Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Jalan kaki


__ADS_3

Sementara itu, Anita kembali ke tukang ketoprak tersebut. Namun bukan untuk membeli lagi melainkan untuk meminta segelas air untuk sekedar melepaskan dahaganya.


Sebenarnya Anita merasa lapar juga dan baru makan saat pagi saja, itupun dengan mie instan yang biasa dia stok. Namun karena uang yang di bawanya habis dan lebih memilih memberikan makanannya tadi ke anak pengemis, akhirnya dengan terpaksa Anita pun harus kembali menahan rasa laparnya.


Namun bukan berarti dia menyesal telah memberikan makanan dan uang terakhirnya pada anak pengemis tadi. Justru dia merasa senang dan bersyukur karena anak pengemis tadi tidak harus merasakan lapar yang saat ini Anita sedang rasakan walau pun hanya untuk sesaat.


Kemudian sesaat setelah menghabiskan segelas air putih dari abang ketopraknya, Anita hendak mau pergi namun tiba-tiba abang ketopraknya memberikan sepiring ketoprak pada Anita.


Anita yang merasa tidak memesannya lagi, merasa heran dan bingung lalu menolak untuk menerimanya karena dia merasa tidak dapat membayarnya lagi.


"Maaf bang saya nggak ngerasa pesen lagi" tolak Anita pada Abang ketoprak yang tiba-tiba memberi sepiring ketoprak.


"Tapi saya udah bikinin, neng" paksa Abang ketoprak sambil memegang piring tersebut di depan wajah Anita.


"Tapi saya udah gak ada uang untuk membayarnya bang" pikir Anita karna abangnya terus memaksa.


"Neng gak usah bayar. Udah dibayarin sama orang itu" ucap Abang ketoprak sambil menunjuk ke orang yang sudah berlalu pergi dan hanya terlihat punggungnya saja.


"Abang yakin orang itu udah membayarnya untuk saya" tanya Anita memastikan, sambil memperhatikan orang yang sudah membayar makanannya tersebut. Berpikir apa dia mengenal orang tersebut atau tidak, tapi karena orang tersebut sudah pergi jauh membuat Anita tidak dapat mengenali ataupun memastikannya.


"Ini neng makanannya. Kata masnya neng gak usah bingung. Dia temen neng waktu di SMA dulu. Begitu dia bilang" ucap Abang ketoprak menjelaskan.


"Temen SMA. Siapa ya?" tanya Anita bingung, dalam hati.


"Ma.. makasih bang" ucap Anita sesaat setelah memikirkan teman yang mana, sambil menerima piring dari tangan Abang ketoprak tersebut.


Dengan wajah yang masih merasa bingung dan hati yang masih bertanya-tanya, sambil duduk di bangku Anita mulai memakan ketoprak tersebut perlahan sambil mengingat-ingat kembali teman SMA yang mana.


Sementara itu, Alex yang sudah sampai ke rumahnya. Melihat anaknya sedang menonton tv diruang keluarga sambil memakan cemilan yang terlihat terus mengunyah di mulutnya. Segera Alex menghampiri anaknya tersebut dan berkata "Hallo... sayang" sambil mencium pipi anaknya, sayang.


"Hallo juga, dad" ucap Lolita tanpa melihat ke arah daddynya, sedang fokus menonton film kesukaannya sambil duduk di sofa berwarna putih.


"Kamu ini kalau udah nonton film Drakor, pasti daddy di cuekin lagi. Apa Daddy pulang malem-malem lagi aja ya nanti" protes Alex pada anaknya dan sedikit gertakan, agar Lolita mendengar dan tidak lagi mengabaikannya.


"Ih.... Daddy. Lagi nanggung nontonnya" pekik Lolita pada daddy nya "ahh gertakannya begitu doang. Aku udah mulai terbiasa, dad. Jadi kalau daddy mau pulang malam-malam lagi, itu gak masalah buat aku" ucap Lolita pada daddynya dengan tatapan masih ke layar tv.

__ADS_1


Namun sesaat kemudian tanpa Lolita sadari, kata-katanya membuat Alex tersindir sedikit merasa bersalah dan terdiam cukup lama. Merasa apa yang di katakan Lolita ada benarnya.


Selama ini Alex jarang di rumah dan kalaupun pulang sering malam-malam saat Lolita sudah tertidur, hingga membuat mereka jarang bertemu dan jarang menghabiskan waktu bersama. Membuat Lolita sudah terbiasa tanpanya dan mungkin tidak perduli lagi dengan ada atau tidak adanya Alex di rumah tersebut, itu yang di pikirkan Alex saat ini.


Padahal Lolita tidak bermaksud menyindir ataupun sengaja melukai perasaan ayahnya tersebut. Hingga Lolita sadar apa yang dikatakannya dapat melukai perasaan ayah tercintanya.


Segera Lolita mematikan film kesukaannya dan bangkit dari duduknya saat mulai menyadari dan melihat daddynya cukup lama terdiam setelah mendengar kata-kata darinya.


Kemudian Lolita menghampiri dan memeluk Alex yang berada tepat di balik sofa lalu berkata "Sorry dad" sambil menatap daddynya sesaat "aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Bukan maksud aku tidak perduli lagi Daddy ada atau tidak ada di rumah ini" ucap Lolita merasa bersalah pada ayahnya dengan tetap memeluknya manja.


"Tidak sayang. Kamu tidak perlu meminta maaf sama daddy. Daddy mengerti. Justru daddy yang harus meminta maaf sama kamu, karena selama ini daddy sering ninggalin kamu sendiri di rumah ini. Dan daddy juga jarang meluangkan waktu, menghabiskan waktu bersamamu. Dan daddy minta maaf untuk itu" ucap Alex sungguh-sungguh pada anaknya, sambil sesekali mengusap-usap puncak rambut kepala Lolita yang berada dalam pelukannya kemudian menciumnya sayang.


Tentu hal tersebut membuat perasaan Lolita menghangat dan memaafkan daddynya yang selama ini jarang meluangkan waktu untuknya, meskipun sebenarnya Lolita tidak mengharapkan permintaan maaf dari ayahnya.


Kemudian Mbo Inah datang mengganggu kebersamaan ayah dan anak tersebut yang jarang mereka lakukan. Mbo Inah mengingatkan kepada tuan dan nonanya untuk segera makan malam karena makan sudah siap tersaji.


"Maaf tuan...non... makan malamnya sudah siap. Apa mau makan malam sekarang?" tanya Mbo Inah sopan, dan memastikan.


"Iya Mbo. Bentar lagi kami ke meja makan" ucap Alex pada orang yang sudah di anggap sebagai orang tuanya sendiri.


"Ayo sayang kita ke meja makan. Kita makan malam dulu" ajak Alex pada anaknya yang dijawab anggukan kepala oleh Lolita tanda mengikuti.


Namun pada saat Anita hendak melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba sebuah motor ninja menghalanginya untuk terus berjalan.


Anita yang merasa tidak mengenalinya, seketika berbalik arah dan hendak lari kabur dari orang tersebut yang dipikir Anita penjambret atau orang jahat sejenisnya.


Anita yang tersandung saat hendak lari kabur, kemudian melihat orang tersebut turun dari motornya dan terus menghampiri dirinya.


Seketika Anita merasa ketakutan, ingin bangkit dan berlari tapi seolah ada sesuatu yang menahannya.


Kemudian saking takutnya Anita pun menutup wajah dengan tas dan kedua tangan yang saling menggenggam sambil terduduk di jalan dan berkata dengan histeris "jangan... jangan mendekat. Jangan ganggu saya. Saya gak punya apa-apa kalau anda berniat untuk menjambret saya. Tolong pergi..." pekik Anita namun tidak berani menatap ataupun melihat langsung orang tersebut yang terus menghampirinya.


Sementara orang tersebut setelah berada di hadapan Anita, malah mengeluarkan hp dari saku celananya kemudian dengan sengaja memotret dan memvideo Anita yang sedang dalam keadaan takut dan histeris.


Lalu segera membuka helm yang sebelumnya menutup wajah tampannya yang ternyata itu adalah Rio yang sengaja menakut-nakuti Anita.

__ADS_1


Namun melihat Anita yang semakin histeris dan ketakutan, segera Rio berjongkok lalu memegang bahu Anita dengan kedua tangannya dan berkata "Hey.. Nit tenanglah. Aku Rio, kakak sepupu Lolita. Kamu gak usah takut. Tenanglah..." pekik Rio menyadarkan Anita yang sebelumnya terus histeris dan berkata "pergi... pergi jangan mendekat".


Lalu Anita pun mencoba untuk tenang dan diam saat mendengar nama sahabatnya di sebut.


Perlahan Anita mencoba membuka tangan, menengadah melihat dan memastikan siapa yang berada di hadapannya.


Hingga sesaat mempertemukan kedua pasang mata saling menatap. Antara Rio dan Anita.


Lalu saat menyadarinya Anita berkata "Kak Rio...." pekik Anita menyebut namanya lalu melayangkan tas di tangannya memukul-mukul Rio, reaksi atas apa yang di lakukan Rio padanya. Karena telah membuat nya merasa ketakutan dan histeris.


Namun Rio yang menerima pukulan dari Anita malah tertawa sambil terus menahan pukulan Anita dengan kedua tangannya lalu berkata "maaf... maaf... maaf Anita. Aku tidak tahu kalau kau bakal sampai sehisteris ini" jujur Rio sambil tetap tertawa di buatnya "kau terlihat lucu kalau sedang ketakutan" lanjut Rio yang membuat Anita menghentikan pukulannya.


"Jadi kak Rio sengaja menakut-nakuti ku" ucap Anita dengan wajah kesalnya.


"Bukan... bukan begitu" ngeles Rio dengan masih tertawa.


"Lalu kenapa tadi tidak langsung membuka helmnya saat aku tersandung. Kak Rio malah sengaja membuatku tambah ketakutan. Apalagi malam begini. Gimana aku gak takut dan histeris coba" manyun Anita merasa di jailin.


"Ok... ok baiklah. Aku salah... Aku minta maaf. Ok" ucap Rio serius tanpa tertawa lagi.


"Lagian kenapa kamu mesti jalan kaki malam-malam begini. Terus kamu mau kemana sekarang" tanya Rio penasaran.


"A...aku.. lagi jalan-jalan malam aja, menikmati angin malam. Sambil aku mau pulang" ucap Anita terbata-bata mencoba menyembunyikan kebenarannya, dengan tidak berani menatap langsung Rio.


Lagi, bagaimana mungkin dia berkata jujur dengan mengatakan dia kehabisan uang hingga membuatnya harus berjalan kaki sampai kosan, pikir Anita begitu.


"O.. yah. Benarkah" tanya Rio berpura-pura memastikan.


Padahal sebenarnya Rio sudah memastikan dan mengikuti Anita dari beberapa puluh menit yang lalu, saat dia tidak sengaja melihat Anita sedang berjalan namun sebentar-sebentar duduk memukul-mukul kaki meredakan rasa pegal di kakinya.


Tapi Rio melihat Anita tidak kunjung menghentikan taxi atau kendaraan lainnya. Walaupun pada awalnya Rio ingin segera menyapa dan menegurnya. Namun Rio ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Anita, hingga akhirnya Rio memutuskan untuk terlebih dahulu mengikutinya.


Dan saat Anita kembali duduk untuk mengurangi rasa pegal di kakinya, terlihat Anita sedang membuka dompet berharap ada uang yang terselip, namun kenyataannya Anita tidak menemukan apapun di dompetnya hingga membuat Anita berekspresi kecewa setelah melihat isi dalam dompetnya, kosong lagi.


Dan hal tersebut terlihat oleh Rio, hingga akhirnya Rio dapat mengerti apa yang sedang terjadi pada Anita dan memutuskan untuk menghampiri Anita untuk mengantarkannya pulang.

__ADS_1


Namun hal tak terduga malah terjadi, saat tanpa sengaja Rio membuat Anita merasa ketakutan dan hendak lari kabur saat dimana Rio tiba-tiba menghentikan langkah Anita tanpa membuka helmnya terlebih dahulu.


Meskipun Anita sebelumnya pernah di tolong oleh Rio dengan menggunakan motor yang sama tapi bukan berarti Anita hafal dan mengingat no platnya.


__ADS_2