
Siang harinya, masih seperti biasanya namun dengan terpaksa Anita harus pergi ke kantor Alex untuk mengantarkan makan siang Alex.
Hal itu sudah menjadi pekerjaan Anita sehari-hari yang harus dia lakukan mau tidak mau.
Sementara itu, Mbo Inah diam-diam menelpon Lolita setelah Anita pergi ke kantor tuannya.
Mbo Inah mengatakan semuanya yang dia tahu. Membuat Lolita yang mendengarnya tidak percaya bukan kepalang. Apalagi saat mendengar sikap daddynya yang di rasa Lolita kurang ajar pada sahabatnya tersebut.
"Hallo.. " sapa Mbo Inah saat di rasa sambungannya sudah terhubung.
"Hallo Mbo. Apa kabar" ucap Lolita pada Mbo Inah.
"Baik, non. Non sendiri bagaimana. Sehat-sehat saja kan di sana"
"Aku baik juga Mbo"
"Syukurlah kalau begitu. Begini non mengenai daddy non.... emm.... " ucap Mbo Inah tapi dia sedikit ragu dan takut salah bicara pada nona mudanya tersebut.
"Anu non... " ucap Mbo Inah masih belum berani berkata apa-apa.
"Aduh Mbo jangan bikin saya penasaran. Sudah katakan saja. Kenapa dengan Daddy. Apa Daddy sakit?"
"Bukan non.. bukan"
"Terus kenapa dengan Daddy?"
"Begini non, Mbo tidak sengaja melihat daddy non telah .. me...mencium nak Anita" ucap Mbo Inah terbata-bata, takut salah bicara.
"Apa, Mbo. Mbo beneran gak salah lihat" kaget Lolita merasa senang, saat mendengarnya dan sedikit memastikan kembali.
"Ya Tuhan... Daddy kau memang benar-benar Daddyku yang hebat. Langsung nyosor-nyosor aja" ucap Lolita merasa bangga dan senang dengan keberanian ayahnya dengan sedikit bercanda sebelum mendengar Mbo Inah berbicara lebih lanjut.
"I..iya, non. Tapi tuan malam tadi melakukan nya dengan paksa dan kasar, bahkan nak Anita sampai menggigit bibir tuan sampai berdarah. Nak Anita juga sampai berlari ketakutan dan menangis sepanjang malam hingga tadi pagi" adu Mbo Inah pada Lolita.
"Apa Mbo?" pekik Anita tak percaya bukan kepalang.
"Daddy melakukannya dengan paksa sampai membuat sahabatku menangis hingga berani menggigit bibir Daddy, begitu?" lanjut Lolita memastikan, tidak terima jika hal itu benar terjadi.
"I..iya non. Bukan hanya itu, sepertinya tuan juga dalam ke adaan yang tidak sadar. Mbo juga takut melihatnya sampai tidak berani untuk menolong nak Anita waktu itu. Bahkan setelah nak Anita kabur tuan malah tersenyum seperti penjahat, bikin Mbo merinding melihat tuan yang seperti itu" adu Mbo Inah jujur.
"Apa Mbo yakin?" tanya Lolita memastikan.
"Yakin seratus persen, non" ucap Mbo Inah meyakinkan.
"Kalau benar begitu, itu namanya Daddy telah bersikap kurang ajar pada sahabatku. Itu tidak bisa di benarkan. Walaupun Daddy adalah Daddyku sendiri, aku tidak bisa menerimanya, Mbo" ucap Lolita merasa marah pada sikap daddynya sendiri yang di ceritakan Mbo Inah padanya.
"Setuju non. Dan bukan hanya itu, non. Mbo juga melihat nak Anita tidak ada gelagat bahwa dia menyukai tuan Alex. Yang Mbo lihat sebelum-sebelumnya mereka malah terus-terusan berdebat sampai marah-marahan, seperti anak kecil, Mbo sendiri jadi bingung. Sebenarnya tuan menyukai nak Anita apa tidak, atau hanya sekedar ingin main-main saja dengan non Anita" ucap Mbo Inah mengatakan pendapatnya tentang Anita dan tuannya.
"Kalau begitu, Mbo harus terus memantau mereka, terutama Daddy. Jangan biarkan Daddy bersikap kurang ajar lagi, apalagi sampai melewati batasnya sebagai laki-laki. Kalau itu terjadi, Mbo pukul saja Daddy ku itu, jika dia berani-berani lagi melakukan hal yang memalukan lagi" ucap Lolita pada Mbo Inah.
Kemudian sambungan telpon pun terputus.
Lolita merasa ayahnya tersebut keterlaluan jika benar apa yang di katakan Mbo Inah padanya.
Meskipun dia setuju jika ayah dan sahabatnya memiliki hubungan yang serius tapi dia tidak ingin sampai ayahnya tersebut memaksa Anita untuk melakukan kehendaknya.
__ADS_1
Lolita ingin sahabatnya sendiri juga menerima ayahnya sebagai cinta sejati dalam hidupnya. Bukan dengan paksaan apalagi tekanan.
Malam hari pun tiba, Anita tidak lagi mengantarkan susu pada Alex. Dia sudah tidak perduli lagi, jika Alex akan menghukumnya atau marah-marah lagi padanya.
Dia sudah mulai tak bersemangat saat setiap kali pikirannya mengingatkan dia pada perlakuan kasar Alex waktu itu.
Namun saat Anita sedang merenungi nasibnya, tiba-tiba ada telpon masuk. Dilihatnya nomor tersebut tidak ada namanya, sehingga membuatnya tidak berniat untuk mengangkatnya.
Kemudian tiba-tiba ada pesan gambar masuk, di lihatnya nenek tercinta sedang terbaring tak berdaya.
Sontak hal itu membuat Anita terlonjak dari tempat tidurnya. Apa yang telah di lihat, membuatnya merasa khawatir pada neneknya. Hingga Anita melupakan kesedihannya sendiri.
Di lihatnya nomor tadi yang mengirimkan gambar neneknya tersebut.
Kemudian Anita memberanikan diri untuk menelpon nomor tersebut.
"Hallo.." ucap Anita dengan sedikit gemetaran takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada neneknya.
"Hallo... ponakan ku tersayang" ucap seseorang di ujung telpon dengan sok ramahnya.
"Papap...paman" ucap Anita merasa kaget.
"Kenapa kau tidak mengangkat telpon paman mu ini. Apa kau tidak menyimpan nomor telpon ku?" ucapnya masih dengan sok ramahnya.
"Tapi lupakanlah. Itu tidak penting" lanjutnya tidak berniat untuk lebih lama lagi berbasa-basi.
"Apa maksud, paman?" tanya Anita penasaran dengan rasa takutnya.
"Apa kau sudah menerima gambar nenek tua bangka itu?" ucapnya terdengar ramah namun dengan kata-kata yang terdengar kasar dan jahat.
"Yaah.... kau benar. Dia memang ibu kandungku, tapi aku tidak perduli itu" ucapnya begitu jahat.
"Jika kau perduli dengan nenek mu itu, datang lah malam ini juga ke sini, sendirian. Jika kau tidak datang, kau akan melihat gambar kuburan nenek mu yang tak berguna itu. Apa kau mengerti" lanjutnya mengancam, meyakinkan Anita untuk segera datang ke kampungnya dulu.
"Baik paman. Aku akan pulang malam ini juga. Tapi paman, jika terjadi apa-apa pada nenekku aku pastikan paman tidak akan melihatku yang seperti dulu" ucap Anita pada pamannya dan sedikit memberi tahu jika dirinya tidak akan tinggal diam kalau sampai terjadi sesuatu pada neneknya.
Kemudian Anita pun segera menutup telponnya. Untuk segera bersiap-siap meninggalkan rumah tersebut. Tanpa berpikir panjang apa yang akan nanti terjadi padanya.
Sementara itu di ujung telpon, terlihat pamannya sudah menutup telponnya sambil berkata.
"Dasar anak kurang ajar, beraninya kau mencoba menggertak ku. Kau tidak tahu saja kalau nenek mu itu sudah lama meninggal. Tapi bagus lah, untung saja aku sempat mefoto nenek tua bangka itu saat sedang sakit. Rupanya ide ku tidak sia-sia untuk membuat Anita datang kemari dengan mudah. Jadi aku bisa membayar hutangku pada tuan Wiguna keparat itu" ucapnya panjang lebar berbicara sendiri.
"Aww... sial" pekiknya saat merasa bibirnya terasa perih karena terkena tonjokan orang.
"Gara-gara Wiguna sialan itu tidak bisa bersabar, aku jadi babak belur begini di hajar anak buahnya" ucapnya marah pada orang yang telah berani menghajar wajah dan tubuhnya.
Sementara itu di rumah Alex, dia tadinya hendak meminta maaf atas apa yang telah di lakukannya pada Anita.
Namun saat ingin mengetuk pintu kamar Anita yang sedikit terbuka, diam-diam Alex mendengar percakapannya dengan seseorang yang di dengarnya dengan sebutan paman.
Dan Alex juga mendengarnya dengan suara yang bergetar dan terdengar ketakutan. Membuatnya enggan untuk beranjak dari balik pintu kamar Anita.
Dan saat Anita ingin keluar dari kamarnya dengan cara mengendap-endap, Alex sudah berada di samping dinding pintu kamarnya.
Anita masih tidak sadar kalau Alex sedang melihatnya menutup pintu kamarnya pelan-pelan. Hingga saat Anita berbalik dan hendak melangkah kan kakinya tiba-tiba Alex bersuara mengagetkannya.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" ucap Alex dengan menyilangkan tangan di dadanya sambil bersender di tembok kamar Anita dengan pura-pura tidak mendengar apapun sebelumnya.
"Aaah .." kaget Anita saat mendengar suara Alex dan melihat orangnya sudah berada di hadapannya.
"Apa kau mau kabur dari rumah ini?"
"Kenapa. Apa tuan masih takut aku tidak akan membayar hutangku?" tanya Anita balik, tidak perduli ketahuan Alex bahwa dia hendak kabur malam ini.
"Yaah... tentu saja" ucap Alex santai.
"Ta.. tapi tuan. Tolong izinkan saya untuk sekali ini saja. Saya janji, saya akan segera kembali setelah selesai dari urusan saya, saya mohon" ucap Anita mendadak lupa bahwa dia sedang marah pada Alex.
"Baiklah, aku akan mengizinkan mu"
"Terima kasih, tuan" ucap Anita merasa lega, sambil berbalik dan hendak pergi sebelum mendengarkan Alex lebih lanjut.
"Eehhh... tunggu. Aku belum selesai bicara" ucap Alex sambil menarik tangan Anita.
Namun karena Alex terlalu bertenaga menarik tangan Anita membuatnya berhadapan kembali dengan Anita terlalu dekat.
Anita yang tiba-tiba menubruk dada Alex, membuatnya harus menengadah dan melihat Alex dari dekat. Membuat mereka berdua kembali saling menatap satu sama lain.
Tapi tidak sampai lama mereka langsung melepaskan diri saat mengingat kejadian waktu itu.
Keduanya saling membelakangi satu sama lain, merasa malu pada diri sendiri.
Kemudian Alex mulai berbicara kembali.
"Ka..kau boleh pergi, tapi aku harus ikut bersamamu" ucap Alex gelagapan saat barusan menatap Anita intens.
"Apa, tuan" pekik Anita merasa kaget sambil berbalik menghadap Alex, membuatnya lupa dengan apa yang baru saja terjadi.
"Apa maksud tuan, kenapa tuan harus ikut dengan saya?" ucap Anita merasa tidak terima sambil membalikan tubuh Alex untuk melihatnya.
"Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin ikut denganmu, supaya kau tidak lari kemana-mana setelah kau menyelesaikan urusan mu itu" ucap Alex beralasan.
"Tapi tuan" ucap Anita hendak menolak.
"Sudah cukup. Kau ingin pergi atau tidak. Kalau tidak, kau bisa kembali ke kamar mu" ucap Alex banyak memaksa.
"Baiklah. Tuan boleh ikut dengan ku" ucap Anita terpaksa menerima.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan tuan di kantor?" tanya Anita berusaha membuat Alex berubah pikiran.
"Itu tidak perlu kau pikirkan" ucap Alex pada Anita.
"Apa gunanya aku punya Rafi sebagai asisten pribadiku kalau dia tidak bisa mengerjakan tugas yang aku berikan" lanjut Alex menjelaskan.
"Yahh.. baiklah. Terserah tuan saja. Tapi ingat saat disana, tuan jangan banyak komplen apalagi mengeluh pada saya" ucap Anita dan sedikit memberi tahu.
"Tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri" ucapnya meyakinkan.
"Siapa juga yang mengkhawatirkannya. Dasar bodoh" ucap Anita dalam hati sambil meledeknya, berpikir Alex salah paham dengan kata-katanya.
Kemudian mereka pun segera keluar dan hendak pergi menuju kampung Anita.
__ADS_1