
Sementara itu Alex yang sudah keluar kamar, dia nampak menggaruk belakang kepalanya, menarik nafas dan membuangnya kemudian sedikit tersenyum merasa gagal apa yang hendak dia lakukan tadi pada Anita.
Namun dia tidak dapat kesal karena anak laki-lakinya sendiri yang telah mengganggu momen romantis nya tersebut bersama Anita.
Setelah itu dia lebih memilih ke kamar nya untuk segera membersihkan diri dan mengganti pakaian yang dari tadi belum sempat dia ganti.
Di lain tempat Lolita hendak bertemu dengan teman lamanya di kafe. Namun setelah beberapa lama menunggu, temannya tersebut tidak kunjung datang.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali pulang.
Lolita pun beranjak dari tempat duduknya dan segera meninggalkan kursi meja setelah dia membayar makanan dan minumannya.
Diapun nampak terlihat sudah keluar dari pintu keluar kafe.
Dan saat dia hendak masuk mobilnya, tiba-tiba ada seseorang yang menutup mulutnya dari belakang.
Orang itu sepertinya memberikan obat bius pada saputangan yang dia gunakan untuk menutup mulut Lolita hingga pingsan.
Entah siapa orang itu dan diam-diam membawa Lolita entah kemana, setelah orang tersebut berhasil membuat Lolita pingsan.
Sementara itu di rumah, Alex dan anaknya sedang menunggu Anita untuk makan malam bersama.
Namun Alex juga tidak lupa menanyakan anak perempuannya pada Mbo Inah.
"Mbo, apa Lolita belum pulang juga?" tanya Alex pada Mbo Inah yang sedang menuangkan air minum pada gelasnya.
"Sepertinya belum tuan. Tadi non Lolita sudah bilang kalau dia akan pulang telat" ucap Mbo Inah memberitahu.
"Apa dia memberitahu Mbo pergi kemana?" ucap Alex bertanya lagi.
"Tidak tuan" ucap Mbo Inah singkat.
"Ya sudah kalau begitu. Sekarang tolong panggilkan Anita untuk segera makan malam" ucap Alex dan menyuruh Mbo Inah untuk memanggil Anita di kamarnya.
"Baik, tuan"
"Tidak perlu. Aku sudah ada disini" ucap Anita segera menyela.
Kemudian Anita pun segera menghampiri meja makan untuk makan malam bersama.
Dengan perasaan yang masih terasa sedikit canggung, saat merasa teringat kembali kejadian tadi, membuat Anita terlihat nampak salah tingkah saat menatap wajah Alex.
"Mamah... kenapa pipi mamah terus merah seperti tadi. Apa mamah sakit?" tanya Alexa kembali penasaran saat ibunya tengah duduk di sampingnya dan melihat wajah Anita yang tersipu malu teringat kejadian tadi.
"Aduuh... anak siapa sih nih. Malah membuat ibunya sendiri tambah malu begini" seloroh Anita dalam hati, melihat anaknya yang tidak sengaja menambah rasa malunya.
"Tit.. tidak sayang. Mamah tidak sakit. Lebih baik kamu cepat makan ya. Lalu setelah itu pergi ke kamar, nanti mamah bacakan dongeng buat kamu, Ok" ucap Anita berusaha mengalihkan pembicaraan.
Sementara Alex yang melihat anaknya berbicara begitu pada ibunya, diam-diam merasa senang dan sedikit tersenyum Lalu kembali berusaha berwajah datar saat Anita mulai menatapnya.
__ADS_1
Tidak ingin membuat Anita merasa malu dan tidak nyaman, segera Alex berpura-pura tidak mendengar apapun dan mengambil makanannya sendiri.
Dilain tempat, Lolita nampak belum sadarkan diri, dia terlihat tak berdaya dengan tubuh di ikat di kursi dan mulut di lakban.
Sementara itu seseorang yang berpakaian serba hitam sedang menatapnya sambil duduk berhadapan dengan Lolita di kursinya sendiri dengan tetap mengawasi dan menunggu Lolita sadar.
Sambil menunggu Lolita sadar, orang tersebut mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Dimana dia telah di hajar oleh orang-orang suruhan Alex dan memasukannya ke penjara selama ini.
Rupanya beberapa tahun lalu Alex mengetahui bahwa Lolita hampir di lecehkan oleh beberapa preman yang di akibatkan orang tersebut.
Mengetahui hal itu, tentu Alex tidak dapat berdiam diri begitu saja. Dia menyuruh anak buahnya untuk menghajar para preman dan mencaritahu siapa dalang di balik perlakuan buruk tersebut.
Yang ternyata teman kampus Lolita sendiri bernama Aditiya, merupakan laki-laki yang sempat di tolak cintanya oleh Lolita.
Flashback pun terhenti.
Kemudian Lolita sadar dan dia merasa kaget saat dirinya menyadari telah terikat di kursi dan di tutupi lakban pada mulut nya.
Tentu hal itu membuat Lolita ketakutan dan meronta-ronta tak berhenti bergerak meminta untuk di lepaskan.
Dan laki-laki yang telah mengikatknya nampak tersenyum jahat dan mulai membuka lakban di mulut Lolita dengan kasar.
Kemudian dia juga mulai membuka penutup kepala dan wajahnya. Membuat nya sengaja memperlihatkan wajahnya supaya Lolita tahu siapa yang telah menculiknya.
"Awww... " pekik Lolita saat laki-laki tersebut menarik paksa lakban dari mulut Lolita.
"Sialaan... Siapa kamu sebenarnya. Kenapa kamu menculikku?. Lepaskan aku!" lanjut Lolita meminta di lepaskan.
"Kenapa... Apa kau terkejut melihat ku?" ucap laki-laki tersebut dengan senyum jahatnya.
"Brengsak kamu Aditiya. Cepat lepaskan aku!" pekik Lolita merasa marah dan terus berusaha melepaskan diri, namun usahanya tetap percuma.
"Tenang lah sayang... Apa kau tidak merindukanku?" ucap Aditiya dengan wajah gilanya sambil mengelus pipi Lolita dengan tangannya.
Membuat Lolita merasa jijik dan segera menghindar meski dengan sedikit merasa ketakutan di buatnya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?. Cepat lepaskan aku!" teriak Lolita tidak ingin berlama-lama satu ruangan dengan orang gila tersebut.
Sementara itu Alex tiba-tiba mendapat telpon dari seseorang, membuatnya nampak terlihat kaget dan segera beranjak dari tempat duduknya untuk menghindari Anita dan anak laki-lakinya sesaat.
"Hallo... Ada apa?. Cepat katakan" ucap Alex di tempat duduknya sambil hendak menyuapkan nasinya.
"Apa kau bilang. Lolita?" lanjut Alex bertanya merasa kaget dan marah. Kemudian segera beranjak dan pergi ketempat lain. Berpikir Anita tidak perlu mengetahui apa yang terjadi pada anak perempuannya tersebut.
Anita yang mendengar nama Lolita di sebut seperti itu dan melihat perubahan emosi Alex, membuatnya merasa bingung dan penasaran.
Diam-diam dan perlahan-lahan Anita mengikuti Alex di belakangnya.
Dia berniat mendengarkan percakapan Alex dengan orang yang telah menelponnya.
__ADS_1
"Mamah mau kemana?" ucap Alexa saat melihat ibunya ikut beranjak dari tempat duduknya.
"Ssuut... kamu tunggu disini, lanjutkan dulu makan malamnya. Nanti mamah kembali" ucap Anita sambil berbisik berbicara pada anaknya tersebut.
"Bodoh.... kenapa kau tidak menghentikannya saat anakku di bawa seseorang. Aku menyuruhmu mengawasi Lolita supaya tidak terjadi sesuatu padanya, bukan berarti kau tidak boleh membantu nya menolong dia" ucap Alex merasa marah di dalam ruangan kerjanya.
Dan ternyata Anita pun mendengarkan Alex yang sedang berbicara dengan marah pada orang di ujung telpon.
"Sekarang telpon Rafi dan segera kepung tempat itu!" pekik Alex menyuruh anak buahnya tersebut.
Dan saat Alex hendak kembali ke tempat meja makan, dia melihat Anita sudah berdiri di depan pintu keluar ruangan kerjanya.
Anita nampak kecewa karena Alex berusaha menyembunyikan hal sebesar itu dari dirinya.
Dengan tangan di silang di dada dan tatapan yang tajam, Anita segera berbicara pada Alex. Dia tidak perduli dirinya di anggap tidak sopan menguping pembicaraan orang lain.
Tapi yang jelas saat ini dia ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya tersebut.
"Apa yang terjadi pada Loli?" ucap Anita bertanya pada Alex.
"Tidak ada yang terjadi. Aku harus segera pergi" ucap Alex dengan wajah dinginnya.
"Tuan... Apa kau akan terus menganggapku orang luar seperti ini?" tanya Anita merasa marah saat melihat Alex melewati nya dan berkata seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi pada sahabatnya tersebut.
Membuat Alex menghentikan langkahnya saat mendengar Anita berbicara seperti itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Lolita?" ucap Anita dan sedikit menarik tangan Alex supaya menghadap dan melihat wajahnya.
"Loli... Lolita di culik" ucap Alex nampak berat hati untuk mengatakannya.
"Apa?" pekik Anita merasa tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.
"Bagaimana itu mungkin. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Anita merasa khawatir.
"Aku tidak tahu. Tapi sekarang aku harus segera pergi melihatnya" ucap Alex dan hendak pergi meninggalkan Anita.
Namun Anita segera menghentikan Alex dan berniat untuk ikut bersamanya.
"Tunggu. Aku ikut" ucap Anita tidak ingin di bantah.
"Tapi Nita. Ini berbahaya, lebih baik kamu di rumah saja" ucap Alex mencoba memperingatkan Anita.
"Pokoknya aku ikut" ucap Anita tidak menerima peringatan.
"Baiklah... Tapi kau harus tetap berada di samping ku" ucap Alex mengalah, tidak ingin berdebat lagi dengan Anita.
"Daddy.. Mamah... Apa kalian akan pergi?" ucap Alexa yang tiba-tiba datang menghampiri mereka dan tanpa sengaja mendengar mereka akan pergi.
"Iya sayang... Kami harus pergi menjemput kak Loli. Kamu nanti di temani Mbo Inah dulu ya" ucap Anita lembut memberitahu anaknya.
__ADS_1
Kemudian Anita segera menitipkan Alexa pada Mbo Inah dan mereka pun segera pergi melihat ke adaan Lolita.