
"Kata Mbo Inah, kamu lagi gak enak badan, makanya aku kesini. Apa kamu baik-baik aja?" ucap Alex dan sedikit bertanya.
"Aku.... baik-baik aja, tuan. Hanya saja tadi memang sedikit kurang enak badan. Apa tuan membutuhkan sesuatu, biar aku bantu" ucap Anita sedikit berpikir kemudian mulai menjelaskan berbicara kembali pada Alex.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin melihatmu saja, syukur lah kalau kau sudah baik-baik saja. Aku senang mendengarnya" ucap Alex menanggapinya.
"Kalau begitu, kau lanjutkan istirahat saja" lanjut Alex menyuruh Anita untuk kembali beristirahat, meskipun sebenarnya dia masih ingin berlama-lama dekat dengan Anita.
Namun saat Alex berbalik dan baru beberapa langkah hendak pergi meninggalkan Anita di kamarnya, tiba-tiba Anita menghentikan langkah Alex dan ingin berbicara serius dengannya.
"Tut ... tuan, tunggu" ucap Anita menghentikan langkah Alex.
"Tuan, saya ingin berbicara serius dengan Anda" lanjut Anita berkata pada Alex sambil menghampirinya.
"Iya katakanlah" ucap Alex langsung.
"Tapi.. bisakah kita bicara di luar saja di halaman rumah?" ucap Anita pada Alex.
"Baiklah, tentu. Tidak masalah" ucap Alex biasa saja, tidak curiga ataupun merasa penasaran dengan apa yang akan di katakan Anita padanya.
Kemudian mereka pun keluar bersama-sama dan duduk dengan tenang di meja kursi yang ada di halaman tersebut. Dengan suasana malam yang dingin dan terlihat sepi tidak ada orang.
Terlihat Anita merasa gugup dan sulit untuk memulai pembicaraan yang mana tadi ingin Anita utarakan pada Alex tentang perasaan yang saat ini sedang mengganggunya.
Terlihat dari tangan Anita yang terus-terusan di remasnya, mencoba menenangkan perasaan gugupnya terlebih dahulu supaya bisa menyampaikan kata-katanya dengan baik dan benar agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahaminya.
Sementara Alex yang melihat tangan Anita seperti itu, perlahan mulai menggenggam tangan Anita di atas meja tersebut.
Berharap dapat membantu Anita untuk sedikit menenangkan perasaan dan rasa gugupnya.
"Tenanglah" ucap Alex sambil mencoba menggenggam tangan Anita.
"Kalau kamu belum bisa mengatakannya sekarang, kita bisa bicara di lain waktu jika kamu mau" lanjut Alex berusaha menenangkan Anita dan meyakinkannya.
"Tit.. tidak. Tidak perlu, tuan. Saya akan mengatakannya sekarang" ucap Anita meskipun masih terdengar gugup.
"Begini, tuan... tapi... bisakah anda berjanji terlebih dahulu untuk tidak marah pada saya" lanjut Anita memohon sesuatu dari Alex.
"Tentu saja. Lagipula untuk apa aku harus marah padamu. Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku!" ucap Alex masih terlihat santai menanggapi ucapan Anita.
__ADS_1
"Tuan... seperti yang kita tahu berdua. Saat kita pergi ke kampung halaman saya, dan tiba-tiba kita di nikahkan paksa. Dan telah di saksikan warga kampung disana bahwa kita sudah sah menurut agama dan menurut mereka..." ucap Anita pelan-pelan namun sedikit menahannya terlebih dahulu, ingin melihat reaksi dan tanggapan Alex dengan apa yang telah di ucapkannya.
"Iya... terus?" ucap Alex masih fokus untuk mendengarkan terlebih dahulu kelanjutannya.
"Dan terus... saya masih bingung dengan status hubungan ini. Jadi saya pikir dari pada kita merasa tidak jelas dan bingung dengan status hubungan ini, saya meminta pada Anda untuk memutuskan hubungan ini secara lisan" lanjut Anita, membuat tangan Alex perlahan melepaskan tangan Anita dari tangannya, berbarengan dengan senyuman Alex yang ikut meredup dari wajahnya.
Alex tidak mengira, bahwa Anita akan berkata demikian. Seketika membuatnya merasa ada beban yang begitu berat menimpa hatinya.
Namun bagaimana pun, dia juga tidak ingin memaksa Anita untuk mengikuti segala keinginan dan kehendaknya.
"Dan untuk kejadian di malam itu yang sudah terlanjur terjadi, saya anggap itu sudah berlalu dan tidak penting lagi untuk kita ingat-ingat" ucap Anita, tanpa di sadarinya kembali menambah beban pikiran Alex.
Lagi lagi Alex merasa tidak percaya dengan apa yang tengah di dengarnya barusan. Dengan mudahnya Anita berkata demikian.
Pada hal kejadian malam itu yang membuat Alex berubah derastis menjadi lembut dan perhatian pada Anita.
Malam itu yang membuat Alex, merasa hatinya tidak lagi hampa.
Malam itu yang membuat Alex bergairah menjalani hidupnya.
Malam itu yang membuat hati Alex terus berbunga-bunga dan merasa bahagia.
Tapi kini dia harus mendengar hal tersebut dari mulut Anita sendiri bahwa malam itu tidaklah penting dan mudah untuk di lupakan bagi Anita.
Dan kenyataannya tidak seperti yang Alex duga, dia merasa cintanya bertepuk sebelah tangan, sebelum dia dapat mengutarakan perasaan cintanya lebih dulu.
Padahal baru saja dia merasakan jatuh cinta kembali, setelah sekian lama hatinya ikut terkubur bersama mendiang istri tercintanya.
Tapi tanpa di duga, dengan sekejap perasaan itu kembali pergi entah kemana.
Alex tidak menyangka bahwa Anita dapat dengan mudahnya melupakan apa yang telah terjadi di antara mereka berdua malam itu.
Tapi dia sendiri tidak ada niatan untuk mencoba mengungkapkan perasaan cintanya pada Anita lebih dulu atau berusaha mencoba meyakinkan Anita bahwa dirinya benar-benar telah jatuh cinta padanya, tapi semua itu tidak di lakukan Alex sama sekali.
Dia lebih memilih pasrah dan mengikuti ucapan Anita padanya.
"Apa kau yakin dengan kata-kata mu itu?" tanya Alex memastikan.
"Iya.. tuan. Saya yakin" ucap Anita terlihat meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau memang itu ke inginanmu" ucap Alex pasrah.
"Apa ada lagi yang ingin kau bicarakan padaku?" lanjut Alex bertanya pada Anita.
"Tidak, tuan. Itu saja yang ingin saya katakan pada tuan" ucap Anita menanggapi pertanyaan Alex padanya.
"Kalau begitu, kalau tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, kau bisa kembali ke kamar mu. Beristirahatlah!" ucap Alex berpura-pura tidak ada masalah dan bersikap biasa-biasa saja.
Kemudian Anita pun lebih dulu pergi ke kamarnya dan meninggalkan Alex sendiri di tempat.
Namun Alex yang melihat Anita telah pergi, membuatnya kembali terlihat dingin dan seolah dinginnya malam ini tak sedingin perasaannya saat ini.
Sementara itu, Anita yang sudah berada di kamarnya, mendadak hatinya merasa hampa dan seolah ada sesuatu yang hilang dari dirinya, tapi dia tidak tahu apa itu.
Tapi yang jelas saat ini Anita merasa sudah sedikit agak tenang karena sudah mengatakan sebagian unek-uneknya pada Alex.
Meskipun masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Tapi Anita tidak mau terlalu memikirkannya, dia merasa hal tersebut hanya akan membuat kepalanya tambah pusing dan pening.
Tapi sebelum itu, Anita sempat berbicara sendiri mengenai reaksi dan tanggapan Alex saat dia mengutarakan isi hati dan unek-uneknya tersebut.
"Benarkan dugaan ku. Dia memang tidak ada hati apalagi perasaan cinta untuk ku. Dia bersikap lembut dan baik padaku hanya untuk menyalurkan hasratnya saja yang sudah lama tidak tersalurkan. Dasar duda sialan, aku hanya di jadikan pelampiasan hasratnya saja. Untung saja aku cepat-cepat sadar dan tidak terlena oleh sikap lembut dan sok baiknya yang dadakan itu" gerutu Anita di dalam kamarnya.
"Tapi kenapa perasaanku mendadak hampa begini, seperti ada yang hilang dari hatiku" lirih Anita saat menyadari sesuatu ada yang hilang dari dirinya.
"Ah... mungkin ini hanya perasaanku saja. Nanti juga pasti biasa lagi dengan sendirinya" lanjut Anita mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Sudahlah... lebih baik aku tidur saja. Dari pada aku pusing-pusing memikirkan yang tidak jelas" ucap Anita tidak ingin memikirkannya lebih dalam.
Sementara Alex yang juga sudah berada di dalam kamarnya, terlihat frustasi dan marah-marah sendiri.
"Kenapa... kenapa dia begitu mudah melupakan semua itu. Apa dia pikir hanya dia yang bisa cepat melupakannya. Dia pikir dia siapa menyuruhku untuk melupakan semua itu dan menganggapnya tidak penting. Dasar gadis sialan, membuat ku frustasi saja. aaaahhh....." ucap Alex merasa kesal dan diakhiri dengan teriakan frustasinya.
Merasa tidak terima dengan apa yang telah terjadi.
Merasa telah tertipu dengan perasaannya sendiri.
Bukannya dia mencoba lebih dulu untuk mengutarakan perasaannya, tapi Alex malah berdebat dengan menerka-nerka pikirannya sendiri.
__ADS_1
Keduanya tidak ada yang mau mencoba untuk mengatakan perasaan cintanya masing-masing. Lebih memilih pasrah tapi membuatnya uring-uringan sendiri dan menerka-nerka tanpa mau mencaritahu kebenarannya.