
Kemudian para tamu pun pergi setelah berdiskusi cukup lama dengan tuannya setelah berpamitan pada Alex dan juga dirinya yang saat itu terlihat sedang menunggu dengan sabar.
Lalu Rafi segera mendekati Alex dan membisikan sesuatu padanya. Membuat Alex yang mendengarnya tiba-tiba kaget dan terlihat marah pada Rafi.
"Apa?" pekik Alex saat mendengar bisikan dari asisten pribadinya tersebut.
"Kenapa kau baru bicara sekarang?" lanjutnya terlihat kesal.
"Maaf tuan, tadi tuan kan sedang ada tamu" ucap Rafi mencoba membela diri sambil menunduk takut.
"Aah... kau ini" ucap Alex tidak mau tau.
"Cepat siapkan mobil. Kita berangkat sekarang juga" lanjut Alex tidak ingin menunda-nunda lagi.
"Baik tuan"
Rafi pun segera meninggalkan Alex dan keluar dari ruangan tersebut untuk menyiapkan apa yang telah di perintahkan tuannya tersebut.
Sementara itu Anita yang sedang menunggu anaknya dari tadi, terlihat ketiduran di samping anaknya sambil duduk.
Tiba-tiba, dia terbangun dan melihat Alex sudah berada di hadapannya.
Anita merasa terkejut dan kaget saat Alex sedang menatap anaknya yang sedang tertidur lelap.
"Anita... kenapa kau pergi dan tidak memberitahuku bahwa kau sedang mengandung anakku selama ini?" ucap Alex pada Anita sambil wajahnya melihat ke arah Alexa yang sedang tertidur pulas.
"Lihat lah, dia begitu mirip denganku. Tapi aku tidak dapat melihat tumbuh kembang nya selama enam tahun ini... Kenapa kau begitu tega tidak memberitahuku selama ini?" lanjut Alex pada Anita.
Anita yang mendengarnya hanya bisa diam membisu sambil melihat tatapan Alex yang begitu terlihat merindukan anaknya.
"Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkannya pergi. Aku akan membawanya bersamaku" ucap Alex kembali berbicara pada Anita sambil melihat ke arahnya dan sesaat kemudian hendak menggendong Alexa dari atas tempat tidurnya.
"Apa yang kau lakukan. Dia sedang sakit. Kau tidak boleh membawanya kemana-mana dan kau juga tidak berhak untuk mengambilnya dariku. Lepaskan dia, lepaskan..." ucap Anita pada Alex sambil menahan anaknya untuk tidak di bawa oleh Alex.
"Nyonya... nyonya... bangunlah. Sadarlah nyonya. Anda sedang bermimpi" ucap seorang perawat yang pada saat itu sedang mengecek keadaan Alexa.
Namun dia melihat Anita yang sedang ketiduran dan tiba-tiba mengigau meminta melepaskan sesuatu.
__ADS_1
Rupanya Anita sedang bermimpi. Dia menarik nafas lega setelah melihat keadaan sekitar yang tidak ada Alex dan diapun segera meminta maaf pada suster tersebut dan menanyakan kondisi anaknya terkini.
"Maaf suster" ucap Anita pada suster tersebut, merasa tidak enak hati.
"Bagaimana kondisi anak saya sekarang suster?" lanjut Anita bertanya.
"Untuk saat ini anak ibu terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi meskipun begitu, jangan sampai membuatnya merasa khawatir ataupun merasa kelelahan" ucap suster memberitahu Anita.
"Kalau begitu saya tinggal dulu. Permisi nyonya" ucap suster tersebut sambil membawa kembali catatan medis Alexa yang dari tadi dia bawa.
"Baik, Suster. Terima kasih"
Kemudian suster pun pergi meninggalkan Anita dan Alexa yang masih terbaring di atas tempat tidurnya.
Lalu Anita kembali menatap anaknya dengan pemikirannya tentang Alex yang tadi sempat bermimpi kedatangannya yang tiba-tiba ingin membawa Alexa.
Hal itu membuat Anita menjadi kepikiran, dia merasa takut bahwa Alex akan tiba-tiba membawa anaknya pergi seperti yang ada di dalam mimpinya.
"Ya Allah... bagaimana ini. Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu. Aku tidak mau sampai dia membawa anakku" ucap Anita merasa khawatir.
Di rumah sakit, Alexa mulai sadarkan diri. Dia terlihat lebih baik dari sebelumnya. Namun dia merasa kehausan dan membuat Anita harus mengambilkannya minum.
"Sayang kamu sudah bangun?" tanya Anita saat sudah melihat anaknya terbangun.
"Mah haus" ucap Alexa begitu pelan.
"Kamu mau minum, nak?. Tunggu sebentar, ya sayang" ucap Anita saat melihat minumannya sudah tinggal sedikit.
Ani berniat untuk meminta minumannya terlebih dahulu ke pantri rumah sakit. Saking khawatir terhadap anaknya dia sampai lupa untuk sekedar menyiapkan minum, bahkan untuk dirinya sendiri.
Sementara itu Alex sudah sampai di parkiran rumah sakit, rupanya Alex telah mengetahui keberadaan Anita yang sedang berada di rumah sakit tersebut.
Dia segera keluar dari dalam mobil tanpa berniat menunggu untuk di bukakan pintu mobilnya. Alex sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anita.
Sementara itu Alexa yang sudah merasa kehausan, melihat air minum yang tinggal sedikit di atas meja samping tempat tidur hendak di ambilnya sendiri saat sudah menunggu ibunya yang juga belum kembali.
Namun karena jangkauannya sedikit panjang dan dia masih terlalu lemah membuatnya tidak dapat menggapainya dan dia pun terjatuh ke lantai tak berdaya.
__ADS_1
Anita yang masih mengambil air minum, tidak tahu kalau anaknya terjatuh setelah dia meninggalkannya sendiri di kamar ruang inap rumah sakit.
Sementara itu dengan tenang Anita pun mulai membuka pintu kamar ruang inap anaknya, dan betapa terkejutnya saat dia mendapati anaknya sudah berada di lantai dalam keadaan sudah pingsan.
Dengan perasaan panik dan menangis, Anita segera memencet bel untuk meminta bantuan dokter dan suster.
"Suster tolong. Cepat ke kamar saya, anak saya jatuh dan sekarang dia pingsan. Saya takut terjadi sesuatu padanya" ucap Anita terdengar panik dan menangis saat dia sedang meminta bantuan.
Dan dengan cepat mereka pun segera masuk ke ruangan tersebut. Tidak jauh berbeda, merekapun sama terkejutnya seperti Anita yang merasa kaget saat melihat Alexa sudah pingsan tak berdaya.
Baru semalam mereka mengoperasi anak tersebut, tapi tiba-tiba sudah mengalami musibah seperti itu yang tidak seharusnya terjadi jika dalam pengawasan yang benar.
"Nyonya kenapa anak anda bisa terjatuh seperti ini. Apa anda tidak menjaganya dengan benar" ucap suster merasa marah dengan keteledoran Anita dalam menjaga anaknya sendiri.
"Maaf suster, tadi saya hanya ingin mengambilkannya minum sebentar keluar" ucap Anita semakin bertambah bersalah mendengar ucapan suster tersebut.
"Sayang.... maafkan mamah" lanjut Anita sambil menangis merasa khawatir berbicara pada anaknya yang telah pingsan.
"Sepertinya anak anda harus segera di operasi kembali" ucap Dokter setelah dia memeriksa keadaan Alexa di hadapan Anita langsung.
"Apa Dok, di operasi lagi?. Tapi bukannya baru semalam anak saya di operasi, Dok?" pekik Anita merasa kaget saat mendengar anaknya harus kembali lagi ke ruang operasi dengan begitu cepatnya.
"Iya nyonya. Itu sebabnya kami harus segera mengoperasi anak anda kembali. Karena benturannya mengakibatkan jaitan operasi semalam terbuka lagi" ucap Dokter memberitahu Anita.
Membuat Anita hanya bisa terdiam tak berdaya sesaat setelah mendengar penerangan Dokter tersebut. Dan mau tidak mau dia pun harus menerima anaknya kembali di operasi lagi.
"Dan satu lagi nyonya, saya harap golongan darah anda sama dengan anak anda. Karena kami sedang ke habisan stok golongan darah yang akan di butuhkan anak anda nanti di ruang operasi" ucap Dokter lagi, sekalian memberitahu bahwa apa yang akan di butuhkan untuk operasi anaknya sedang kosong.
"Tapi, Dok. Bagaimana kalau golongan darah saya berbeda dengan anak saya?" tanya Anita terlihat khawatir, dia sudah tahu bahwa golongan darahnya tidak akan sama dengan anaknya.
"Kalau begitu, anda bisa meminta bantuan ayahnya atau keluarga lain yang kemungkinan bisa sama dengan golongan darah anak anda. Kalau tidak segera, saya tidak dapat menjamin anak anda dapat hidup dengan normal" ucap Dokter tersebut memberi opsi lain.
Membuat Anita yang mendengar hal tersebut menjadi serba salah dan semakin bersedih.
Dia mulai berpikir, bagaimana dia akan meminta bantuan keluarganya, sementara saat ini dia hidup hanya berdua dengan anaknya sendiri.
Dan satu-satunya jalan adalah meminta bantuan Alex sebagai ayah kandung Alexa atau Lolita yang memungkinkan juga akan sama golongan darahnya dengan Alexa yang seayah.
__ADS_1