Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Pingsan


__ADS_3

"Pak Amin!" Seru Anita.


"Kita kembali ke rumah tuan saja, ya. Jangan ke kantor" ucap Anita tiba-tiba memerintahkan sopir tuannya tanpa memperdulikan omelan Alex padanya.


"Heh... kau ini siapa. Memerintahkan sopirku begitu saja kembali ke rumah. Disini tuh aku bosnya" pekik Alex merasa tidak punya wibawa di depan Anita sebagai bosnya.


"Tuan!" Seru Anita sedikit kesal.


"Apa anda tadi tidak mendengar Dokter Alisa bicara apa" ucap Anita pada Alex.


"Dia bilang, Tuan tidak boleh memaksakan bekerja jika ingin cepat sembuh. Tuan harus benar-benar istirahat total. Apa tuan ingin pincang selamanya, dan membuat putri tuan merasa khawatir terus. Begitu?" ucap Anita mendadak perhatian pada Alex, meski dengan nada bicaranya yang bawel.


"Ee e eeh... Kau mendoakan aku pincang selamanya, hah" ucap Alex menanggapi ucapan Anita dengan salah paham.


"Aahh.. sudahlah. Terserah tuan saja jika tidak ingin di perhatikan" ucap Anita merasa kesal terus berdebat dengan Alex, namun sesaat kemudian dia merasa salah bicara saat tanpa sengaja memilih kalimat 'tidak ingin di perhatikan', untuk Alex.


Membuat Anita tiba-tiba memalingkan wajahnya dari samping Alex melihat keluar jendela sambil menggigit bibirnya kecil merasa malu sendiri.


Sementara Alex yang mendengar hal seperti itu mendadak membuatnya tersipu malu.


Kemudian menyuruh Pak Amin untuk kembali ke rumahnya dengan rasa yang berbunga-bunga. Karena berpikir Anita mulai perhatian padanya.


"Aaah.. ya. Baiklah. Kita kembali ke rumah saja, pak Amin" ucap Alex berpura-pura merasa terpaksa, meski nampak terlihat wajah tersipu malu namun tanpa sepengetahuan Anita yang masih memandang ke arah luar jendela mobil.


Sementara pak Amin yang mendengar dan melihat mereka dari kaca spion hanya tersenyum geleng-geleng kepala pelan, merasa Anita dan tuannya seperti anak remaja yang sedang berdebat karena sesuatu hal kecil.


Kemudian mobil pun membawa mereka kembali ke rumah Alex.


Sementara itu, Raja merasa rindu pada Anita namun belum bisa untuk bertemu dengannya.


"Akhir-akhir ini, kenapa Anita tidak bisa di hubungi. Kalaupun bisa, pasti hanya sebentar" ucap Raja di kursi kebesarannya sambil memikirkan Anita, merasa rindu.


"Aku juga tidak mengerti, sebenarnya apa pekerjaannya itu. Hingga membuatku sulit untuk bertemu dengannya" lanjut Raja merasa sulit untuk bertemu dengan Anita.


"Ya Tuhan... Kapan Engkau pertemukan aku dengannya lagi. Aku mulai merindukannya" ujar Raja berharap pada Tuhannya.


Sementara itu, mobil yang di tumpangi Alex dan Anita sudah sampai di depan pintu pagar rumah Alex.

__ADS_1


Kemudian bang Asef yang melihat mobil tuannya datang, segera berlari untuk membukakan pintu pagar rumah tersebut.


Lalu setelah mobil tersebut berada di halaman depan rumah, segera pak Amin keluar dari dalam mobil tersebut dan perlahan membukakan pintu mobil belakang untuk membantu tuannya keluar mobil dengan di ikuti oleh Anita.


Perlahan Anita kembali membantu Alex untuk berjalan masuk ke dalam rumah menuju kamarnya tuannya.


Sesampainya di dalam rumah dan setelah naik tangga tiba-tiba Anita mulai kelelahan dan membuat matanya berkunang-kunang, mulai oleng saat sudah di atas membantu Alex terus berjalan.


Bagaimana tidak, Anita yang dari tadi pagi belum sarapan dan membantu menggandeng Alex yang bertubuh besar sementara dirinya yang lumayan kecil di banding Alex membuatnya harus mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menahan tubuh besar Alex.


Kemudian saat Alex merasa Anita sedikit oleng dan hendak membuatnya ikut oleng juga berkata padanya.


"Heh gadis kecil... Apa kau sudah mulai kelelahan?. Kalau iya, sudah cukup sampai disini saja. Nanti malah kau membuatku jatuh dan terluka lagi" ucap Alex pada Anita merasa khawatir padanya, namun Alex masih gengsi untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Tidak tuan. Saya tidak apa-apa" ucap Anita sedikit berbohong, padahal sebenarnya dia merasa matanya berkunang-kunang dan sedikit kelelahan namun tetap memaksakan.


"Ayo tanggung, tuan. Sebentar lagi kita sampai ke kamar tuan" lanjut Anita lirih saat Alex menghentikan langkahnya sesaat, merasa nanggung jika harus membiarkan tuannya berjalan sendiri ke kamarnya.


"Kau ini memang gadis keras kepala, ya" ucap Alex kembali sedikit berkata sinis sambil perlahan kembali berjalan menuju kamarnya yang tinggal beberapa langkah lagi.


"Akhirnya sampai juuuga..... gubrak" ucap Anita saat sampai berada dekat tempat tidur Alex dengan suara lirihnya kemudian jatuh pingsan di atas kasur Alex, merasa kelelahan.


Namun sebelum itu, sesaat Alex merasa deg-degan kembali saat dirinya tadi tanpa sengaja ingin menahan Anita jatuh tapi karena kakinya tidak bisa menahan dengan benar jadinya dia juga ikut terjatuh dan hampir menindih tubuh Anita.


Tapi dengan sigap Alex menahan tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya supaya tidak benar-benar menindih tubuh Anita.


Hingga membuatnya terpaksa melihat kembali wajah Anita dengan begitu dekat dan intim. Sesaat membuatnya terus memperhatikan wajah cantik Anita meski, saat itu penuh dengan peluh dan keringat di wajahnya karena kelelahan membantu Alex terus berjalan.


Diam-diam Alex hampir khilaf lagi, dengan segala kesadarannya buru-buru dia membaringkan tubuhnya di samping Anita yang sedang pingsan.


Kemudian sesaat menenangkan hatinya sambil dia pegang sendiri dadanya untuk meredakan rasa aneh yang menimpa dirinya saat itu.


"Ya Tuhan... kenapa lagi dengan hatiku ini. Kenapa dia terus menggodaku seperti ini" lirih Alex sambil memegang dadanya yang deg-degan dan sesaat melihat ke arah Anita yang masih menutup mata di sampingnya.


Kemudian Alex bangkit dari posisi tidurnya dan segera duduk di tempat tersebut sambil sesekali melihat ke arah Anita yang sedang pingsan di kasur tempat tidurnya.


"Dasar gadis keras kepala. Sudah tahu merasa lelah membantuku terus berjalan, masih saja dia memaksakan diri. Lihat sekarang, dia malah pingsan di tempat tidurku" ucap Alex pada Anita yang pingsan di atas kasurnya.

__ADS_1


"Dia benar-benar terlihat cantik kalau pingsan seperti tidur begini" lirih Alex kembali terpesona saat melihat Anita di atas kasurnya seperti itu.


"Tidak, tidak, tidak... Sadar Alex dia itu siapa. Dia itu musuh mu" ucap Alex menyadarkan dirinya sendiri, menganggap Anita sebagai musuh.


Kemudian Alex segera memanggil Mbo Inah, merasa takut dirinya kembali khilaf melakukan hal-hal yang tidak di inginkan tanpa sepengetahuan Anita.


"Mbo..." teriak Alex dari posisi duduk di atas kasurnya, mencoba memanggil.


"Mbo Inah..." kembali Alex mencoba lagi memanggil Mbo Inah.


"I..iya, tuan. Ada apa?" ucap Mbo Inah sedikit terbata-bata takut tuannya kenapa-napa saat sudah berada di hadapan Alex.


Namun saat melihat Anita sudah berada di atas kasur tuannya, membuat Mbo Inah sedikit heran dan bertanya-tanya, kemudian mendekatinya saat Alex menunjuk ke arah Anita dengan matanya.


Sementara Alex sudah berada di sofa yang ada di dalam kamarnya.


"Tolong, bangunkan dia Mbo!" pinta Alex pada Mbo Inah.


"Aduh, nak Anita kenapa, tuan. Bagaimana bisa sampai ada di atas tempat tidur tuan" ucap Mbo Inah sambil mendekati Anita dan sedikit bertanya-tanya tentang keberadaannya.


Namun Alex yang masih merasa gelisah karena perasaannya tadi, hanya bisa diam dan sedikit melamun karena tadi hampir khilaf lagi pada Anita.


Sementara itu Mbo Inah masih berusaha membangunkan Anita, namun juga masih belum ada pergerakan dari tubuh Anita.


Kemudian Mbo Inah segera kembali ke tempatnya untuk mengambil minyak kayu putih terlebih dulu.


"Maaf, tuan. Saya ke bawah dulu mengambil minyak kayu putih" ucap Mbo Inah buru-buru tanpa mendengarkan ucapan tuannya yang masih terlihat membisu di sofanya.


Lalu beberapa menit kemudian Mbo Inah masuk kembali ke kamar tuannya untuk menyadarkan Anita yang masih pingsan kelelahan.


"Nak Anita, bangun... bangunlah" ucap Mbo Inah sambil mengusap-usap peluh keringat yang masih membasahi pelipisnya.


Kemudian mencoba menempelkan minyak kayu putih pada hidungnya supaya cepat sadar.


Lalu tidak lama setelah itu, Anita mulai kembali sadar dengan sedikit-sedikit membuka matanya sambil pelan-pelan memijat kepalanya yang masih sedikit terasa berat.


"Eumhh.. Mbo kok ada disini. Aku kenapa Mbo?" lirih Anita saat melihat Mbo pertama kali sambil memijat-mijat matanya yang juga masih sedikit berkunang-kunang.

__ADS_1


Belum menyadari jika dia telah berada di atas kasur tuannya.


__ADS_2