Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Bersembunyi


__ADS_3

Sementara itu, Ibu guru segera memberitahu Alex bahwa dia tahu di mana Alexa akan bersembunyi setiap kali dia merasa sedih.


"Tuan... sepertinya saya tahu di mana anak anda bersembunyi" ucap ibu guru pada Alex, meskipun sebelumnya Alex tanpa sadar mengacuhkan ibu guru saat menanyakan situasi tersebut.


"Apa anda yakin, anda tahu dimana Alexa sekarang?" ucap Alex nampak terlihat khawatir dan bertanya memastikan.


"Saya yakin tuan" ucap ibu guru penuh keyakinan.


"Tuan bisa ikuti saya!" lanjut ibu guru mengajak Alex untuk mengikutinya.


Sementara itu, di tempat yang tersembunyi Alexa nampa terlihat bersedih dan menangis.


Dia merasa apa yang telah di katakan temannya membuat perasaannya terluka dan sakit hati.


Alexa tidak ingin menangis, tapi dia juga tidak tahu apa yang membuat perasaannya begitu sakit dan membuatnya ingin menangis.


Dia tidak ingin Alex melihatnya dalam keadaan menangis. Alexa pernah mendengar bahwa ibunya pernah berkata bahwa Daddy nya tidak suka dan membenci melihat anak kecil cengeng apalagi menangis di depan nya.


Dan hal itulah salah satunya yang membuat Alexa berpikir untuk lari dari tempat tadi menghindari ayahnya.


Dia belum mengerti, bahwa ibunya berkata seperti itu hanya untuk menakut-nakutinya. Tapi sebagai anak kecil Alexa menganggap hal itu dengan serius.


Terlebih dia begitu menyukai dan menyayangi Alex sebagai ayahnya setelah sekian lama dia mendambakan sosok seorang ayah dalam hidupnya.


"Aku tidak boleh menangis... Mamah aku tidak ingin menangis. Aku takut Daddy akan membenciku jika melihatku menangis" ucap Alexa sambil menangis dan bersembunyi.


"Tapi Denis sangat jahat, dia bilang aku tidak punya ayah dan berbohong padanya. Dia juga bilang aku anak haram. Tapi.... aku tidak tahu anak haram itu apa. Tapi kenapa rasanya sakit sekali saat Denis bilang aku anak haram... kenapa Mah... kenapa?.... Mamah dimana?" lanjut Alexa berbicara sendiri menangis terisak-isak sambil memanggil-manggil mamahnya.


Sementara itu, rupanya Alex sudah berdiri di belakang anaknya yang sedang bersembunyi tanpa Alexa menyadari ke hadiran ayahnya dan ibu guru yang mengantarkan Alex.


Rupanya saat Alex mendengar tangisan anaknya, dia tidak langsung menghampiri anaknya.


Diam-diam Alex mendengarkan ucapan anaknya tersebut yang terdengar amat menyakiti perasaannya.


Tidak hanya Alex yang merasa terluka tapi ibu guru yang menemani Alex juga ikut merasa sedih saat mendengar ucapan muridnya tersebut yang diam-diam menangis bersembunyi.


Alex tidak menyangka anak laki-lakinya begitu mengharapkan kehadirannya selama ini. Dan apa yang telah anak nakal tadi katakan pada Alexa membuatnya begitu tersakiti.


Dan dalam kesedihannya dia segera memeluk anak laki-lakinya tersebut. Dia tidak ingin terlalu lama melihat anaknya terus menangis dan bersedih.


Selama ini Alex tidak mudah untuk menangis, tapi saat mendengar ucapan anaknya tersebut membuatnya begitu tersakiti dan meneteskan air mata.


"Anakku..." ucap Alex sambil memeluk anaknya dan ikut menangis.


"Daddy..." ucap Alexa saat melihat ayahnya terlihat nampak terkejut.


"Daddy aku tidak menangis" lanjut Alexa berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.


"Lihat aku tidak akan menangis lagi... aku janji... aku tidak akan menangis lagi" ucap Alexa kembali meyakinkan ayahnya, sambil berusaha menghapus air mata yang dia sadari masih terus menetes di hadapan ayahnya.


"Daddy jangan marah... Jangan pergi lagi... Aku tidak akan pernah menangis lagi" lanjut Alexa kembali berbicara, merasa air matanya belum juga berhenti.

__ADS_1


Membuatnya entah kenapa merasa takut kalau ayahnya tiba-tiba akan pergi meninggalkannya saat melihat dirinya menangis, pikir nya bocah polos tersebut.


Sementara Alex hanya dapat terdiam dan melihat anaknya yang masih berbicara seperti itu. Namun kemudian dia kembali memeluk Alexa dengan erat.


"Sudah nak... Jangan menangis lagi. Daddy tidak akan pergi kemana-mana, apalagi meninggalkan mu. Tenang lah, Daddy tidak akan marah. Lagi pula kenapa Daddy harus marah pada mu?" ucap Alex mencoba menenangkan anak laki-lakinya tersebut yang masih nampak menangis.


Namun Alex juga mengerti, anaknya terus berusaha menahan rasa sedihnya.


Begitu pilu perasaan Alex saat menyadari anaknya yang sudah melewati masa-masa buruknya.


Sementara itu, ibu guru yang melihat tangis anak dan ayah tersebut membuatnya tanpa sadar ikut meneteskan air matanya kembali, namun segera menghapusnya saat menyadari air mata yang menetes di pipinya.


Dia segera menghampiri anak dan ayah tersebut.


Di lain tempat, Anita merasa perasaannya tidak enak. Dia tiba-tiba kepikiran pada anaknya.


Tidak tahu apa yang terjadi pada Alexa tapi perasaannya merasa tidak tenang.


Dia mencoba hendak menelpon Alex untuk menanyakan kabar anaknya. Namun melihat jam di tangannya masih menunjukkan jam kerja.


Diam-diam Anita mengirim pesan pada Alex sambil sesekali melirik ke arah Raja untuk memastikan bahwa dia tidak melihat apa yang dilakukannya.


Setelah dia berhasil mengirim pesan singkatnya, segera dia kembali mengerjakan pekerjaannya.


Namun entah mengapa perasaannya masih tetap sama. Anita masih merasa cemas dan khawatir memikirkan keadaan anaknya tersebut.


Sepertinya dia belum bisa tenang sebelum mendengar kabar dari anaknya tersebut.


Membuatnya tidak dapat fokus untuk mengerjakan pekerjaannya.


Hingga akhirnya membuat Raja menyadari kegelisahan Anita yang nampak jelas dari wajahnya.


Tiba-tiba Raja memanggil Anita beberapa kali, namun sepertinya dia benar-benar tidak fokus pada pekerjaannya saat ini.


Kemudian Raja pun menghampiri dan tanpa Anita sadari Raja sudah berada di hadapannya saat dia menunduk terus melihat ke bawah memastikan balasan dari Alex.


Dan saat Anita mulai melihat ke depan, dia terkejut dan sedikit terlonjak ke belakang.


"Aahh..." pekik Anita merasa kaget saat melihat Raja sudah ada di depan mejanya.


"Ehh.. tuan Raja" ucap Anita merasa malu sambil tersenyum kaku.


"A..apa anda butuh sesuatu?" lanjut Anita mulai bertanya mencoba mencairkan suasana


"Sepertinya saat ini kamu sedang tidak fokus bekerja. Apa ada yang mengganggu pikiran mu?" ucap Raja nampak terlihat serius di depan Anita saat ini.


"Tit... tidak tuan" ucap Anita mencoba mengelak.


"Anita... sudahlah. Kalau kamu memang sedang ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu, katakan saja. Dari pada hal itu membuat mu tidak dapat fokus bekerja" ucap Raja mencoba untuk tetap tenang dan berusaha untuk bijaksana.


"Maafkan saya, tuan. Saya tidak bermaksud menghambat pekerjaan. Saya hanya sedikit merasa tidak tenang karena memikirkan Alexa yang pergi bersama tuan Alex pergi ke luar kota" ucap Anita sambil menunduk, merasa tidak enak hati pada Raja.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Kamu kan bisa izin sebentar untuk menghubungi Alex dan menanyakan kabar anak kamu" ucap Raja memberi solusi.


"Apa boleh, tuan?" ucap Anita mendadak kembali tersenyum merasa sedikit lega.


"Tentu saja..." ucap Raja sambil mengedipkan matanya.


"Terima kasih, tuan" ucap Anita nampak antusias.


"Kalau begitu saya izin permisi dulu sebentar, tuan" lanjut Anita meminta izin.


Kemudian Anita pun segera keluar ruangan tersebut dan segera menelepon Alex untuk menanyakan kabar anaknya.


Sementara itu, Alex sudah berada di dalam mobilnya setelah tadi berusaha menenangkan anaknya tersebut.


Dia tidak menyadari bahwa Anita sudah beberapa kali mengirimi pesan singkat padanya untuk menanyakan keadaan Alexa.


Dan saat dia mulai membaca pesan dari Anita, Alex merasa bingung harus berkata apa tentang keadaan anaknya tersebut. Meskipun kini Alexa sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.


Alex merasa, sebagai seorang ibu Anita begitu peka dan ikatan batin di antara mereka begitu kuat.


Namun begitu, Alex tidak ingin membuat Anita merasa khawatir tentang keadaan anaknya tersebut.


Hingga akhirnya Alex mengangkat panggilan Anita yang tiba-tiba menelponnya.


"Hallo..." ucap Anita menyapa di ujung telpon Alex.


"Hallo... iya ada apa Nita?" ucap Alex dan bertanya dengan nada senormal mungkin.


"Tuan kenapa kau baru mengangkat telpon ku. Dan juga, kenapa tidak membalas pesan-pesan ku. Apa kalian baik-baik saja?" ucap Anita tidak sabaran.


"I..itu.. Yah... kami baik-baik saja. Memangnya kenapa kau tiba-tiba menelepon ku?" ucap Alex terlihat berusaha menyembunyikan sesuatu tanpa Anita sadari.


"Tidak apa-apa. Tapi aku hanya sedikit merasa gelisah dan tidak tahu tiba-tiba kepikiran Alexa terus. Apa dia baik-baik saja?" ucap Anita dan mulai mengatakan apa yang dari tadi ingin dia tanyakan.


"I..iya tentu saja. Aku Daddy nya, bagaimana mungkin aku akan membiarkan terjadi sesuatu pada anak ku sendiri. Apa kau meragukan kemampuan ku dalam menjaga seorang anak kecil?" ucap Alex mencoba meyakinkan Anita.


"Bukan begitu... Tapi syukurlah kalau Alexa baik-baik saja. Aku harap anda benar-benar menjaganya" ucap Anita berterus terang.


"Tentu saja aku akan menjaganya. Tapi kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" ucap Alex dan sedikit penasaran.


"Entahlah... aku juga tidak tahu. Tapi aku merasa sedikit cemas tentang Alexa. Aku takut terjadi sesuatu padanya" ucap Anita kembali mengulang kata-kata nya.


Membuat Alex merasa bersalah karena tidak dapat jujur pada Anita tentang apa yang telah di lalui anaknya tadi.


"Apa aku bisa bicara dengannya?" lanjut Anita bertanya.


"Tentu saja. Tapi sekarang dia sedang tertidur. Apa aku harus membangunkannya?"


"Tidak... tidak usah. Biarkan dia tertidur. Saya percaya pada anda. Ya sudah kalau begitu saya tutup dulu telponnya" ucap Anita pada Alex.


Sepertinya Anita sudah dapat mempercayai Alex. Dia tidak lagi berbicara sinis atau pun sedikit-sedikit berdebat dengan Alex.

__ADS_1


Tapi dia tidak tahu kalau Alex sedang menyembunyikan sesuatu tentang apa yang telah di alami anaknya saat ini.


__ADS_2