Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Ngawur


__ADS_3

Malam itu pun Anita menghabiskan satu bungkus mie instan dengan mengobrol ria di telpon dengan sahabatnya tersebut.


Mereka saling bercerita tentang hari itu, saat dimana mereka tidak bersama. Anita pun sempat bercerita tentang waktu dimana dia harus bertemu dengan seorang pria tua bangka yang membuatnya terus merasa sial dan kesal.


Tapi tentunya dengan tidak menyebut nama atau pun permasalahan yang sedang Anita hadapi hingga dia harus mengikuti perkataan pak tua bangka tersebut sampai dengan Anita mempunyai niatan untuk mengerjainya.


Beruntung Lolita tidak terlalu banyak bertanya hingga Anita tidak perlu mengatakan permasalahan yang dihadapinya.


Kini giliran Lolita jadi pendengar yang baik dan sesekali tertawa merasa lucu dengan beberapa kejadian yang Anita ceritakan padanya.


Hingga pada akhir cerita, dimana dia hari ini sukses mengerjai pak tua bangka tersebut membuat Lolita tertawa terbahak-bahak merasa lucu mendengar apa yang telah Anita lakukan.


"wakakakkak...." suara Lolita tertawa terbahak-bahak "Ya Tuhan... Kau jahat sekali Anita. Mengerjai seorang yang sudah tua" seloroh Lolita.


"Pasti pak tua bangka itu merasa sangat kepedesan dan sekarang pasti dia akan sangat marah sekali padamu" lanjut Lolita menduga-duga.


"Ett... tapi kau jangan salah menduga, Lit. Biarpun umurnya sudah tua, tapi penampilan dan wajahnya masih terlihat muda. Dan kalau ku lihat dari postur tubuhnya, dia mirip seperti daddymu. Jadi aku pikir tidak masalah untuk mengerjainya seperti itu. hehe...." ucap Anita menjelaskan sambil diakhiri dengan tertawa.


"Lalu bagaimana kau tahu, dia itu sudah tua atau masih muda" tanya Lolita merasa bingung.


"Ya... karna waktu itu. Aku bertemu dengan dia saat di kampus. Aku pikir dia seorang dosen atau orang tua murid. Karena aku tidak pernah melihat mahasiswa seperti dia, yang berpakaian seperti bapak-bapak kantoran. Yaah... yang jelas itu sudah pasti dia lebih tua dari kita, bukan. Terlebih dia sering memanggil ku bocil, gadis kecil dan itu membuatku kesal. Ya sudah aku panggil saja dia pak tua bangka... hehehe..." jelas Anita panjang lebar, sekali lagi diakhiri dengan tawa.


"Wahhh.... jangan-jangan dia deddyku, Nit" seloroh Lolita pada sahabatnya yang membuat Anita menghamburkan isi makanan yang sedang di kunyah saat mendengar candaan Lolita padanya, beruntung Lolita tidak melihatnya.


"Burrr...." suara makanan yang keluar dari mulut Anita "Littaa... jangan ngawur... kalau ngomong jangan sembarangan. Kau ini ada-ada saja. Bagaimana mungkin. Dan kalau itu benar, bisa-bisa aku di beklist jadi teman mu. Karena sudah bersikap kurang ajar padanya... Kau ini ada-ada saja kalau bicara" pekik Anita merasa terkejut dan tidak mungkin.

__ADS_1


"Yaa.... siapa tahu" seloroh Lolita "tapi kayaknya kalian jodoh deh... ee.. cie... cie" goda Lolita pada sahabatnya.


"Mana mungkin.... " ucap Anita dengan kedua alis berusaha di satukan tanda menolak ucapan sahabatnya yang di pikirkannya hanya mengada-ngada.


"Mungkin saja ... Kalau yang kudengar dari cerita mu, itu seperti di film-film atau novel-novel. Pertama ketemu, tabrakan, saling kesal, marah-marah terus..... ujung-ujungnya mereka malah berjodoh. Bener gak?" ucap Lolita mengutarakan pendapatnya.


"Hah.... kau ini kebanyakan nonton film. Dan lagi, sejak kapan anda ini mulai suka membaca novel?" jawab Anita menanggapi ucapan sahabatnya tersebut yang diakhiri dengan pertanyaan yang selama ini Anita tahu kalau Lolita tidak pernah suka baca, apalagi baca novel.


"Mmhhh.... berarti kau belum memahami sahabatmu ini" celetuk Lolita, pada hal memang benar apa yang dikatakan Anita pada dirinya.


Lalu tiba-tiba terdengar suara ayah Lolita memanggilnya "Loli... daddy pulang". Lolita pun terpaksa menyudahi perbincangannya dengan Anita.


"Eh Nit. Sepertinya Daddy memanggilku. Dia pasti sudah pulang dari kerjanya. Aku tutup dulu telponnya. Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya. Ok" ucap Lolita pada sahabatnya menyudahi perbincangan mereka.


Sesaat kemudian Anita terlihat melamun, teringat sesuatu dimana Lolita mengatakan "wahh.... jangan-jangan dia deddyku, Nit". Hal tersebut mulai mengusik pikirannya, meski Anita tahu itu hanya candaan Lolita padanya.


"Apa iya?" tanya Anita pada dirinya sendiri saat mengingat ucapan Lolita, merasa heran dan kebetulan yang aneh "tapi kenapa namanya begitu sama. Apa mungkin pak tua bangka ngeselin itu ayahnya Lolita" lanjut Anita menerka-nerka lalu sesaat kemudian Anita berpikir hal itu tidak mungkin terjadi dan bagaimana mungkin bisa begitu.


"Tidak... tidak.. itu tidak mungkin" ucap Anita menolak apa yang telah terpikirkannya "kalau itu benar, berarti aku sudah bersikap kurang ajar pada ayah sahabatku sendiri. Dan pasti aku akan di cap sebagai teman yang tidak baik" ucap Anita merasa ngeri bila memikirkan nya.


Sementara itu di suatu tempat, tepatnya di salah satu mall besar ternama yang ada di kota tersebut.


Terlihat Rio sedang menggandeng kekasihnya yang bernama Dewi untuk mengikuti keinginannya menonton film di bioskop.


Namun nampak jelas terlihat di wajah Rio, raut wajah yang tak bersemangat. Dan hal itu tidak biasanya dia perlihatkan, meskipun selama ini Rio mengikuti keinginan Dewi dengan terpaksa.

__ADS_1


Tapi selama Rio dapat menikmati kebersamaannya dengan siapapun, dia tidak akan mempermasalahkannya meskipun terkadang dia merasa bosan dan lelah.


Tapi kali ini ntah kenapa pikirannya seperti ada di tempat lain dan tidak dapat fokus untuk menikmati kebersamaannya dengan Dewi.


Hingga membuat Dewi merasa curiga dan bertanya-tanya saat memperhatikan sikap dan raut wajah kekasihnya tersebut.


"Sayang... kenapa kau dari tadi diam saja. Aku perhatikan, dari semenjak kau menjemput ku sampai saat ini kau terlihat tak bersemangat begitu. Apa kau sakit" tanya Dewi berpura-pura perhatian sambil sesekali memegang jidat Rio memastikan keadaannya.


Tapi sebenarnya Dewi merasa curiga, bahwa Rio sedang memikirkan seorang wanita lain selain dirinya. Tapi Dewi tidak ingin memperlihatkan kecurigaan dan kekesalannya di hadapan Rio.


Dewi tidak ingin merusak mood Rio yang mungkin akan berbalik kesal, marah dan bahkan dapat meninggalkannya sendiri.


Dewi berpikir untuk mencari tahu nanti, siapa perempuan yang sedang dekat-dekatnya dengan Rio yang membuat Rio tidak bisa fokus dan terlihat tak bersemangat saat bersamanya.


Namun Dewi merasa bingung juga, karena selama ini Rio memang bisa dekat dengan siapa saja, apalagi dengan para wanita. Tapi hal itu tidak sampai membuat Rio mengabaikannya seperti saat ini.


"Nggak Dew... Aku gak kenapa-napa" ucap Rio pada Dewi sambil menyingkirkan tangan Dewi dari jidatnya "aku hanya merasa cape aja karena tadi nyetir tapi kena macet" lanjut Alex beralasan, namun masuk akal karena sebelum mereka sampai, tadi mereka memang terkena macet.


"Kamu mau nonton atau kita balik sekarang aja" ucap Alex tegas mulai merasa tidak nyaman dan kesal, namun masih berusaha untuk tetap mengontrol emosinya.


"Jangan dong sayang. Masa kita udah jauh-jauh terus macet-macetan pula, gak jadi nonton" ucap Dewi manja mencoba mengendalikan keadaan.


"Ya udah kalau gitu. Ayo kita masuk. Lagian ini udah waktunya, kan. Dan kamu juga udah beli tiketnya" ucap Rio dengan di balas anggukan oleh Dewi namun dengan perasaan yang tidak enak hati bercampur rasa kesal melihat sikap Rio yang tidak biasanya.


Dan dengan terpaksa mereka berdua pun melanjutkan acaranya, masuk dan mencoba menikmati keadaannya.

__ADS_1


__ADS_2