Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Mencoba Meminjam Uang


__ADS_3

Setelah jam kuliah selesai, kini Anita merasa khawatir pada Lolita. Jika Lolita terus mengikutinya ketempat biasa, untuk sekedar makan siang di sana dan memantau sahabatnya seperti sebelum-sebelumnya, ke mungkin Anita bisa ketahuan jika dirinya sudah tidak lagi bekerja di tempat tersebut. Untuk itu Anita mencoba mencari alasan agar sahabatnya tersebut tidak mengikuti nya ketempat dia bekerja.


Saat itu Anita memang berniat untuk kembali ketempat dimana sebelumnya dia bekerja, namun bukan sebagai karyawan melainkan ingin bertemu dengan manager yang selama ini mau membantu nya, untuk mencoba meminjam uang dari mantan manager nya tersebut.


Beruntung, Lolita tidak ikut saat itu, karena ada sesuatu yang harus ia lakukan untuk menjelang skripsi nya. "Nit, seperti nya hari ini aku tidak bisa ikut bersama mu. Aku harus cari bahan buat skripsi ku nanti. Kamu gak apa-apa kan jalan sendiri" ucap Lolita pada sahabatnya, yang membuat Anita tersenyum lega tanpa di sadari Lolita "Gak apa-apa Lit, aku ngerti kok. Lagian kamu gak perlu terus-terusan ikut aku ke tempat kerjaan ku. Lebih baik sekarang kamu fokus sama skripsi kamu. Tapi kalau kamu perlu bantuan, aku siap bantu kamu dimana pun dan kapan pun. Ok" ucap Anita sungguh-sungguh dan sedikit lebih tenang karena tidak harus memikirkan lagi alasan kedepannya, agar Lolita tidak lagi ikut bersamanya.


"Kamu beneran gak apa-apa, Nit" ucap Lolita memastikan, sementara Anita menjawab nya dengan sedikit anggukan dan senyuman manisnya. "Berarti kedepannya aku gak bisa nganter kamu lagi. Tapi... aku janji sekali-kali bakalan tetap nongkrong di kafe tempat kamu kerja. Sebagai penglaris" ucap Lolita merasa berat hati namun di akhiri dengan candaan dan senyum manja nya.


Untuk saat ini Anita masih bisa aman dari Lolita, tentang masalah pekerjaan yang telah membuatnya harus di pecat, namun lambat laun Lolita pasti akan curiga, dan Anita harus mencari alasan atau dia harus segera menemukan pekerjaan lain nya.


Hal itu tentu membuat Anita bertambah pusing, dan merasa khawatir. Namun, saat ini fokus utama Anita adalah nenek nya. Anita harus segera mencari pinjaman untuk dapat memenuhi keinginan paman nya yang gila harta itu. Bahkan paman nya sanggup menyakiti ibu nya sendiri yaitu nenek Anita yang saat ini masih menjadi tawanan rumahnya.


Anita bisa saja mengabaikan permintaan paman nya dan masa bodo dengan keadaan neneknya tersebut. Toh, saat ini dia sudah terbebas dan jauh dari jangkauan pamannya yang jahat itu.


Namun Anita bukan gadis yang tidak tahu balas budi, yang bisa saja mengabaikan nenek nya yang mungkin sebagian orang menganggap sudah tinggal menunggu waktu untuk nenek nya kembali ke sisi Tuhan dan dengan mudahnya Anita bebas berlenggang sekalipun pamannya mengancam.


Tapi tidak, Anita bukan gadis ataupun cucu yang seperti itu. Anita tahu betul bagaimana pengorbanan neneknya selama ini. Dimana pamannya sendiri ingin menghabisi Anita karena menganggap nya hanya sebagai beban keluarga setelah kedua orangtuanya meninggal saat dia masih bayi.


Namun neneknya yang sudah tua tetap bersikukuh untuk tetap merawat dan membesarkan nya, meskipun sempat beberapa kali pamannya tersebut melayangkan pukulan dan tamparan pada nenek nya, namun tetap dia mempertahankan cucunya yang masih bayi saat itu.


Waktu terus berjalan dan Anita pun terus tumbuh, namun masa kanak-kanak dan remaja nya harus selalu tersakiti karna paman nya yang suka judi tanpa mau bersusah payah dan bekerja sendiri membuat Anita dan nenek nya harus banting tulang dan bekerja keras hanya untuk di berikan kepada paman nya yang jahat itu.

__ADS_1


Bahkan saat lulus sekolah menengah atas, Anita dipaksa untuk menikah dengan bandot tua yang sudah memiliki beberapa istri oleh pamannya di kampung, hanya untuk mendapatkan uang dari tua bangka yang bernama Tuan Wiguna, begitu mereka memanggilnya.


Beruntung neneknya mengetahui dan menolong Anita untuk kabur, sehari sebelum pernikahan tersebut dilaksanakan. Kemudian neneknya menyuruh Anita untuk segera pergi, kabur dan meninggalkan nya.


Tapi sebelum itu, Anita tidak mau meninggalkan neneknya. Dia terus berusaha untuk membawa dan mengajak neneknya pergi bersama agar tidak lagi mendapatkan siksaan dari paman nya juga.


Namun sebelum mereka pergi lebih jauh, anak buah Tuan Wiguna sudah hampir mendekati mereka. Dan membuat mereka hampir tertangkap.


Karena nenek Anita yang sudah cukup tua membuat tubuhnya tidak sanggup lagi untuk berlari lebih jauh dan lebih lama lagi, hingga akhirnya dengan suara yang tersenggal-segal dan menyadari kelemahannya, nenek Anita menyuruh Anita untuk terus berlari meninggalkan nya tanpa perlu khawatir dengan ke adaan nya nanti.


Namun hal itu tentu membuat Anita dan neneknya merasa sedih dan menangis sesenggukan, terlebih Anita yang merasa tidak tega jika harus meninggalkan neneknya sendiri dengan pamannya yang jahat itu.


Disela-sela ketakutan mereka, Anita segera memeluk neneknya erat yang sebelum nya terus memukul Anita karna tidak mau meninggalkan nya, tentu hal itu membuat nenek Anita berhenti memukul dan ikut menangisi ketidak ber dayaan mereka melawan takdir yang harus mereka lalui saat itu.


Tapi nenek Anita lebih khawatir dan tidak tega pada cucu nya, jika harus tertangkap dan harus menerima siksaan dan penderitaan lagi dari paman nya. Hingga akhirnya dengan berat hati Anita terus berlari dan meninggalkan neneknya dengan berjanji pada diri nya sendiri untuk suatu hari dapat membawa neneknya pergi dan kembali bersama nya.


*


Anita sampai di tempat sebelumnya dia bekerja, yaitu di kafe Oww.


Terlihat raut wajah Anita yang gelisah sebelum dia bertemu dengan mantan manager yang ingin dia temui. Hal itu tentu membuat hatinya dag dig dug karena merasa takut, sang mantan manager marah-marah dan tidak memberikan pinjaman.

__ADS_1


Namun Anita merasa harus mencoba nya terlebih dahulu untuk menghilangkan keraguannya. Tidak perduli jika dia harus di maki, tidak tahu diri atau mungkin hasilnya nihil dan tidak mendapatkan pinjaman sepeserpun, namun dia harus mencobanya.


Kemudian, di ruangan tempat dimana dia di suruh menunggu, datang sang mantan manager dan menanyakan apa maksud Anita ingin menemuinya. "Hey... apa kabar Anita. Apa yang bisa ku bantu. Apa kau baik-baik saja" ucap manager Anto saat melihat Anita yang terlihat gelisah dan menahan sesuatu.


Meski Anita tahu sang mantan manager orangnya baik dan bijaksana, yang selama ini juga sering membantu nya dalam pekerjaan. Namun jauh di lubuk hatinya, Anita merasa ragu kalau manager Anto akan bisa membantu nya. Tapi di sela-sela keraguannya, Anita dengan susah payah mulai mengeluarkan kata-kata dan berusaha mengatakan maksud hati nya.


"Sa.. sa.. saya. Ba baik-baik saja, pak" ucap Anita terbata-bata dan sangat gerogi mengingat uang yang akan dipinjamnya cukup banyak bagi nya dan mungkin akan membuat mantan manager nya bertanya-tanya uang sebanyak itu untuk apa.


Manager Anto yang melihat kegugupan Anita mulai bertanya kembali lagi "kamu kenapa gugup begitu, Anita. Katakan saja apa yang ingin kau katakan, tidak perlu takut untuk mengatakannya. Aku tidak akan menggigit mu" ucap Anto dengan sedikit candaan untuk menghilangkan kegugupan Anita.


"Ayo katakanlah, selama aku bisa membantu mu" lanjut Anto sambil menggeser kursi kebesaran nya hendak duduk.


Kemudian Anita mulai mengatakan maksudnya "be..begini pak. Sa.. saya mau meminjam uang dari bapak" ucap Anita yang masih terbata-bata.


"Meminjam uang" tanya Anto memastikan "baiklah berapa yang kamu perlukan" lanjut Anto pada Anita.


"Se.. se.. se.." ucap Anita yang masih takut untuk mengatakan nya yang kemudian ucapan nya dilanjutkan oleh Anto. "se..seratus ribu" timpal Anto melanjutkan ucapan nya, namun di balas dengan gelengan oleh Anita. "se.. sepuluh juta" lanjut Anto menerka-nerka, namun masih saja di balas dengan gelengan oleh Anita. Kemudian Anto sedikit ragu untuk memastikan yang ke tiga kalinya dan sedikit berpikir "jangan bilang, kalau kamu mau pinjam seratus juta" ucap Anto merasa tidak mungkin mantan karyawan nya tersebut akan meminjam sebanyak itu.


Namun keraguannya terpatahkan saat melihat Anita menganggukan kepalanya tanda membenarkan ucapan nya. Tentu hal itu membuat Anto merasa syok dan sedikit meninggikan suaranya hingga membuat seseorang yang hendak masuk keruangan Anto terhenti di depan pintu.


"Apa.... apa kau tidak salah Anita, untuk apa uang sebanyak itu. Bukankah kau pernah bilang kalau kau sudah tidak punya keluarga lagi" ucap Anto merasa kesal sebelum mendengar alasan Anita "dan tidak mungkin uang itu kau gunakan untuk keluarga mu yang sedang sakit, kan" lanjut Anto pada Anita "dan juga untuk bayar kuliah, bukan nya kau mendapatkan beasiswa. Kalau pun ada yang harus keluar dana tidak mungkin sebesar itu" lanjut Anto penasaran namun dia tidak memberikan kesempatan untuk Anita bicara dan terus menerka, mengatakan apa yang dia pikirkan terhadap Anita.

__ADS_1


__ADS_2