
Kemudian Alexa yang bengong melihat ketidak yakinannya, segera dia berbisik pada mamanya.
"Mah.. apa dia sedang membuat lelucon dengan ku?" ucap Alexa lugu, sambil berbisik pada Anita.
"Kenapa dia bilang, dia adalah Daddyku. Apa itu benar?" lanjut Alexa merasa penasaran.
Sementara Anita hanya bisa tersenyum kaku, tanpa berniat untuk mengatakan yang sebenarnya.
Lalu tiba-tiba dokter dan suster datang untuk mengecek keadaan Alexa sehingga membuat Anita tidak perlu menjawab pertanyaan anaknya tersebut.
"Selamat pagi..." ucap Dokter menyapa mereka dengan ramah.
"Wah... sudah bangun rupanya. Hari ini Om Dokter periksa dulu, ya" ucap Dokter pada Alexa sambil bersiap menggunakan stetoskop untuk memeriksa keadaannya.
"Bagus... Keadaannya akan lebih baik. Tapi tolong untuk sementara waktu jangan membuatnya sampai kelelahan apalagi membuatnya merasa tertekan dan terkejut yang berlebihan. Mengingat kepalanya yang sudah beberapa kali di operasi. Jangan sampai membuatnya berpikiran terlalu keras" ucap Dokter tersebut pada Alex dan Anita setelah dia selesai memeriksa keadaan Alexa.
"Baik, Dok. Kami mengerti" ucap Alex pada Dokter.
Sementara Anita hanya bisa terdiam memikirkan sesuatu tentang anaknya yang baru saja di katakan dokter padanya.
"Kalau begitu saya sudah selesai. Saya pamit dulu, tuan dan nyonya Wijaya. Permisi" ucap Dokter menekankan kata nyonya Wijaya pada Anita, yang sudah dia ketahui saat Alex mengatakan bahwa anak tersebut adalah anaknya.
Tentu membuat dokter tersebut berasumsi bahwa Anita pasti adalah istri tuan Alexander Wijaya.
"Terima kasih, Dokter" ucap Anita menanggapi Dokter tersebut sambil terlihat sedikit malu-malu setelah mendengar Dokter tersebut memanggilnya seperti itu.
Kemudian Dokter pun pergi di ikuti suster yang dari tadi menemaninya.
Sementara itu, Anita dan Alex tiba-tiba saling menatap membuat keduanya entah mengapa menjadi malu-malu kucing dan salah tingkah.
Alexa yang tidak sengaja melihat keduanya salah tingkah seperti itu merasa aneh dan mengernyitkan keningnya merasa bingung.
"Mamah... kenapa tersipu malu seperti itu.... Dan lihat pipi mah kenapa tiba-tiba memerah seperti itu. Apa mama sedang sakit juga?" ucap Alexa dengan polosnya, mengira pipi Anita yang memerah seperti itu sedang sakit seperti dirinya.
Anita yang semakin salah tingkah dibilang seperti itu oleh anaknya sendiri merasa bingung dan tambah malu.
Sementara Alex yang mengerti hal tersebut, terlihat tersenyum tenang setelah sempat merasa malu-malu kucing bertatapan dengan Anita tadi.
"Euhm.. enggak sayang. Mama hanya sedikit merasa kepanasan" ucap Anita sambil mengipas-ngipas wajahnya yang memang terasa sedikit panas di wajahnya.
Namun membuat Alexa bertambah merasa bingung dengan apa yang telah di ucapkan ibunya tersebut.
"Sayang sebentar, ya. Mamah ke toilet dulu" lanjut Anita merasa malu sendiri dan hendak menghindar dari pandangan Alex.
Kemudian Anita pun dengan cepat segera berlari menuju toilet yang berada di ruangan tersebut.
"Kakek... kenapa kau menertawakan mamah ku? ucap Alexa tidak terima ibunya di tertawakan oleh pria tua yang saat ini berada di samping tempat tidurnya.
Dan dia masih menganggap Alex sebagai kakek-kakek.
__ADS_1
"Aku tidak menertawakannya" ucap Alex menyanggahnya, yang dia lakukan memang hanya tersenyum saat melihat tingkah Anita yang terlihat lucu di matanya.
"Dan kenapa kau masih memanggilku kakek. Aku kan sudah bilang, kalau aku ini adalah Daddy mu?" lanjut Alex tidak terima anaknya sendiri memanggilnya dengan sebutan kakek.
"Bagaimana mungkin" ucap Alexa sambil melihat Alex dengan selidiknya dari yang bisa dia lihat sampai ujung rambutnya.
"Kau memang masih terlihat tampan. Tapi...?" lanjut Alexa jujur dengan wajah polosnya, dan menghentikan ucapannya seolah sedang memikirkan apa yang sedang di lihatnya saat ini.
"Sudah... kau tidak perlu berpikir-pikir lagi. Apa kau tadi tidak mendengar Dokter berkata apa. Kau tidak boleh berpikir terlalu berat" ucap Alex seperti bicara pada temannya sendiri.
"Kenapa. Apa karena rambut beruban ku ini, membuat mu berpikir aku adalah seorang kakek-kakek, begitu?" lanjut Alex sambil sedikit memegang rambutnya yang mulai memutih, menunjukkannya pada anaknya tersebut.
"Ehh jangan salah... meskipun rambutku ini putih. Tapi lihat otot ku ini, masih kuat untuk menggendong mamah mu apalagi menggendong anak kecil seperti mu" ucap Alex mencoba meyakinkan anaknya bahwa penampilan tuanya tidak membuatnya kalah dengan pria-pria muda yang terlihat pantas untuk menjadi seorang ayah untuknya.
Sambil memperlihatkan lengannya yang masih nampak kekar berotot di usianya yang memang sudah tua.
Membuat Alexa terlihat sedikit mengagumi lengan berotot ayahnya tersebut.
"Wah.. hebat. Kakek jadi terlihat seperti pemain Hero kesukaan ku" ucap Alexa mendadak antusias.
Lengan berotot Alex tiba-tiba mengingatkannya pada super Hero kesukaan Alexa yang bertubuh kekar dan berotot, namun masih saja memanggil Alex dengan menyebutnya kakek.
Membuat Alex tiba-tiba menurunkan senyumnya saat mendengar anaknya masih saja memanggilnya kakek.
"Kau ini... kenapa masih saja memanggilku kakek" ucap Alex dengan wajah jenuhnya.
Namun Alexa malah sebaliknya dia nampak terlihat tersenyum senang menatap Alex.
"Sayang... Apa yang kau tertawakan?" tanya Anita merasa heran.
"Lihat itu mah, kakek ini lucu sekali" ucap Alexa masih dengan tersenyum senangnya.
"Lucu?" ucap Anita merasa bingung.
Merasa apa yang di lihatnya biasa-biasa saja.
"Sudah sayang, kamu jangan begitu" lanjut Anita pelan-pelan memberitahu anaknya, dia mulai merasa tidak enak hati pada Alex.
"Tidak apa-apa Anita. Biarkan saja, aku senang melihatnya seperti itu" ucap Alex pada Anita.
"Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu. Nanti aku akan kembali lagi" lanjut Alex setelah melihat Anita sudah keluar dari dalam toilet.
Anita yang memang sudah dari tadi berharap Alex pergi hanya bisa tersenyum tipis mengiyakan.
Tanpa banyak berbasa basi Alex pun pergi dari ruangan tersebut dan pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.
Sore harinya, Alexa di bawa keluar ruangan. Dia meminta Anita untuk pergi ke taman yang ada di rumah sakit tersebut. Dia merasa jenuh dan bosan berada di kamar ruang inap nya.
Perlahan Anita mendorong kursi roda yang di sediakan rumah sakit untuk membawa anaknya ke taman.
__ADS_1
Alexa nampak senang setelah melihat suasana taman yang sejuk dan nyaman.
"Sayang... Apa kamu senang berada di taman ini?" tanya Anita saat melihat anaknya terlihat senang.
"Iya Mah, aku senang berada di taman ini dari pada di kamar tadi. Bosen" ucap Alexa jujur.
"Oh iya, Mah. Kapan kita pulang ke rumah. Aku gak betah di rumah sakit.... Yahh meskipun kamarnya lebih bagus dari rumah kita" lanjut Alexa sedikit bercerita membandingkan rumahnya dengan keadaan kamar VVIP yang saat ini menjadi kamar rawatnya.
Namun membuat Anita sedikit melamun, mengingatkannya pada rumah mereka yang memang terbilang sederhana dan kecil.
Alexa yang tidak melihat raut wajah Anita yang sedang terbengong tidak tahu bahwa kata-katanya sedikit menyinggung perasaan ibunya.
Membuat Anita merasa tidak dapat memberikan hunian yang layak untuk anaknya.
"Tapi aku lebih betah di sana" ucap Alexa di atas kursi roda yang sedang di dorong ibunya.
"Iya sayang... nanti setelah kamu benar-benar sehat, kita pasti pulang. Tapi saat ini kamu harus bersabar dulu, ya. Untuk beberapa saat kita di rumah sakit dulu. Kamu mengerti kan sayang" ucap Anita setelah menghentikan kursi roda dan menatap anaknya sambil berjongkok di depannya.
"Iya, mah. Tapi Mamah harus berjanji sama Lexa. Mama gak boleh nangis lagi, Lexa gak mau sampai lihat mama nangis lagi gara-gara lihat Lexa sakit seperti ini" ucap Alexa pada ibunya.
Membuat Anita merasa tersentuh mendengar kata-kata anaknya yang terdengar sudah dapat berpikir dewasa di usianya yang masih teramat kecil.
Hal itu tentu membuat Anita meneteskan air mata bahagia. Namun Alexa yang belum mengerti membedakan tangisan ibunya, mengira Anita menangis terluka karenanya.
"Tuh kan mamah nangis lagi. Semenjak di rumah sakit ini aku sudah sering membuat mamah nangis terus. Aku tidak mau lagi tinggal di rumah sakit" ucap Alexa merasa ikut sedih saat melihat ibu tercintanya meneteskan air mata di hadapannya.
"Tidak sayang... kamu salah paham. Tidak semua air mata yang keluar dari mata kita itu berarti sedih ataupun terluka. Tapi kadang air mata juga berarti kebahagiaan. Lihat mamah juga tersenyum kan, berarti mamah sedang menangis bahagia" ucap Anita menjelaskan, memberi pengertian pada anaknya tersebut.
"Benarkah. Ada hal seperti itu. Tapi kenapa mamah tiba-tiba menangis bahagia?" tanya Alexa masih merasa bingung.
Membuat Anita juga ikut bingung untuk menjelaskannya kembali.
Namun beruntung tiba-tiba ada seorang suster yang menghampiri Anita sehingga membuatnya tidak perlu untuk menjelaskannya lebih lanjut lagi.
"Nyonya Anita?" tanya suster saat sudah berada di hadapan Anita.
"Iya benar. Ada apa ya, Sus?" ucap Anita dan bertanya balik.
"Maaf, anda di panggil Pak Dokter ke ruangannya sekarang juga katanya" ucap Suster pada Anita.
"Oh... baiklah. Kalau begitu tolong anda jaga anak saya dulu ya, Sus" ucap Anita sambil meminta tolong suster tersebut untuk menggantikannya menjaga Alexa.
"Terima kasih, Sus" lanjut Anita setelah melihat anggukan kepala suster bertanda bersedia untuk menjaga sementara anaknya.
Namun sebelum Anita pergi meninggalkan anaknya ke ruangan Dokter, terlebih dahulu dia berbicara pada anaknya.
"Sayang... kalau begitu, kamu sama suster dulu ya, nanti mamah segera kembali. Mamah di panggil dulu Pak Dokter" ucap Anita pada anaknya dengan lembut.
"Baik, Mah" ucap Alexa menanggapi ibunya.
__ADS_1
Kemudian Anita pun segera pergi untuk menemui Dokter anaknya tersebut.