Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Maen Handphone


__ADS_3

Lalu saat Anita sudah menyadari telah berada di atas kasur tuannya, dia segera terperanjat dan langsung berdiri di hadapan Alex juga Mbo Inah.


"Ma..maaf, tuan. Saya sudah lancang" ucap Anita saat sudah berdiri di hadapan Alex dan menunduk malu.


"Sudahlah. Lain kali kalau kau sudah tidak kuat katakan saja, jangan sok-sok'an kuat menahan tubuhku" pekik Alex berbicara pada Anita, namun terdengar sedikit ambigu oleh Mbo Inah yang masih berada di antara mereka.


Membuat Mbo Inah yang mendengarnya merasa heran dan geleng-geleng kepala berpikir yang tidak-tidak, terlebih mengingat Anita tiba-tiba sudah ada di atas kasur tuannya.


Dan Mbo Inah juga merasa menyayangkan jika tejadi sesuatu yang tidak-tidak di antara mereka, mengingat belum ada hubungan tali suami istri di antara tuannya dan Anita.


"Ya Allah, tuan sampe segitunya sama nak Anita. Apa tuan tidak melihat kalau nak Anita itu, kan teman anaknya sendiri. Mana mereka belum ada hubungan apa-apa, apalagi menikah" ucap Mbo Inah dalam hati setelah mendengar tuannya bicara seperti itu.


Kemudian terdengar suara kruyuk perut memanggil dari arah Anita. Membuat Alex dan Mbo Inah yang mendengarnya langsung menatap Anita bingung.


"Maaf gak sengaja" ucap Anita dengan wajah malunya, sambil memegang perutnya merasa lapar. Tidak bisa mengelak ataupun menyembunyikannya, sudah ketahuan Alex dan Mbo Inah bahwa perutnya yang bersuara.


"Mbo, suruh dia segera makan, beri dia obat dan juga vitamin. Lalu suruh dia istirahat dulu. Biar dia gak lemah lagi seperti tadi" ucap Alex pada Mbo Inah memintanya untuk memberi Anita makan dan lainnya.


"Setelah itu baru suruh dia balik lagi ke kamarku, tapi kalau masih gak kuat juga jangan sok-sok'an memaksakan diri, bilang padanya" ucap Alex masih dengan nada kesalnya, menyuruh Mbo Inah untuk mengatakannya pada Anita meskipun orangnya masih berada di hadapannya.


Namun kata-kata seperti itu entah mengapa membuat Mbo Inah masih sedikit ambigu dan berpikiran yang tidak-tidak.


Hingga membuat Mbo Inah memberanikan diri untuk berbicara pada tuannya.


"Tuan, sebelumnya Mbo minta maaf" ucap Mbo Inah mulai berbicara.


"Tolong, tuan. Tuan jangan seperti itu sama nak Anita. Kasihan dia, masa depannya masih jauh. Kalau tuan melakukan hal itu, bagaimana nasibnya nanti" ucap Mbo Inah merasa khawatir tuannya melakukan hal yang tidak di inginkan pada Anita, meskipun dia salah mengira.


Membuat Anita yang mendengarnya merasa terkejut dan malu sendiri, saat sadar apa yang di katakan Mbo Inah pada tuannya salah paham.


Apalagi Alex yang merasa bingung dengan kata-kata Mbo Inah yang mendadak menceramahi nya.


"Maksud Mbo apa. Memangnya saya tidak boleh menyuruhnya ke kamar saya lagi untuk membantu saya berdiri jika ingin ke mana-mana" ucap Alex sedikit bertanya namun juga menjelaskan.


Membuat Mbo Inah kembali sadar dan mengerti apa maksud tuannya bicara seperti itu pada Anita. Meskipun sedikit merasa malu sendiri karena salah paham dan secara tidak langsung telah menuduh tuannya hendak berbuat hal yang tidak-tidak pada Anita.

__ADS_1


"Woalah.... saya kira apa. Maaf tuan saya yang salah, telah berpikir yang..." ucap Mbo Inah meminta maaf menyadari kesalahpahaman nya sambil menunduk malu.


Namun kalimatnya terhenti tidak ingin menyinggung tuannya dan Anita yang mungkin akan salah paham juga jika mendengar kata-kata nya.


"Berpikir apa Mbo?" tanya Alex penasaran, meskipun sebenarnya Alex tahu apa maksud Mbo Inah berbicara seperti itu.


Sementara Anita yang melihat Mbo Inah tidak dapat menjawab pertanyaan tuannya dan terlihat tertunduk malu dan mencari-cari alasan lainnya, merasa kasihan dan segera membawanya keluar menghindari pertanyaan Alex lebih lanjut.


"Maaf tuan kami harus segera ke bawah dulu, nanti saya kembali lagi" ucap Anita sambil menggandeng Mbo Inah dan sesaat menunduk lalu segera membawanya pergi keluar dari kamar Alex.


Kemudian Anita dan Mbo Inah pun pergi menuju dapur, meninggalkan Alex sendiri di kamarnya.


"Aduh... nak Anita, Mbo minta maaf, ya. Mbo udah salah mengira" ucap Mbo Inah merasa bersalah setelah berada di dapur.


"Tidak apa-apa, Mbo. Jangan terlalu di pikirkan, ya" ucap Anita mencoba menenangkan perasaan Mbo Inah.


Kemudian terdengar kembali suara perut Anita yang memang dari tadi sudah merasa lapar.


"Ya sudah, nak Anita makan dulu, ya. Biar gak pingsan lagi seperti tadi. Mbo ambilkan nasinya dulu, ya" ucap Mbo Inah lembut, setelah mendengar panggilan dari perut Anita, yang di jawab anggukan olehnya sambil tersenyum tipis.


Kemudian Anita pun dengan lahap memakannya, beruntung tidak ada lagi yang tiba-tiba datang dan nyinyir seperti waktu pertama Anita bekerja di rumah tersebut.


Sementara itu Alex yang melihat Anita dan Mbo Inah sudah pergi dari kamarnya, segera beranjak dari tempat duduknya untuk mengganti pakaiannya. Meskipun dengan kaki yang terpincang-pincang menahan beban tubuhnya.


Dengan pelan-pelan dia mulai membuka kancing kemejanya dan juga celana yang tadi pagi sudah susah payah dia memakainya namun kembali dia harus melepaskan nya karena tidak jadi berangkat ke kantor.


Kemudian setelah itu, Alex membuat panggilan dengan Rafi untuk menyuruh Rafi menggantikannya meeting dan memberitahunya bahwa beberapa hari ke depan dia tidak bisa masuk ke kantor di karena kan sedang sakit.


Sementara itu, Rio yang sudah mulai bekerja di perusahaan milik papanya, kembali merasa bosan setelah beberapa hari melakukan pekerjaan kantornya.


Dia merasa masih belum siap untuk bekerja membantu papinya di kantor. Namun mengingat maminya yang cerewet dan pamannya yang tidak lagi mengizinkannya menginap di rumahnya membuatnya setres dan terpaksa menuruti semua keinginan maminya tersebut.


Karena dia merasa tidak punya tempat tinggal untuk menginap lagi. Mengingat maminya sudah tidak lagi memberikan uang jor-joran padanya. Sehingga Rio tidak bisa lagi dengan bebas pergi, apalagi menyewa apartemen sendiri untuknya.


Sementara di tempat Dewi, dia sudah tidak mau lagi menginap di sana. Rio juga sudah benar-benar memutuskan Dewi sebagai kekasihnya.

__ADS_1


Tidak lagi perduli dengan sikap Dewi yang terus-terusan mengikutinya dan juga tidak bosan-bosannya Dewi menelpon ataupun mengirim pesan padanya untuk menolak permintaan Rio yang memutuskannya sebelah pihak.


Saat ini Rio sedang berada di kantornya, namun dia terlihat malas-malasan untuk bekerja. Dia mulai merasa bosan dan mencoba menghilangkan rasa bosannya dengan memainkan handphonenya.


Dia terus membuka-buka aplikasi tanpa berniat melihatnya lebih lanjut. Kemudian dia membuka galeri foto dan mulai menscrol keatas berharap menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik.


Dan tanpa sengaja Rio menemukan foto Anita yang pernah dia ambil saat mencoba mengancamnya untuk di berikan pada Lolita karena Anita pulang malam-malam dengan berjalan kaki.


Kemudian Rio pun mulai terlihat tersenyum kembali merasa senang hanya dengan melihat foto Anita di handphonenya.


Dia tidak menyangka hanya dengan melihat foto Anita membutnya sesenang itu. Tapi dia sendiri lebih tidak menyangka saat papinya tanpa sengaja memergokinya sedang senyam senyum sendiri kemudian menggebrak mejanya dengan cukup keras.


"Apa yang kau lakukan" pekik papi Rio yang bernama Sanjaya Baskoro sambil menggebrak meja anaknya tersebut, tidak suka melihat karyawannya bermalas-malasan di jam kerja termasuk anaknya sendiri.


"Ma.. maaf Pi" ucap Rio terbata-bata setelah tadi merasa kaget.


"I... ini Pi" lanjut Rio gelagapan mencoba mencari alasan yang masuk di akal, supaya papinya tidak marah lagi.


"Ini apanya. Kalau bicara yang jelas. Kau ini bukannya bekerja dengan benar, malah maen handphone. Bagaimana karyawan lain akan mencontohmu dengan baik, Rio" ucap papi tidak mau membuat anaknya manja dan bermalas-malasan hanya karena dia adalah anak bosnya. Namun dengan nada suara yang menjaga perasaan anaknya supaya tidak terlalu tersinggung.


"Iya, Pi. Maaf...Rio gak akan lagi-lagi" ucap Rio berpura-pura menurut sambil menundukkan kepalanya di depan ayahnya sendiri.


"Ok, sekarang papi maafkan. Tapi untuk memberi efek jera, gaji dan uang jajan kamu papi potong, mengerti" ucap papi Rio dengan tegas.


Namun membuat Rio yang mendengarnya merasa tidak terima dan mendadak meringis seperti anak kecil yang tidak mau maenannya di ambil orang.


"Ahhh... gak bisa gitu dong Pi. Rio gak mau, kalau Papi sampe motong gaji Rio, Rio aduin mami nanti" ucap Rio pada papinya seperti anak kecil.


"Apa-apaan kau ini, bertingkah seperti anak kecil begini. Kau ingin Papi pukul, hah" ucap papi Rio saat melihat anaknya bertingkah seperti itu di depannya juga asisten pribadinya yang diam-diam merasa terhibur dengan tingkah lucu anak bosnya tersebut.


"Dan kau, kenapa tertawa. Apa kau menertawakan anak kesayanganku, hah?" pekik papi Rio merasa tidak terima anaknya di tertawakan seperti itu oleh asisten pribadinya sendiri, membuat Rio merasa tersentuh dan mendadak kembali diam.


"Kau ingin aku potong juga gaji mu, hah?" lanjut papi Rio pada asisten pribadinya.


"Ti... tidak, tuan. Jangan. Maafkan saya" ucapnya sambil menunduk merasa takut dengan ancaman bosnya tersebut.

__ADS_1


Kemudian papi Rio segera pergi meninggalkan ruangan anaknya dengan di ikuti asisten pribadinya tadi.


__ADS_2