
Sementara itu, Alex di kamarnya terlihat merasa gerah. Dia membuka dasinya dengan cepat, sambil mengipas-ngipas lehernya dengan tangan satunya.
Namun dia masih merasa kegerahan juga, dibukanya kancing kerah bagian atas masih tetap, tidak ada perubahan.
"Ya Tuhan.... Kenapa kamar ini terasa begitu panas. Membuatku semakin bertambah gerah saja" ucap Alex menuduh kamar tersebut yang membuatnya bertambah gerah.
Padahal sebenarnya dia merasa bergairah saat tadi terlalu lama menatap tubuh Anita yang terekspos.
Dia berusaha mengipas-ngipas tubuhnya hingga membuatnya membuka semua kancing kemejanya dan melepaskan bajunya lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Terlihatlah tubuh kekarnya yang nampak seksi dan menggoda meski di usianya yang tak lagi muda. Namun sayangnya, tidak ada yang dapat melihat tubuh seksinya.
Hanya para reader yang nampak cengar cengir dan menghayal kemana-mana, mungkin. Hee...
"Oke, baik... kembali lagi" 😋😋
Kemudian Alex pun segera beranjak dari tempat duduknya di kasur menuju kamar mandi. Dia berpikir perlu air dingin untuk menghilangkan rasa panas di tubuhnya.
Tanpa berlama-lama lagi segera Alex mengguyur tubuh atletisnya dengan air dingin yang keluar dari atas shower.
Meski hanya sedikit membantunya menghilangkan panas tersebut, tapi itu sudah cukup mengurangi rasa gairah di tubuhnya.
Sementara itu di dapur, Anita yang nampak asyik sedang menumis sesuatu di kuali dan terlihat juga Mbo Inah sedang membantunya mengiris sesuatu di nampan.
Sesekali Mbo Inah tersenyum saat melihat Anita sedang asyik memasak.
Mereka seperti nenek dan cucu saling membantu menyiapkan makan malam.
Mbo Inah yang melihat Anita memasak dan mencium aroma masakannya merasa terkesan lalu memujinya.
"Eumhh... aromanya wangi sekali. Rasanya pasti juga enak. Dan tuan pasti juga suka dengan masakannya" ucap Mbo Inah memuji masakan Anita.
"Mbo bisa aja" ucap Anita menanggapi pujian Mbo Inah.
"Mudah-mudahan, tuan benar-benar suka ya Mbo dengan masakan saya ini" lanjut Anita berujar.
"Mbo yakin seratus persen. Pasti tuan Alex menyukai masakan kamu, apalagi orangnya" ucap Mbo Inah pada Anita dan sedikit memberi kode.
Sebenarnya Mbo Inah merasa curiga dengan perasaan tuannya pada Anita. Di usianya yang terbilang sudah cukup berpengalaman, sedikit banyak pasti tahu tentang seorang laki-laki yang sedang tertarik pada lawan jenisnya.
Dan hal itu, nampak terlihat pada tuannya. Bagaimana tidak, saat pertama kali Anita datang sebagai asisten pribadi tuannya, tanpa sengaja Mbo Inah melihat tuannya diam-diam sedang mencium Anita saat sedang tertidur pulas di mobilnya.
Dan tidak hanya itu, Mbo Inah juga melihat perubahan yang terjadi pada tuannya tersebut.
"Maksudnya Mbo?" tanya Anita merasa bingung dengan ucapan Mbo Inah di ujung kalimat.
"Memangnya Mbo bilang, apa?" ucap Mbo berpura-pura tidak tahu, merasa keceplosan takut di bilang sok tahu dan mungkin bisa membuat tuannya marah kalau sampai ketahuan oleh tuannya.
Dan membuat Anita tidak berani bertanya lebih jelas lagi. Dia berpikir mungkin dia yang salah dengar.
Kemudian makanannya sudah jadi, segera Anita dan Mbo Inah menyiapkannya di meja makan.
Lalu Mbo Inah menyuruh Anita untuk memanggil dan memberitahu tuannya di kamar atas.
"Nah... sekarang makan malamnya sudah siap. Ayo kamu pergi panggil tuan dan beri tahu dia, kalau makan malamnya sudah siap" ucap Mbo Inah setelah selesai menyiapkan semua makanannya di atas meja makan lalu menyuruh Anita untuk memanggil Alex ke kamarnya.
__ADS_1
"Aku Mbo?" tanya Anita merasa rewas alias kaget sambil menunjuk tangannya pada diri sendiri.
"Iya kamu. Siapa lagi" ucap Mbo Inah menanggapi pertanyaan Anita.
"Ta..tapi Mbo" ucap Anita terbata-bata merasa malu saat mengingat kembali kejadian tadi.
"Eeeh... gak usah tapi-tapian. Ayo sana!. Gak apa-apa, kok" ucap Mbo Inah dan sedikit memaksa, seolah tahu Anita sedang merasa malu pada tuannya.
"Mbooo..." ucap Anita dengan bibir manyunnya, ingin menolak tapi juga tidak enak hati membantah Mbo Inah yang sudah di anggapnya nenek sendiri.
Kemudian dengan terpaksa Anita melangkah menaiki tangga dan menuju kamar Alex.
Sesampainya di depan pintu kamar Alex, Anita merasa ragu untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Dia masih merasa malu, belum bisa mengontrol perasaannya yang teringat terus pada kejadian tadi.
Kemudian Anita berusaha mencoba menenangkan hatinya terlebih dahulu, sebelum mengetuk pintu tersebut dan bertemu dengan Alex.
"Ya Allah.... bagaimana ini. Aduuh... mana tanganku keringet dingin begini" ucap Anita setelah berada di depan pintu kamar Alex, namun dia merasa ragu untuk mengetuk pintu tersebut dan mulai ******* ***** tangannya sendiri yang terlihat berkeringat.
"Ya Allah... Tolong aku" ujar Anita meminta pertolongan.
"Bisa... aku pasti bisa. Bismillah....Tarik nafas... lalu buang" ucap Anita meyakinkan dirinya sendiri sambil mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas pelan.
Kemudian Anita pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu Alex.
"Tok..." suara pintu yang di ketok sekali oleh Anita.
"Tok.. tok" Anita kembali mencoba, namun belum ada suara apapun dari dalam kamar.
Sementara itu di dalam kamar, Alex baru selesai mandi dan keluar dari dalam toilet.
Sementara di luar, Anita masih berusaha mencoba untuk mengetuk pintu namun masih belum juga ada jawaban dari dalam kamar.
"Kemana sih, nih orang. Gak ada nyaut sama sekali. Apa dia udah keluar kamar?" ucap Anita setelah beberapa kali mengetuk pintu, namun masih belum ada yang menyaut.
Kemudian karena merasa bosan tidak kunjung keluar dan tidak ada Jawaban, sesekali Anita mencoba melihat kedalam kamar dari dalam lubang kunci, memastikan apa ada orang atau tidak. Namun tidak ada yang bisa di lihat.
Kemudian Anita memutuskan untuk hendak pergi karena merasa tidak ada jawaban sama sekali. Lalu Anitapun berbalik dan hendak pergi.
Tapi, baru satu langkah tiba-tiba dia berubah pikiran. Anita pikir dia bisa mencoba sekali lagi, mungkin tuannya sedang berada di dalam toilet dan tidak dapat mendengar ketukan pintu kamarnya.
Namun pada saat yang bersamaan, saat Anita berbalik hendak mengetuk pintu, tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka membuat Anita terkejut dan menganga saat melihat siapa yang berada di hadapannya.
Tapi bukan terkejut karena tahu Alex yang berada di hadapannya melainkan apa yang di gunakan Alex saat itu.
Tanpa sengaja Anita melihat tubuh Alex yang setengah telanjang dengan rambut basahnya yang terlihat menawan.
Sesaat membuat Anita terpaku dan terpesona dengan rambut basah Alex dan perut sixpacknya.
Sementara Alex yang melihat Anita terpana dengan tubuh kekarnya, merasa tersanjung dan tersenyum miring.
Alex malah sengaja menyenderkan satu tangannya pada dinding pintu, memperlihatkan tubuh kekarnya di hadapan Anita yang masih terpaku.
Kemudian tidak lama setelah itu, Anita tersadar dari keterpakuannya. Lalu berteriak saat sudah sadar dan melihat Alex sudah berada dekat di hadapannya dengan hanya bertelanjang dada dengan pedenya.
"Aaah..." teriak Anita saat melihat Alex hanya menggunakan handuk mandinya kemudian berbalik cepat.
__ADS_1
"Ma... maaf tuan. Saya tidak sengaja" ucap Anita setelah berbalik membelakangi Alex dan menunduk merasa malu sendiri.
"Nak Anita ada apa. Kenapa berteriak begitu" teriak Mbo Inah dari lantai bawah setelah mendengar Anita berteriak.
"Ti... tidak Mbo. Saya tidak kenapa-napa" jawab Anita merasa malu karena telah melihat tuannya seperti itu, sambil tetap berdiri di tempat membelakangi Alex dengan rasa takut.
Sementara itu di belakang Anita, Alex malah terlihat tersenyum melihat kegugupan Anita di hadapannya.
Kemudian Anita yang hendak melangkah pergi, tiba-tiba di tarik oleh Alex ke dalam kamar dan menempelkannya ke dinding kamar di samping pintu.
"Hey... mau kemana kamu" ucap Alex tiba-tiba bernada lembut sambil menempelkan kedua telapak tangannya dengan telapak tangan Anita di dinding secara paksa.
Kemudian Alex mulai melihat-lihat wajah Anita yang terlihat gugup dan ketakutan, dengan tersenyum usilnya.
"Kenapa kau malah buru-buru pergi. Bukankah kau menyukaiku saat bertelanjang dada seperti ini" ucap Alex masih dengan nada lembut dan senyum usilnya, juga dengan rasa pedenya. Mengingat tadi Anita menatapnya dengan terpaku.
"Ti..tidak tuan. A..anda jangan salah paham. Sa..saya kesini di..disuruh Mbo Inah u..untuk memberitahukan anda, ma..makan malam su..udah jadi" ucap Anita terbata-bata terus-terusan, merasa takut dan gugup dengan kungkungan Alex dan sikapnya yang seperti itu.
"To..tolong lepaskan saya tuan" lanjut Anita semakin merasa takut dan berusaha untuk melepaskan telapak tangannya yang masih di tekan Alex.
Kemudian Mbo Inah berteriak memanggil Anita saat sudah berada di tangga, merasa khawatir karena Anita terlalu lama memanggil tuannya untuk segera turun makan malam.
"Nak Anita" teriak Mbo Inah memanggil namanya.
"Kenapa lama sekali" lanjut Mbo Inah bertanya.
Membuat Alex perlahan melepaskan tangannya dari tangan Anita.
"Ok baiklah. Sekarang kau bisa pergi" ucap Alex saat mendengar teriakan Mbo Inah.
"Terima kasih, tuan" ucap Anita terpaksa dengan wajah juteknya.
Tapi Anita masih belum bisa beranjak, karena Alex masih menghalanginya. Namun saat Anita masih berdiri di tempat dan mengusap-usap tangannya tiba-tiba tanpa sengaja handuk Alex melorot dan terjatuh di hadapan Anita.
Membuat Anita yang melihatnya berteriak-teriak histeris.
"U...ular... ular" ucap Anita sambil menunjuk ke arah junior Alex dan langsung menutup matanya dan segera berlari keluar kamar Alex.
Tapi Alex yang merasa bingung dengan teriakan Anita, baru menyadari handuknya jatuh, kemudian merasa malu sendiri dan segera menutup junior dengan kedua tangannya dan langsung mengambil handuk untuk menutupi hal tersebut.
Sementara Mbo Inah yang mendengar Anita berteriak dengan berkata 'ular... ular' merasa heran dan bertanya-tanya saat sudah berada di ujung tangga.
"Ular?" ucap Mbo Inah merasa heran.
"Masa ada ular di rumah semewah ini" ucap Mbo Inah tak percaya.
Kemudian datang Anita menghampiri dirinya.
"Nak Anita, kok bisa ketemu ular di rumah ini. Dimana memangnya?" tanya Mbo Inah saat Anita sudah berada di hadapannya.
"I.. itu tadi Mbo. Sekarang udah gak ada" ucap Anita terbata-bata sedikit berbohong kembali.
"Sekarang kita turun aja, ya. Bentar lagi tuan Alex menyusul" pinta Anita pada Mbo Inah.
Kemudian mereka berdua pun kembali ke bawah, meskipun Mbo Inah masih merasa penasaran bagaimana bisa ada ular di rumah tersebut.
__ADS_1