Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Tidak Mungkin


__ADS_3

Kemudian Rafi melihat ke arah sopir yang masih berada di dalam mobil, dia mencurigai sopir yang telah mengirimkan fotonya pada tuan Alex.


"Dasar... sopir sialan. Kenapa malah mengirimkan foto seperti ini pada tuan Alex. Membuatku kena omel saja" ucap Rafi dalam hati dengan gelisah dan bibir manyun.


Sementara Anita yang dari tadi memperhatikan Rafi saat menyemburkan minumannya merasa bingung dan bertanya-tanya.


"Tuan Rafi... Apa kau baik-baik saja" tanya Anita merasa heran.


"Maaf, nona. Tunggu sebentar. Saya segera kembali" ucap Rafi tanpa menjawab pertanyaan Anita.


Kemudian dengan segera menghampiri sopirnya tersebut yang bernama pak Amin dengan wajah kesal dan manyunnya.


Sementara pak Amin yang melihat Rafi datang menghampirinya, perlahan keluar dari dalam mobil tersebut.


"Pak Amin... Aduuhh kenapa bapak mengirimkan foto saya bareng nona Anita seperti ini. Ini malah membuat tuan Alex salah paham dan marah-marah sama saya" kesal Rafi sambil menunjukkan foto yang dia terima pada sopirnya tersebut.


"Ma.. maaf tuan. Saya tidak tahu. Saya hanya di suruh tuan Alex. Tadi beliau bilang anda tidak dapat di hubungi sama sekali kemudian menelepon saya dan meminta saya untuk memfoto keadaan tuan dan nona itu" ucap pak Amin jujur dengan wajah bersalahnya.


Membuat Rafi juga tidak tega untuk lanjut menegurnya. Dia merasa bukan salah pak Amin juga sudah melakukan hal itu.


Kemudian Anitapun datang dan menghampiri mereka.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Anita penasaran saat sudah berada di hadapan mereka.


"Oh.. tidak nona" ucap Rafi tidak berniat untuk melanjutkan permasalahannya.


"Kalau begitu, apa kita bisa melanjutkannya?" tanya Anita sudah merasa lelah dan gerah.


"Tentu nona... Sebentar saya bayar dulu nasi gorengnya" ucap Rafi sambil hendak pergi membayar makanannya.


"Tunggu. Tidak perlu, aku sudah membayarnya tadi" ucap Anita, menghentikan Rafi untuk membayar makanan tersebut.


"Maaf nona. Sudah membuat anda repot" ucap Rafi sedikit menunduk, merasa tidak enak hati telah membiarkan Anita membayar makanannya sendiri.


"Tidak masalah" ucap Anita menanggapinya, meskipun sebenarnya dia juga pas-pasan membayarnya.


"Kalau begitu, mari kita pergi sekarang" ajak Rafi.


Anita hanya mengangguk dan segera masuk kedalam mobil saat Rafi membukannya pintu mobil di kursi belakang.

__ADS_1


Kemudian mereka pun segera melanjutkan perjalanannya menuju rumah Alex.


Saat sudah sampai dan masuk melewati pintu pagar rumah Alex, segera Rafi ke luar lebih dulu berniat membukakan pintu untuk Anita.


Namun saat membuka pintunya, Rafi melihat Anita sudah tertidur pulas. Kemudian dengan rasa tidak enak, Rafi memberanikan diri untuk pelan-pelan mulai menepuk-nepuk pundak Anita supaya terbangun.


"Nona Anita. Kita sudah sampai. Nona.. nona Anita, bangunlah" ucap Rafi sambil menepuk-nepuk pundak Anita, berusaha membangunkannya.


Tapi tiba-tiba Alex datang dan menarik Rafi yang sedang berusaha membangunkan Anita.


Alex merasa tidak suka saat melihat asisten pribadinya tersebut begitu terlihat dekat di kursi belakang mobil saat Rafi berniat membangun Anita.


"Heh sedang apa kau?" pekik Alex sambil menarik kerah baju Rafi dari belakang. Yang terlihat olehnya, seolah Rafi hendak ingin melakukan hal tidak terpuji pada Anita.


Rupanya tanpa sadar, Alex merasa cemburu lagi dan salah paham pada Rafi.


"Ma... maaf tuan. Saya cuma mau membangunkan nona Anita. Tapi sepertinya beliau kecapean dan tertidur pulas" ucap Rafi terbata-bata merasa takut sambil menunduk dan membela diri.


"Menyingkirlah. Segera suruh pelayan untuk menyiapkan tempat tidurnya sekarang" ucap Alex pada Rafi merasa kesal.


"Ba..baik tuan" ucap Rafi merasa takut.


Kemudian setelah Rafi pergi, Alex mencoba untuk ikut membangunkan Anita. Dengan sedikit kasar Alex mulai menggoyang-goyangkan tubuh Anita.


"Hey gadis keras kepala bangunlah" lanjut Alex masih belum ada jawaban saat masih di depan pintu mobil.


"Dia ini tidur apa mati sih" ucap Alex menggerutu, sambil mencoba masuk kedalam mobil supaya bisa lebih dekat untuk membangunkan Anita.


Namun saat Alex mencoba memeriksa wajah Anita yang tidak kunjung berkedip ataupun bergerak. Membuatnya menatap wajah Anita lekat-lekat, namun yang di lihatnya malah wajah Anita yang terlihat sendu.


Dan tanpa Alex sadari juga membuatnya sedikit terpesona saat melihat Anita tertidur, apalagi wajahnya dan wajah Anita begitu dekat.


Diam-diam Alex menatap bibir Anita lekat-lekat hingga membuatnya terdorong untuk sedikit mencium bibir Anita meski hanya menempelkan bibirnya dengan pelan di bibir Anita.


Namun sesaat kemudian, Alex tersadar dan terperanjat, merasa dia sudah berbuat yang senonoh pada Anita hingga membuat kepalanya terbentur atap mobil lumayan keras. Membuatnya malu sendiri dan mengusap-usap kepalanya cepat.


Beruntung Anita masih tidur, dan tidak sadar kalau Alex sudah menciumnya diam-diam.


Sesaat membuatnya merasa lega karena Anita tidak juga bangun ataupun sadar. Hingga akhirnya dengan terpaksa Alex membopongnya sampai ke kamar yang sudah di siapkan lebih dulu.

__ADS_1


Pelan-pelan Alex mengeluarkannya dari dalam mobil kemudian membawanya sambil terus menatap wajah Anita yang tertidur pulas.


Sesampainya di kamar lantai bawah, Alex perlahan menidurkan Anita di atas kasur empuk tersebut. Sesaat Alex menyibakkan rambut Anita yang sedikit menutupi wajah cantiknya.


Dan saat Alex hendak melihat wajah Anita lekat-lekat, dia buru-buru membalikan badannya dari wajah Anita. Dia merasa takut khilaf lagi, takut terulang kembali kejadian tadi saat berada di dalam mobil, yang tanpa sadar telah mencium Anita diam-diam.


Kemudian Alex cepat-cepat keluar dari kamar tersebut, takut Anita tiba-tiba bangun dan tersadar lalu menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak, pikir Alex.


"Ya Tuhan... apa yang telah ku lakukan. Kenapa aku jadi ceroboh seperti tadi. Dasar bodoh... bisa-bisanya kau Alexander Wijaya, kau telah mencium gadis liar seperti dia" gerutu Alex saat sudah kabur dan sudah berada di dalam kamarnya sendiri.


Kemudian keesokan harinya, Anita perlahan bangun dari tidur pulasnya dan merasa kaget saat dia sadar sudah ada di kamar orang.


Lalu dia terperanjat dan segera keluar kamar untuk melihat dimana dia berada kini.


"Kamar siapa ini... Dimana aku?" ucap Anita saat sudah bangun dan pelan-pelan sadar.


Kemudian langsung terperanjat dan keluar kamar.


"Oh.. di rumah Lolita" ucap Anita merasa tenang saat di pikirnya berada di rumah sahabatnya dan hendak kembali masuk kedalam kamar tadi.


"Tunggu!" lirih Anita sambil memegang gagang pintu saat mulai menyadari sesuatu.


"Lolita?" tanya Anita pada dirinya sendiri dengan mata melototnya.


"Ti.. tidak mungkin. Lo..Lolita kan sudah berangkat ke luar negri. Lalu bagaimana bisa aku berada disini" ucap Anita sambil berpikir bagaimana dirinya bisa sampai berada di rumah tersebut.


"Bu... bukannya aku semalam di bawa ke rumah tuan Alexander Wijaya da......n bukannya ayah Lolita juga namanya sama de...dengan dia. Ti... tidak mungkin. Aku pasti salah.... aku pasti salah" ucap Anita saat menyadari segala kejadian yang menimpa dirinya berhubungan dengan Lolita juga ayahnya.


Namun Anita masih berharap itu hanyalah sebuah kebetulan dan rumah yang saat ini akan di tempatinya hanya mirip saja dengan rumah Lolita.


Kemudian karena masih penasaran dan ingin meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa itu bukanlah rumah sahabatnya dan hanya kebetulan semata.


Segera Anita keluar rumah, melihat sekeliling dan beberapa orang seperti satpam yang pernah dilihatnya. Ternyata sama seperti yang ada di rumah Lolita, saat beberapa kali Anita menginap di rumah sahabatnya waktu lalu.


Seketika hal itu membuat Anita seolah-olah bumi berputar memperlihatkan kesamaan tempat tersebut dengan rumah tempat sahabatnya.


"Astaghfirullah...." ucap Anita terbelalak saat berada di luar rumah, sambil berputar pelan melihat keadaan sekitar yang pernah di singgahinya.


"lailahaillalloh...." ucap Anita tak percaya dengan apa yang telah di lihatnya sambil menutup mulutnya merasa kaget.

__ADS_1


"Allah huakbar..." pekik Anita merasa pusing menerima kenyataan tersebut sambil menaru tangannya di atas keningnya sendiri.


"Tidaaakk..." teriak Anita saat mengingat bahwa yang selama ini dia musuhi Alexander Wijaya, kemungkinan benar-benar ayah dari sahabatnya, Lolita.


__ADS_2