
Dengan ragu-ragu dan susah payah Anita berhasil masuk kedalam ruangan Alex, dengan cukup banyak keringat yang harus dia usap di dahinya karena harus menundukkan rasa malu atas penolakan yang telah dia ucapkan pada Alex sebelumnya.
Namun kini Anita sudah tidak perduli lagi jika Alex akan menghina dan mempermalukannya setelah apa yang telah terjadi, namun rasa takut dan grogi masih tetap tidak bisa dia hilangkan begitu saja.
"Se.. selamat sore, tuan" ucap Anita terbata-bata, setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk oleh Alex.
"Ternyata kau. Ada apa kau datang ke kantor ku" ucap Alex pura-pura tidak tahu. "Seperti nya dia akan menelan ludahnya sendiri. Tapi itu bagus, itu yang ku harapkan, dengan begitu aku bisa mengendalikan nya dan membalas atas apa yang terjadi beberapa hari ini" lanjut Alex dalam hati di sela-sela pertanyaannya yang masih belum di jawab oleh Anita.
Anita yang masih mematung mencoba merangkai kata dalam pikiran nya, serta berusaha menguasai kegugupan nya, perlahan Anita mulai mencoba berbicara "be..begini tuan... sa... saya tertarik dengan bantuan anda. A..apa anda masih berminat membantu saya" ucap Anita terbata-bata karena menahan rasa malunya.
"Bantuan?" tanya Alex berlagak lupa "mmh... bantuan yang mana yya" lanjut Alex sengaja mempermainkan perasaan Anita.
"Sialan.. seperti nya pak tua ini sengaja pura-pura lupa untuk membuat ku malu. Kalau saja aku tidak membutuhkan bantuannya sudah ku.. " gerutu Anita dalam hati terpotong saat tanpa sadar Alex sudah di hadapan nya sambil menjentikkan jari menyadarkan lamunannya.
Tentu hal itu membuat Anita kaget dan merasa risih dengan seseorang yang tiba-tiba ada di hadapan wajah nya begitu dekat, sehingga membuat nya harus melangkah mundur pelan-pelan namun di ikuti oleh Alex maju, hingga membuat Anita menabrak dinding di belakang nya, hal itu membuat Anita merasa dejavu karena situasi tersebut terulang kembali
__ADS_1
"Hey... kenapa kau malah melamun. Kau hanya membuang-buang waktu ku saja. Kalau kau sudah tidak ada kata-kata yang ingin di sampaikan lagi, lebih baik kau pergi saja. Ini waktu ku untuk segera pulang" ucap Alex perlahan dengan tatapan mengintimidasinya dan kemudian hendak pergi.
"Tu... tunggu tuan" ucap Anita terbata-bata menghentikan langkah Alex yang tidak Anita sadari Alex tersenyum merasa menang yang memunggungi Anita. "i...itu tuan, yang tadi siang. Tuan bilang, tuan bersedia membantu saya, dan sekarang saya berubah pikiran" ucap Anita dengan menahan rasa malu untuk kesekian kalinya.
"Dan untuk itu saya ingin meminta maaf juga atas ketidak sopan saya pada tuan" lanjut Anita merasa bersalah.
"Oh... itu ya. Tapi... sepertinya ucapan ku waktu itu, sudah tidak berlaku lagi" ucap Alex santai membuat Anita yang mendengar nya syok tak percaya.
"Ta.. tapi tuan. Saat ini saya benar-benar membutuhkan bantuan tuan. Saya benar-benar minta maaf atas perilaku dan kata-kata saya saat itu. Saya janji jika tuan membantu saya, saya akan mengikuti apapun yang tuan mau. Saya mohon tuan" rintih Anita meyakinkan kan Alex sambil sesekali melipat kedua tangannya tanda memohon dan membuat Anita menangis menetes kan air mata nya.
"Oke.. oke baiklah. Jangan coba menangis di hadapan ku, karena aku tidak suka itu" ucap Alex sambil sesaat menutup mata tidak suka dengan apa yang hendak dia lihat, membuat Anita segera menghapus air matanya "berapa yang kau butuhkan" lanjut Alex bertanya pada Anita.
"Se..seratus juta tuan" Anita langsung menjawab meski masih terbata-bata.
"apa kau yakin hanya 100 juta" tanya Alex memasti kan.
__ADS_1
"iya tuan. saya hanya perlu 100 juta" ucap Anita yakin.
"baiklah. Seperti nya kau sangat membutuhkan uang itu. Tapi aku tidak akan mempertanyakan uang itu untuk apa dan kemana. Lagi pula aku tidak ingin tahu urusan orang, apalagi urusan gadis seperti dirimu" ucap Alex merasa iba tapi di akhiri dengan kata-kata yang cukup membuat hati orang terluka, namun Anita yang mendengar nya sudah pasrah dan tidak perduli lagi dengan kata-kata Alex yang mungkin akan membuat hatinya merasa tersakiti.
Sementara itu, Alex sedang menuliskan jumlah tersebut di atas cek sambil sesekali menatap Anita mengintimidasi. Anita yang melihat Alex menatapnya hanya tertunduk malu dan menggenggam jarinya mengalihkan kegugupannya. Hingga akhirnya cek sejumlah yang di butuhkan sudah selesai di tulis yang kemudian di berikan kepada Anita, namun tidak lupa Alex memperingatkan Anita untuk tidak lupa dengan janjinya yang akan menuruti segala ke inginkan Alex. Anitapun hanya mengangguk tanda paham.
Kemudian Anita pun menerimanya, berterimakasih dan segera pergi dari tempat tersebut. Sementara Alex yang masih di tempat duduknya sambil menatap kepergian Anita seraya berkata "dasar gadis bodoh" umpat Alex dalam hati sambil tersenyum penuh kemenangan "jangan pikir aku membantu mu dengan cuma-cuma, lihat saja apa yang nanti akan aku lakukan pada mu" lanjut Alex dengan seringai licik nya.
Sementara itu, disisi lain Lolita sedang menunggu sahabatnya Anita di kafe Oww tempat dimana Anita bekerja sebelumnya.
Anita tidak menyangka Lolita akan menyusul nya seperti biasa, dimana sebelumnya Anita sudah merasa tenang karena telah mengatakan pada Anita untuk tidak lagi menemaninya ke kafe. Namun Anita tidak menyadari, bahwa hal-hal seperti itu suatu saat pasti akan datang juga.
"dreert" suara hp Anita berbunyi, segera Anita mengangkat nya yang tidak lain dari sahabatnya, Lolita. "hallo.." ucap Anita yang langsung di cecar pertanyaan oleh Lolita "hallo.. Beb kamu itu dimana, dari tadi aku sudah menunggu di tempat kerja mu. Teman kerja mu bilang, kamu lagi keluar dulu. Apa itu benar" tanya Lolita "apa.." kaget Anita yang mendengar sahabatnya itu sudah ada di kafe Oww "aduuh... bagaimana ini, apa dia sudah tahu kalau aku sudah tidak bekerja lagi disana" lanjut Anita dalam hati, merasa khawatir kebohongan nya akan ketahuan.
"hallo.. Nit. hallo ... apa kau mendengar ku" ucap Lolita yang menyadarkan lamunan Anita.
__ADS_1
"i..iya Lit. Aku mendengar mu. Iya benar, aku lagi di suruh keluar dulu beli sesuatu. Kamu tunggu aja dulu di situ, aku segera kesana" ucap Anita meyakinkan. "Ya Tuhan.... syukurlah seperti nya Lolita belum tahu yang sebenarnya, aku harus segera menemuinya. Sebelum dia curiga dan mengetahui semuanya" ucapa Anita pada dirinya setelah menutup telpon dari sahabatnya.