Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Jangan GR


__ADS_3

Sementara itu, Jaka terlihat sedang berlari menghindari kejaran para anak buah juragan Wiguna.


Jaka sudah tahu bahwa juragan Wiguna tidak akan tinggal diam setelah mengetahui kenyataannya, bahwa Anita sudah menikah dengan pria lain.


Beruntung Jaka masih bisa bersembunyi dari kejaran anak buah tersebut.


Keesokan paginya di kamar, Anita dan Alex terlihat masih tertidur. Namun entah sejak kapan posisi tidur mereka menjadi berhadap-hadapan tanpa mereka sadari.


Mereka terlihat tenang dengan posisi tidur mereka saat ini. Dengan masing-masing tangan menjadi bantalan kepala mereka sendiri. Namun dengan posisi yang masih sama saling berhadapan satu sama lain.


Tiba-tiba perlahan-lahan mata Alex terbangun, namun saat dia membuka mata dan melihat Anita sedang tertidur di hadapan wajahnya, Alex berpikir dia sedang bermimpi melihat Anita berada disampingnya.


Sejenak bibirnya tersenyum senang saat melihat Anita berada di sampingnya persis di hadapan wajahnya.


Dia masih belum sadar bahwa itu bukan mimpi dan Alex kembali menutup matanya.


Sementara itu Anita yang mulai terbangun, perlahan membuka matanya juga.


Mengedip-ngedipkan matanya merasa bingung kenapa ada Alex di sampingnya. Sesaat dia berpikir mungkin itu hanya hayalannya.


Namun saat terus mengedip-ngedipkan matanya, Anita merasa Alex nampak begitu terlihat nyata di hadapan wajahnya.


Dan saat bersamaan Alex juga kembali membuka matanya merasa bingung kenapa mimpinya begitu nampak nyata.


Membuat keduanya saling menatap heran. Dan Anita yang lebih dulu sadar dari rasa herannya spontan langsung menendang Alex yang saat itu juga mengira bahwa dia sedang bermimpi menatap Anita.


"Aaaa...." teriak Anita kaget masih dalam posisi tidurnya sambil tetap menatap Alex, lalu sesaat kemudian "blug" Anita tiba-tiba menendang tubuh Alex hingga dia terjatuh dari atas kasur yang sedikit sempit untuk mereka berdua tempati.


Membuat Alex terpental ke lantai dan terlihat meringis saat punggungnya mengenai dinding kamar yang terlalu dekat dengan ranjang yang mereka tempati. Karena ukuran kamar yang memang terlalu kecil untuk mereka berdua.


"Aww... sakit" ucap Alex sambil meraba-raba punggungnya yang terasa sakit dan masih terduduk dilantai kamar tersebut.


Sementara itu, Anita segera terlonjak dari posisi tidurnya untuk melihat-lihat ke adaan pakaiannya karena takut terjadi sesuatu pada dirinya yang mungkin saja di manfaatkan Alex saat dia sedang terlelap tidur, pikir Anita.


"Tuan. Kenapa tuan, bisa ada di ranjang ini?" tanya Anita merasa kaget dan juga takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

__ADS_1


Dia merasa bingung karena yang dia tahu semalam, dia tertidur sendiri di ranjang tersebut.


"Apa tuan sengaja datang ke kamar ini untuk berbuat sesuatu yang tidak-tidak pada ku, hah?" tanya Anita menerka-nerka, merasa takut pada Alex sambil tetap berada di atas ranjang dengan terus mendekatkan tubuhnya pada dinding kamar yang menyatu dengan ranjang tersebut.


"Anita tenanglah. Kau salah paham, tidak perlu takut seperti itu. Aku tidak melakukan apapun padamu. Percayalah padaku" ucap Alex sambil berdiri dan berusaha meyakinkan Anita sambil menggerakkan tangannya memberi kode supaya jangan takut.


"Bohong. Lalu kenapa tuan bisa ada disini. Dasar pembohong" ucap Anita tidak percaya sambil terus berteriak dan melempar bantal guling yang ada, masih belum sadar kalau dirinya sudah menjadi istri sah Alex.


Membuat Alex merasa panik dan juga takut, takut ketahuan pak Lurah dengan sikap Anita yang tidak seperti layaknya seorang istri atau tunangan yang sudah mengenal lama, sebagai mana yang telah Alex katakan pada pak Lurah.


Melihat Anita yang terus-terusan berteriak akhirnya Alex segera menghampiri Anita dan menutup mulutnya supaya tidak berteriak lagi, agar tidak menggangu pak Lurah dan keluarganya.


"Sudah cukup. Jangan berteriak lagi. Apa kau sengaja ingin membangunkan pak Lurah dan keluarganya, hah?" ucap Alex sedikit kesal sambil menutup cepat mulut Anita.


"Tapi kenapa mereka membiarkan tuan tidur di kamar ini bersamaku. Bukan kah kita, kemarin di tuduh yang tidak-tidak oleh mereka?" tanya Anita merasa heran saat Alex mulai melepaskan tangannya dari mulut Anita dengan perlahan.


"Apa jangan-jangan... " ucap Anita mulai mengingat sesuatu.


"Mereka su..sudah memaksa kita me..menikah. Benar begitu?" lanjut Anita gelagapan saat mulai menyadari apa yang telah terjadi.


"Memang menurut mu bagaimana?" tanya Alex pada Anita.


"Tit...tidaaaak" teriak Anita merasa tak terima.


"Diam" ucap Alex pelan dan dengan cepat menutup kembali Anita yang lagi-lagi berteriak di hadapannya.


"aaaahhh.... " rengek Anita.


"Aku tidak mau menikah dengan... " ucap Anita sambil hendak menangis seperti anak kecil dengan melirik Alex tanpa menyelesaikan kalimatnya.


"Kenapa?" ucap Alex saat Anita berhenti berucap dan melihatnya.


"Kau tidak mau menikah denganku, begitu?. Jangan gr, aku juga terpaksa melakukannya karena di desak oleh warga" lanjut Alex merasa tidak terima dengan apa yang akan di katakan Anita dan menjelaskan.


"Lalu sekarang bagaimana?" ucap Anita terlihat tak terima hingga dia lupa dengan kesedihannya seperti kemarin.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir. Lagi pula pernikahan ini tidak resmi. Dan yang tahu hanya kita dan warga kampung sini saja. Jadi setelah kita pergi dari kampung ini, semuanya bisa kembali lagi seperti sebelum-sebelumnya" ucap Alex memberi pengertian.


"Jadi kau cukup berpura-pura saja menjadi istriku disini dan kembali seperti biasa saat kita kembali ke rumah. Apa kau mengerti" lanjut Alex pada Anita.


Dan Anita hanya dapat mengangguk ragu, masih mencoba menerima kenyataan yang ada. Terlihat dari wajahnya yang masih meragu.


Kemudian mereka pun berusaha untuk tenang supaya tidak ada yang menyadari bahwa sebenarnya mereka tidak menginginkan pernikahan tersebut satu sama lain.


Pagi pun menjelang, saatnya mereka bertegur sapa dengan yang punya rumah.


Kemudian sebelum mereka hendak pergi kembali ke kota. Pak Lurah mengajak lebih dulu untuk mereka dapat sarapan bersama-sama.


Namun sebelum itu, Anita yang merasa tidak enak hati hanya dengan berdiam diri saja. Dia mencoba untuk meminta, agar dia bisa membantu Ibu lurah memasak di dapur.


Beruntung Ibu lurah mengizinkannya, meskipun sempat tidak mengizinkan Anita karena merasa tidak sopan jika membiarkan tamu ikut memasak bersama yang empunya rumah.


Sementara Anita ikut memasak, Alex dan pak Lurah terlihat sedang berbicara serius di ruang tamu. Rupanya Alex berniat menitipkan sesuatu pada pak Lurah untuk pembangunan sekolah yang kemaren sempat dia lihat keadaannya yang cukup tidak baik untuk anak-anak bersekolah dengan tenang.


"Pak Lurah. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, karena pak Lurah dan keluarga sudah sudi memberi kami tumpangan untuk menginap di rumah ini. Dan mohon maaf jika kami sempat membuat ke gaduhan di kampung ini" ucap Alex sungguh-sungguh.


"Dan ini mohon pak Lurah terima" ucap Alex sambil menyodorkan secarik kertas berharga dengan nilai yang sangat besar di atasnya.


"Saya ingin mendonasikan sebagian uang saya untuk membantu pembangunan gedung sekolah anak-anak di kampung ini, supaya mereka dapat belajar dengan tenang dan nyaman nantinya. Dan jika nanti di rasa masih kurang biaya, pak Lurah bisa menelpon saya mengenai hal tersebut" ucap Alex memberitahu.


"Dan ini kartu nama saya. Nanti pak lurah bisa menghubungi saya di nomor itu" lanjut Alex sambil memberikan kartu namanya.


Membuat pak Lurah yang melihat cek dengan nominal yang sangat besar di rasanya, seketika merasa kaget dan mendadak segan pada orang di hadapannya kini.


"Satu M?" ucap pak Lurah saat melihat nominalnya dan sedikit kaget.


"Apa anda tidak salah tulis, tuan?" tanya pak Lurah meyakinkan.


"Tidak pak Lurah. Saya harap uang tersebut dapat bermanfaat juga untuk warga kampung sini" ucap Alex menanggapi pertanyaan tersebut.


"Baiklah kalau begit, bapak terima ini. Terima kasih banyak telah membantu warga kampung ini. Padahal kami telah membuat anda dan nak Anita merasa malu dan telah menuduh kalian yang tidak-tidak" ucap pak Lurah dan sedikit tidak enak hati setelah apa yang telah dilakukan warganya.

__ADS_1


Kemudian sarapan pagi pun sudah siap di atas meja, dan istri pak Lurah sudah memanggil untuk waktunya mereka menyantap sarapan bersama-sama.


__ADS_2