Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Monster Venom


__ADS_3

Setelah beberapa menit kemudian, mereka sampai di bandara. Terlihat Anita hendak ingin mengeluarkan koper yang tadi di masukannya.


Namun kali ini Alex tidak membiarkan Anita untuk mengeluarkan koper-koper tersebut, dengan cepat dia mendahului Anita untuk mengambil koper-kopernya.


Tidak banyak bicara, Alex segera menyuruh Anita untuk jalan lebih dulu. Sementara dia sendiri membawa koper-koper tersebut di tarik olehnya. Membuat Anita merasa bingung dan hanya mengikuti ucapan Alex sampai akhirnya mereka naik pesawat dan sampai pada tujuan kota.


Hingga sampai ke hotel jam 19.00 tepat. Jarak tempuh ke kota tersebut tidak memakan waktu lama, terlebih dengan menggunakan pesawat.


Kemudian Alex segera memesan dua kamar namun dengan satu ruangan. Segera dia menggandeng Anita yang masih terlihat diam dan bengong dengan di ikuti seorang pelayan yang membawakan koper mereka.


Lalu Alex segera membuka pintu kamar hotelnya dan menyuruh Anita untuk masuk lebih dulu.


Namun Anita yang ragu, masih tetap berdiri di samping Alex di depan pintu. Dia merasa aneh jika harus berdua di ruangan tersebut. Sementara Alex terus saja masuk dan menaru bingkisan yang dari tadi dia bawa di atas meja.


"Kenapa kau masih saja berdiri di luar?. Cepat masuk!" ucap Alex setelah melihat pelayan yang mengantarkan koper-kopernya pergi.


"Kenapa. Apa kau takut aku berbuat sesuatu padamu?. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak bernafsu dengan gadis ceroboh, pembangkang dan bandel seperti dirimu" lanjut Alex memberitahu dengan mode sinisnya.


"Bandel?. Siapa yang bandel, tuan?" ucap Anita tidak terima, sambil masuk kedalam ruangan tersebut.


"Kau pikir siapa lagi?. Apa ada orang selain kita berdua disini?" ucap Alex santai.


"Sudah cukup, kita tidak ada waktu untuk berdebat lagi. Lebih baik kau segera mandi dan bersiap-siap, kita akan makan malam bersama dengan keluarga klienku" ucap Alex pada Anita.


"Apa, tuan. Kenapa aku harus ikut juga?" pekik Anita merasa tidak mau ikut kemana-mana.


"Tuh kan, kau itu memang bandel. Tidak pernah mau mendengar kata-kata dariku"


"Apa hubungannya dengan aku bandel atau tidak, tuan?"


"Aku beri waktu 30 menit, dan di atas meja ada bingkisan, pakailah gaun itu. Aku tidak mau klienku melihatmu dengan tampilan seperti ini. Aku mau keluar dulu sebentar" ucap Alex tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Anita yang di pikirnya tidak penting dan ingin menghindari perdebatannya lagi.


Kemudian Alex pun segera pergi keluar terlebih dahulu setelah berbicara pada Anita. Sementara Anita terpaksa kembali menuruti perintah tuannya tersebut.


"Apa-apaan dia itu, slalu saja sesuka hatinya. Menyebalkan" ucap Anita saat melihat Alex berlalu pergi meninggalkannya di ruangan tersebut.


"Bagaimana ini. Kenapa juga aku harus ikut dengan dia bertemu kliennya. Memangnya apa hubungannya denganku?" ucap Anita merasa bingung.


"Bukannya aku datang kesini hanya untuk menyiapkan segala keperluannya. Kenapa jadi begini" tanya Anita pada dirinya sendiri.


"Ah... sudahlah. Lebih baik aku ikuti saja kata-katanya. Lagi pula ini kan cuma makan malam, lumayanlah aku bisa makan malam gratis enak" lanjut Anita mencoba mengambil hal positifnya.


Kemudian Anita pun segera masuk ke dalam kamar mandi yang hanya ada satu di ruangan tersebut.


Segera setelah itu, Anita mengambil bingkisan di atas meja yang tadi Alex bilang untuk menggunakan gaun yang ada di dalam bingkisan tersebut.


Lalu Anita masuk ke dalam kamarnya dengan bingkisan yang dia bawa dari meja.


Kemudian dengan cepat segera membukanya, dan di lihatnya gaun tersebut nampak indah dan cantik.


Membuatnya merasa aneh saat melihatnya, berpikir kenapa tuannya sampai sempat-sempatnya membawakan dia gaun indah tersebut.


Namun tanpa berpikir panjang lagi, dia segera mengenakan gaun tersebut. Dia sendiri takjub melihat dirinya di cermin, tidak menyangka tuannya bisa memilih gaun sesuai dengan bentuk tubuhnya.


Tanpa di sadari, Anita senyam senyum sendiri di balik cermin tersebut. Membuatnya mengagumi diri sendiri seperti orang gila.


Kemudian terdengar suara orang masuk di balik pintu kamarnya. Anita sudah menduga pasti orang tersebut adalah Alex.


Membuatnya tiba-tiba jantungnya merasa deg-degan, apalagi saat Alex mengetuk pintu kamarnya.


"Tok.. tok" suara pintu kamar Anita di ketuk.

__ADS_1


"Cepetan... Kau sudah siap belum?" tanya Alex di depan pintu kamar Anita.


"Belum juga 30 menit, gimana sih" umpatnya.


"Aduh mana jantungku tiba-tiba dag dig dug begini lagi" lanjut Anita merasa belum siap.


"Hey ... kau cepatan. Aku tidak mau sampai terlambat gara-gara kau" ucap Alex tidak sabaran.


Kemudian saat Anita sudah membuka pintu dan Alex membelakanginya, Anita masih terlihat sedikit canggung namun tetap berusaha untuk menormalkan ke adaan.


"Kau ini lam.. ma sekali" ucap Alex mendadak berkata lambat dan pelan saat dirinya berbalik dan melihat Anita yang terlihat cantik dan menawan di matanya. Hingga dia tidak jadi untuk mengomel lagi.


"Cantiik.... nya" lanjut Alex lirih dan terpesona.


"Iya, tuan?" ucap Anita bertanya, merasa penasaran dengan pendengarannya.


"Ah tidak... lupakan. Ayo cepetan, sebentar lagi kita terlambat" ucap Alex mengalihkan pembicaraan tidak mau membuat Anita merasa gr.


Kemudian pelan-pelan Alex memberikan tangannya untuk di gandeng oleh Anita.


"Ayo!" ucap Alex memberikan tangannya.


Sementara Anita masih bingung dengan sikap Alex dan merasa gugup. Seolah Alex mengetahui ke gugupannya dan langsung menarik tangan Anita untuk menggandeng tangannya.


"Sudah. Kau tidak perlu gugup begitu, sini tanganmu" ucap Alex mencoba menenangkan Anita dan menarik tangannya.


Kemudian Anita pun mengikuti langkah kaki Alex yang terlihat menyamakan langkahnya dengan Anita.


Sampai tengah jalan Alex yang mendadak ingin ke toilet dan meninggalkan Anita sebentar di tempat. Tanpa banyak bertanya Anita hanya mengangguk pelan, namun sedikit mengumpat saat melihat Alex sudah pergi ke toilet meninggalkannya.


"Dasar aneh. Kenapa dia yang jadi ingin ke toilet, pada hal aku yang gugup" ucap Anita pelan sambil menunggu di samping dinding.


"Yang benar saja. Masa di hotel semewah dan sebesar ini ada hantunya" lirih Anita sambil mengusap-usap kedua tangannya, setelah melihat keadaan yang tidak ada seorang pun membawa anak kecil. Meski dia melihat beberapa orang dewasa telah lewat di depannya.


Namun dia mencoba kembali melihat ke arah pot yang cukup besar untuk dia bersembunyi. Perlahan dia memberanikan diri meski dengan rasa takutnya, tidak jauh dari tempat dia tadi menunggu Alex.


Kembali terdengar suara tangis anak kecil tadi, membuatnya yakin bahwa suara tersebut berasal dari balik pot tersebut.


Anita semakin penasaran dan segera melihat ke samping pot tersebut. Dan benar apa yang telah di duganya, terlihat seorang ank kecil sedang menangis terduduk di samping pot besar tersebut sambil membenamkan wajah di kedua lututnya.


Membuat Anita tidak dapat melihat wajah anak kecil tersebut. Anita yang tidak tega melihatnya, segera menegur anak kecil tersebut. Namun anak tersebut tidak bergeming, seolah tidak mau siapapun yang mengganggunya tapi tetap dengan tangisannya.


"Hey.. anak kecil. Apa kau baik-baik saja?" tanya Anita lembut sambil berjongkok mencoba menegur anak kecil tersebut, namun tidak ada tanggapan ataupun pergerakan dari anak tersebut.


Membuat Anita harus berpikir, mencari cara untuk membuat anak tersebut merespon ucapannya.


Namun tiba-tiba Alex datang dan menegur Anita.


"Hey kau, sedang apa kau disitu. Ayo cepat kita sudah terlambat" ucap Alex saat melihat Anita sedang berjongkok di depan pot tanpa melihat ada anak kecil di sampingnya.


"Sebentar tuan, ada anak kecil disini. Kasihan dia, pasti dia tersesat" ucap Anita sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Alex.


"Kau jangan bercanda. Aku tidak melihat anak kecil di situ" ucap Alex merasa dia tidak melihat siapapun apalagi anak kecil.


"Tuan jangan melihatnya dari situ. Kemarilah, lihat dari sini" ucap Anita memberitahu.


Kemudian Alex pun segera menghampirinya dan melihat apa yang sedang Anita lihat.


Namun Alex terlihat risih, karena beberapa orang yang melewati mereka melihatnya dengan aneh. Terlebih saat Alex menyadari Anita masih dengan posisi berjongkoknya.


"Hey kau, berdirilah. Kau membuat orang-orang yang lewat, memandang kita dengan tatapan aneh" ucap Alex meski dia sendiri memandang balik orang-orang tersebut dengan tatapan dinginnya.

__ADS_1


"Biarkan saja mereka melihatku aneh" ucap Anita menanggapinya, sambil tetap berusaha mencoba menarik perhatian anak kecil tersebut.


"Waahh ... sepertinya aku melihat jagoanku, ada spiderman disini" ucap Anita saat melihat pakaian anak tersebut yang mencolok, identik dengan pakaian spiderman.


"Ahh .. tapi tidak mungkin. Bagaimana mungkin spiderman jagoanku menangis, dia kan tidak lemah apalagi cengeng di depan orang" ucap Anita mencoba menarik perhatian anak tersebut.


Dan sepertinya kata-kata Anita berhasil membuat anak tersebut seketika diam, seolah dia tidak ingin di bilang lemah dan cengeng.


Namun berbeda dengan Alex yang terlihat melotot saat Anita berkata jagoanku. Seolah Alex tidak terima jika ada seseorang yang di anggap Anita sebagai jagoannya meskipun itu perkataan untuk anak kecil.


"Sudah cukup. Biarkan saja anak kecil itu, nanti juga pasti orang tuanya meminta bantuan pihak hotel untuk mencarinya" pekik Alex tanpa sadar merasa cemburu pada anak kecil itu dan membuat anak tersebut kembali menangis lagi.


"Tuan jahat sekali, bagaimana mungkin aku meninggalkannya sendirian seperti ini. Lihat dia jadi menangis lagi" ucap Anita menanggapi ucapan Alex.


"Kau ini.. Tapi kita sudah terlambat untuk bertemu dengan klienku" ucap Alex kesal.


"Kalau begitu tuan saja sendiri yang pergi, aku akan membantu anak ini mencari orang tuanya" ucap Anita tidak mau ikut dengan Alex.


Kemudian fokus kembali untuk merangkul anak tersebut.


"Sudah jangan nangis lagi ya spiderman jagoanku" ucap Anita sambil memberikan tangannya saat anak tersebut menatapnya sambil menangis gara-gara ucapan Alex tadi.


"Kamu kan anak laki-laki hebat dan pemberani. Kalau kamu pemberani, kemarilah. Kita cari sama-sama orang tuamu. Bagaimana?" lanjut Anita merayu anak kecil tersebut dan kembali berhasil lagi hingga anak itu berani memeluk Anita merasa nyaman dengannya.


Membuat Alex lagi-lagi melototkan matanya saat melihat anak tersebut berani memeluk Anita di hadapannya.


Dan tanpa Alex duga anak tersebut tiba-tiba menjulurkan lidahnya saat berada di pelukan Anita yang kebetulan menghadapnya dan menengadah mengejek Alex.


"Sialan bocil ini. Malah dengan sengaja mengejek ku. Awas kau ya nanti" ucap Alex dalam hati merasa geram pada anak tersebut.


"Ya sudah nanti kita antarkan anak ini ke pos ke amanan. Sekarang kau ikut aku dulu, kita sudah terlambat. Gara-gara kau pasti klienku berpikir seribu kali untuk bekerja sama denganku" ucap Alex dengan gerutunya, tidak mau membiarkan Anita mencari orang tua anak tersebut sendirian.


"Hey bocil.. kemari kau" ucap Alex tidak senang melihat Anita menggandeng anak laki-laki tersebut.


Tapi anak tersebut malah bersembunyi di balik kaki Anita sambil tetap menggenggam tangannya tidak mau lepas dari pegangan Anita.


"Sudahlah tuan, namanya juga anak kecil. Apa tuan tidak bisa lebih lembut sedikit" ucap Anita pada Alex.


Kemudian tiba-tiba anak itu menarik tangan Anita supaya berjongkok kembali menyamakan tinggi tubuhnya dan berbisik di telinga Anita.


Membuat Anita tiba-tiba membuka mulutnya merasa kaget dengan apa yang di bisikan anak tersebut di telinganya tentang Alex.


"Ada apa sayang?" tanya Anita lembut pada anak tersebut sambil mendekatkan telinganya.


"Apa dia monster Venom?" tanya anak tersebut berbisik pada telinga Anita.


"Wah.. Bagaimana kamu tahu?" repleks Anita merasa benar apa yang di pikirkan anak tersebut menggambarkan Alex seperti apa.


"Tapi kamu jangan bilang pada siapa-siapa. Nanti bisa-bisa dia akan berubah ke wujud aslinya. Kamu tidak inginkan, sampai dia berubah jadi seperti itu. Ini rahasia di antara kita berdua saja, oke" ucap Anita pelan-pelan menanggapi pertanyaan anak tersebut sambil terlihat senyum geli membayangkan wajah Alex seperti apa yang di gambarkan anak polos tersebut.


Sementara, Alex yang melihat Anita terkejut dan tiba-tiba tersenyum. Membuatnya penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


"Hey.. apa yang kalian bicarakan. Kalian sedang membicarakan aku ya?" tanya Alex merasa penasaran dan sedikit tersinggung.


"Tidak... Siapa juga yang membicarakan, tuan" ucap Anita mengelak.


"Benar tidak, tampan?" lanjut Anita mencari pembenaran pada anak kecil tersebut dengan senyuman manisnya.


Membuat anak tersebut hanya mengangguk dan ikut tersenyum melihat Anita yang ramah dan baik hati padanya.


"Dasar para pembohong" ucap Alex mengumpat di depan mereka sendiri. Namun dia tidak begitu ambil pusing. Segera Alex mengajak mereka untuk jalan dan pergi ke acaranya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2