
Mendengar paksaan dari Lolita, akhirnya Anita mengikuti omongan sahabatnya tersebut.
"Ok baiklah. Aku ikut saja apa maumu. Asalkan ANDA tidak marah-marah lagi. Ok" pasrah Anita dengan menekankan kata Anda pada sahabatnya tersebut.
"Gitu dong. Itu baru namanya sahabatku" ucap Lolita merasa senang.
"Dan ingat... nanti malam kita makan-makannya, ya" lanjut Lolita mengingatkan.
"Apa" pekik Anita merasa Lolita terlalu terburu-buru. Anita berpikir dia baru satu hari bekerja, bagaimana mungkin dia bisa langsung mentraktir Lolita dengan uangnya sendiri.
Meskipun Lolita menawarkan diri bahwa dia yang akan membayarnya. Namun Anita tidak mau merepotkan nya, tapi lagi-lagi terpaksa Anita harus mau menerima bahwa Lolita yang akan membayarnya nanti.
"Apalagi?. Jangan bilang kalau kamu tidak bisa" bete Lolita sambil menerka-nerka apa yang akan di ucapkan Anita.
"Bis... sa kok bisa. Siapa bilang gak bisa" ucap Anita takut menyinggung perasaan sahabatnya lagi.
"Ok. Kalau gitu nanti malam aku tunggu di kafe Bintang, ya" ucap Lolita antusias yang dijawab senyuman oleh Anita tanpa Lolita melihatnya.
Sementara itu Alex yang masih berada di ruangan kerjanya, terlihat sedang tersenyum sambil menatap layar hpnya hendak mengirimkan sesuatu kepada seseorang dan membuat panggilan.
Terdengar kembali suara nada dering telpon dari hp Anita, kemudian segera menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang sebenarnya menelepon. Pikir Anita itu panggilan telepon dari Lolita lagi.
"Hallo, Lit. Kenapa lagi?" tanya Anita segera setelah mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo... kucing kecil" ucap Alex dengan seringainya, yang membuat Anita merasa kaget setelah mendengar suara Alex di telinganya, hingga membuat Anita menelan ludahnya cepat.
"Apa.. Tuan Alex" ucap Anita pelan sambil memastikan dari nomor siapa, yang membuat nya merasa menyesal telah mengangkat telepon tersebut tanpa melihatnya terlebih dahulu "aduuuh kenapa tadi aku tidak melihat lebih dulu telpon dari siapa" sesal Anita tanpa terdengar oleh Alex.
"Kenapa. Apa kau ingin berpura-pura untuk tidak mengenaliku?" lanjut Alex sinis, menerka-nerka apa yang akan di ucapkan Anita padanya.
"Tu..tuan" ucap Anita terbata-bata menahan rasa takutnya "tidak tuan. Bagaimana mungkin saya bisa melupakan tuan" lanjut Anita berpura-pura tenang.
__ADS_1
"Sudah cukup. Tidak usah berpura-pura lagi. Dasar gadis licik, gadis pembohong, penipu beraninya kau kabur dariku setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan" ucap Alex mengeluarkan kekesalannya, membuat Anita ikut merasa kesal dan juga marah.
Anita tidak terima di katakan sebagai gadis licik, pembohong, penipu dan lainnya. Dia merasa bukan maksudnya untuk seperti itu. Namun Alex tidak tahu dan tidak mau tahu alasan Anita kabur dari nya.
"Cukup Tuan. Saya tidak seperti yang tuan pikirkan. Tuan tenang saja, saya pasti akan membayar hutang saya pada tuan, kalau perlu saya bayar beserta bunga-bunganya" ucap Anita kesal tidak berpikir panjang sudah terlanjur kesal dengan tuduhan Alex padanya.
"Alaaahhh.... sekali penipu tetap saja penipu" ucap Alex sengaja memancing kemarahan Anita.
"Ok... cukup tuan. Sekarang apa yang harus saya lakukan supaya tuan bisa percaya kalau saya bukan penipu seperti yang tuan pikirkan" ucap Anita merasa sudah jengah mendengar tuduhan Alex padanya.
"Baiklah... Kalau kau ingin aku mempercayaimu, kau harus ikut aku untuk menemaniku ke suatu tempat. Malam ini juga" ucap Alex, jelas.
"Tapi tuan..." ucap Anita mencoba menawar, Anita pikir dia sudah ada janji dengan sahabatnya bagaimana bisa ikut bersama Alex dan membatalkan janjinya dengan Lolita.
"Kalau kau sampai menolak dan tidak mau datang. Aku anggap kau memang gadis kecil pembohong besar" tegas Alex pada Anita, membuat nya menjadi serba salah dan terlihat kebingungan di wajah Anita.
"Tapi kau jangan pikir bisa kabur dariku, sekalipun kau tidak ingin datang. Mengerti" ancam Alex pada Anita. Merasa sudah tahu segala informasi tentang Anita, tanpa Anita sadari.
"iiihhh ... dasar tua bangka seenaknya saja menutup telepon. Padahal aku belum selesai bicara" kesal Anita karena telponnya di tutup begitu saja oleh Alex.
"Aduuhh... bagaiman ini. Mana aku sudah ada janji dengan Lolita, malam ini pula. Mana yang harus aku dahulukan?" bingung Anita berbicara sendiri.
"Ahh... bodoh ah. Tentu saja aku harus mendahulukan sahabatku sendiri. Aku tidak perduli si tua bangka itu mau berpikir tentangku seperti apa. Lagi pula aku akan tetap membayarkan hutangku padanya" lanjut, ucap Anita berimprovisasi sendiri.
Sementara Alex terlihat tersenyum dan ntah kenapa bisa membuatnya merasa senang setelah berbicara dengan Anita. Walaupun dia sendiri berbicara pada Anita dengan nada kesal dan menuduhnya yang tidak-tidak.
Tapi itu tidak membuat Alex berpikir terlalu jauh. Dia pikir itu wajar saja karena dia telah menemukan orang yang berniat ingin menipunya, itu sebabnya Alex merasa senang, begitu pikir Alex.
Kemudian datang asisten pribadinya Alex yang bernama Rafi untuk menghadap Alex.
"Selamat siang Tuan" ucap Rafi sambil menunduk sesaat, setelah tadi mengetuk pintu dan diberi izin masuk oleh Alex.
__ADS_1
Alex hanya menanggapinya dengan mata berkedip sekali berbarengan dengan kepala mengangguk pelan, tanda mengiyakan.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke ruangan ku?" tanya Alex basa-basi.
"Tidak tuan" jawab Rafi sambil menggeleng pelan.
"Aku ingin, kau melakukan sesuatu nanti sore. Untuk membawakan seseorang untukku, tidak perduli orang itu mau atau tidak. Kalau dia menolak, paksa saja dia. Apa kau mengerti" ucap Alex pada Rafi.
"Mengerti tuan" jawab Rafi dengan mengangguk cepat.
"Bagus. Sekarang kau boleh pergi. Nanti data mengenai orangnya aku kirimkan padamu" ucap Alex sambil mengisyaratkan keluar dengan menggerakkan mata dan kepalanya.
Sementara itu di rumah Lolita, terlihat Lolita kedatangan tamu, yaitu Rio.
Terlihat juga Lolita yang sedang menyiapkan berkas untuk kebutuhan dokumen yang akan di kirimkannya ke universitas yang ada di luar negri.
"Hay.... adik ku sayang" sapa Rio pada Lolita sambil celingak-celinguk seperti mencari seseorang, lalu duduk di sofa tanpa menunggu izin dari Lolita, sudah menganggap rumah sendiri.
"Kak Rio. Tumben siang-siang begini ke rumah. Apa gak jalan sama kak Dewi" tanya Lolita saat melihat kakak sepupunya jarang-jarang datang di siang hari.
"Hehmmm... lagi males jalan sama dia" ucap Rio santai membuat Lolita sudah tidak heran dengan sikap kakak sepupunya tersebut, lalu Rio bertanya saat melihat Lolita yang sedang sibuk dengan beberapa kertas di tangan dan di mejanya "Kamu sendiri lagi ngapain?. Kayaknya sibuk banget" tanya Rio sok penasaran.
"Ini lagi nyiapin dokumen-dokumen buat kuliah keluar negri" jawab Lolita sambil masih membereskan dokumen pentingnya.
"Kamu..jadi serius mau lanjut kuliah di luar negri. Aku pikir gadis manja kaya kamu gak bakal berani tinggal sendiri, apalagi di negri orang" ucap Rio meremehkan adik sepupunya tersebut.
"Maksud kak Rio apa?. Ngomong kaya gitu" ucap Lolita sambil memberi tatapan menakut-nakuti pada Rio, namun Rio hanya menanggapinya dengan senyuman.
Kemudian Rio mulai bertanya tentang Anita pada adik sepupunya tersebut.
"Eh ngomong-ngomong, apa kabarnya sahabatmu itu" tanya Rio langsung ke inti.
__ADS_1
Karena sebenarnya, Rio datang ke rumah tersebut berharap akan bertemu Anita di rumah sepupunya itu.