Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Anak Baik


__ADS_3

"Tuan.... berhenti. Jangan mendekat, atau saya akan..." ucap Anita saat melihat Alex perlahan terus mendekatinya.


"Akan apa... hemm?" tanya Alex melanjutkan ucapan Anita yang belum selesai sambil terus menggoda dan mendekatinya.


"Tuan, saya bilang berhenti" pekik Anita sambil memalingkan wajahnya ke kiri dan menutupnya dengan tangan. Namun Alex sengaja terus mendekatinya sambil menakutinya seolah-olah ingin mencium Anita.


Namun sepertinya Alex belum menyadari bahwa mereka sudah sampai pada tujuan. Sehingga dia masih tetap menggoda dan menakut-nakuti Anita di dalam mobil tersebut.


Dimana sudah ada beberapa wartawan yang sudah menunggu di luar, di sisi kiri kanan karpet merah, hendak ingin memotret ke datangan tuan Alexander Wijaya pengusaha sukses yang cukup terkenal di dunia bisnis.


Yang saat ini hendak menjadi salah satu tamu undangan istimewa di suatu acara yang cukup meriah dan megah.


Saat Alex terlihat hendak ingin mencium pipi Anita, secara bersamaan tanpa Rafi tahu apa yang terjadi di dalam mobil. Dengan santainya Rafi membuka pintu mobil dan memperlihatkan adegan kemesraan Alex dan Anita.


Tentu hal itu membuat para wartawan dan fotografer yang tadinya anteng juga Rafi terbelalak sesaat setelah melihat adegan tersebut.


Tidak membuang-buang waktu, segera setelah mereka sadar, para wartawan dan fotografer mengambil kesempatan tersebut untuk menjadikannya berita yang menghebohkan.


Sementara Alex dan Anita yang kaget karena tiba-tiba mendapatkan kejutan seperti itu, kembali saling melotot dan bertatapan satu sama lain. Terlebih saat mengingat posisi mereka yang terlihat ambigu dipikir orang.


Kemudian saat Rafi menyadari situasinya kurang tepat, segera dia menutup pintu mobil dan menyingkirkan para wartawan tersebut yang menghalangi jalannya.


Namun wartawan yang merasa kekurangan bahan berita tetap berusaha memotret dan membuat berita sekenanya.


Setelah Rafi masuk dan berada di samping kemudi, segera menyuruh sopirnya untuk terus maju langsung ke tempat parkiran yang sudah di siapkan.


Sementara itu, Alex dan Anita yang masih dalam posisi sama, melihat pintu mobil sudah di tutup segera Alex terperanjat dan Anita segera membenarkan duduknya lalu mencoba untuk tenang.


Terlihat kebingungan di antara mereka berdua. Sementara Anita yang mulai frustasi di buatnya, kembali memberanikan diri berbicara pada Alex.


"Ini semua gara-gara tuan. Kenapa tuan harus memaksa membawa saya datang ketempat seperti ini. Lihat tadi, pasti mereka berpikir yang tidak-tidak tentang saya" pekik Anita kesal merasa malu dan mulai frustasi sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.


"Eeehh.... seenaknya saja kau bilang. Kau pikir bagaimana dengan ku. Citraku lebih penting, pasti para rival ku memanfaatkan situasi ini" ucap Alex merasa tidak terima dengan ucapan Anita.


"Mereka pasti berpikir aku memanfaatkan gadis lugu seperti dirimu" lanjut Alex mengucapkan apa yang di pikirkan nya " mmmhh lugu apanya. Pada hal kau seperti kucing liar tidak bisa diatur" seloroh Alex pada Anita.


Membuat Anita kembali melotot pada Alex dan berkata "Apa tuan bilang. Justru tuanlah pria hidung belang... pria tua mesum" pekik Anita mengejek.


Hingga terjadi perdebatan diantara Alex dan Anita, seperti Tom and Jerry yang tidak mau mengalah satu sama lain.

__ADS_1


"Kau gadis liar..." ucap Alex.


"Anda pria tua mesum" Anita membalas dengan ejekan yang masih sama.


"Kau gadis licik" lanjut Alex.


"Duda karatan" pekik Anita tidak mau mengalah.


"Berani-beraninya kau..." Alex kehabisan bahan, sehingga repleks melayangkan tangan, namun tidak sampai menampar ataupun memukul Anita.


"Apa...?" tantang Anita mendadak berani, membuat Alex frustasi tidak dapat membalas ejekannya, lalu dengan kesal segera mengusapkan tangan pada wajahnya sendiri.


Kemudian Rafi mengetuk jendela pemisah. Tidak lagi tiba-tiba menggesernya, takut terjadi hal-hal yang tidak seharusnya kembali dia lihat seperti tadi.


"Tok...tok" suara jendela di ketuk oleh Rafi lalu perlahan membuka jendela pemisah dan berkata "tuan...." ucap Rafi belum selesai mengucapkan kalimatnya.


"Apa?" pekik Alex dan Anita berbarengan.


Membuat Rafi langsung terdiam dan menelan salipanya cepat. Sepertinya kali ini Rafi mendapatkan situasi yang salah lagi membuatnya kena marah.


"Ki.. kita su..sudah sampai parkiran tuan" ucap Rafi mendadak gagap.


Kemudian Rafi pun menutup kembali jendela pemisah tersebut. Namun dia sendiri masih merasa bingung dengan kata "ya sudah" mau turun apa masih tetap di dalam mobil, pikir Rafi.


Tapi Rafi tidak berani menanyakannya dengan jelas. Setelah barusan melihat situasi Alex dan Anita yang saling menatap tajam, seperti 🐶 dan 🐱 yang sedang bersiap untuk memperlihatkan cakarnya masing-masing.


Membuat Rafi bertanya-tanya pada dirinya sendiri "sebenarnya tuan Alex dan gadis itu memiliki hubungan apa. Tadi mereka terlihat begitu romantis dan barusan terlihat seperti 🐶 dan 😾 benar-benar membingungkan. Ah... sudahlah. Kenapa aku jadi kepo seperti ini" ucap Rafi setelah keluar dari mobil.


Sementara Anita dan Alex masih saling menatap tajam di dalam mobil. Tidak mau memulai pembicaraan.


Mereka terlihat seperti anak kecil, bahkan Alex yang umurnya sudah terbilang tua masih saja berego tinggi.


Hingga akhirnya Alex berfikir untuk memulai pembicaraan dan menghentikan perdebatan mereka.


"Sudah cukup. Kenapa kau yang jadi marah. Disini aku bosnya. Dan seharusnya kau mengikuti semua perkataan dan keinginanku" ucap Alex tegas merasa berkuasa.


"Tidak... aku tidak mau. Lebih baik aku pulang saja. Dari awal aku sudah bilang tidak mau. Kenapa tuan terus memaksaku" pekik Anita, tidak suka di perintah-perintah oleh Alex.


"Oh.. begitu. Baiklah. Pergi sana!." ucap Alex berpura-pura menerima.

__ADS_1


"Tapi ingat. Sebelum kau keluar dari mobil ini dan pergi. Besok kau juga akan keluar dari pekerjaan mu dan akan pergi ke kantor polisi, mendekam di penjara atas tuduhan penipuan" lanjut Alex mengancam.


Dan sepertinya ancaman Alex berhasil, saat melihat langkah Anita terhenti setelah Alex mengatakan ancamannya.


Membuat Anita terlihat kesal dan tak berdaya tidak bisa lagi melawan kalau sudah menyangkut pekerjaan dan hukum.


Anita bisa saja pergi dan meninggalkan Alex, tapi dia sudah tahu Alex tidak main-main dengan ancamannya. Terlebih dia tidak mau sampai berurusan dengan hukum dan kehilangan pekerjaan yang baru di dapatnya.


Kemudian dengan terpaksa Anita mengikuti perkataan dan keinginan Alex saat ini.


"Ok... ok... baiklah. Sekarang apa mau tuan dari saya" tanya Anita, kesal sambil cemberut.


"Diam" ucap Alex pelan, mencoba melihat kesungguhan ucapan Anita.


Mendengar hal itu repleks Anita mengikuti ucapan Alex. Disuruh diam Anita diam dan begitu seterusnya.


"Senyum" perintah Alex pada Anita yang di ikuti Anita, walaupun terlihat di paksakan.


Anita tersenyum.


"Sedih" ucap Alex lagi, merasa belum puas.


Anita sedih.


"Tertawa" lanjut Alex, membuat Anita sedikit protes tanpa bersuara namun kembali mengikuti perintah Alex.


Anita tertawa "wakakakkak"


"Ahh.... sudah cukup. Tertawamu fals" ucap Alex komplen, yang di tanggapi Anita dengan mata malasnya.


"Sekarang mendekat" lanjut Alex, membuat Anita melotot namun tetap mengikuti perintah Alex.


"Bagus.. Begitu lebih baik. Tetap pertahankan" ucap Alex merasa puas dengan kepatuhan Anita padanya sambil menyentuh bahunya.


"Anak baik" lanjut Alex memuji pada Anita dengan memberi senyuman dan usapan di kepalanya.


Namun Anita menanggapinya dengan bibir manyun dan mata malas tapi tidak membuat Alex tersinggung ataupun marah.


Kemudian mereka pun bersiap untuk keluar. Berpura-pura terlihat bahagia dan tak bermasalah.

__ADS_1


__ADS_2