
Beberapa minggu kemudian Anita masih belum berani mengungkapkan perasaannya. Membuat Alex merasa tidak sabaran lagi.
Terlebih setiap kali melihat Anita membuatnya harus terus menahan diri dan bertahan dalam situasi panas dinginnya yang terkadang datang tiba-tiba.
Dia merasa apa yang di lakukan Anita lama-lama menyiksa batinnya, tidak dapat memberinya kepastian.
Hingga akhirnya Alex harus memutuskan sesuatu. Namun sebelum itu dia ingin bertanya sekali lagi pada Anita.
Seperti sekarang ini saat Anita mengantarkannya makan siang ke kantor. Alex ingin segera mendengar jawaban Anita dan dia juga berpikir harus menerima apapun jawaban Anita untuknya.
"Anita?" ucap Alex setelah selesai makan siang buatan Anita seperti biasanya.
Dan setelah diam-diam memperhatikan Anita yang dari tadi terlihat membaca majalah sambil menunggunya selesai makan.
"Iya, tuan?" ucap Anita sambil menutup majalah yang dari tadi tidak tahu dia membacanya atau hanya sekedar mengalihkan pandangannya dari wajah Alex.
"Apa kau tahu. Ini sudah berminggu-minggu lamanya, aku menunggu jawaban darimu semenjak terakhir kali aku bertanya padamu, maukah kau menikah denganku secara resmi dan terbuka" ucap Alex serius sambil menatap Anita dalam-dalam.
Dan... deg... membuat Anita yang mendengarnya kembali merasa deg-degan. Dia masih merasa serba salah, sebelum dia mengatakan yang sebenarnya pada Alex.
"Tuan... Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat anda menunggu terlalu lama" ucap Anita setelah beberapa saat tertegun mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara pada Alex.
"Tapi... sebelum saya menjawab pertanyaan tuan itu. Izinkan saya untuk mengatakan sesuatu pada anda" lanjut Anita setelah sesaat menunduk berusaha mengumpulkan keberaniannya lagi.
"Tidak perlu meminta izin. Katakanlah apa yang ingin kau katakan padaku. Aku akan mendengarkan mu" ucap Alex masih terlihat santai menanggapi ucapan Anita.
"Tuan... Apa kau yakin, bahwa anda benar-benar mencintai saya?" ucap Anita meyakinkan perasaannya.
"Ya tentu saja. Aku sudah berkali-kali mengatakan hal itu pada mu" jawab Alex dengan lugas dan percaya diri.
"Tapi.. bagaimana kalau anda sedang jatuh cinta pada sahabat putri anda sendiri?" ucap Anita mencoba mencari tahu apa yang selama ini dia takutkan.
"Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa aku mencintai sahabat anakku sendiri. Apa kata orang nanti, dan apa yang akan di pikirkan putriku jika aku sampai mencintai sahabatnya sendiri. Orang-orang pasti akan menganggap ku pedofil. Pertanyaan mu aneh-aneh saja" ucap Alex mengatakan pendapatnya, dia tidak sadar bahwa dia sedang membicarakan hubungannya sendiri dengan Anita.
"Tapi itulah kenyataannya, tuan. Aku sahabat putri Anda, Lolita" ucap Anita jujur, namun dia juga diam-diam mulai merasa sedih saat mendengar jawaban Alex tadi.
Tapi Anita berusaha untuk menguatkan hatinya, apa yang selama ini dia takutkan ternyata benar.
Dan dia juga telah mendengar dari mulut Alex sendiri bahwa dia tidak mungkin mencintai sahabat putrinya sendiri.
"Apa maksud mu?. Kau jangan mengada-ngada hanya untuk menolak lamaran ku. Kalau kau memang tidak mencintaiku sama sekali. Jangan membawa-bawa putriku dalam hal ini" ucap Alex mulai terpancing amarahnya, dia tidak ingin percaya bahwa Anita benar-benar sahabat putrinya sendiri.
__ADS_1
"Tapi itu benar adanya. Apa tuan lupa saat tuan pertama kali meminta saya untuk menjaga Lolita saat sedang sakit" ucap Anita dan bertanya, mulai membuat Alex mengingat kembali kejadian yang sedang di katakan Anita padanya.
"Apa tuan lupa saat tuan tiba-tiba pulang tengah malam dan menubruk saya" ucap Anita menambah ingatan Alex yang tiba-tiba menguntai kejadian-kejadian saat bertemu Anita yang tidak pernah kelihatan wajahnya sebagai sahabat putrinya tersebut.
"Dan apa tuan tidak ingat juga saat kita menonton bersama di bioskop. Itu adalah saya, tuan" ucap Anita tidak ingin lagi menanggung beban ketidak jujurannya.
Namun Alex yang tidak bisa terima dengan kejujurannya dan merasa di bohongi oleh Anita, terlihat perubahan raut wajah Alex yang penuh dengan amarah dan rasa sakit saat mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir Anita.
Membuat amarahnya tak terkendalikan, terlebih saat dia tidak suka dengan seseorang yang suka berbohong padanya.
Dan saat Anita hendak menjelaskan bahwa dirinya juga baru tahu bahwa Alex adalah ayah sahabatnya saat dia terbangun di pagi hari karena dipaksa untuk bekerja dan tinggal di rumahnya.
Namun Alex yang sudah terlanjur marah karena merasa telah di tipu dan di manfaatkan oleh Anita, terlebih di saat Alex sudah mencintainya. Dia merasa tidak ingin mendengar lagi ucapan ataupun alasan dari mulut Anita yang sudah di anggap Alex sebagai pembohong besar.
"Sudah cukup. Jangan berkata apapun lagi. Ternyata selama ini kau benar-benar telah menipuku. Setelah kau memanfaatkan aku dan membuatku jatuh cinta padamu. Tega-teganya kau mengatakan semua itu. Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, kalau kau melakukan itu, tidak mungkin aku akan jatuh cinta padamu" ucap Alex penuh amarah saat Anita hendak ingin berkata lagi.
Sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit di ulu hati setelah mendengar pengakuan Anita padanya.
"Dasar brengsek... cepat keluar dari ruangan ku. Aku tidak mau melihatmu lagi. Dan pastikan malam ini kau sudah tidak lagi ada di rumahku. Aku tidak mau membiarkan seorang pembohong besar seperti dirimu tinggal di rumahku apalagi menjadi sahabat putriku sendiri dan jangan lagi kau berteman dengan anakku" ucap Alex membelakangi Anita tidak sudi melihatnya lagi sambil tetap memegangi dadanya yang semakin terasa sakit.
Sementara Anita yang melihat sikap Alex yang bereaksi keras padanya membuatnya tidak lagi bisa menahan air matanya untuk keluar.
Andai saja Anita mengatakannya dari awal bahwa dia adalah sahabat putrinya. Mungkin Alex tidak akan memaksanya tinggal di rumahnya saat itu. Dan tidak akan membuatnya jatuh cinta seperti saat ini.
Sementara orang-orang yang mendengar teriakan Alex dari luar merasa heran dan takut juga. Namun diam-diam mereka juga merasa penasaran siapa yang sedang berbicara dengan bos mereka hingga membuatnya terdengar marah dan berteriak.
Namun Sonia yang mengetahui dari awal siapa yang berada di dalam ruangan bosnya tersebut. Dia malah terlihat senang dan tersenyum jahat saat melihat Anita keluar di pastikan dalam keadaan menangis.
"Hemmh... akhirnya gadis kampung itu kena karmanya juga. Aku yakin setelah ini dia pasti tidak akan pernah kembali lagi ke kantor ini. Apalagi mendengar suara tuan Alex yang terdengar sangat marah seperti tadi" ucap Sonia sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, merasa menang karena berhasil melihat Anita pergi dengan tangisan yang di akibatkan oleh kemarahan tuannya tersebut.
"Tapi baguslah... aku tidak perlu bersusah payah untuk menyingkirkannya dari sisi tuan Alex. Kali ini aku harus berhasil mendapatkan perhatian tuan Alex setelah kepergian gadis kampung tak berguna itu" lanjut Sonia berbicara sendiri dan berpikir akan mencoba kembali mendekati tuannya.
Sementara itu, Anita sudah masuk ke dalam mobil sambil menangis. Membuat pak Amin yang sedang ketiduran di belakang setirnya terbangun karena mendengar isak tangis Anita yang menyayat hati.
"Non Anita. Kenapa tiba-tiba menangis begitu?" ucap pak Amin setelah terbangun dari tidurnya dan mulai merasa khawatir saat melihat Anita menangis seperti itu.
"Tidak pak Amin. Saya tidak kenapa-napa. Bisakah kita pulang sekarang?" ucap Anita sambil berusaha menghapus air matanya. Namun tetap saja dia tidak bisa mengendalikan perasaannya saat ini. Dia terus saja menangis setiap kali mengingat kata-kata Alex yang menyakitkan hatinya.
Dia tidak menyangka usahanya untuk jujur terlebih dahulu sebelum menyatakan cintanya pada Alex malah membuatnya di tuduh yang tidak-tidak oleh Alex.
Meskipun sebelumnya dia sudah menduga jika dia mengatakan yang sebenarnya kemungkinan Alex tidak akan menyukainya.
__ADS_1
Tapi Anita tidak menyangka bahwa Alex akan bereaksi sekeras dan semarah itu setelah dia melihat kesungguhan Alex yang terus perhatian dan mengatakan cinta padanya.
Namun apa boleh buat, Anita juga telah merasa bersalah tidak seharusnya dia mendiamkan kebenarannya dari awal saat pertama kali dia di paksa tinggal oleh Alex di rumahnya.
Dan mungkin dia juga tidak akan jatuh cinta pada Alex jika dia tidak tinggal dan hidup bersama selama beberapa bulan ini.
Sementara itu, Alex yang masih di ruangannya terlihat marah dan menggebrak meja dengan kedua tangannya beberapa kali meluapkan amarahnya lalu mulai menjambak rambutnya merasa frustasi.
Malam pun tiba, namun Alex tidak terlihat sudah pulang dari kantornya hingga makan malam yang sudah Anita buatkan dingin begitu saja.
Membuatnya terlihat sedih dan semakin merasa bersalah. Mbo Inah yang melihat kesedihan Anita di lantai dapurnya mulai mendekatinya dan duduk bersama Anita.
"Nak Anita. Ada apa sebenarnya. Kenapa tuan tidak datang seperti biasanya. Dan kenapa kamu bersedih seperti ini. Apa terjadi sesuatu di antara kalian?" tanya Mbo Inah bertubi-tubi sambil memegang pundak Anita yang terlihat sedang duduk sambil membenamkan wajahnya di kedua kakinya untuk menutupi rasa sedihnya.
Kemudian Anita yang tidak bisa menahan tangisnya lagi segera memeluk Mbo Inah dan mencoba mencurahkan isi hatinya pada Mbo Inah yang sudah di anggapnya sebagai keluarganya sendiri.
"Mbo..." ucap Anita sambil menangis dan memeluk Mbo Inah.
"Tuan marah besar padaku. Dia merasa di bohongi dan di tipu oleh ku. Karena aku tidak memberitahu bahwa aku sebenarnya sahabat putrinya. Dan dia pikir aku sedang memanfaatkannya" ucap Anita berkata jujur pada Mbo Inah.
"Loh... kok bisa begitu. Bukannya non Lolita sudah memperkenalkan kalian berdua lebih dulu. Mbo jadi tidak mengerti, seharusnya kan tuan sudah tahu kalau kamu itu memang sahabat putrinya?" ucap Mbo Inah merasa bingung.
Karena yang selama ini Mbo Inah kira mereka sudah saling mengenal satu sama lain karena sudah di perkenalkan oleh Lolita.
"Mbo memang benar. Kami memang awalnya sudah di perkenalkan oleh Lolita tapi tanpa melihat wajah kami masing-masing karena situasi yang kami sendiri tidak menyadarinya" ucap Anita mencoba menjelaskannya pada Mbo Inah sambil terlihat masih menangis.
"Awalnya aku juga sempat mengira bahwa tuan adalah orang asing dan bukan ayah Lolita. Hingga akhirnya karena suatu hal aku di paksa bekerja disini dan di suruh tinggal di rumah ini. Sampai akhirnya aku terbangun di pagi hari dan melihat semua ini adalah rumah Anita yang membuatku mulai menyadari bahwa yang selama ini aku kenal sebagai orang asing adalah ayah dari sahabatku sendiri. Dan kesalahanku saat itu, aku tidak langsung mengatakannya. Dan sekarang tuan benar-benar marah padaku Mbo" lanjut Anita panjang lebar curhat pada Mbo Inah sambil kembali menangis lagi.
"Sudah sudah. Jangan menangis lagi, Mbo yakin tuan Alex pasti hanya marah sebentar. Besok pagi pasti dia juga sudah melupakannya" ucap Mbo Inah berusaha menenangkan Anita.
"Enggak mungkin Mbo. Tadi dia sudah mengusirku dan memintaku untuk tidak lagi bersahabat dengan Lolita. Jadi sekarang, aku harus segera membereskan barang-barangku dulu" ucap Anita sambil menghapus air matanya dan bangkit dari posisi duduknya di lantai.
Segera Anita berjalan dan masuk ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya.
Mbo Inah yang merasa khawatir segera mengikuti Anita dan berusaha membujuknya untuk tidak pergi dari rumah tersebut.
"Nak Anita kamu tenang dulu, jangan tiba-tiba ingin pergi begitu saja. Setidaknya tunggu sampai tuan pulang dulu, siapa tahu tuan berubah pikiran saat kamu kembali meminta maaf lagi padanya" ucap Mbo Inah pada Anita yang sedang terlihat memasukan barang-barang pada kopernya.
"Lagipula malam-malam begini kamu mau pergi kemana?" lanjut Mbo Inah berusaha membuat Anita berubah pikiran untuk tidak pergi dari rumah tersebut.
"Baiklah Mbo. Saya akan menunggu tuan dulu tapi bukan untuk tetap tinggal disini, melainkan untuk berpamitan padanya" ucap Anita pada Mbo Inah.
__ADS_1