
Membuat Anita yang di pegang dan terlalu dekat seperti itu sedikit merasa dek-dekan. Dia pun sesaat terdiam dan hanya dapat melihat Alex dari jarak yang cukup dekat dengan wajahnya.
"Tat... tapi kan anda harus segera siap-siap berangkat ke kantor" ucap Anita o o oo supaya Alex cepat-cepat pergi o ruoangan tersebut.
"Aku tahu.... Tapi apa kau lupa, aku ini kan bos. Jadi aku bisa kapanpun datang sesuka hati ku" ucap Alex sambil melepaskan pegangannya dan berkata sedikit sombong pada Anita.
Kemudian segera kembali mendekati anaknya yang masih belum sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.
"Ehmm.. dasar sombong" ucap Anita pelan saat Alex sudah tak lagi di hadapannya.
Kemudian Anita pun membiarkan Alex menatap anaknya sesuka hati dan sepuasnya dia, supaya Alex cepat-cepat pergi dari rumah sakit tersebut.
Sementara dia kembali mengeringkan rambutnya yang masih terlihat basah dengan handuk, sambil melihat ke arah jendela yang memperlihatkan suasana pagi di luar saat ini, dari ketinggian kamar rumah sakit tersebut.
"Dia itu masih saja dengan sesuka hatinya tidak berubah sama sekali, mentang-mentang Bos" lanjut Anita menggerutu, merasa Alex masih saja dengan sikap menyebalkan menurutnya.
"Sayang, cepatlah sembuh. Daddy sudah tidak sabar ingin mengajak mu bermain dan pulang ke rumah kita" bisik Alex pada anaknya yang masih terlihat tak sadarkan diri.
Beruntung Anita tidak mendengar perkataan Alex yang berniat untuk mengajak anaknya pulang ke rumahnya sendiri.
Sementara itu, Lolita terlihat sudah siap dengan pakaian kerjanya. Setelah dia selesai sarapan pagi, segera dia meluncur ke kantornya.
Di dalam mobil, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Rupanya dia merasa khawatir, karena pagi ini dia tidak melihat ayahnya sudah kembali dan tidak memberi tahu orang rumah sedang pergi kemana.
Namun egonya tidak dapat membiarkannya untuk menelpon atau sekedar menanyakannya lewat pesan singkat.
Dia hanya bisa melihat-lihat nomor kontak ayahnya tanpa berani memencet nomor tersebut untuk menghubungi ayahnya.
Tapi rasa ragunya mengalahkannya kembali dan sedikit melempar handphonenya ke samping tempat duduk mobilnya.
Sementara itu, Alex yang berada di samping anaknya malah terlihat ketiduran sambil duduk. Rupanya dia merasa ke lelahan, setelah semalaman tidak bisa tidur nyenyak dengan benar.
Anita yang saat itu sudah selesai merapikan rambutnya, segera menghampiri ranjang anaknya. Namun yang dia lihat malah Alex yang sedang ketiduran di samping anaknya.
"Iihh... dia malah tidur lagi" ucap Anita sedikit menahan suaranya
Dia hendak ingin membangunkan Alex supaya cepat-cepat pergi dari ruangan kamar tersebut.
Namun dia juga merasa kasihan melihat Alex yang kelihatan lelah karena tidak bisa tidur dengan tenang.
__ADS_1
Akhirnya Anita membiarkannya untuk tidur seperti itu di samping anaknya.
Sementara itu dia hendak keluar untuk mencari sarapan, selagi ada Alex yang menemani anaknya meskipun dalam keadaan dia ikut tertidur.
Sambil menggelengkan kepalanya melihat Alex yang ketiduran, Anita segera membuka pintu keluar dan menutup pintu ruangan kamar tersebut dengan pelan.
Tiba-tiba terdengar suara telpon masuk milik Anita saat dia keluar dari kamar tersebut. Dan dia segera mengangkatnya.
"Hallo..." ucap Anita sambil berjalan di lorong rumah sakit.
"Hallo, Nita..." ucap orang di sebrang telepon.
"Iya Za. Ada apa pagi-pagi meneleponku?" tanya Anita.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkan mu saja. Apa semalam kau baik-baik saja?" ucap Raja pada Anita dan sedikit bertanya.
Rupanya Raja merasa tidak tenang setelah dia meninggalkan Anita di rumah sakit saat dia tahu masih ada Alex malam itu.
"Iya.. aku baik-baik saja. Dan saat ini aku juga sedang membeli sarapan" ucap Anita pada Raja.
"Kalau kamu sedang keluar, lalu yang menjaga Alexa siapa?" tanya Raja merasa khawatir, takut terjadi sesuatu pada Alexa seperti sebelumnya yang di tinggalkan sendiri setelah mendengar cerita dari Anita.
"Baguslah kalau begitu. Ya sudah aku tutup dulu telponnya" ucap Raja tanpa bertanya siapa yang menjaga Alexa.
Kemudian Anita pun sudah berada di tempat swalayan terdekat dari rumah sakit tersebut untuk membeli beberapa roti dan cemilan lainnya.
Sementara itu, Lolita yang sudah berada di kantor melihat Rafi sudah datang duluan. Kemudian dia mendekatinya dan bertanya tentang ayahnya.
"Rafi" ucap Lolita sedikit berteriak.
"Non Lolita" ucap Rafi saat melihat anak bosnya tersebut di parkiran.
"Rafi, kamu pasti tahu kenapa Daddy ku semalaman tidak pulang sampai pagi ini, kan. Kemana sebenarnya Daddy pergi?" tanya Lolita pada asisten pribadi ayahnya tersebut.
Membuat Rafi merasa bingung, harus bertanya pada bosnya terlebih dahulu atau mengatakannya sekarang juga pada anak bosnya tersebut.
"Euhmm... maaf non Lolita. Tuan sedang ada meeting dadakan keluar kota. Itu sebabnya dia belum pulang kembali sampai saat ini. Mungkin baru nanti malam tuan akan segera kembali" ucap Rafi tidak ingin mengatakan tuannya sedang berada dimana, takut salah bicara dan kena omelan Alex nantinya.
"Benarkah. Apa kau sedang tidak membunyikan sesuatu dari ku?" ucap Anita sedikit curiga.
__ADS_1
"Beb..benar, Non" ucap Rafi terbata-bata merasa takut ketahuan sedang berbohong.
"Baiklah kalau begitu. Tapi ingat, jangan panggil aku Non lagi kalau sedang di perusahaan. Mengerti!" ucap Lolita dan sedikit memperingati, tidak ingin orang lain mengetahui bahwa dirinya adalah anak pemilik perusahaan tersebut.
Kemudahan Lolita pun segera berjalan lebih dulu setelah dia melihat anggukan asisten pribadi ayahnya itu.
Sementara itu, Anita sudah berada di depan pintu kamar anaknya. Kemudian pelan-pelan membuka pintu kamar tersebut, namun tanpa sengaja membuat pintunya terdengar berisik hingga membuat Alex perlahan terbangun bersama anaknya yang juga ikut terganggu.
Anita yang menyadari hal itu, sesaat terdiam dan melihat ke arah Alex dan anaknya. Merasa bersalah karena hal tersebut, Anita pun meminta maaf.
"Maaf..." ucap Anita sambil mengernyitkan keningnya setelah melihat Alex terbangun, namun dia kembali merasa tidak perlu meminta maaf pada Alex.
Dan tiba-tiba anaknya yang terbangun.
"Mamah..." ucap Alexa dengan sedikit membukakan matanya.
"Sayang... kamu sudah bangun, nak. Syukurlah akhirnya kamu sudah sadar" ucap Anita terlihat merasa senang saat melihat anaknya sudah sadar kembali.
"Mamah... Kenapa aku ada disini?" ucap Alexa setelah perlahan melihat ke adaan ruangan tersebut.
"Sayang tidak apa-apa, kamu disini aman. Kita masih berada di rumah sakit, nak" ucap Anita pada anaknya dengan lembut.
"Tapi... dia siapa mah?. Apa dia kakekku?" ucap Alexa dengan polosnya saat melihat Alex berada di sampingnya.
Namun dia mengira Alex yang rambutnya sudah mulai beruban adalah kakeknya. Meski pun Alex masih terlihat tampan, tapi bagi anak seusia Alexa yang mengetahui ciri khas orang tua dari ubannya menganggap Alex juga seperti itu.
Membuat Anita merasa bingung menjawabnya, begitu juga dengan Alex yang terlihat menganga saat mendengar anaknya berkata seperti itu.
Sesekali dia melihat ke arah Anita meminta penjelasan mengapa anaknya berkata seperti itu.
Dia tidak sadar kalau dirinya memang sudah tua, tentu anaknya yang sekarang akan menganggapnya dari apa yang dia lihat saat ini.
"Bukan sayang... Dia bukan kakek mu" ucap Anita memberitahu, tapi dia sedikit ragu untuk mengatakan bahwa pria tua yang sedang berada di hadapannya adalah ayahnya sendiri yang selama ini diam-diam mempertanyakan keberadaannya.
Lalu tiba-tiba Alex berkata.
"Aku Daddy mu, ayahmu" ucap Alex dengan percaya diri dan wajah tersenyumnya.
Namun membuat Alexa yang mendengarnya, nampak terlihat seolah ragu setelah mendengar apa yang di katakan Alex padanya.
__ADS_1