
Sementara itu di tempatnya Jaka, dia dan beberapa orang anak buah Juragan masih menunggu ke datangan Anita sambil terkantuk-kantuk.
Namun Jaka mendadak merasa kesal karena Anita tidak juga kunjung datang. Dia berpikir seharusnya Anita sudah sampai dari beberapa menit yang lalu.
"Heh Jaka mana ponakan mu itu. Kau bilang setelah subuh dia akan datang. Tapi mana, orangnya gak datang-datang" pekik salah satu anak buah Juragan Wiguna yang di percaya sebagai kaki tangannya.
"Kau jangan main-main. Apa kau ingin kita hajar lagi. Dan ku adukan pada juragan?" tanyanya dengan marah.
"Ti..tidak bos. Jangan marah-marah dulu apalagi sampai ngadu sama juragan. Anita pasti datang. Mungkin dia lagi kena macet. Baru juga telat beberapa menit. Tenang dulu, ya" ucap Jaka mencoba menenangkan kaki tangan juragan Wiguna yang bernama Eman.
"Brengsek, sialan. Kemana anak itu. Jam segini belum datang juga. Awas saja kalau dia sampai tidak datang dan kabur lagi seperti dulu" marah Jaka dalam hati setelah melihat Eman kembali duduk di depan rumah.
Sementara itu di tempat lain, pak Haji dan warga sekitar yang mendadak jadi rame, sudah selesai menunaikan sholat subuh.
Kemudian ada warga yang terlihat berbisik-bisik pada pak Lurah mengenai Anita.
"Apa, kau yakin?" tanya pak Lurah terlihat kaget saat seorang berbisik padanya.
Lalu pak Lurah kemudian menyampaikannya pada pak Haji. Bahwa sebenarnya Anita adalah salah satu warganya juga yang lama sudah pergi meninggalkan kampung tersebut.
Yang mana Anita adalah cucu dari nenek Lastri yang sudah lama meninggal setelah kepergian cucunya tersebut.
Sementara itu di luar masjid, Alex dan Anita merasa bingung dan tidak berdaya dengan apa yang warga lakukan pada mereka.
"Hey kau. Katakan pada mereka kita tidak melakukan apapun. Kenapa kita harus mengikuti mereka untuk menikah paksa. Aku tidak mau sampai di nikahkan paksa dengan mu" ucap Alex berbisik pada Anita.
"Hey tuan. Anda pikir saya mau di nikahkan paksa dengan anda. Udah duda, tukang perintah, suka marah-marah lagi, mana tahan saya punya suami seperti anda" ucap Anita mendadak berani menanggapi ucapan Alex dengan wajah judesnya.
"Beraninya, kau. Bicara seperti itu padaku" ucap Alex merasa kesal.
"Sudahlah, tuan. Tidak usah kesal begitu" ucap Anita santai tidak ada takut-takutnya.
"Memangnya apa sih yang tuan lakukan pada saya, saat saya sedang tertidur sampai baju saya acak-acakan seperti tadi dan membuat para warga berpikir bahwa kita telah melakukan hal senonoh" ucap Anita dan bertanya pada Alex, penasaran.
"Apa jangan-jangan... tuan memang mau melakukan sesuatu pada saya, ya. Tapi keburu ketahuan oleh warga. Benar begitu?" lanjut Anita sambil memeluk dadanya meski tangannya sedang terikat dan terlihat ingin menangis, jika apa yang tengah di pikirkannya benar.
"Heey kau jangan menangis. Nanti mereka pikir aku benar-benar melakukan sesuatu padamu. Kau pikir aku sudi melakukan itu pada gadis kecil seperti dirimu ini" ucap Alex meyakinkan dan sedikit kesal juga karena di tuduh yang tidak-tidak oleh Anita.
Kemudian beberapa orang warga mendekati mereka, dan membuka tali yang tadi mereka gunakan untuk menali tangan Alex dan Anita di tiang luar masjid, supaya mereka tidak bisa kabur saat warga sedang melaksanakan solat subuh.
Dan kini warga kembali berkumpul mengitari Alex dan Anita, membuat mereka bertambah malu dan gugup. Meskipun sebenarnya mereka tidak melakukan apa yang telah warga tuduhkan.
Sementara itu pak Haji dan pak Lurah perlahan menghampiri mereka kembali untuk mengintrogasi lebih lanjut.
"Baiklah, warga disini saya harap kalian tenang dan jangan ada yang bicara atau bisik-bisik lagi. Mengerti" ucap pak Lurah pada warganya.
"Silahkan pak Haji, mulai interogasi mereka lagi" lanjut pak Lurah berbicara pada pak Haji.
Kemudian pak Haji mulai mengintrogasi kembali mereka. Namun kali ini yang di beri pertanyaan adalah Anita, mengingat pak Lurah tadi memberitahunya bahwa Anita adalah salah satu warganya juga.
"Baiklah kalau begitu" ucap pak Haji menanggapi ucapan pak Lurah.
"Apa benar namamu Anita?" tanya pak Haji pada Anita.
"I..iya pak Haji" ucap Anita terbata-bata.
"Anita Putri Kusuma?" tanya pak Haji meyakinkan, menyebut nama Anita dengan lengkap.
__ADS_1
Sesaat membuat Anita merasa heran dan bingung kenapa pak Haji bisa tahu dan menyebut namanya dengan lengkap.
"Beb.. benar, pak Haji" ucap Anita terbata-bata.
Kemudian tiba-tiba para warga mulai begaduh saat mendengar nama Anita yang mereka kenal adalah cucu nenek Lastri yang sudah meninggal.
"Kalau begitu, dia cucunya nenek Lastri" ucap salah satu warga yang mengenal nenek Lastri dan keluarganya.
"Kalau benar begitu, berarti dia warga sini juga, dong. Gak bisa di biarin kalau begitu, bisa-bisa dia mencemarkan nama baik kampung kita ini" timpal warga lainnya ikut berpendapat.
"Benar itu gak bisa di biarin. Kalau benar gadis itu cucunya nenek Lastri" ucap yang lainnya.
"Kasian nenek Lastri, udah anaknya tukang judi, pemabuk, durhaka pula. Sekarang cucunya mau menambah aib keluarga. Gimana nenek Lastri mau tenang di alam kuburnya, coba" ucap ibu-ibu julid tadi yang tidak bisa melihat orang lain tenang.
Namun tanpa disadarinya telah memberi tahu Anita bahwa neneknya sudah meninggal.
Sontak hal itu membuat Anita terkejut dan tiba-tiba menangis tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.
"Apa" ucap Anita merasa tak percaya.
"Ma..maksud ibu, nenek saya meninggal?" tanya Anita memastikan dengan air mata yang tiba-tiba berlinang.
"Ya iya, nenek kamu itu sudah meninggal. Sudah sejak lama dia meninggal. Masa kamu sebagai cucunya tidak tahu" ucapnya penuh keyakinan dan sedikit sinis.
"Enggak.. enggak mungkin. Nenek gak mungkin meninggal" tangis Anita pecah, kembali merasa tak percaya.
Tiba-tiba Anita hendak pergi memastikan keadaan neneknya. Tapi warga tidak membiyarkannya pergi.
"Ehh... kamu mau kemana" ucap salah satu warga menghalanginya hendak pergi.
"Tuh kan, lihat. Dia mau kabur. Sudah lah nikah kan saja mereka. Kalau tidak, kami sendiri yang akan menyeret mereka keliling kampung. Benar tidak, semuanya?" ucap propokator.
"Seret saja mereka kalau tidak mau di nikahkan, lalu kita arak keliling kampung" ucap propokator lainnya.
"Tenang.. tenang semuanya saya bilang tenang dulu. Jangan main hakim sendiri" ucap pak Lurah saat melihat warganya saling melempar pendapat dan mulai berkata anarkis.
Namun Anita yang merasa sedih atas meninggal neneknya yang baru dia ketahui membuatnya seolah tidak perduli dengan apa yang ingin warga lakukan padanya.
Dia merasa kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa membawa neneknya pergi bersamanya. Anita juga mengutuk pamannya yang membiarkan nenek meninggal begitu saja tanpa memberitahu yang sebenarnya pada Anita.
"Paman, kenapa kau berbohong padaku. Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya, bahwa nenek sudah lama meninggal?" tanya Anita dalam hati sambil terus menangis dan meneteskan air mata pilu.
"Awas saja. Kalau sampai nenek meninggal karena paman Jaka, aku tidak akan terima begitu saja. Aku tidak akan takut lagi pada mu paman. Aku akan membuat perhitungan dengan mu, meskipun kau akan membunuhku" ucap Anita menggebu-gebu dalam hati hingga matanya terlihat penuh dengan amarah yang tersimpan.
Sementara Alex hanya terdiam dan melihat Anita begitu sedih, tanpa melihat mata Anita yang penuh dengan rasa sakit dan amarah.
Rasanya Alex ingin menghapus air mata Anita. Tapi dia seolah tidak berdaya untuk melakukannya.
Alex merasa, itu pertama kalinya dia melihat Anita menangis seperti itu, terlihat terluka dan terlihat merasa amat kehilangan orang yang dia sayangi.
Tiba-tiba entah kenapa, hati nurani Alex ikut tersayat saat melihat Anita terus-terusan menangis disampingnya dan meneteskan air mata tak bisa di tahan.
Meskipun terlihat sesekali Anita mengusap air matanya. Tapi lagi-lagi dia kembali menangis dan terus mengalirkan air matanya.
Namun berbeda dengan warga yang melihatnya. Mereka berpikir Anita menangis karena merasa takut akan mereka bawa arak keliling kampung dan di nikahkan secara paksa. Sehingga membuat mereka tidak perduli dengan tangisan Anita di hadapan mereka.
Sementara itu pak Haji dan pak Lurah sedang berbisik apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
__ADS_1
"Bagaimana ini pak Haji. Warga semakin marah dan saya takut mereka malah akan bertindak anarkis" ucap pak Lurah pada pak Haji.
"Apa lebih baik kita nikahkan saja mereka, pak Haji?" lanjut pak Lurah memberi usulan.
"Tapi tidak semudah itu pak Lurah. Apalagi menikahkan anak gadis. Dia harus ada wali untuk bisa di nikahkan meskipun sudah tidak ada orang tuanya tapi pasti ada paman atau ada pihak laki-laki lain yang bisa menjadi walinya. Kecuali gadis itu anak sebatang kara. Mungkin bisa di wakilkan dengan yang lain" ucap pak Haji menjelaskan.
"Pak Haji benar. Tapi saya rasa dia masih ada pamannya. Kita suruh pamannya saja yang menjadi wali nikahnya" ucap pak lurah kembali memberi usulan.
"Tapi, apa pamannya bersedia menikahkan keponakannya itu?" ucap pak Haji kembali meyakinkan.
"Ah itu, biar jadi urusan saya pak Haji. Kalau pamannya sampai tidak mau menjadi walinya, biar saya penjarakan pamannya itu kedalam penjara. Lagi pula saya juga sudah bosan mendengar para warga mengeluh terus tentang sikap buruk Si Jaka, pamannya gadis itu"
"Kalau begitu. Saya gimana baiknya saja, pak Lurah" ucap pak Haji menginginkan yang terbaik untuk semuanya.
Kemudian Anita dan Alex pun segera di bawa masuk kedalam masjid.
Sementara itu pak Lurah dan beberapa warga menyusul Jaka kerumahnya yang di beritahu warga lain saat melihat Jaka bersama dengan anak buah juragan Wiguna.
Kemudian setelah sampai di rumah tempat Anita dulu, terlihat Jaka dan lainnya merasa kaget dan bengong, tiba-tiba banyak warga yang menghampiri mereka dan juga pak Lurah yang ikut serta.
"Ada apa ini, kenapa para warga datang kemari, Jaka?" tanya Eman pada Jaka.
"Saya juga gak tahu bos" ucap Jaka merasa bingung juga.
"Heh Jaka. Ikut kami sekarang!" ucap pak Lurah tegas.
"Ada apa ini pak Lurah?" ucap Jaka merasa takut juga.
"Sudah. Tidak perlu banyak tanya" ucap pak Lurah.
Kemudian Jaka pun di bawa paksa oleh warga dan juga pak Lurah. Dan mau tidak mau Jaka pun ikut dengan mereka tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu di masjid, terlihat Anita dan Alex di dudukan berdampingan dengan dihadirkan beberapa warga sebagai saksi nantinya termasuk pak penghulu yang sudah di suruh datang pagi-pagi sampai dia sendiri tidak dapat berpakaian rapi seperti biasanya saat hendak melaksanakan tugasnya.
Namun Anita yang terus menangis, masih tidak perduli dengan apa yang sedang warga lakukan padanya. Hingga Alex pun tidak berani untuk menegur Anita yang masih terlihat sedih.
Alex Mengerti, Anita menangis bukan karena dia di paksa menikah dengannya tapi karena dia masih tidak percaya bahwa neneknya sudah benar-benar meninggal dari lama dan tanpa dia sadari.
Kemudian pak Lurah pun berhasil membawa Jaka ke tempat tersebut dan membawanya kedalam masjid dengan paksa.
"Apa-apaan ini pak Lurah. Kenapa kalian memaksa saya ke mesjid. Saya gak mau solat" tanya Jaka mengira warga memaksanya untuk solat.
Namun baik Lurah ataupun warga tidak ada yang menanggapi ucapannya. Segera mereka membawa Jaka masuk kedalam masjid.
"Lihat. Itu ponakan mu, kan. Sekarang para warga meminta mu untuk segera menikahkannya dengan laki-laki yang ada di sampingnya. Kalau kau tidak mau. Warga akan memenjarakan mu, dan ponakan mu itu akan di seret dan di arak keliling kampung bersama dengan kaki-lakinya karena sudah ketahuan melakukan hal senonoh di kampung ini. Dan warga tidak mau nama baik kampung ini tercoreng oleh ponakan mu dan juga dirimu yang sudah banyak aduan dari warga mengenai kau yang sering menggoda anak-anak gadis mereka, terlebih dengan kebiasaan buruk mu itu yang suka berjudi dan mabuk-mabukan. Apa kau mengerti?" ucap pak Lurah panjang lebar.
"Ta.. tapi pak Lurah" ucap Jaka hendak menolak.
"Tidak ada tapi-tapian. Kalau kau tidak mau, anak buahku sedang memanggil polisi untuk menjemput mu sekarang juga"
"Ti..tidak. Jangan pak lurah. Baik saya akan melakukannya. Saya akan menikah kan Anita dengan laki-laki itu" ucap Jaka terpaksa.
Kemudian singkat cerita terjadilah ijab kabul di masjid tersebut antara Anita dan Alex.
Meskipun beberapa kali Alex sudah mencoba menolak hal tersebut tapi melihat Anita yang hanya diam saja dan menangis terus, mengeluarkan air matanya sambil tetap fokus menatap pamannya sendiri dengan rasa marah dan benci.
Hingga akhirnya terpaksa Alex di bantu warga lain untuk mengulurkan tangannya dan juga di paksa untuk mengikuti perkataan penghulu tersebut.
__ADS_1
Dan terdengar lah teriakan SAH dari orang-orang yang berada di masjid dan di luar masjid yang penasaran untuk menyaksikannya.