
Kemudian Alex pun segera pergi menuju kamar nya sendiri dengan tersenyum senang.
Keesokan harinya Anita berniat untuk mengatakan apa yang sebelumnya belum sempat dia katakan.
Namun lagi-lagi Anita tidak sempat untuk mengatakannya. Alex mendadak ada meeting ke luar kota, dan Anita di suruh ikut untuk menemaninya.
"Tu.. tuan" ucap Anita terbata-bata merasa ragu untuk membicarakan apa yang ingin dia katakan.
"iya?" ucap Alex santai, sambil duduk menyantap makan siangnya.
"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan. Bisakah nanti kita bicara setelah tuan selesai pulang dari kerja?"
"Memangnya kau mau bicara apa?. Katakan saja sekarang. Soalnya nanti sore aku harus segera keluar kota. Dan kau harus ikut denganku, sekalian nanti kau siapkan barang-barang ku untuk keperluan di sana" ucap Alex panjang lebar sebelum Anita menjawab pertanyaannya.
"Ta.. tapi, tuan. Kenapa saya harus ikut?" ucap Anita kembali ragu.
"Ya karena kau asisten pribadiku khusus untuk menyiapkan segala sesuatu mengenai hal-hal pribadiku"
"Tapi tuan. Kan ada tuan Rafi, dia kan juga asisten pribadi tuan. Kenapa tidak mengajak dia saja?" ucap Anita berusaha menolak.
"Itu berbeda. Dia itu asisten pribadiku dalam masalah pekerjaan kantor. Kau pikir dia ada waktu untuk menyiapkan pakaian atau kebutuhanku yang lainnya?" ucap Alex menjelaskan.
"Tapi, tuan.." ucap Anita masih berusaha untuk tetap menolak.
Dia tidak mau jika harus kembali pergi jauh hanya berdua dengan Alex. Takut hal-hal yang tidak di inginkan terulang kembali, meski dirinya sekarang sudah sah menjadi istri Alex.
"Tapi.. tapi.. tapi apalagi. Kau ini membuatku tidak berselera lagi untuk makan" pekik Alex sambil menghentikan makan siangnya.
"Kalau kau ingin mengatakan hal penting, lebih baik nanti saja setelah kita kembali dari luar kota. Sekarang kau bereskan makanan ini, dan cepat pergi keluar dari ruangan ku" lanjut Alex merasa marah, mengingat Anita yang terus saja menolaknya.
"Bab... baik tuan. Maafkan aku" ucap Anita sedikit gagap dan segera membereskan sisa makanannya.
Kemudian Anita segera bangkit dari tempat duduknya dan hendak pergi kembali ke rumah Alex.
"Permisi, tuan. Kalau begitu saya pulang"
"Tunggu" ucap Alex saat Anita sudah berbalik hendak pergi.
"Jangan lupa apa yang ku katakan tadi. Segera siapkan pakaianku dan juga pakaianmu. Kita berangkat setelah aku selesai bekerja" jelas Alex mengingatkan kembali.
__ADS_1
"Dan....et... aku tidak mau mendengarmu berkata tapi lagi. Sekarang pergi" lanjut Alex saat melihat Anita hendak berbicara membuka mulutnya.
Kemudian Anita pun benar-benar pergi meninggalkan ruangan Alex.
Sementara Alex yang melihat Anita sudah pergi dari ruangannya kembali berbicara sendiri.
"Heran aku. Kenapa dia itu selalu saja menolak kata-kata dan perintahku. Aku ini kan bosnya, tapi dia tidak ada takut-takutnya padaku" kesal Alex mengingat Anita yang selalu membantah keinginannya meski ujung-ujungnya dituruti juga.
Sore pun datang dan Anita sedang menyiapkan persiapan Alex untuk pergi keluar kota. Juga dirinya yang hanya membawa beberapa pakaian ganti untuk nanti di sana.
Lalu Alex datang dan melihat Anita sedang menyiapkan koper di dalam kamarnya.
Sambil menyender di pintu, Alex sedang memperhatikan Anita yang baru selesai menata pakaiannya kedalam koper di atas ranjang miliknya.
Terlihat Alex sedang menikmati pemandangannya, namun tiba-tiba ingatannya teringat pada momen istrinya yang sedang menyiapkan pakaiannya setiap kali dia akan pergi ke luar kota.
Dan hal itu persis dengan apa yang di lakukan Anita untuknya saat ini.
Membuatnya tersenyum senang namun seketika itu juga membuat Alex merindukan istri tercintanya.
Lalu tanpa sengaja Anita melihat ke arah Alex dan menegurnya hingga membuyarkan lamunannya.
"Tuan.. tuan sejak kapan berada di situ?" ucap Anita membangunkan Alex dari lamunannya.
"Tidak ada. lebih baik kau juga segera bersiap-siap, aku juga ingin mandi dulu. Sana keluar lah" ucap Alex pada Anita.
Kemudian Anita pun segera pergi dari dalam kamar Alex tanpa banyak bicara lagi. Dengan Alex yang membiarkannya berlalu pergi dari hadapannya.
Sementara itu di tempat lain, Rio berpikir untuk pergi ke rumah pamannya. Dia merasa sudah lama tidak menginap di sana. Meskipun tidak ada Lolita tapi dia tetap ingin pergi ke rumah pamannya tersebut untuk menginap lagi.
Selama beberapa minggu ini dia sudah menjalani tugasnya sebagai pekerja kantoran, meskipun di perusahaan ayahnya sendiri.
Tapi Rio masih merasa bete dan jenuh dengan apa yang di lakukannya saat ini. Dia masih merasa belum mendapatkan sesuatu yang bisa membuatnya bersemangat untuk bekerja.
Hingga akhirnya setelah dia selesai dari jam kerjanya, dia meluangkan waktunya untuk kembali bertemu dengan teman-teman lamanya di sebuah club.
Dan berniat pulangnya nanti ke rumah pamannya, supaya dia tidak mendengar maminya mengomel-ngomel saat dirinya pulang malam lagi.
Sementara itu Alex dan Anita sudah siap dengan segala persiapan mereka untuk menginap di luar kota.
__ADS_1
Terlihat Anita menenteng dua koper sekaligus, miliknya dan milik Alex. Sendirian Anita menarik koper-koper tersebut tanpa Alex berniat membantunya.
Alex terlihat masih sok sibuk dengan menerima telpon dari kliennya. Meskipun dia diam-diam memperhatikan wajah Anita yang terlihat cemberut karena menenteng dua koper sekaligus di tangannya sampai ke depan mobil.
Bahkan para penjaga dan pelayan lainnya tidak di perbolehkan untuk membantu Anita membawakan koper-koper tersebut.
Entah dendam apa yang membuat Alex tidak ingin seorang pun membantu Anita saat itu. Dia sendiri malah tersenyum kecil setiap kali Anita terdengar menggerutu dan mengeluh dengan bibir manyun yang dilihat Alex terlihat lucu dan menggemaskan.
Kemudian setelah Anita memasukan koper-koper tersebut ke dalam bagasi mobil, terlihat Alex masuk lebih dulu di belakang kursi mobil.
Membuat Anita yang sudah menutup bagasi mobilnya, diam-diam mengejek Alex dan mengeluarkan kekesalannya.
"Dasar bos durhaka, tukang semena-mena, menyebalkan" ucap Anita pelan-pelan.
Kemudian Anita segera menyusul Alex masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping tempat duduknya Alex.
Namun tiba-tiba Alex kembali berbicara sinis pada Anita, meski dirinya masih sedang menerima telepon yang dia letakkan di telinganya.
"Heh ... siapa suruh kau duduk disini. Cepat keluar, pindah ke depan" ucap Alex sinis meminta Anita untuk duduk di depan sambil menutup sambungan teleponnya dengan segera.
Membuat Anita tidak habis pikir melihat sikap tuannya yang semakin kasar padanya, pikir Anita.
Namun tanpa ingin berdebat lagi, segera Anita keluar dan duduk di kursi depan samping pak Amin.
Mobil pun segera melaju saat Alex memerintahkan pak Amin untuk jalan sekarang.
Di dalam perjalanan tidak ada obrolan ataupun bersuara sama sekali. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Seperti Anita yang sedang memikirkan sesuatu mengenai kelanjutannya sebagai status istri dari tuannya tersebut.
"Lama-lama dia itu menyebalkan sekali, tapi baguslah ini membuatku semakin yakin kalau aku harus segera memintanya untuk menceraikan aku sebagai istrinya yang gak jelas" ucap Anita dalam hati dan sedikit mengakui bahwa dirinya sebagai istri tuannya namun istri yang tidak jelas.
"Tapi sebelum itu, kamu harus tenang dulu Anita. Bersabarlah mengahadapi siluman tua bangka ini" lanjut Anita dalam hati.
Sementara Alex yang sedang di bicarakan Anita dalam hati, terlihat kepalanya manggut-manggut sambil menyilang kedua tangannya.
Sepertinya dia merasa kelelahan setelah selesai bekerja dari kantor tapi harus kembali jalan menuju luar kota, meski menyempatkan diri untuk mandi terlebih dahulu.
Sementara Anita yang melihat Alex seperti itu merasa kasihan juga dan sedikit berempati atas kerja keras tuannya tersebut.
__ADS_1
Tapi Anita segera menepis perasaannya tersebut saat mengingat kelakuan tuannya yang amat menyebalkan untuk Anita.
Kemudian Anita kembali fokus melihat ke depan dan berpikir untuk lebih baik tidur juga sambil menunggu mobil sampai pada tujuannya.