
Sementara itu di rumah Alex, dia merasa sendiri di rumahnya, terlebih di hari libur yang tadinya ingin dia habiskan waktu bersama anak satu-satunya. Mengingat beberapa hari lagi Lolita akan segera pergi meninggalkannya ke negri orang.
Namun Alex juga tidak ingin egois menghentikan anaknya berkumpul dengan teman-temannya.
Meski rasanya, dia merasa sedikit hampa tidak ada yang menemani kesehariannya saat itu.
Kemudian dia teringat akan Anita, terlebih setelah melewati momen-momen yang cukup berkesan di hatinya. Terutama saat dia beberapa kali mendapat momen yang cukup intim meskipun tanpa sengaja.
Namun saat dipikir-pikir lagi membuatnya merasa geli sendiri dan tertawa saat mengingatnya.
Sementara itu Mbo Inah yang baru datang membawakan kopi untuk tuannya merasa heran saat melihat tuannya tidak biasanya tertawa sendiri.
"Permisi tuan. Ini kopinya" ucap Mbo Inah sambil menyuguhkan kopi yang di bawakanya.
"Maaf tuan. Apa tuan baik-baik saja?" tanya Mbo Inah memberanikan diri saat melihat tuannya dirasa aneh dengan tertawa sendirian.
"Kenapa memangnya Mbo. Nanya seperti itu?" tanya Alex balik sambil tetap tertawa saat mengingat momen lucunya bersama Anita.
"Emh.. gak jadi tuan. Saya permisi ke belakang saja" ucap Mbo Inah tidak berani melanjutkannya.
Kemudian Alex berpikir untuk mengerjai Anita kembali dengan membawanya kerumahnya sendiri, apapun alasannya nanti. Tapi tentu setelah anaknya pergi ke luar negeri. Alex tidak ingin anaknya berpikir yang tidak-tidak, jika langsung membawa Anita kerumahnya.
Alex hanya berpikir untuk bersenang-senang saja dengan membawa Anita kerumahnya. Karena dia merasa setiap kali bersama Anita ada sesuatu yang menghangat di dalam hatinya tidak lagi merasa hampa seperti sebelum-sebelumnya.
Walaupun setiap kali bertemu dengan Anita, membuatnya sering kesal, cekcok dan berdebat. Namun saat dia tidak lagi bersamanya, entah mengapa dia selalu merindukan Anita.
Beberapa hari kemudian Lolita pun jadi berangkat ke luar negri. Namun sayangnya, Anita tidak dapat mengantarkannya ke bandara. Meskipun Anita ingin sekali mengantarkan sahabatnya tersebut, namun karena dia belum satu bulan bekerja tentu membuatnya tidak dapat mengambil cuti.
__ADS_1
Walaupun bisa saja dia meminta izin pada Raja. Tapi dia tentu tidak mau mengambil kesempatan dan memanfaatkan Raja sebagai teman dekatnya.
Beruntung Lolita sahabat yang paling pengertian, meskipun sebenarnya ada rasa sedikit kecewa tidak bisa bertemu langsung dengan Anita untuk terakhir kalinya selama beberapa bulan ke depan.
Akhirnya Lolita pun di antar oleh keluarganya sendiri yang terdiri dari ayah, bibi, dan kakak sepupunya yang paling usil tapi juga paling di sayangnya.
Dengan hati lapang, Alex pun menerima kepergian anaknya untuk beberapa bulan kedepan.
Kemudian merekapun kembali pulang dari bandara setelah melihat kepergian Lolita.
Namun sebelum itu, Alex mengingatkan Rio dan kakak tercintanya agar Rio tidak lagi menginap di rumahnya dan menyuruh Rio untuk segera bekerja membantu ayahnya. Selain Alex melihat ponakannya kebanyakan main-main di usianya yang cukup dewasa, dia juga di minta untuk menasehati ponakannya tersebut oleh kakak tercintanya yang cerewet itu, yang lain dan tidak bukan adalah mami Rio sendiri.
"Oh ya Rio. Kamu kan udah selesai kuliah S2 juga. Kamu lebih baik bantu Daddy mu dan mulailah belajar bisnis mengembangkan usaha Daddy mu itu. Jangan kebanyakan maen di luar terus. Om udah bosen denger mami mu yang cerewet itu, supaya kamu tidak terus-terusan maen. Mengerti!" ucap Alex menasehati ponakannya tersebut saat hendak ingin masuk mobilnya.
"Dan satu lagi. Kalau kau masih ketahuan maen-maen juga jangan berharap kau bisa menginap di rumah ku lagi. Aku akan menyuruh para pelayan ku untuk tidak memasukan mu lagi ke rumahku" lanjut Alex dengan ancamannya.
"Itu salahmu sendiri. Om sengaja melakukan semua ini, biar kau tidak merasa ada tempat pelarian lagi. Makanya itu, mulailah menuruti keinginan Mami mu untuk segera membantu Daddy mu di kantor. Anggap saja itu sebagai baktimu pada orang tua. Lihat lah, kau ini sudah cukup dewasa. Ok" ucap Alex berusaha untuk merubah cara berpikir Rio yang masih senang untuk bermain-main.
"Yah ... baiklah. Nanti aku pikir-pikir lagi" ucap Rio lirih, masih merasa berat untuk meninggalkan kebiasaannya selama ini.
Sementara itu mami Rio sudah memanggil anaknya untuk segera masuk kedalam mobil yang berbeda dengan Alex.
"Rio ... Ayo!" teriak mami Rio di samping mobilnya.
"Ya sudah sana. Mami sudah manggil. Dan ingat apa yang sudah Om bilang. Mengerti!" ucap Alex mencoba sehalus mungkin, agar Rio dapat memahaminya.
Sementara Rio hanya mengangguk dan terlihat seolah tak bersemangat sambil menghampiri mobil maminya.
__ADS_1
"Alex.... Jaga dirimu baik-baik. Nanti kapan-kapan aku main ke rumahmu, yah" teriak mami Rio saat anaknya sudah masuk kedalam mobilnya. Sementara Alex hanya mengangguk dan mulai masuk juga kedalam mobilnya yang berbeda dengan mereka.
Mereka pun segera meninggalkan parkiran bandara tersebut dengan mobilnya masing-masing dan pergi ke tempat yang berbeda tujuan.
Sementara itu di tempat kerjaan Anita, Dia merasa sedih sambil memegang hpnya setelah tadi sempat mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya lewat telepon.
Itupun dia mencuri-curi waktu saat hal itu terjadi di waktu Anita sedang bekerja.
Tapi sekarang Lolita sudah pergi dan mungkin sekarang sudah berada di dalam pesawat.
Anita merasa sangat kehilangan, selain sikap Lolita yang teramat baik padanya tapi Lolita juga satu-satunya sahabat yang dimilikinya selama ini. Meskipun sekarang-sekarang ini ada Raja yang sering mencoba menemaninya.
Waktu pun cepat berlalu, kini jam sudah menunjukkan jam tujuh malam di saat Anita sudah berada di depan kosannya. Terlihat Anita masih merasa sedih dan tak bersemangat setelah kepergian sahabatnya, Lolita.
Namun saat dia hendak masuk dan membuka pintu kosannya tiba-tiba ada beberapa orang yang berpakaian seperti polisi datang dan sudah berada di hadapannya.
Mereka mengatakan ingin menangkapnya atas tuduhan penipuan dan membawa kabur uang 100 juta milik Alexander Wijaya.
Mendengar hal itu, tentu Anita sudah tahu siapa yang telah menyuruh mereka dan melaporkannya ke polisi.
Kemudian tanpa adanya perdebatan dan merasa suasana hatinya tak bersemangat, Anita segera meminta mereka untuk memperlihatkan surat penangkapannya.
Setelah melihat isi surat tersebut, dengan pasrah dan tanpa perlawanan, Anita mengikuti segala arahan yang mereka berikan termasuk untuk menerima dirinya diborgol di depan para tetangga yang tiba-tiba pada keluar karena penasaran saat melihat ada polisi di depan kosan Anita.
Sementara itu, di dalam perjalanan menuju kantor polisi Anita sempat berpikir. Dia tidak menyangka bahwa Alexander Wijaya sungguh-sungguh dengan ancamannnya, yang pernah mengatakan bahwa dia akan melaporkannya pada polisi jika dia tidak menuruti kata-katanya.
Dan memang benar, beberapa hari ini Anita tidak menggubris segala ucapan dan perkataan Alex padanya. Baik itu lewat pesan singkat ataupun panggilan telepon dari Alex.
__ADS_1
Kini Anita harus menerima resiko yang telah di pikirkannya untuk tidak menghiraukan Alex dan mengabaikannya.