
Namun ditengah perjalanan, kebetulan Anita melihat toko Alf**** dan meminta pak Amin untuk berhenti sebentar.
Anita bermaksud hendak mengambil uang simpanannya untuk jaga-jaga agar dia mempunyai pegangan uang cash di dompetnya.
Kemudian tidak lama setelah itu, segera Anita melanjutkan kembali perjalanannya.
Sesampainya di perusahaan Alex, tiba-tiba Anita merasa takut juga deg-degan. Dia mulai merasa serba salah lagi.
Anita merasa bingung, apa yang nanti akan dia katakan saat bertemu dengan Alex. Terlebih saat sudah mengetahui hubungan Alex dengan sahabatnya tersebut.Membuatnya benar-benar serba salah.
Andai dia tahu dari awal bahwa Alexander Wijaya adalah ayah dari sahabatnya, tentu Anita tidak akan pernah mau meminjam darinya. Hingga membuatnya harus berurusan dengan polisi.
Namun kini semuanya sudah terlanjur terjadi dan mau tidak mau Anita harus menghadapi Alexander Wijaya sebagai ayah dari sahabatnya tersebut.
Sementara itu di kantor, Alex nampak terlihat sumeringah. Saat tahu sebentar lagi Anita akan datang dan membawakannya makan siang.
Tidak biasanya Alex sumeringah seperti itu dan hal tersebut nampak terlihat oleh sekertarisnya yang bernama Sonia saat memberikan berkas yang harus di cek dan di tandatangani oleh Alex.
Membuat Sonia merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati. Namun Sonia sepertinya sudah mulai curiga, bahwa akan ada seseorang yang datang sehingga membuat bosnya tersenyum seperti itu.
Sementara itu Anita sudah berada di lobi, bertemu kembali dengan seorang resepsionis yang dulu sempat berpikir bahwa Anita seorang pengantar makanan.
Namun kini dia tidak lagi mencegah ataupun bertanya terlebih dahulu mengenai keperluan Anita datang ke perusahaan tersebut.
Resepsionis yang bernama Wulan tersebut tidak lagi mempersulit Anita dan mempersilahkan Anita untuk ke lift menuju ruangan kantor tuan Alex.
Kemudian Anita pun segera menuju lift dan masuk kedalamnya hingga sampai di lantai ruangan Alex.
Namun sebelum Anita masuk ke ruangan Alex, dia di hadang oleh Sonia yang sempat menampar Anita waktu lalu.
Sonia sengaja menghadang Anita, karena dia takut tiba-tiba Anita akan mengadukannya pada tuan Alex. Sehingga membuatnya hendak ingin mengancam Anita untuk tidak pernah mengatakan kejadian yang lalu pada bosnya tersebut.
"Oh jadi... rupanya kau yang datang, hingga membuat tuan Alex cengar cengir sendiri" ucap Sonia sinis saat menghampiri Anita sebelum dia dapat masuk ke ruangan tuan Alex.
"Heh dengar ya gadis kampung, awas kalau kau sampai ngadu-ngadu pada tuan Alex bahwa aku pernah menamparmu. Kalau sampai aku di pecat gara-gara kau, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang. Mengerti!" lanjut Sonia mengancam Anita dengan suara pelannya namun dengan nada penuh amarah.
Mendengar hal itu Anita tidak merasa takut namun tidak juga berniat untuk membuat masalah dengan Sonia.
Tiba-tiba pintu ruangan Alex terbuka dan membuat Sonia salah tingkah, takut ketahuan kalau dirinya sedang mengancam Anita.
"Kalian sedang apa?" tanya Alex saat melihat Sonia dan Anita terlihat sedang berbicara.
"I.. ini tuan. Saya baru saja mau membawanya kedalam menemui tuan" ucap Sonia gelagapan sambil berpura-pura hendak mengantar Anita.
"Kalau begitu, cepat suruh dia masuk" pinta Alex tanpa merasa curiga apa yang telah sekertarisnya lakukan pada Anita.
Kemudian tanpa membuang-buang waktu lagi segera Anita berjalan menyusul Alex yang lebih dulu masuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Sementara Sonia juga ikut masuk kedalam mengikuti Anita.
Namun saat sudah di dalam ruangan Alex, Sonia kembali keluar karena di usir oleh Alex tidak ingin di ganggu. Dan diam-diam membuat Sonia merasa kesal dan tidak terima.
Setelah itu tinggal Anita dan Alex di ruangan tersebut. Sesaat membuat mereka berdua terdiam dan salah tingkah.
Saat Alex melihat Anita di hadapannya, tanpa sengaja mengingatkannya pada kejadian tadi malam.
Dimana dia telah khilaf mencium Anita diam-diam. Dan sekarang membuatnya merasa kikuk dan salah tingkah hingga membuatnya merasa bingung untuk memulai pembicaraan.
Sementara Anita, yang sudah tahu bahwa Alexander Wijaya adalah ayah dari sahabatnya membuatnya merasa bingung harus memulai bagaimana.
Keduanya terlihat seperti anak muda yang mau berkenalan tapi malu-malu kucing, tidak berani untuk memulai satu sama lain.
"Aduuhh bagaimana ini. Kenapa aku masih deg-degan begini. Apa tuan Alex tahu kalau aku teman anaknya?" ucap Anita dalam hati sambil bertanya menerka-nerka.
"Kenapa jantungku deg-degan begini saat melihat dia. Apa dia tahu kalau semalam aku sudah... ah lupakanlah. Aku yakin pasti dia tidak tahu. Orang semalam saja dia tidur kaya kebo, pules banget" ucap Alex dalam hati, merasa takut kalau sampai ketahuan apa yang telah di lakukannya semalam pada Anita.
Cukup lama mereka berdiri dan diam dalam pikirannya masing-masing.
Hingga akhirnya Anita memulai untuk berbicara dengan alasan mengantarkan makan siang milik Alex.
"I.. ini tuan makan siang anda" ucap Anita terbata-bata memulai pembicaraan sambil menaru rantang makanan tersebut di meja ruangan Alex.
"Te.. terima kasih. Kau duduklah" ucap Alex ikut gugup sambil berusaha tidak menatap langsung wajah Anita lalu menyuruhnya untuk duduk di sofa tempat penerima tamu.
Tapi kini mereka terlihat kikuk dan seperti tidak pernah berdebat sebelumnya.
"Ba..baik tuan" ucap Anita masih merasa gugup sambil membukakan rantang bawaannya untuk Alex.
Namun rasa gugup yang menimpa Anita membuatnya terasa sulit untuk membuka rantang tersebut.
Hingga Alex yang melihatnya tanpa sadar langsung sigap dan hendak membantu membukakan rantangnya.
Namun karena sama-sama gugup, bukannya Alex membantu membukakan rantang tersebut tapi tanpa sengaja malah menyentuh tangan Anita hingga membuatnya terkejut dan saling menatap satu sama lain.
Dengan wajah kaget yang nampak dari keduanya, spontan mereka saling melepaskan dan mencoba untuk menormalkan perasaan mereka masing-masing.
Alex yang merasa tiba-tiba dirinya sulit di atur merasa harus melakukan sesuatu, dia tidak ingin sampai ketahuan oleh Anita bahwa dirinya sedang gugup dan salting di hadapan gadis yang selama ini selalu berdebat dengannya.
"A.. ayo cepat lah. A..aku sudah lapar dari tadi" ucap Alex mencoba senormal mungkin meskipun masih ada rasa gugup di hatinya sambil tetap berusaha untuk tidak menatap langsung Anita.
"Ma... maaf tuan" ucap Anita merasa tidak enak hati sambil kembali berusaha membuka rantang tersebut namun lagi-lagi rantangnya masih sulit untuk di buka.
Membuat Alex, kini menjadi benar-benar kesal karena sudah merasa terlalu lapar dan juga sudah terlalu lama menunggu.
"Sebenarnya kau ini bisa kerja gak sih. Begitu saja tidak becus" ucap Alex kesal kembali pada mode awal setiap kali berdebat dengan Anita.
__ADS_1
"I..iya tuan. maaf, sebentar saya buka dulu rantangnya" ucap Anita masih mencoba membukanya dan berusaha untuk tidak melawan Alex.
"Coba sini, berikan padaku rantangnya" pekik Alex meminta rantang tersebut untuk di berikan padanya.
Kemudian perlahan Anita pun memberikan rantang tersebut pada Alex.
Dengan wajah yang kembali dingin, Alex pun menerima rantang tersebut dan melihat dengan benar bagaimana rantang tersebut supaya bisa terbuka dan dirinya dapat makan dengan segera.
"Kau ini, bagaimana rantangnya mau terbuka kalau ininya saja tidak kau tekan lebih dulu" ucap Alex merasa kesal sambil menunjukan cara untuk membuka rantang tersebut dengan benar.
Ternyata Anita lupa untuk lebih dulu menekan samping capnya terlebih dahulu. Mungkin karena Anita terlalu gugup jadi hal sekecil itu menjadi sulit untuknya.
Membuat Anita merasa malu sendiri dan menunduk merasa tidak nyaman.
"Cepat kau tata dengan benar rantangnya. Aku sudah terlalu lama menunggu hal sepele seperti ini. Gara-gara kau dan rantang sialan ini, aku jadi telat makan dan kelaparan" bawel Alex pada Anita.
Anita yang mendengar bawelan Alex hendak ingin melawan seperti sebelum-sebelumnya. Namun mengingat siapa Alex sekarang, membuat Anita mengurungkan niatnya dan hanya bisa manyun dan menggerutu di dalam hati.
"Sial sekali aku ini, harus mendengarkan bawelan si tua bangka ini. Aku tidak menyangka Lolita memiliki ayah sebawel dan senyebelin ini. Sifat mereka begitu berbeda, pantas saja aku tidak bisa menduganya" ucap Anita menggerutu dalam hati sambil tetap menata rantang tersebut dan menyiapkannya untuk Alex makan.
"Mana gara-gara rantang aku jadi di omelin habis-habisan lagi" lanjut Anita sambil sesekali menatap Alex dengan mata kesalnya.
Namun tanpa sengaja Alex melihatnya saat Anita menatapnya kesal.
"Heh ... tatapan apa itu. Apa kau ingin mendekam di penjara?" ucap Alex tidak terima dan sedikit menggertak Anita.
"Ti.. tidak tuan. Maaf saya tidak akan melakukannya lagi" ucap Anita terbata-bata, takut Alex melakukan apa yang di katakannya.
"Kalau begitu. Senyum" ucap Alex sambil menyuruh Anita untuk tersenyum.
"Ta.. tapi tuan" ucap Anita mencoba menolak.
"Oh jadi kau ingin benar-benar masuk penjara" ucap Alex terus menakuti Anita.
"Ba..baik tuan" ucap Anita mengalah sambil tersenyum yang di paksakan.
"Yang bener" pekik Alex sambil menggebrak meja pelan.
Membuat Anita terkejut dan benar-benar harus tersenyum tulus.
"Nah gitu dong. Yang tulus" ucap Alex sedikit meredakan nada bicaranya.
"Kau lakukan itu sampai aku selesai makan siang. Mengerti" lanjut Alex meminta Anita untuk tersenyum sampai dia selesai makan.
Dengan terpaksa Anita pun tersenyum sambil mengangguk menuruti perintah Alex yang diberikan.
Meskipun sebenarnya dalam hati, Anita benar-benar kesal dan ingin menarik lidah bawel Alex.
__ADS_1