung meluapkan amarahnya di dalam kamar. Seperti orang gila, dia terus berkata kasar mengacak-ngacak rambut dan terus uring-uringan sendiri. Merasa tidak terima dengan sikap Rio yang acuh tak acuh kepadanya.


Beruntung dia hanya tinggal sendiri di apartemennya. Sehingga dengan leluasa dia dapat berteriak dan meluapkan segala emosi dan amarahnya.


"aaaaahh..... " teriak Dewi merasa kesal "kenapa kau begitu tiba-tiba berubah, Rio. Dasar bajingan, kurang ajar, beraninya kau mengacuhkan aku, mengabaikan aku seperti tadi. Aku memang mencintai mu bahkan sangat tergila-gila padamu, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya mengacuhkan ku seperti itu" marah Dewi merasa tidak terima dengan sikap Rio padanya "aaaaaahh....." sekali lagi Dewi berteriak saat mengingat sikap Rio yang menyebalkan baginya.


"Aku tahu Rio. Pasti kamu sudah memiliki mainan baru, wanita lain selain diriku dan membuatmu terus mengacuhkanku. Tapi aku tidak akan tinggal diam. Aku akan segera menemukannya dan menjauhkan dia dari dirimu sebelum kamu bisa mendapatkannya" ucap Dewi penuh kebencian menerka-nerka di depan kaca, seolah dia sedang berbicara dengan seseorang dengan tatapan yang menakutkan.


Sementara itu, Rio yang sedang melajukan mobilnya di tengah malam yang terlihat sepi, terus melaju hendak pulang kerumahnya setelah mengantar Dewi pulang.


Bukan Rio tidak menyadari sikap buruknya pada Dewi, tapi dia sendiri juga tidak mengerti dengan perasaannya yang tidak bisa terkontrol. Entah mengapa, dia mulai tidak berselera untuk sekedar bersenang-senang dengan Dewi.


Dia mulai merasa bosan dengan apa yang biasa dia lakukan bersama Dewi dan juga teman-temannya.


Biasanya jika sudah tengah malam Rio akan berkumpul dengan teman-temannya dan juga Dewi untuk menghabiskan malam dengan minum-minuman sampai pagi buta dan terkadang sampai pagi menjelang.


Tapi kali ini setelah menonton, dia hanya ingin segera pulang dan menghabiskan waktunya dengan melamun, mungkin.

__ADS_1


Dan saat dia sedang menyetir tiba-tiba terlihat senyum di bibir Rio seraya berkata "Anita... Anita... kau membuatku terus memikirkanmu" lirihnya.


Sepertinya kali ini Rio sedang memikirkan Anita dan mungkin sejak dari tadi Rio memikirkannya, hingga membuatnya tanpa disadari terus mengabaikan Dewi dan membuatnya kesal.


Keesokan harinya Anita dan Lolita bertemu di kampus. Tapi sepertinya kali ini mereka akan sibuk dengan tugas dan persiapan mereka menjelang skripsi. Hingga beberapa hari ini mereka habiskan di ruang perpustakaan.


Bahkan Anita juga sudah mengatakan jika dia sudah tidak bekerja lagi di kafe Oww, tempat yang biasa Lolita kunjungi selama sahabatnya tersebut bekerja di sana.


Dengan alasan agar dapat fokus menyelesaikan tugas skripsinya. Hingga Anita pun tidak perlu lagi mencari-cari alasan ataupun berbohong lagi pada sahabatnya itu.


Waktu terus berlalu, hingga akhirnya mereka selesai sidang dengan baik.


Anita yang mulai kehabisan simpanannya hendak mencari pekerjaan tetap. Tapi karena dia baru menyelesaikan skripsi dan tentunya belum mendapatkan ijazah, terpaksa dia harus mencari pekerjaan yang hanya menggunakan ijazah SMA nya.


Meski dirinya sendiri tidak bisa menemani cucunya untuk kabur karena kondisi tubuhnya yang sudah tua dan tidak bisa berlari lebih jauh lagi. Namun tetap memaksa cucunya untuk segera pergi meninggal kampung tersebut.


Hingga akhirnya Anita memutuskan untuk mencoba melamar di sebuah hotel yang cukup ternama kala itu namun sebagai cleaning servis yang dia dapatkan dari informasi di internet.


Tidak cukup lama bagi Anita untuk menunggu interview nya yang hanya di minati beberapa orang saja. Meski tidak langsung mendapat jawaban.


Anita pun mencoba melamar ketempat lain, tapi tidak langsung interview seperti lamaran sebelumnya. Dia hanya menaru dokumen lamaran kerja di beberapa tempat, berharap akan ada salah satu yang bisa menerimanya bekerja.

__ADS_1


Hingga berjam-jam sudah berlalu, dia mulai merasa lapar dan haus setelah menaru lamaran kemana-mana.


Di lihatnya tukang ketoprak di pinggir jalan, segera dia menghampiri untuk membeli ketoprak tersebut.


Namun di tengah pembuatannya, terlihat seorang anak pengemis yang berpakaian lusuh dengan rambut acak-acakan menghampiri tukang ketoprak tersebut meminta makanan, yang mengatakan dia sedang lapar dan ingin makan.


Tapi tukang ketoprak itu hanya memberi satu koin yang bernilai seribu rupiah sambil tetap fokus mengulek adonan ketopraknya. Sesaat anak pengemis itu memperlihatkan koin tersebut, padahal dia meminta makan karena lapar. Namun karna tidak ingin memaksa, anak pengemis tersebut perlahan pergi meninggalkan tukang ketoprak tersebut.


Anita yang sedang duduk menunggu ketoprak nya jadi, melihat hal tersebut membuat hatinya tidak tega dan merasa kasihan. Segera Anita menghampiri tukang ketoprak tersebut dan memintanya untuk di bungkus.


Setelah ketopraknya jadi dan membayar makanannya, segera Anita berlari dan menyusul anak pengemis tersebut untuk memberikan ketopraknya pada anak tersebut.


Sesaat kemudian Anita merogoh saku dan dompetnya hendak memberikan uang juga kepada anak pengemis tersebut. Namun saat di lihatnya uang yang ada di dompet hanya tinggal satu lembar bernilai sepuluh ribu rupiah untuk dia pulang nanti naik angkutan umum.


Sesaat Anita berpikir melihat uang yang tinggal selembar itu, tapi karena dia merasa tidak tega pada anak tersebut, Anita lebih memilih untuk memberikannya pada anak tersebut untuk membeli minumannya.


Dengan rasa syukur dan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Anita, anak pengemis itu pun segera pergi dan terlihat berlari menghampiri seseorang yang ternyata itu adalah adik pengemis tersebut yang sedang menunggu kakaknya membawakan makanan.


Terlihat senyum di wajah mereka setelah mendapat makanan yang tidak seberapa itu, namun mampu mengukir senyuman di wajah mereka. Dengan lahap mereka pun mulai memakan ketoprak pemberian Anita.


Melihat hal tersebut seketika membuat hati Anita merasa tersentuh dan tersenyum bersamaan dengan air mata yang menetes di pipinya, merasa terharu dengan apa yang telah di lakukan anak pengemis tersebut pada adiknya.

__ADS_1


Sementara itu di tengah jalan yang terhenti oleh lampu merah, terlihat sebuah mobil yang di dalamnya ada seorang pria yang memperhatikan gerak gerik dan sikap Anita pada anak pengemis tersebut dari jarak yang cukup lumayan jauh. Yang membuatnya tidak dapat begitu jelas melihat wajah Anita, namun nampak jelas sikap dan gerak-gerik yang di lakukan Anita pada anak pengemis tersebut.


Membuat pria yang ada di dalam mobil tersebut merasa tersentuh, tersenyum dan berkata "gadis yang baik..." lirihnya hingga membuat sopir yang berada di depan merasa bosnya berkata sesuatu padanya, lalu mencoba bertanya memastikan "iya tuan Alex. Apa anda mengatakan sesuatu" tanya sopir pada bosnya yang dijawab tidak ada, dengan gerakan kepala, yang dapat di lihat dari kaca spion oleh sopirnya. Sopir pun mengerti dan kembali fokus kedepan.


__ADS_2