
Keesokan harinya di kantor, Alex berniat untuk mengajak Anita makan malam di luar. Dia berencana untuk menyatakan perasaan cintanya pada Anita, sebelum mimpinya benar-benar menjadi kenyataan.
Alex benar-benar ketakutan saat dia bermimpi di tinggal pergi Anita karena dia tidak bisa mengungkapakan perasaan yang sebenarnya pada Anita. Dan Alex tidak mau jika itu sampai terjadi padanya.
Dan kali ini dia tidak ingin Anita menganggap perasaannya sebagai lelucon lagi, seperti apa yang telah Anita anggap sebelum-sebelumnya.
Sementara itu di rumah, Anita sedang menyiapkan makan siang Alex seperti biasanya.
Tapi kali ini, Anita terlihat bersemangat dan tersenyum sambil memasak kesukaan Alex. Tidak seperti biasanya yang slalu manyun dan menggerutu setiap kali memasak untuk Alex.
Dan hal itu terlihat oleh Mbo Inah yang selalu memperhatikannya dan memata-matainya sesuai perintah Lolita untuk terus memantau perkembangan hubungan Anita dengan Alex, tanpa sepengetahuan keduanya.
"Duuh... sepertinya nak Anita sedang bersemangat sekali memasaknya hari ini. Tumben tidak lagi menggerutu dan cemberut seperti biasanya. Apa ada sesuatu yang membuat nak Anita bahagia hari ini?" ucap Mbo Inah saat melihat expresi bahagia Anita yang terpancar dari wajahnya dan mulai bertanya-tanya, berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"O yah, Mbo?. Memangnya selama ini Mbo diam-diam memperhatikan saya, ya?. Sampai tahu kebiasaan raut wajah saya" tanya Anita sambil berseloroh.
"Ya gimana Mbo tidak tahu. Orang Mbo tiap hari nemenin nak Anita masak buat tuan" ucap Mbo Inah beralasan.
"Jadi... kenapa nak Anita tumben-tumbenan bersemangat begitu?" tanya Mbo Inah masih kepo.
"Mmhh... kasih tahu gak ya?" ucap Anita berseloroh lagi pada Mbo Inah, tanpa berniat mengatakan yang sebenarnya.
Tapi bagaimana Anita mau jujur pada Mbo Inah, bahwa dirinya sedang bahagia dan bersemangat karena dirinya hendak ingin bertemu dengan Alex. Meskipun sebenarnya Anita masih ragu dengan perasaan yang di milikinya saat ini untuk Alex.
Tapi yang jelas saat ini Anita sedang merasa bersemangat untuk mengantarkan makan siang dan bertemu dengan suami sahnya tersebut.
"Ah... palingan nak Anita sedang jatuh cinta sama seseorang" celetuk Mbo Inah, memancing Anita.
"Yee... Mbo sok tahu, nih" ucap Anita pada Mbo Inah.
"Ya... nak Anita meremehkan Mbo. Gini-gini Mbo juga sudah berpengalaman. Bagaimana melihat seorang gadis kalau dia sedang jatuh cinta pada lawan jenisnya. Ya contohnya seperti nak Anita ini, yang tiba-tiba bersemangat dan tersenyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas" ucap Mbo memberitahu dan menjelaskannya pada Anita.
"Tapi... nak Anita tidak sedang jatuh cinta pada tuan, kan?" lanjut Mbo Inah sambil melirik Anita yang tiba-tiba terdiam saat tadi mendengarkan penjelasan Mbo Inah padanya.
"Nak Anita?.... Nak Anita?" pekik Mbo Inah yang melihat Anita tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Kok malah melamun?. Nanti masakannya hangus itu" ucap Mbo Inah sambil memberitahu Anita yang masakannya hampir hangus karena lamunannya yang tiba-tiba.
"Ah... iya, Mbo. Maaf" ucap Anita saat kembali tersadar dari lamunannya, kemudian segera mengangkat masakannya.
"Tuh, kan benar. Nak Anita ini sedang jatuh cinta" ucap Mbo lagi menanggapi sikap Anita yang mendadak tidak fokus.
"Iihh... Mbo, ngasal deh... Sok tahu ah. Aku ini cuma lagi bersemangat aja. Gak ada hubungannya sama aku lagi jatuh cinta atau enggak, Mbo ku sayang" ucap Anita mencoba mengelak ucapan Mbo Inah dan membohongi perasaannya sendiri.
"Ya sudah kalau begitu, terserah nak Anita saja" ucap Mbo Inah menyerah memberitahu Anita.
"Kalau begitu Mbo tinggal dulu, ya. Mau ngerjain tugas yang lainnya" lanjut Mbo Inah hendak ingin mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
"Iya, Mbo. Sebentar lagi aku juga mau pergi mengantarkan makan siang untuk tuan" ucap Anita ikut memberitahu Mbo Inah.
"Makasih ya Mbo udah bantuin"
Kemudian Mbo Inah pun pergi setelah mengangguk dan meninggalkan Anita sendiri di dapur sambil menyiapkan rantang yang akan digunakannya untuk menaruh makan siang Alex.
Setelah itu Anita pun segera pergi dan meminta pak Amin untuk mengantarkannya ke kantor Alex.
Di dalam perjalanan menuju kantor Alex, terlihat Anita sedang melamun. Dia mulai kepikiran dengan apa yang telah di katakan Mbo Inah tadi kepadanya.
"Tapi... masa iya sih aku jatuh cinta pada tuan Alex, dia kan ayah sahabat ku. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya. Ah... palingan ini perasaan ngawur ku saja kali ya" lanjut Anita dalam hati.
"Tapi... bagaiman kalau Tuhan benar-benar menghendaki, dan ternyata jodohku ayah sahabatku sendiri. Bagaimana aku akan memanggil sahabatku nanti. Masa iya aku harus memanggilnya nak Lolita, Lolita putriku dan dia memanggilku mami.... aduuh menggelikan sekali memikirkannya" kembali Anita berkata dalam hati dan menghayal yang tidak-tidak.
"Ah sudahlah, mana mungkin itu terjadi.. tidak, tidak... tidak mungkin" lanjut Anita dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
Membuat pak Amin yang melihatnya dari kaca spion merasa Aneh dan bingung.
"Non Anita. Apa anda baik-baik saja. Kenapa geleng-geleng kepala begitu. Apa anda sedang sakit kepala?" tanya pak Amin bertubi-tubi dan merasa khawatir melihat keanehan Anita di belakang kursi tempat duduknya.
"Ah... iya pak Amin. Saya sedikit merasa pusing. Tapi sudah tidak apa-apa. Pak Amin tenang saja, saya masih bisa mengatasinya" ucap Anita saat menyadari prilakunya yang terlihat sedikit aneh di anggap orang, tapi kemudian dia langsung berpura-pura sakit kepala sambil memegang kepalanya.
Meski tanpa pak Amin sadari Anita mengumpat kebodohannya sendiri yang terlihat bersikap aneh oleh pak Amin, sambil menutup wajahnya yang sedikit terlihat mengerutkan wajahnya karena merasa malu.
__ADS_1
"Apa anda yakin, nona Anita?" tanya pak Amin memastikan, sambil tetap fokus mengendarai mobilnya.
"Iya pak Amin, saya yakin" ucap Anita tegas dan meyakinkan.
Kemudian pak Amin pun segera melajukan mobilnya dengan cepat, supaya dapat lebih cepat sampai ke perusahaan tuannya.
Dan sesampainya di depan perusahaan tuannya, Pak Amin segera turun dan membukakan pintu belakang mobil untuk Anita.
Mereka sudah tidak lagi saling tarik menarik seperti yang pernah di lakukan sebelumnya, Anita sudah pasrah dengan perlakuan pak Amin yang menurutnya terlalu berlebihan menganggapnya seperti atasannya sendiri.
Padahal, Anita sudah berulangkali memberitahu pak Amin untuk menganggapnya sama seperti dirinya sendiri yang juga bekerja pada tuan Alex. Tapi pak Amin yang sudah paham dan mengerti dengan sikap tuannya selama ini pada Anita, tidak bisa begitu saja menyamakan dirinya dengan Anita.
Namun pak Amin juga tidak bisa ikut campur dengan hubungan mereka berdua yang terkadang membuatnya geleng-geleng kepala.
Lagipula bagaimana mungkin seorang sopir seperti dirinya berani menyuruh bosnya untuk mengutarakan perasaan cintanya pada Anita yang jelas-jelas terlihat oleh mata pak Amin.
Kemudian Anita pun segera masuk ke dalam lift setelah izin dan melewati resepsionis.
Sementara Alex masih sedang menerima tamu di ruangannya, terlihat tamunya sedang berbicara serius kepadanya namun Alex sesekali melihat jam ditangannya nampak tidak fokus mendengarnya.
Rupanya tamu tersebut adalah Raja yang mana dia di minta oleh ayahnya untuk menggantikannya bertemu dengan Alex.
Dan yang Alex tahu Raja dan Anita memiliki hubungan yang cukup dekat. Dan hal itulah yang membuat Alex khawatir dan tidak ingin jika sampai melihat mereka bertemu di ruangannya tersebut.
Rupanya belum apa-apa Alex sudah kembali merasa cemburu pada Raja. Terlebih setiap kali mengingat mimpi buruknya yang di abaikan dan di tinggalkan oleh Anita.
Dan hal itu membuat Alex sedikit menjadi paranoid.
Alex benar-benar tidak ingin sampai mereka bertemu. Apalagi kalau Raja sampai tahu bahwa Anita bekerja dan tinggal bersamanya.
Sementara Raja yang melihat Alex gelisah dan tidak fokus membuatnya merasa heran dan mulai bertanya-tanya pada Alex.
"Tuan Alex, apa anda baik-baik saja. Sepertinya anda sedang tidak fokus untuk mendengarkan penjelasan saya" ucap Raja pada Alex.
"Ah... maaf, iya aku memang agak sedikit tidak fokus untuk mendengarkan penjelasan anda sekarang. Bisakah kita membicarakan kerjasama ini nanti setelah makan siang?" ucap Alex dan meminta untuk membicarakan pekerjaannya nanti.
__ADS_1
Alex tidak perduli Raja akan menerimanya atau tidak dan menganggapnya tidak profesional. Tapi yang jelas dia tidak ingin Anita sampai melihat Raja ada di ruangannya.
Kemudian dengan sedikit rasa kecewa, akhirnya Raja menerima meetingnya tersebut di tunda dan di undur.