Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Gerah?


__ADS_3

"Pak... pak Amin" panggil Anita merasa tidak ada sautan, kemudian berbalik melihat keadaan.


"Pak. Pakpakpak aaaahhh....." panggil Anita berniat menegur pak Amin yang tidak ada sautan darinya, kemudian merasa kaget dan berteriak saat melihat Alex sudah berada dekat di hadapannya hingga membuatnya menyebut pak dengan cepat dan berkali-kali.


Dan tanpa sengaja sayuran pakcoy yang sudah di pretel dan sedang di cuci olehnya terlepas dan sedikit terlempar ke wajah Alex saking Anita merasa kaget melihatnya.


Sementara Alex, wajahnya yang terkena lemparan pakcoy dan percikan air yang menempel di wajahnya hanya terdiam dengan menampakkan wajah dingin dan sorot mata yang tajam pada Anita.


"Ehh... tuan. Su..sudah pulang?" ucap Anita mencoba biasa saja meski terdengar masih terbata-bata.


Kemudian Anita melihat wajah Alex yang terkena percikan air di wajahnya, segera dia mengelapnya dengan lengan baju panjang nya yang dapat melar jika dia tarik. Dengan ragu-ragu dan rasa takut, Anita segera pelan-pelan mengelap wajah Alex yang terlihat masih menatapnya dingin.


"Ma... maaf pak. Saya tidak sengaja" ucap Anita terbata-bata sambil pelan-pelan mengelap wajah Alex membersihkannya dari percikan air yang tidak sedikit.


Namun karena tinggi badan Anita yang cukup pendek di bandingkan Alex. Membuatnya terlihat harus berjinjit untuk mengelap wajah Alex.


Sementara itu Alex hanya bisa diam menahan emosinya dan tetap menatap Anita dingin.


Namun karena Anita mengelap dengan lengan bajunya dan terus-terusan dia tarik sendiri untuk mendapatkan kainnya yang masih kering, tanpa sengaja Anita sedikit mengekspos leher jenjangnya yang nampak mulus nan menggoda.


Dan hal itu tanpa sengaja terlihat oleh Alex hingga membuatnya menelan salipanya cepat sambil menggerutu di dalam hati.


"Apa-apaan dia ini. Apa dia sengaja memperlihatkannya padaku. Supaya aku tidak lagi marah-marah dan memaafkannya, begituh?" gerutu Alex dalam hati menerka-nerka dengan apa yang telah di lihatnya.


"Hhah.. murahan sekali kalau niat dia seperti itu. Tidak... enak saja. Aku tidak akan tergoda dengan hal seperti itu" ucap Alex dalam hati, berpikir yang tidak-tidak tentang Anita.


"Ta...tapi. Leher jenjangnya mulus sekali" lanjut Alex dalam hati, malah menikmati apa yang sedang dia lihat dari Anita.


Sementara itu tiba-tiba Anita malah hendak terjatuh dan menubruk dada bidang Alex karena terus-terusan berjinjit setiap kali ingin mengelap air yang masih membasahi wajah Alex. Dan tanpa Anita sadari tadi, bahwa leher jenjangnya sedang di pantau terus oleh Alex.


Sementara Alex yang menerima tubrukan di dada bidangnya secara tiba-tiba dan tanpa sengaja membuatnya memeluk Anita dan membuat mereka terlihat seperti sedang saling berpelukan.


Namun Anita yang rewas alias kaget tiba-tiba hendak terjatuh dan malah di peluk Alex, membuatnya spontan menengadah ke atas melihat wajah Alex yang masih terus menatapnya.

__ADS_1


Sehingga dalam waktu sesaat membuat mereka kembali saling bertatap-tatapan.


Anita yang menyadari hal itu di rasa tidak nyaman, segera menyebut tuan pada Alex untuk melepaskan pelukannya.


"Tu..tuan" ucap Anita hendak melepaskan pelukannya dari Alex.


"Tuan" ucap Anita sekali lagi, tidak ada pergerakan dari Alex.


"Tuan. Bisakah anda melepaskan tangan anda dari pelukan ini?" pekik Anita mencoba menyadarkan Alex yang sedang terpesona oleh Anita.


Dan usaha Anita berhasil, membuat Alex sedikit kaget saat menyadari dirinya sedang memeluk Anita erat.


Namun hal itu malah membuat Alex menuduh Anita sengaja menggoda dirinya. Padahal dia sendiri yang mencuri-curi pandang terus menatap leher jenjang Anita.


"Hheh... kau sengaja menggodaku, ya. Supaya aku tidak jadi marah-marah, karena kau sudah ketahuan menjelek-jelekkan aku. Benarkan?" pekik Alex menuduh Anita saat dia sudah melepaskan pelukannya sambil berpura-pura membenarkan kerahnya.


"Ti..tidak, tuan. Bagaimana mungkin aku menggoda tuan" ucap Anita terbata-bata merasa kaget apa yang telah di tuduhkan Alex padanya, sambil menyilang-nyilangkan kedua tangannya di hadapan Alex.


Alex yang terus melihat hal tersebut membuatnya terus-terusan menelan salipanya dan semakin membuatnya merasa gerah.


"Aaah... sudah cukup. Kau mengelak terus, membuatku tambah gerah saja" ucap Alex merasa sudah tidak tahan melihat Anita terus seperti itu.


"Sudah cepat kau buatkan aku makan malam" pinta Alex berusaha mengalihkan pandangannya dan segera keluar dari dapur tersebut.


Namun membuat Anita merasa heran, saat Alex mengatakan 'tambah gerah'. Sementara yang dia rasakan, AC di ruangan tersebut justru terlalu dingin untuknya.


"Gerah?" ucap Anita merasa heran, setelah melihat Alex keluar dan benar-benar pergi meninggalkannya sendiri di tempat.


"Gerah apanya. Orang AC nya dingin begini. Aneh dia" lanjut Anita berbicara sendiri.


Kemudian Anita hendak memungut dan mengumpulkan beberapa daun pakcoy yang tadi tanpa sengaja terlepas dan terlempar dari tangannya sendiri.


Namun pada saat Anita hendak mengambil daun tersebut, di lihatnya ujung lengan bajunya sendiri masih di genggam oleh tangannya.

__ADS_1


Membuatnya pelan-pelan melihat ujung lengan tersebut sampai ke lehernya. Dan sontak membuatnya kaget dan merasa malu sendiri. Karena dia baru sadar apa yang telah dia lakukan pada Alex tadi, dia merasa takut kalau Alex sampai melihat tubuhnya yang seperti itu.


"Aaahh" kaget Anita sontak membuatnya kembali berdiri dan membenarkan bajunya yang masih nampak terekspos.


"Astaghfirullah... Lailahaillalloh.. Anita!!" ucap Anita beristighfar merasa malu dan takut Alex sudah melihat pakaiannya yang seolah-olah seperti hendak menggoda seorang laki-laki.


"Kau ini. Bagaimana kau tidak sadar dengan pakaianmu tadi" ucap Anita lirih merasa kesal pada dirinya sendiri karena ceroboh seperti itu.


"Pantas saja, dia tadi menuduhku ingin menggodanya, ternyata... " ucap Anita tanpa berani menyelesaikan kalimatnya sambil melihat kembali pakaiannya yang di pikirnya tidak senonoh dan merasa bertambah malu saat mengingat apa yang tadi di ucapkan Alex padanya.


"Aduuh bagaimana ini. Aku pasti malu sendiri kalau sampai berhadapan dengannya nanti" ucap Anita merasa takut jika sampai berhadapan lagi dengan Alex nanti karena merasa malu.


"Tidak, tidak..... Aku harus berpura-pura tidak menyadari hal ini. Supaya aku bisa menghadapinya dengan normal normal saja" ucap Anita meyakinkan dirinya sendiri.


"Tapi tetap saja, aku sudah menyadari hal itu dan sekarang membuatku malu.. malu, malu" ucap Anita kembali merasa pesimis sambil menepuk pelipisnya pelan.


"Ahh sudahlah... lebih baik aku segera menyiapkan makan malam, sebelum dia kembali ngomel-ngomel lagi" ucap Anita dengan wajahnya yang kurang bersemangat.


Kemudian Anita pun segera memungut daun-daun pakcoy tadi dengan bibir manyunnya dan terpaksa segera bersiap-siap menyiapkan bahan makanan untuk segera dia masak.


Lalu beberapa menit kemudian Mbo Inah datang setelah melihat keadaan tuannya yang sudah pergi ke dalam kamarnya.


"Nak Anita" panggil Mbo Inah, membuat Anita segera meliriknya sambil kembali membersihkan daun pakcoy yang tadi berserakan di lantai.


"Iya Mbo?" tanya Anita menanggapinya.


"Nak Anita mau masakan, kan?. Biar Mbo ikut bantuin juga, ya" ucap Mbo Inah dan hendak membantu Anita memasak.


"Iya, Mbo. Boleh" ucap Anita sambil mengangguk dan sedikit tersenyum, tidak mau sampai Mbo Inah melihat ke gelisahannya karena kejadian tadi.


Kemudian secara bersama-sama mereka pun mulai memasak untuk makan malam nanti. Meskipun Mbo Inah hari ini hanya membantu Anita menyiapkan makan malam tuannya.


Sambil sesekali mengobrol, mereka mulai menikmati pekerjaannya dan tanpa disadari membuat Anita sedikit lupa dengan kejadian tadi.

__ADS_1


__ADS_2