Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Berlomba


__ADS_3

Kemudian para guru yang mengenali Alex segera mempersilahkannya duduk lebih dulu dan nampak di perlakukan berbeda dengan yang lainnya.


Lalu acara pun di mulai, rupanya acara tersebut bermaksud untuk mendekatkan kebersamaan anak-anak dengan para orang tuanya.


Tentu hal tersebut di manfaatkan Alex dengan sebaik mungkin untuk lebih dekat dengan Anita dan juga anak laki-lakinya.


Alex tidak mengira acara tersebut dapat membuatnya merasa senang dan betah seperti saat ini.


Sebelumnya dia tidak pernah berlama-lama dalam acara seperti itu, apalagi harus meninggalkan pekerjaan kantor nya.


Namun entah karena ada Anita dan anaknya atau karena hal lain. Tapi yang jelas saat ini Alex menikmati hari bersama anak dan istrinya.


Kemudian acara pun berlanjut pada lomba lari yang mengharuskan kedua orang tua dengan kaki yang sama-sama di ikat.


Sementara anak-anak berlari untuk memberikan sebuah tongkat pada kedua orangtuanya untuk menyelesaikan lomba tersebut.


Alex tidak tahu kalau acaranya akan ada sesi tersebut dan begitu pun dengan Anita. Mereka tidak membawa pakaian ganti olah raga.


Namun kepala sekolah yang melihatnya, segera menghampiri Alex dan keluarganya tersebut.


"Tuan... kenapa masih belum berganti pakaian?" ucap pak kepala sekolah bertanya pada Alex.


Sementara Alex merasa bingung, dia sendiri baru tahu tadi pagi saat sarapan kalau di sekolah anaknya ada acara bersama orang tua.


Dan Anita yang juga terdiam ikut merasa bingung. Dia mengira acara olahraga nya hanya untuk anak-anak sehingga Anita hanya menyiapkan baju olah raga untuk anaknya saja.


Terlebih dia mengira sebelumnya Alex tidak akan ikut bersama.


Kemudian Anita mulai berbicara dan menyuruh anaknya untuk tidak usah mengikuti lomba tersebut.


"Maaf pak, kami tidak sempat membawa pakaian ganti olah raga" ucap Anita pada pak kepala sekolah.


"Sayang... kamu tidak apa-apa kan tidak ikut lombanya?" lanjut Anita berbicara pada anaknya yang sudah berganti pakaian.


Namun mendengar ucapan ibunya seperti itu, tiba-tiba membuat Alexa nampak bersedih dan menundukkan kepalanya.


Sementara Alex yang melihat hal tersebut, tidak tega membuat anaknya bersedih seperti itu.


"Tidak apa-apa sayang, Daddy akan tetap ikut bersama mu dengan pakaian seperti ini" ucap Alex mencoba membuat anaknya bersemangat kembali.


"Tapi kalau hanya Daddy yang ikut tidak akan bisa. Karena lomba itu mengharuskan kedua orang tua yang berlari dengan mengikat kedua kaki mereka. Dan kalau berhasil, baru di bisa di sebut pemenang" ucap Alexa memberitahu dan kembali menundukkan kepalanya merasa sedih.


"Apa-apaan itu. Siapa yang membuat persyaratan konyol seperti itu?" ucap Alex merasa kesal.


Membuat kepala sekolah sedikit ketakutan mendengar Alex merasa kesal seperti itu. Tidak hanya sebagai tamu kehormatan tapi sebenarnya Alex juga pemilik sekolah mewah tersebut.


"Sudah cukup... tidak perlu kesal seperti itu. Aku juga akan ikut" ucap Anita tidak ingin membuat anaknya kembali bersedih.


"Mamah serius, mamah akan ikut lomba bersama kami?" ucap Alexa nampak kembali bersemangat.

__ADS_1


"Tentu saja sayang. Asalkan kamu tidak lagi bersedih" ucap Anita pada anaknya tersebut.


"Horeee... " teriak Alexa merasa senang.


"Tapi mamah tidak tahu, apa sekolah mengijinkan kami untuk tetap menggunakan pakaian seperti ini untuk tetap berlomba?" ucap Anita berharap pak kepala sekolah melarang mereka dengan pakaian seperti yang mereka kena saat ini, sehingga Alexa mendengar sendiri kalau pihak sekolah yang melarangnya.


"Oh itu... Anda tenang saja... Kami sudah menyiapkan pakaian olah raga untuk para orang tua yang tidak sempat membawa pakaian olah raga. Kami sudah mengantisipasi masalah itu" ucap pak kepala sekolah dengan antusias.


"Apa?... Masalah pakaian seperti ini saja mereka sudah mengantisipasinya?" ucap Anita dalam hati, merasa tidak menyangka dengan hal tersebut.


"Kalau begitu tunggu sebentar" ucap kepala sekolah dan segera menyuruh seseorang untuk membawakan pakaian olah raga untuk Anita dan Alex.


Kemudian tidak lama setelah itu, kepala sekolah segera memberikan pakaian ganti olah raga pada mereka.


"Silahkan tuan, anda dapat berganti pakaian di sana. Tapi maaf, kalian harus segera cepat-cepat berganti pakaian karena sebentar lagi giliran Alexa yang harus ke depan" ucap pak kepala sekolah sedikit takut karena harus memberitahu Alex untuk cepat-cepat.


"Nama Alexa sudah di panggil" lanjut pak kepala sekolah sambil menunjuk ke atas saat mendengar nama Alexa terus di panggil.


Sementara Alex yang masih merasa kesal segera mengambil pakaiannya dengan wajah tak bersahabat nya itu.


Kemudian Alex dan Anita segera menuju tempat ganti yang sudah di sediakan pihak sekolah agar para anak-anak dan orang tua yang mengikuti lomba tersebut tidak harus jauh-jauh ke dalam toilet yang berada di dalam sekolah.


Namun sayangnya tempat ganti hanya di sediakan dua saja, mengingat para orang tua dan anak-anak TK di tempat tersebut tidak begitu banyak.


Dan entah kebetulan atau tidak, salah satu tempat ganti sudah di isi orang lain. Membuat Anita harus menunggu lebih dulu.


Namun Alex yang mengingat nama anaknya sudah di panggil dari tadi, mencoba untuk mengingatkan Anita untuk segera berganti pakaian.


"Sudah... lebih baik kau ikut masuk dengan ku" ucap Alex sambil menarik tangan Anita untuk masuk bersamanya berganti pakaian.


"Apa?. Enak saja. Aku tidak mau" ucap Anita sambil berusaha melepas tangannya.


Dia berpikir bagaimana mungkin dia harus berganti pakaian dalam satu ruangan yang sama dengan Alex.


"Ya sudah terserah. Kalau kau ingin melihat anakmu itu bersedih lagi karena gagal mengikuti lomba itu karena kita terlambat datang" ucap Alex mengingatkan Anita.


"Lagi pula kita kan masih sah menjadi suami istri. Jadi kenapa harus takut dengan pikiran orang lain" lanjut Alex yang mengira Anita memikirkan omongan orang lain terhadap nya.


Membuat Anita merasa serba salah dan akhirnya memilih masuk mengikuti Alex ke dalam ruangan yang sempit tersebut.


"Aah... " ucap Anita merasa kaget saat dia masuk dan melihat Alex sudah membuka pakaian atasnya.


"Diam... kau bisa membuat orang yang mendengar salah paham pada kita" ucap Alex yang langsung menutup mulut Anita secara tiba-tiba saat mulai mendengar teriakannya.


"Tadi dia bilang tidak perlu memikirkan pikiran orang lain. Sekarang dalam sekejap, dia merasa takut dengan kesalah pahaman orang lain. Dasar tidak punya pendirian" ucap Anita dalam hati saat dirinya sedang di tutup mulut nya lalu kemudian segera menginjak kaki Alex yang juga menekannya ke dinding ruangan tersebut.


Membuat Alex segera melepaskan tangannya dan berbalik menahan rasa sakit di kakinya. Namun karena ruangannya yang begitu sempit membuat kepala nya sedikit terbentur dan sedikit berteriak saat dia berbalik melepaskan Anita.


Sementara itu orang yang di ruang sebelah mulai keluar namun sesaat terhenti karena lagi-lagi mendengar sedikit teriakan dari ruangan ganti sebelahnya.

__ADS_1


Namun tidak lama orang tersebut segera pergi dari tempat tersebut.


"Kau.. kenapa menginjak kakiku?" ucap Alex merasa kesakitan dan hendak berbalik kembali melihat Anita.


"Berhenti... jangan berbalik. Aku mau ganti pakaian" ucap Anita segera menghentikan Alex yang hendak berbalik.


"Lagian... suruh siapa mengajakku. Sudah tahu sempit begini. Jadinya kita sulit bergerak kan?" lanjut Anita berbicara pada Alex sambil buru-buru mengganti pakaiannya.


Namun orang selanjutnya yang hendak ingin berganti dan masuk ke ruang yang kosong mendadak mendengar ucapan Anita dan merasa ambigu dengan apa yang di ucapkan Anita tersebut.


"Ya Tuhan... apa orang sekarang sudah tak bermoral. Meskipun suami istri, apa tidak ada tempat yang lebih baik untuk melakukannya selain disini. Bagaimana kalau anak-anak yang mendengar nya?. Dasar..." ucap seorang ibu-ibu saat mendengar ucapan Anita yang di pikirnya sedang melakukan yang tidak-tidak, dan mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian di tempat tersebut.


Kemudian setelah beberapa saat Anita dan Alex pun segera keluar dan segera menemui anaknya yang sudah bersiap di garis awal.


"Daddy... Mamah... kenapa lama sekali?" ucap Alexa saat melihat kedua orang tuanya sudah selesai berganti pakaian.


"Maafkan kami sayang" ucap Anita pada anaknya.


"Maaf tuan, nyonya... Apakah kalian orang tuanya Alexa?" ucap seorang panitia pada Alex dan Anita yang di jawab anggukan oleh mereka.


"Kalau begitu, kalian harus bersiap di sana. Nanti selanjutnya panitia di sana akan mengikat salah satu kaki kalian dan mengingatkannya secara bersama-sama. Sekarang kalian silahkan ke sana" ucap seorang Panitia kembali memberi tahu dan menunjukkan mereka pada orang tua murid lain yang sudah bersiap di tempat.


Kemudian Anita dan Alex pun segera mengikuti arahan panitia tersebut.


Lalu saat Anita dan Alex sudah bersiap di tempat yang di tunjukan panitia, tiba-tiba salah satu kaki mereka masing-masing mulai di ikat.


Membuat mereka nampak canggung dan harus berdekatan satu sama lain.


Kemudian lomba pun segera di mulai, di awali dengan Alexa yang berlari bersama dengan anak-anak lainnya yang saling kejar mengejar untuk memberikan tongkat pada kedua orangtuanya masing-masing.


Sedangkan yang lainnya berusaha memberi semangat pada mereka yang sedang berlomba.


Alexa nampak semangat dan berlari menghampiri kedua orangtuanya. Sementara Alex dan Anita masih belum siap untuk menyeimbangkan langkah mereka bersama.


Sementara Alexa sudah cepat mengejar anak-anak lainnya dan memberikan tongkat tersebut pada kedua orangtuanya masing-masing.


Tapi Anita masih merasa gugup saat harus dekat-dekat dengan Alex.


Dan tongkat pun sudah di terima oleh Alex, sementara orang tua murid lain juga cukup terlihat kesulitan untuk menyeimbangkan pergerakan dan langkah mereka.


Melihat hal tersebut, Alex langsung segera menarik pinggang Anita dengan erat supaya dia dapat menyeimbangkan langkahnya dan membuat Anita tidak lagi kesulitan bergerak bersamaan dengannya.


Sementara Alexa yang melihat pergerakan langkah kedua orangtuanya, mulai meneriaki mereka untuk terus semangat sampai finis.


kemudian untuk sesaat Anita menatap Alex yang sedang fokus mengejar orang tua lain untuk mendahului mereka.


Beruntung Anita dapat mengikuti langkah Alex dan hingga pada akhirnya mereka dapat berjalan dengan cepat secara seimbang dan membuat kemenangan untuk Alexa dan dirinya masing-masing.


Dan saat mengetahui bahwa dirinya dan Alex menjadi juara lomba tersebut, tiba-tiba Anita merasa senang dan segera memeluk Alex dengan gembira lalu tanpa sadar mencium pipi Alex dengan dalam.

__ADS_1


Membuat Alex seketika terdiam dan tidak menyangka bahwa Anita akan melakukan hal itu di depan orang banyak.


Sementara Anita, sadar atau tidak telah mencium Alex, namun dirinya masih nampak terlihat bergembira bersama anaknya berjingkrak-jingkrak.


__ADS_2