Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Susu Dan Keringat


__ADS_3

Kemudian Anita pun segera pergi dari atas tangga bersama Mbo Inah.


Sementara Alex yang merasa sial karena Anita sudah melihat juniornya segera mengenakan bajunya sambil menggerutu.


"Sialan... dia sudah melihat juniorku lagi. Kalau begini aku merasa rugi di buatnya" gerutu Alex sambil mengenakan bajunya cepat.


"lama-lama aku yang gerah dia yang ke enakan" lanjut Alex tambah ngaco, sambil buru-buru mengenakan celana panjangnya merasa rugi dan kesal.


Mengingat dia yang sering merasa bergairah saat melihat Anita, namun tadi dia memergoki Anita sedang terpaku melihat tubuh atletisnya membuat Alex berpikir Anita telah menikmati pemandangannya.


Kemudian Alex pun sudah berada di tengah-tengah tangga dan sampai di depan kursi meja makan.


Namun melihat Anita yang sedang meletakkan air minum di meja makannya. Membuat Alex tiba-tiba merasa sedikit gugup dan mencoba menormalkan dirinya.


Begitupun dengan Anita saat melihat Alex sudah berada di hadapannya yang terhalang oleh meja makan, membuatnya merasa gugup dan salah tingkah. Terlebih mengingat beberapa kali terjadi momen-momen yang sedikit membuatnya kembali merasa tidak nyaman.


Kemudian keduanya berpura-pura bersikap normal tanpa berbicara, namun sedikit mencuri-curi pandang satu sama lain. Dan tanpa sengaja mereka juga saling menatap satu sama lain. Membuat mereka jadi gelagapan sendiri.


Sementara Mbo Inah baru datang dengan mangkuk besar yang berisi buah-buahan hendak menghidangkannya sebagai pencuci mulut. Lalu saat melihat tuannya dan Anita bersikap aneh membuatnya merasa bingung dan nyengir sambil memperhatikan kedua sejoli tersebut.


"Tuan... Nak Anita. Apa kalian baik-baik saja" tanya Mbo Inah santun setelah melihat sikap mereka yang terlihat gugup dan malu-malu kucing di depan kursi meja makan, sambil Mbo Inah meletakkan mangkuk yang berisi buah-buahan tersebut di atas meja makan.


"Ke.. kenapa memangnya Mbo" Alex balik bertanya meski sedikit terbata-bata, merasa gelagapan sambil dia sendiri tidak sadar mau duduk atau tidak karena masih merasa malu ada Anita di hadapannya.


"Enggak kenapa-napa, tuan" ucap Mbo Inah tidak jadi bertanya, merasa sudah tahu dengan apa yang terjadi pada mereka.


"Ya sudah, silahkan tuan makan malam dulu. Saya permisi ke belakang" ucap Mbo Inah mempersilahkan tuannya untuk makan malam lalu dia hendak pergi meninggalkan meja makan tersebut.


"Tu.. tunggu Mbo. Saya ikut" ucap Anita setelah menuangkan air kedalam gelas tuannya sambil sedikit berlari mengejar Mbo Inah ke dapur.


Sementara itu, Alex yang melihat Anita pergi begitu saja hanya menatapnya heran sambil menggelengkan kepala pelan.


Kemudian Alex memulai menyantap makan malamnya dengan tidak berselera karena mengingat kejadian yang beberapa kali membuatnya panas dingin.


Dan beberapa hari kemudian, seperti biasa Alex berangkat ke kantor dengan aktivitas pagi yang biasa dia lakukan setiap paginya. Namun beberapa hari ini ada yang selalu menemaninya setiap saat, membuat hari-hari Alex lebih terlihat banyak tersenyum.


Berbeda dengan Anita yang terlihat suram tidak bisa tidur tenang dan harus bangun pagi-pagi menyamakan waktu dengan Alex yang terbiasa bangun pagi jam empat untuk memulai aktivitasnya.


Bagaimana tidak, sebagai asisten pribadinya Alex, Anita di haruskan slalu siap setiap saat setiap kali Alex membutuhkan sesuatu.


Seperti di malam hari saat Alex hendak tidur, dia meminta Anita untuk membuatkannya susu terlebih dahulu setiap hari sebelum tidur.


Padahal sebelumnya Alex tidak pernah minum susu seperti anak kecil.


Namun permintaannya itu aneh-aneh dan setiap malam. Bukan hanya sekali Alex meminta di buatkan susu pada Anita, namun berkali-kali.

__ADS_1


"Hallo... Cepat buatkan aku susu dan antarkan ke kamarku, sekarang" pinta Alex pada Anita di telpon kemudian langsung menutupnya tanpa mendengarkan tanggapan Anita terlebih dahulu.


"Dia ini sudah gila, ya. Sudah tua begitu masih saja minum susu sebelum tidur. Mana langsung menutup telponnya begitu saja. Menyebalkan" gerutu Anita saat telponnya sudah di tutup Alex begitu saja.


Namun tetap saja Anita harus melakukan keinginan bos gilanya tersebut, selalu dengan terpaksa.


Kemudian setelah air susunya jadi, segera Anita mengantarkannya ke kamar Alex.


Setelah berada di depan pintu kamar Alex, Anita hendak mengetuk pintu. Namun pintunya ternyata tidak di tutup dengan rapat.


"Permisi. Tuan" teriak Anita memanggil tuannya saat tahu pintunya tidak di tutup dengan rapat.


"Iya... masuklah" ucap Alex menyuruh Anita langsung masuk.


"Ini tuan susu yang anda minta" ucap Anita setelah berada di hadapan Alex.


"Kalau begitu saya permisi, tuan" lanjut Anita hendak pergi setelah menaru gelasnya di meja samping tempat tidur Alex.


"Tunggu" ucap Alex menghentikan langkah Anita.


"Kau tidak boleh pergi sebelum aku mengatakan susu ini layak untuk di minum" lanjut Alex berbicara pada Anita.


"Tapi, tuan ini sudah malam" ucap Anita mencoba bernegosiasi.


Namun Alex tidak perduli dan tidak mau mendengar penolakan.


"Tidak enak. Terlalu manis. Ganti" ucap Alex dengan mudahnya, saat bibirnya baru menempel di gelas.


Membuat Anita yang melihatnya tidak habis pikir, namun dia kembali harus menurutinya.


"Baik, tuan" ucap Anita pasrah.


Bahkan Alex meminta di buatkan susu berulang kali dengan alasan susunya kemanisan lah, airnya kurang banyak lah, susunya kurang manis lah dan seterusnya.


Membuat Anita bolak balik, naik turun tangga dan membuatnya setres tambah kesal bukan kepalang.


Anita merasa tuannya tersebut sengaja melakukan hal itu hanya untuk mempermainkannya saja.


Dia melihat setiap pagi tanpa sengaja, pelayan lain membuang susu dan sudah Anita duga itu pasti dari kamar tuan Alex si tua bangka yang menyebalkan itu, pikir Anita.


Bahkan tidak hanya itu, setiap jam empat pagi Anita juga di wajibkan Alex untuk bangun setiap hari menyiapkan segala sesuatu perlengkapan untuk dia berolahraga dan berenang pagi-pagi.


Bahkan tidak jarang Anita harus mengelap keringat Alex saat keringatnya mulai bercucuran sambil tetap menunggu dan terpaksa harus melihat Alex berolahraga dengan hanya menggunakan celana training di pagi buta.


Tidak hanya itu, bahkan Alex sepertinya dengan sengaja memperlihatkan otot kekarnya pada Anita saat dia sedang melakukan olahraga angkat beban.

__ADS_1


Namun Anita yang melihatnya, lama kelamaan bukannya membuat dia tertarik tapi malah membuat Anita merasa kesal dan manyun saat melihat tubuh kekar tuannya tersebut.


Meskipun pada awalnya Anita tidak sanggup melihat tubuh kekar Alex yang bercucuran dengan keringat dan sesekali menutup mata dari pandangannya tersebut.


"Hhah... sok seksi sekali dia itu. Apa dia sengaja pamer padaku. Dasar tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Heran aku bagaimana bisa Lolita punya bapak kaya dia ini" gerutu Anita dalam hati dengan mata judesnya saat melihat Alex berprilaku pamer otot padanya, namun segera berbalik dan membuang muka saat Alex hendak menatapnya.


Sementara Alex hanya tersenyum dan geleng kepala setiap kali menangkap basah wajah judes Anita padanya.


"Hheh..." tawa kecil Alex saat memergoki wajah judes Anita padanya, sambil tetap memegang barbel di salah satu tangannya.


"Dasar gadis munafik. Pura-pura tidak suka, tapi sebenarnya kau menikmati tubuhku, kan" ucap Alex dalam hati merasa percaya diri.


"Hey.. kau jangan enak-enakan berdiam diri begitu. Cepat kau lap keringatku ini. Apa kau sengaja membiarkan keringatku terus menetes, supaya kau bisa menatap tubuh indah ku terus" lanjut Alex dengan pedenya, merasa Anita sedang mencuri-curi kesempatan untuk melihat tubuh seksinya.


"Ya Tuhan... pede sekali orang tua ini. Dia pikir dia siapa. Brad Pitt?" ucap Anita dalam hati menanggapi ke narsisan bosnya tersebut.


"Maaf, tuan" ucap Anita menanggapi Alex, sambil beranjak dari tempat duduknya.


Kemudian setelah berada di hadapan Alex, segera Anita mengelap tubuh Alex dari wajah sampai ke perutnya yang terkena tetesan keringat tubuhnya sendiri.


Meskipun sesekali Anita terlihat menjaga jarak dan menjaga pandangannya dari tubuh Alex. Dan juga jangan lupakan bibir manyun Anita yang terlihat kesal dengan tingkah sok muda bosnya tersebut.


"Yang benar ngelap nya. Disini belum" ucap Alex pada Anita, sambil menunjukan salah satu pipinya untuk di lap keringatnya.


Padahal Anita baru mau mengelapnya tapi Alex sudah banyak maunya.


"Sebelah sini juga!" ujar Alex lagi, menyuruh Anita mengelap bagian yang lainnya.


Dan begitu seterusnya sesuka hati Alex. Hingga akhirnya membuat Anita benar-benar kesal dan tidak dapat membendung lagi amarahnya.


"Aaaahhhh.... sudah cukup" pekik Anita tiba-tiba berani berteriak di hadapan Alex langsung.


"Anda benar-benar sudah membuat kesabaran saya habis" ucap Anita pada Alex dengan wajah marahnya.


"Anda pikir saya ini apa. Sebentar-sebentar suruh lap ini lah, lap itu lah" ucap Anita benar-benar kesal sambil menunjukan setiap apa yang tadi Alex pinta untuk dilapnya.


"Sudah... lakukan sendiri dan ambil sendiri lapnya" pekik Anita sambil membuang lap pada tubuh Alex.


Sementara Alex yang melihat Anita tiba-tiba mengamuk dan berani seperti itu hanya bisa melongo dan melihatnya heran.


"Dia kenapa. Bukannya itu sudah termasuk tugasnya. Kenapa dia harus marah" tanya Alex merasa bingung dan bengong saat melihat Anita seperti itu dan berlalu pergi meninggalkannya sendiri.


Namun tiba-tiba dia sedikit terkena hantaman barbel yang tadi dia pegang, karena melamun mengingat amarah Anita yang tadi tiba-tiba meluap.


"Awww.... sit" teriak Alex saat kakinya sedikit terkena hantaman barbel yang lumayan berat, sambil meloncat merasa sakit.

__ADS_1


"Dasar gadis menyebalkan. Membuatku sial saja" ucap Alex merasa sial menuduh Anita, sambil memegang kakinya yang terkena hantaman tadi.


__ADS_2