
Kemudian setelah mereka selesai sarapan dan mengobrol sebentar. Kini Anita dan Alex berpamitan untuk pulang kembali ke kota.
Terlihat Anita dan Alex hendak masuk kedalam mobil. Namun pak Lurah tiba-tiba teringat sesuatu dan merasa ada yang perlu di bicarakan pada Alex, sehingga membuatnya menghentikan Alex, dan Anita lebih dulu masuk kedalam mobil dan meninggalkan Alex dan pak Lurah untuk berbicara sebentar.
"Iya pak Lurah ada apa, ya?" tanya Alex saat melihat pak lurah sudah berada di hadapannya setelah sebentar kembali dari dalam rumahnya dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Ini dokumen-dokumen penting dan handphone kalian, mohon maaf warga sudah lancang mengambil barang dan data-data penting kalian" ucap pak Lurah meminta maaf atas kelancangan warganya yang telah mengambil barang-barang Alex dan Anita untuk mencari tahu status mereka, warga takutnya mereka sudah memiliki pasangannya masing-masing.
Namun hal itu juga di jadikan sebagai pelengkap data-data Alex dan Anita sebagai persyaratan untuk di berikan kepada penghulu. Meskipun sebelumnya mereka di paksa untuk menikah secara mendadak.
"Di dalamnya juga sudah ada buku nikah, nanti kalian tinggal tanda tangani saja. Semalam bapak sudah meminta pak penghulu untuk segera menyelesaikan buku nikah ini dan tadi pagi sudah di antarkan kesini. Tapi tadi bapak lupa ingin memberikannya langsung pada kalian" ucap pak lurah memberi tahu.
"Semoga tuan Alex dapat segera meresmikan dan mengumumkan pernikahan kalian setelah nanti kembali ke kota. Bapak harap apa yang terjadi kemarin, tidak membuat anda merasa kapok untuk datang lagi kembali ke kampung ini" lanjut pak lurah panjang lebar setelah memberikan dokumen-dokumen penting milik Alex dan Anita.
"Tentu. Terima kasih, pak Lurah. Kalau begitu saya pamit dulu" ucap Alex setelah menerima dan mendengar ucapan pak Lurah.
Kemudian Alex segera perlahan mendekati mobilnya yang sudah ada Anita menunggunya di dalam mobil.
Lalu mereka pun pergi meninggalkan tempat pak Lurah bersama beberapa warga yang melihat kepergian mereka.
Sementara itu, setelah mobil Alex menghilang dari pandangan. Pak lurah segera menginformasikan bahwa dirinya telah di amanah kan sejumlah uang oleh Alex kepada warga kampung untuk melanjutkan pembangunan sekolah di tempat tersebut.
Mendengar hal itu, warga kampung yang tadinya berburuk sangka pada Alex dan juga Anita merasa sedikit bersalah setelah pak Lurah menjelaskan yang sebenarnya terlebih saat Alex malah membalas mereka dengan perbuatan baiknya.
Sementara itu Alex sudah setengah jalan, namun masih di daerah kampung tersebut. Tapi saat Alex sedang melajukan mobilnya, tiba-tiba seseorang hampir tertabrak olehnya.
Karena orang itu datang dari arah yang tidak di sangka-sangka oleh Alex.
"Brug" suara mobil yang terhantam oleh orang tersebut.
Beruntung Alex langsung repleks menginjak rem mobilnya. Namun membuat dirinya dan Anita terkejut dan sedikit terpental ke depan, beruntung seatbeltnya terpasang. Sehingga tidak membuat mereka mengalami cidera.
"Ada apa, tuan. Kenapa tiba-tiba mengerem mendadak?" tanya Anita yang saat itu sedang melamun.
"Kau tidak melihat. Tadi aku hampir menabrak orang" ucap Alex kembali sinis.
"Menyebalkan. Mana aku tahu, orang tadi aku tidak fokus" ucap Anita dalam hati, langsung memberi bibir manyun saat Alex kembali dengan mode menyebalkannya.
"Kau di mobil saja, aku akan keluar melihat dulu apa yang terjadi" lanjut Alex memberi perintah pada Anita.
Kemudian Alex pun hendak segera mengecek keadaan. Namun sebelum itu dia mematikan mesin mobilnya terlebih dahulu.
Namun saat Alex hendak turun dari mobilnya, tiba-tiba ada beberapa orang yang datang dan langsung menyeret orang yang tadi hampir di tabrak oleh mobil Alex.
Sesaat membuat Alex kaget dan tertahan di pintu mobilnya sambil melihat orang tersebut di hajar oleh segerombolan preman yang sebelumnya di seret terlebih dahulu sedikit menjauh dari mobilnya, tanpa mereka perduli apa yang mereka lakukan di saksikan oleh Alex.
Namun saat orang tersebut bersimpuh meminta ampun pada preman-preman yang menghajarnya. Tiba-tiba mata Anita terbelalak dari dalam kursi mobil.
Anita melihat orang yang di hajar para preman tersebut ternyata pamannya, si Jaka. Dan untuk beberapa saat Anita hanya bisa diam terlihat bingung dan membiarkan pamannya di hajar oleh para preman tersebut.
__ADS_1
Terlebih saat mengingat apa yang telah Jaka lakukan pada neneknya membuatnya masih enggan untuk mengakuinya sebagai keluarganya sendiri apalagi membantunya dari preman-preman itu.
Namun Anita tiba-tiba teringat pada pesan neneknya yang mengingatkannya untuk tetap menghormati pamannya. Meskipun selama ini pamannya sendiri sudah sering menyakiti dia dan neneknya.
Anita teringat saat pamannya sakit dan neneknya masih dengan senang hati mengobati dan merawat pamannya meski neneknya sering di sakiti oleh Jaka. Tapi neneknya masih tetap perduli pada pamannya tersebut.
Hingga akhirnya kini membuat pikiran dan hati Anita merasa bimbang. Terlebih saat Anita sambil melihat pamannya di hajar dari balik kaca mobil.
Membuat Anita lama-lama melihat pamannya di hajar terus-terusan meski sudah meminta ampun, membuat hati nuraninya tidak bisa diam begitu saja.
Dan akhirnya Anita ikut keluar menyusul Alex yang sudah lebih dulu melihat keadaan dan sedang berbicara dengan salah satu preman tersebut. Namun preman lainnya tetap menghajar Jaka hingga babak belur.
Sementara Anita yang sudah menghampiri mereka langsung menarik dan mendorong para preman yang sedang menghajar Jaka.
"Lepaskan... sudah cukup jangan memukul lagi dia" ucap Anita setelah berlari dan mendorong para preman tersebut.
"Apa yang kalian lakukan padanya. Kenapa kalian terus memukulnya, apa kalian tidak melihat. Dia sudah tidak berdaya" pekik Anita saat preman-preman tersebut menghentikan pukulannya sambil melihat Anita yang sedang berbicara.
"Diam kau. Justru kita sengaja menghajarnya, bila perlu sampai dia mati sekalian. Karena dia tidak bisa membayar hutangnya pada juragan Wiguna. Dan juga karena kau, dia harus segera menerima hukumannya karena telah menjanjikan kau untuk menikah dengan juragan tapi kenyataannya pamanmu yang tidak berguna ini telah berbohong dan malah menikahkanmu dengan pria lain" ucap salah satu preman menjelaskannya.
Namun sesaat membuat Anita merasa kaget kembali dan tentunya ada rasa marah yang terpendam, saat mendengar ternyata pamannya kembali menjanjikan juragan untuk menikahkannya dengan dia.
Lalu saat Anita terdiam sesaat seperti itu, para preman tersebut kembali menyiksa Jaka. Seolah mereka belum puas jika belum melihat Jaka mati di tangan mereka.
Namun tiba-tiba Anita sadar kembali dari lamunannya, dan membuatnya repleks memeluk tubuh pamannya saat melihat para preman hendak kembali ingin menghajar pamannya lagi.
Sementara Alex yang masih berdebat dengan Eman ketua preman tersebut dan mendengar suara Anita yang menjerit kesakitan, tiba-tiba langsung berhenti berdebat dan segera menghampiri Anita. Lalu tanpa berpikir panjang lagi, Alex segera menghajar para preman tersebut.
Dia merasa tidak terima mendengar dan melihat Anita di perlakukan kasar oleh para preman tersebut.
Membuatnya harus berkelahi melawan mereka yang sebagian memiliki tubuh kekar dan berotot.
Namun Alex tidak merasa takut ataupun gentar. Beruntung dia juga mempelajari ilmu bela diri, sehingga membuatnya tidak terlalu kewalahan menghajar mereka satu persatu.
Sementara Anita yang merasa kesakitan di punggung tidak memperdulikannya. Dia masih tetap membantu menyadarkan pamannya yang sudah terlihat babak belur di hajar para preman tersebut.
Entah kenapa melihat pamannya seperti itu, membuat Anita tidak tega juga dan merasa iba pada pamannya. Meskipun pada awalnya Anita merasa marah dan berpikir untuk tidak memperdulikan pamannya sama sekali.
Namun karena pada dasarnya Anita memang memiliki hati yang baik, membuatnya sesaat menjauhkan rasa marahnya terhadap pamannya tersebut.
"Paman... paman, sadar lah" ucap Anita sambil berusaha menepuk-nepuk pipi Jaka supaya sadar dari pingsannya.
Namun pada saat Anita berusaha menyadarkan pamannya. Tiba-tiba dari arah belakang sebuah pisau telah menyentuh leher Anita.
"Bangun" pekik ketua preman pada Anita.
"Cepat bangun kataku" lanjut ketua preman tersebut tidak sabaran.
Membuat Anita yang tadinya memangku Jaka untuk menyadarkannya. Perlahan mengikuti perintah ketua preman tersebut yang sedang mengancam lehernya.
__ADS_1
Hal tersebut di lakukan ketua preman karena merasa anak buahnya sudah pada kewalahan menyerang Alex yang terus-terusan malah menghajar anak buahnya.
Membuatnya berpikir, lebih baik menyandra Anita terlebih dahulu untuk mengancam Alex yang di kiranya akan bisa berguna untuk menghentikan Alex supaya tidak lagi menghajar anak buahnya tersebut.
Dan rupanya apa yang di lakukan Eman berhasil, membuat Alex tidak lagi melawan para anak buahnya.
"Berhenti!. Apa kau ingin melihat istrimu ini mati di hadapan mu?" teriak Eman saat Alex hendak ingin menghajar lagi anak buahnya sambil memperlihatkan Anita yang sedang di sandra olehnya dengan sebuah pisau di leher Anita.
"Bagus. Rupanya kau sangat mencintai istrimu ini, ya?" ucap Eman ketua preman tersebut, saat melihat Alex langsung berhenti saat dirinya mengancam dengan menyebut istrinya.
"Awas kalau kau berani-berani lagi melawan anak buahku. Maka siap-siap saja, leher istrimu ini putus di hadapan mu" lanjut Eman mengancam Alex, dengan menekankan kata istri pada Anita, yang sebelumnya dia memang sudah tahu bahwa Anita telah dinikahkan dengan pria yang telah menghajar anak buahnya tersebut, yaitu Alex.
Sementara Alex yang melihat Anita di sandra oleh preman tersebut. Entah mengapa seketika menuruti kata-kata Eman untuk tidak melawan lagi anak buahnya.
Membuatnya terdiam dengan rasa marah yang tertahan dan mata yang menghunus pada preman tersebut namun tidak ingin terjadi sesuatu pada Anita, sehingga membuat Alex pasrah di perlakukan buruk oleh para preman tersebut.
"Sekarang hajar dia" pinta Eman pada anak buahnya saat melihat Alex mulai diam dan pasrah di hajar balik oleh para anak buahnya.
Namun, Anita yang melihat Alex menerima di perlakukan seperti itu karena dirinya. Membuatnya merasa kaget dan tiba-tiba menangis tidak sanggup melihat Alex terluka karenanya.
Berbeda dengan saat dia melihat pamannya di hajar oleh para preman tersebut meski merasa iba tapi tidak dengan mengeluarkan air matanya.
Sementara itu, Jaka yang mulai sadar dan melihat Anita sedang di sandra tepat di hadapannya, juga para preman yang fokus pada Alex dan Anita.
Tiba-tiba dia lebih kepikiran untuk cepat-cepat kabur meski dengan kondisinya yang terlihat babak belur. Seolah Jaka tidak perduli dengan nasib Anita yang tadi sempat ingin menolongnya.
Perlahan-lahan Jaka mengendap-endap meski dengan tubuh yang terasa sakit di mana-mana. Diapun berhasil kabur tanpa memperdulikan Anita sama sekali.
Sementara itu, Anita terus menangis melihat Alex yang terus-terusan di pukul tanpa melawan sama sekali.
"Sudah cukup. Jangan memukulnya lagi, aku mohon" teriak Anita memohon agar tidak lagi memukul Alex, sambil tetap menangis tak berdaya.
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan. Aku mohon jangan memukul dia lagi, dia tidak bersalah" ucap Anita terus menangis, mencoba terus memohon.
Namun para preman tersebut terus menghajar Alex seolah mereka belum puas membalas Alex yang tadi telah lebih banyak menghajar mereka.
"Aku mohon. Tolong hentikan mereka, aku janji aku akan menuruti semua perkataan kalian. Asalkan kalian tidak lagi memukulnya. Aku mohon hentikan mereka" lanjut Anita terus memohon pada Eman sambil tetap menangis merasa ikut tersakiti melihatnya.
Kemudian melipat kedua tangannya, tidak perduli masih ada pisau yang menyangkut di lehernya dan tanpa Anita sadari pisau tersebut sedikit melukai kulit lehernya, terlalu banyak bergerak. Merasa tidak tenang melihat Alex terus-terusan di hajar para preman tersebut di hadapannya sendiri.
"Baiklah aku akan melepaskan suamimu itu, tapi dengan syarat. Kau harus ikut bersama kami. Kalau tidak aku akan menyuruh mereka untuk tetap menghajarnya. Apa kau mengerti" ucap si Eman meyakinkan, yang di jawab anggukan pelan oleh Anita saat pisau tersebut mulai melonggar.
Kemudian Anita pun segera berlari menghampiri Alex yang sudah terlihat tak berdaya namun masih berusaha untuk bangkit dan tetap memperlihatkan kekuatannya merasa dirinya masih kuat menerima pukulan dari mereka untuk membuktikan pada Anita.
"Lepaskan. Pergi kalian, jangan memukulnya lagi" pekik Anita, bertambah sedih saat melihat Alex lebih dekat, sambil berusaha mengusir mereka dari hadapannya dan langsung memeluk Alex merasa ikut terluka melihat kondisinya.
Kemudian mereka pun berhenti memukul Alex saat melihat ke arah Eman sebagai pemimpin mereka. Dan Eman pun memberi kode untuk mengikuti ucapan Anita pada anak buahnya. Namun tetap dengan memantau mereka berdua di tempat.
Entah apa yang tengah di rasakan Anita saat ini, melihat Alex seperti itu. Membuatnya berani memeluk Alex, seolah ingin memberi tahu bahwa dirinya juga ikut terluka merasakan penderitaan Alex yang saat ini di alaminya.
__ADS_1