Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Hujan pun Ikut Menangis


__ADS_3

Sementara itu di dalam kamar, Rio terlihat sudah duduk di atas kasur empuknya sambil memeluk guling dan melamun sambil senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ntah apa yang membuatnya seperti itu.


Pada hal selama ini Rio sudah sering bertemu gadis-gadis dan wanita-wanita cantik lainnya, tapi tidak ada yang membuat nya sebahagia itu.


Lalu tiba-tiba terdengar suara hp yang membuyarkan lamunannya. Di lihatnya panggilan tersebut dari kekasihnya yang bernama Dewi. Cukup lama Rio berpikir untuk mengangkatnya atau tidak, tapi pada akhirnya Rio terpaksa mengangkat telpon dari Dewi yang membuat moodnya seolah tak bersemangat lagi.


"Hallo... kenapa Dew" sapa Rio tak bersemangat hingga dia lupa dengan apa yang biasa dia lakukan saat menerima telpon dari kekasihnya tersebut. Membuat Dewi merasa curiga dan bertanya-tanya saat dia mendengar Rio hanya memanggilnya dengan sebutan nama tanpa ada embel-embel sayang, beb atau honey yang biasa Rio katakan sebelum menyapa atau memanggilnya. Dan itu sukses membuat perasaan Dewi tidak senang dan curiga.


Namun karena saat ini dia tidak ingin berdebat, akhirnya hal itu dia abaikan. Segera dia memfokuskan pada apa yang sebelumnya ingin dia sampaikan pada Rio.


"Sayang kenapa suara mu seperti tak bersemangat begitu. Apa kau sakit?" ucap Dewi saat terdengar suara lirih dari kekasihnya tersebut yang dikiranya sedang sakit.


"Hah... nggak. Aku gak sakit, baru bangun tidur aja" ucap Rio beralasan "kamu kenapa telpon" lanjut Rio bertanya.


"Aku mau ngajak kamu nonton nanti malam, katanya lagi ada film bagus. Lagi pula kita sudah lama gak nonton bareng, kan. Terus aku juga lagi kangen sama kamu" ucap Dewi dan sedikit genit dengan senyumannya yang tak terlihat oleh Rio.


"Oh... aku pikir apa. Ok.... nanti aku jemput ya" ucap Rio biasa saja dan langsung mematikan hp nya. Membuat Dewi di ujung telpon tidak terima, uring-uringan dan merasa aneh dengan sikap Rio seperti itu.


"Hallo.... hallo sayang, ih.... kok di matiin sih" kesal Dewi saat melihat panggilannya dimatikan sepihak oleh Rio. "Kenapa sih dia, kok maen matiin gitu aja. Gak biasa-biasanya dia begini" lanjut Dewi mengomel "meskipun aku tahu Rio itu playboy tapi dia gak pernah bersikap seperti ini, walaupun terkadang lagi deket sama cewek lain. Pasti ini ada apa-apanya" ucap Dewi merasa curiga sambil menerka-nerka.

__ADS_1


Sementara itu di stasiun, Anita terlihat sedang menunggu kereta. Namun dari raut wajahnya dia terlihat seperti sedih dan menangis sambil duduk di bangku tunggu.


Beruntung orang-orang belum terlalu banyak di sekitarnya sehingga tidak ada yang memperhatikannya sedang menangis.


Di lihatnya seorang wanita tua paruh baya yang sudah sepuh bersama seorang gadis yang sedang mengenakan baju SMA di hpnya.


Ternyata itu adalah potret neneknya bersama Anita saat dia sudah lulus SMA yang di potret oleh temannya saat di bangku SMA.


Dan saat ini Anita sedang merasa rindu, kangen pada neneknya sehingga membuatnya merasa sedih dan menangis.


"Nek... nenek apa kabar di sana. Apa paman Jaka berbuat sesuatu yang buruk lagi pada nenek" lirih Anita seolah bertanya pada neneknya yang ada di potret tersebut yang sesaat mengingatkannya pada perlakuan pamannya dahulu. "Nek.. Nita kangen. Nita berharap nenek baik-baik saja di sana. Nita pengen kita kumpul lagi seperti dulu tapi tanpa paman Jaka" lirih Anita sambil menangis mengingat kebaikan neneknya dan kejahatan pamannya pada mereka.


Rasa sesal yang mendalam selalu ia rasakan setiap kali Anita teringat saat dia harus meninggalkan neneknya sendirian bersama dengan paman jahatnya itu.


Terlebih saat pamannya tersebut menelpon dengan mengancam akan melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi pada neneknya, tentu Anita tidak bisa diam ataupun mengabaikannya begitu saja. Apapun akan Anita lakukan untuk neneknya, asalkan neneknya baik-baik saja.


Dia ingin sekali bertemu dengan neneknya meskipun hanya melihat dari layar hp. Namun saat Anita sudah memberikan uang dan meminta pamannya video call untuk melihat dan memastikan keadaan neneknya baik-baik saja, tapi pamannya justru menolak dan beralibi bahwa neneknya sedang pergi ke suatu tempat.


Awalnya Anita merasa aneh, karena pamannya tidak pernah membiarkan nenek ataupun dirinya kemana-mana selain mengizinkan Anita untuk tetap bersekolah dan paling utama untuk bekerja mendapatkan uang pasti pamannya izinkan.

__ADS_1


Untuk sekolah pun awalnya paman Anita menentang keras karena di pikirnya itu hanya akan membuang-buang uang dan waktu saja. Namun karena RT dan orang-orang sekitar yang perduli terhadap Anita dan neneknya berusaha membantu dari penindasan pamannya tersebut.


Meskipun awalnya para tetangga dan RT ingin melaporkannya pada polisi karena sudah merasa geram melihat perlakuan Jaka pada ibu dan ponakannya. Tapi nenek Anita sebagai seorang ibu, tetap tidak bisa melihat anaknya di penjara meskipun dirinya sendiri sering dianiaya oleh Jaka.


Hingga akhirnya Jaka berpura-pura baik membiarkan Anita bersekolah hanya untuk terlihat baik di depan para tetangganya agar tidak curiga dan melaporkannya pada polisi. Tapi diam-diam Jaka tetap saja memperlakukan ibu dan ponakannya dengan kasar, bahkan menyuruh mereka bekerja keras untuk mendapatkan uang mereka.


Tiba-tiba hujan deras turun di tengah kesedihan Anita, seolah hujan pun ikut menangis melihat kesedihan Anita dan membuyarkan lamunannya.


"Lihat Nek.... Nenek lihat itu, kan. Hujan deras. Seolah hujan pun ikut menangis melihat kesedihanku yang teramat rindu pada nenek" seloroh Anita seraya tersenyum merasa alam pun ikut menangis melihat kesedihannya. Hingga diapun menghapus air matanya dan kembali lagi tersenyum menatap hujan seolah Anita memberitahu alam kalau dia sudah tidak lagi bersedih ataupun menangis. Dan sengaja atau tidak, mungkin kebetulan. Tiba-tiba hujan mulai mereda dan kembali cerah lagi.


Anita yang melihatnya terlihat takjub, merasa ada respon dari alam dan menambah senyum ceria di bibirnya.


Sore pun berganti malam, Akhirnya Anita tiba di kosan walaupun tetap harus berjalan setelah menaiki kereta api tadi. Tentu hal itu membuatnya merasa lelah dan cape.


Kini perut Anita mulai keroncongan, itu artinya dia sudah mulai lapar. Dia segera masuk ke dapur tepat berada di sebelah kamarnya, hingga dia dapat melempar tasnya terlebih dahulu di atas tempat tidur.


Di bukanya toples tempat dia menyimpan mie, kali ini Anita kembali menyajikan mie instan lagi sebagai pengganjal perut meskipun hari sudah malam.


Mungkin bagi sebagian orang makan mie instan malam-malam adalah hal yang harus di jaga.

__ADS_1


Tapi bagi Anita dan mungkin juga bagi para pengejar nasib yang merantau ke kota-kota yang tinggal di kos-kosan atau ngontrak bareng temennya, mie instan adalah menu utama yang harus selalu ada untuk menjaga saat dimana kantong mulai tipis dan tanggal gajian ikut menangis karena masih jauh di depan, itu teramat sadis.


__ADS_2