Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Bentakan Alex


__ADS_3

Sementara Anita terus tersenyum, Alex dengan santai menikmati makan siangnya sambil ikut tersenyum melihat kepatuhan Anita padanya.


Namun beberapa menit kemudian, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari perut seseorang.


Alex yang mendengarnya merasa bingung, dia melihat ke arah perutnya sendiri, namun dia sedang makan tentu itu bukan berasal dari perutnya.


Kemudian tiba-tiba terdengar lagi, lalu Alex melihat ke arah Anita. Dilihatnya Anita masih terus tersenyum karena dia sendiri yang meminta Anita untuk tetap tersenyum sampai dia selesai makan.


Lalu dia melihat ke arah perut Anita, dilihatnya Anita sedang menekan-nekan perutnya sendiri sambil tetap tersenyum. Rupanya suara gemuruh tadi berasal dari perut Anita yang ternyata dia juga sedang kelaparan.


Mengingat tadi, Anita baru makan dua suapan tentu itu tidak membuatnya merasa kenyang.


Lalu, Alex yang merasa kasihan menyuruh Anita untuk ikut makan bersamanya.


"Perutmu berisik sekali. Makanlah bersamaku" ucap Alex sinis namun juga menyuruh Anita untuk makan bersamanya.


"Ti.." ucap Anita belum selesai, namun mata Alex sudah mulai memerintahkannya untuk makan kembali bersamanya.


Kemudian Anita pun terpaksa menuruti kembali perintah Alex.


Dengan tetap tersenyum, akhirnya Anita makan siang bersama dengan Alex. Tanpa ada bicara sama sekali, mereka mulai menikmati makanan mereka masing-masing sampai habis.


Hingga akhirnya mereka selesai makan siang bersama. Namun tiba-tiba tanpa sengaja, setelah selesai makan, Anita mengeluarkan suara sendawa membuatnya merasa malu sendiri dan langsung menutup mulutnya, juga membuat Alex kembali mengomel lagi.


"Kau ini gadis atau apa. Tidak ada malu-malunya bersendawa di depanku...groaak" ucap Alex dengan wajah dinginnya saat mendengar suara sendawa Anita tapi juga di akhiri dengan sendawa dia sendiri tanpa sengaja.


Membuat Anita merasa terkejut dan sedikit tersenyum lalu menggelengkan kepalanya saat mendengar Alex sendiri bersendawa di hadapannya.


"Kau tidak perlu melihatku sepertiku. Aku wajar, aku laki-laki" ngeles Alex saat menyadari bahwa dirinya juga ikut bersendawa tanpa berani melihat ke arah Anita lagi.


"Sudah cepat bereskan rantangnya!" perintah Alex mencoba mengalihkan situasi, merasa malu telah menelan ludahnya sendiri dengan tetap menghindari tatapan Anita langsung.


Kemudian Anita pun segera membereskan tempat makanan yang isinya sudah habis dimakan berdua.


Setelah selesai membereskan rantangnya, kemudian Anita berniat untuk beranjak pergi kembali pulang ke rumah Alex.


"Kalau begitu saya pamit pulang, tuan" ucap Anita sambil berdiri merasa sudah beres melakukan tugasnya.


Namun Alex yang melihat Anita berdiri dan hendak pergi, segera menghentikannya.


"Eehhh tunggu. Memangnya siapa yang menyuruh mu untuk pergi, hah?" pekik Alex masih dengan nada sinisnya.


"Tapi tuan. Bukannya pekerjaan saya sudah selesai disini?" ucap Anita mencoba membantah.


"Apanya yang sudah selesai, itu tadi baru makan siang. Kau tetap harus melakukan hal yang lainnya. Seperti membuatkan aku kopi atau memijat punggungku saat aku mulai merasa lelah bekerja" ucap Alex berusaha untuk tidak membiarkan Anita pergi begitu saja.


"Tapi tuan..."ucap Anita hendak kembali membantah.


"Kau ini kan asisten pribadiku. Harus siap melayaniku setiap saat. Apa kau tidak membaca surat kontraknya, huh?" ucap Alex masih dengan nada tingginya berpura-pura marah agar Anita tidak terus-terusan membangkangnya.

__ADS_1


"Tapi kalau aku sudah menyelesaikan tugasku, apa aku bisa pergi dari sini" ucap Anita sedikit bernegosiasi.


"Yahh tentu saja. Tapi kalau kau sudah benar-benar menyelesaikan tugasmu" ucap Alex sedikit pelan namun kembali tegas.


Lalu, saat Alex selesai bicara. Tiba-tiba nada dering pesan Anita terdengar, segera Anita merogoh tasnya dan mengambil hpnya tersebut.


Kemudian di lihatnya pesan masuk tersebut yang berasal dari Raja.


Mengingat hari ini dia tidak masuk kerja dan tidak memberi kabar sama sekali, tentu hal itu membuat Raja merasa khawatir dan bertanya-tanya tentang ke adaan Anita.


Namun saat Anita membalas pesan tersebut dan hendak menelpon Raja untuk sekedar memberi kabar, tiba-tiba Alex menghentikan Anita dan melarangnya.


"Tunggu. Kau mau menelpon siapa?" tanya Alex saat melihat Anita hendak ingin menelpon seseorang.


"Azza, tuan" ucap Anita polos.


"Azza?" tanya Alex heran, merasa belum pernah mendengar nama tersebut.


"Siapa Azza?" tanya Alex penasaran dan sedikit tidak suka saat Anita mengucapkan nama tersebut yang di pikir Alex pasti itu nama seorang laki-laki.


"Maksud saya Raja, tuan" ucap Anita menjelaskan dan hendak melanjutkan panggilannya.


Kemudian Alex pun membiarkan Anita untuk berbicara pada Raja.


Namun melihat Anita yang begitu akrab dan hanya memanggil Raja dengan sebutan Azza yang di pikirnya pasti itu panggilan sayang Anita pada Raja.


"Apa-apaan dia itu. Apa dia sengaja memanas-manasiku. Pake manggil Raja dengan sebutan Azza, lagi. Dia bahkan tidak pernah memanggilku dengan lembut seperti itu" ucap Alex menggerutu dalam hati saat melihat Anita terlihat begitu akrab.


Alex merasa panas dan tidak suka padahal dia sendiri tahu, Anita bukan siapa-siapanya.


"heehh... sudah cukup, matikan handphonenya. Kau ini masih bekerja disini, dimana-mana kalau orang sedang bekerja tidak boleh membawa handphone apalagi enak-enakan bicara di telpon, di depan bos lagi" ucap Alex menghentikan pembicaraan Anita dan Raja, tidak tahan melihat ke akraban mereka di telpon.


Lalu tanpa perduli melihat Anita yang kaget saat handphonenya di ambil paksa oleh Alex. Segera Alex mematikan telephonnya dan menyita hp tersebut dari tangan Anita.


"Handphone mu aku sita sampai kau benar-benar selesai melakukan pekerjaan mu untuk ku. Mengerti!" ucap Alex dengan wajah kesalnya, namun tidak membuat Anita merasa takut.


"Tapi tuan, saya belum selesai bicara" ucap Anita pada Alex.


"Aku tidak perduli. Sekarang kau buatkan aku kopi. Cepat pergi ke pantri, sekarang" kesal Alex pada Anita dengan sedikit membentak, supaya Anita tidak lagi melawannya.


"I...iya baik, tuan" ucap Anita tiba-tiba merasa takut saat Alex menyuruhnya dengan sedikit membentak padanya.


"Ta.. tapi, tuan" ucap Anita terbata-bata.


"Apalagi?" bentak Alex, lagi.


"Tempat pantrinya, dimana?" ucap Anita pelan memberanikan diri, meski nampak terlihat takut saat Alex terus membentaknya.


"Tanya saja pada Sonia" bentak Alex masih belum bisa meredam emosinya.

__ADS_1


Membuat Anita tidak lagi berani untuk bertanya pada Alex.


"Ba.. baik, tuan" ucap Anita terbata-bata sambil segera pergi meninggalkan Alex dengan membiarkan handphonenya di pegang oleh Alex.


Kemudian Anita pun segera menutup pintu ruangan Alex. Sesaat membuatnya menarik nafas lega saat sudah keluar dari ruangan tersebut.


Membuat Anita merasa heran dan bertanya-tanya. Bagaimana Alex tiba-tiba marah dan terus membentaknya berkali-kali.


"Ya Allah..." ucap Anita sambil menepuk dadanya rewas alias kaget, saat sudah keluar namun masih berada di dekat pintu ruangan Alex.


"Dia itu aneh sekali. Kenapa dia tiba-tiba marah-marah dan membentak ku terus menerus seperti itu" ucap Anita pelan merasa heran dengan sikap Alex yang seperti itu.


"Aduh... mana handphoneku di sita olehnya lagi.. huhf. Ya sudahlah" lanjut Anita berimprovisasi sendiri.


"Lebih baik aku segera membuatkannya kopi, sebelum aura harimaunya kembali masuk kedalam tubuhnya.. hiihh... menyeramkan" seloroh Anita saat mengingat kemarahan Alex tadi padanya dan sedikit membuat Anita bergidik ngeri mengingatnya.


Lalu Anitapun segera beranjak dari depan pintu ruangan Alex untuk mencari pantri tempat untuk membuat kopi.


Namun sebelum itu dia harus bertanya terlebih dahulu pada Sonia untuk menanyakan posisi tempat pantri tersebut.


Tapi Anita merasa ragu-ragu untuk bertanya pada Sonia, mengingat Sonia terlihat begitu membenci dirinya.


Bahkan Anita sendiri tidak tahu pasti apa yang membuat Sonia begitu membencinya. Padahal Anita sendiri tidak pernah mengadukannya pada Alex atas apa yang telah di lakukan Sonia waktu lalu.


Namun begitu, Anita tetap harus mencoba bertanya pada Sonia.


Perlahan Anita memberanikan diri menghampiri tempat duduk Sonia bekerja. Namun tatapan tidak suka sudah nampak di wajah Sonia sebelum Anita dapat bertanya di hadapannya.


Tatapan tajam Sonia seakan ingin menghunus jantung Anita. Membuatnya ragu-ragu untuk terus mendekati Sonia. Namun kembali Anita memberanikan diri dan mulai berkata pada Sonia.


"M...mba" ucap Anita pelan-pelan saat sudah berada di hadapan Sonia.


"Mba...mba... memangnya aku menikah dengan Masmu" pekik Sonia sinis dengan wajah juteknya.


"Ada apa?" lanjut Sonia dengan suara ngegasnya terpaksa bertanya dan meladeni Anita.


Membuat Anita diam-diam merasa kesal juga dan menggerutu dalam hati.


"Ya Tuhan... Tidak bos tidak sekertaris keduanya benar-benar gede ambek alias pemarah. Kalau Tuhan menjodohkan mereka, pantas, cocok, dua-duanya pemarah. Pasti seru kalau dapat melihat mereka berdua sedang marah-marah. Pasti saling menggonggong satu sama lain... wkakakak" ucap Anita dalam hati sambil berpikir seloroh tentang Alex dan Sonia dengan diakhiri cekikikannya, tanpa Anita sadari.


Membuat Sonia yang mendengar cekikikannya merasa tersinggung dan mulai mengeluarkan bola matanya.


"Heeh... kenapa kau malah tertawa seperti itu. Apa kau sedang memikirkan yang tidak-tidak tentangku.. hah?" pekik Sonia merasa tersinggung dengan cekikikan Anita.


"Ti...tidak. Maaf bukan maksudku" ucap Anita terbata-bata sambil menutup mulut dari tertawanya yang tidak sengaja keluar saat memikirkan yang tidak-tidak tentang Alex dan Sonia.


Lalu tanpa bertanya lebih lanjut pada Sonia, buru-buru Anita pergi dan menghindari amukan Sonia yang terlanjur sudah membuatnya tersinggung, tanpa tahu dia harus ke arah mana untuk menemukan pantri yang sedang di carinya.


"Sialan... berani-beraninya gadis kampung itu menertawakan aku. Belum tahu dia sedang berhadapan dengan siapa" ucap Sonia setelah melihat Anita kabur menghindari amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2