Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Tuan Tidak Perduli Padaku


__ADS_3

"Ya Allah... kenapa begini. Maafkan aku Za, aku tidak bisa menerima mu begitu saja. Sekarang aku sudah terikat pernikahan dengan tuan Alex. Meskipun aku juga tidak tahu dia perduli atau tidak dengan pernikahan yang telah terjadi di antara kami karena ketidak sengajaan dan paksaan" ucap Anita berbicara sendiri sambil tetap menangis.


"Meski aku sendiri tidak menginginkan pernikahan ini terjadi" lirih Anita melanjutkan ucapannya.


"Sekarang aku juga bingung, bagaimana kalau Lolita sampai tahu. Bahwa daddy nya sudah menikah dengan ku. Apa yang akan dipikirkannya tentang ku nanti?" ucap Anita bertambah dilema dan segera menghapus air matanya, berusaha untuk tetap tenang.


"Tidak... aku harus segera membicarakan tentang hal ini pada tuan Alex. Aku tidak mau sampai Lolita mengetahui pernikahan ini, dan menghancurkan hubungan persahabatan ku dengannya" ucap Anita kembali, berniat untuk membicarakan pernikahannya dengan Alex.


Kemudian Anita segera menghapus air matanya dan berlari untuk mengejar waktu bertamu dengan Alex.


Sementara itu Raja yang termenung sendiri merasa galau. Dia merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi dia tidak bisa menerima hal itu.


Raja berniat untuk mencobanya lain kali, dia berpikir mungkin Anita perlu waktu untuk menerima ungkapan perasaannya. Tapi yang pasti dia tidak akan menyerah begitu saja. Meskipun saat ini perasaannya sedikit galau.


Lalu beberapa menit kemudian, Anita terlihat sudah sampai di depan pintu rumah Alex. Namun saat Anita hendak melangkah masuk kedalam rumah, terdengar suara tawa yang bergantian dari dalam ruang tamu.


Dilihatnya Alex tertawa bersama wanita yang bernama Karina. Namun tiba-tiba ada perasaan yang menggeliat di hati Anita saat melihat Alex dapat tertawa bersama wanita lain.


Anita tidak tahu kenapa tiba-tiba hatinya merasa tidak menerima melihat Alex dekat dengan wanita tersebut.


Sebelumnya dia merasa biasa-biasa saja saat pertama kali Alex memperkenalkannya pada wanita tersebut, yang di kenalnya sebagai sahabat dari mendiang istrinya Alex.


"Kau sudah pulang, lama sekali kau izin keluar. Cepat kau buatkan minuman segar untuk Karina. Mbo Inah juga sedang izin keluar untuk membeli kebutuhan dapur" ucap Alex sedikit sinis dan menjelaskan kenapa Mbo Inah tidak mengantarkan minuman tanpa Anita menanyakan hal tersebut.


"Ba..baik tuan" ucap Anita masih tetap berdiri di tempat.


"Kenapa kau masih berdiri saja?. Cepat lakukan, aku tidak mau sampai tamuku ini kehausan" hardik Alex, lagi-lagi bersikap semaunya.


Kemudian Anita segera masuk dan pergi ke dapur tanpa menjawab ucapan Alex.


Namun setelah di dapur dia mulai menggerutu dan merasa kesal.


"Memangnya yang bekerja disini hanya aku dan Mbo Inah, kan ada pelayan lain. Lagi pula bukannya dia sendiri yang sudah mengizinkan aku libur di hari ini. Dasar menyebalkan, tidak konsisten dengan ucapannya sendiri" gerutu Anita sambil tetap membuatkan minuman untuk tamu tuannya.


Kemudian segera Anita mengantarkan minuman tersebut ke ruang tamu dan meletakkannya di meja.


"Silahkan nyonya, minumannya!" ucap Anita sopan pada tamu tuannya.


"Heh... kenapa kau hanya membawakan satu minuman. Lalu aku ini, kau anggap apa, hah?" hardik Alex, kembali marah-marah.


Sepertinya setelah Alex melihat potret Anita dengan Raja membuatnya marah-marah terus dan menganggap apa yang di lakukan Anita, selalu salah di matanya.


"Alex tenanglah... Kamu tidak perlu marah-marah seperti itu. Kasihan Anita, mungkin dia lupa membawakannya" ucap Karina berpura-pura baik pada Anita.


Padahal sebenarnya dia merasa senang melihat Alex memperlakukan Anita seperti pelayan lainnya.


Membuatnya semakin yakin untuk terus mendekati Alex dan berpikir bahwa Anita bukanlah tandingannya seperti yang dia sempat pikirkan saat pertama kali bertemu dengan Anita yang sedang menggandeng Alex dan terlihat dekat.


"Sudah Anita, lebih baik kamu segera kembali ke dapur dan bawakan minuman untuk tuan Alex" lanjut Karina berbicara pada Anita.

__ADS_1


Kemudian Anita kembali ke dapur dan segera mengambilkan minum untuk tuannya. Tanpa mengeluh, tanpa menggerutu lagi. Dia sudah tidak berniat untuk berdebat lagi.


Lalu setelah itu, Anita pergi ke kamar berusaha menenangkan perasaannya dan menunggu Alex menerima tamu tersebut. Hingga akhirnya Anita ketiduran di atas ranjangnya sendiri.


Beberapa jam berlalu, Anita terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam di atas meja disamping tempat tidurnya, jam sudah menunjukkan pukul 21:05 waktu setempat.


Anita terperanjat dari tidurnya dan bergegas hendak menemui Alex untuk membicarakan hal yang sebelumnya ingin dia bicarakan dengan Alex.


Namun saat dia ke ruang tamu tanpa sengaja Anita melihat Karina sedang mencium pipi Alex tanpa mereka sadari Anita sedang melihatnya.


Namun entah mengapa tiba-tiba ulu hati Anita terasa sakit dan membuatnya mengeluarkan tetesan cairan bening yang terjatuh pada pipinya.


Dan saat sadar Anita segara menghapus cairan bening tersebut dengan cepat lalu segera kembali pergi ke dalam kamarnya lagi.


Sementara itu di ruang tamu, Karina berpura-pura minta maaf karena telah mencium pipi Alex saat hendak berpamitan pulang pada Alex.


"Maaf Alex aku tidak sengaja" ucap Karina pada Alex.


"Sudahlah tidak apa-apa. Tapi lain kali, jangan lakukan ini lagi. Aku tidak suka" ucap Alex dingin sambil menghapus bekas bibir Karina di pipinya, tidak suka orang lain menyentuh tubuhnya walaupun hanya di pipi.


Alex tidak bisa di bohongi, dia tahu mana wanita yang sedang berusaha untuk menggodanya dan dia langsung menolak Karina begitu saja.


Dia hanya menghargai Karina sebagai sahabat dari mendiang istri tercintanya dan menganggap Karina sebagai teman biasa, tidak lebih.


Dan kalau pun dia terlihat akrab menerima ke datangan Karina di rumahnya, itu terhitung bonus untuk Karina. Mengingat dia sudah begitu baik pada mendiang istrinya tercinta, pikir Alex begitu.


Tanpa berbasa-basi lagi, Alex langsung tudepoin dengan sikap arogannya pada wanita lain seperti biasanya.


"Dan satu lagi, aku harap setelah ini, kamu tidak perlu datang lagi ke rumahku" ucap Alex tegas, tidak mau menerima bantahan.


"Tapi Alex..." ucap Karina hendak ingin berusaha memperbaiki keadaan.


"Ini sudah jam 9 malam lewat. Silahkan, kau bisa pulang sekarang" ucap Alex, secara tidak langsung mengusir Karina dari rumahnya tersebut.


Tegas Alex dengan kata-katanya, jika dia sudah tidak menyukai orang, tanpa pandang bulu dia akan langsung memperlihatkan sikap arogansinya pada orang tersebut.


Kemudian tanpa banyak bicara lagi dan dengan hati kecewa Karina segera pergi meninggalkan rumah tersebut.


Di perjalanannya pergi, Karina merutuki ke bodohannya yang terlalu cepat menunjukan perasaannya pada Alex.


Sementara itu, saat Alex hendak naik tangga dan ingin pergi ke kamarnya. Samar-samar dia mendengar seseorang menangis.


Rupanya suara tangisan tersebut berasal dari kamar Anita. Merasa penasaran, diam-diam Alex mendekatkan telinganya di pintu tersebut hingga pipinya menempel di dinding pintu.


Dan saat yang bersamaan, saat Anita hendak ingin keluar dengan wajah yang di tekuk menunduk ke bawah, tiba-tiba membuka pintu pelan dan tanpa sengaja bibirnya menyentuh pipi Alex yang saat itu wajah Anita hendak melihat ke depan dan Alex yang tidak sadar pintu tersebut sudah terbuka dengan tubuh sedikit membungkuk seolah-olah minta di cium di pipi, masih di tempat berjongkok sejajar dengan Anita.


Membuat Anita kaget dan sesaat melotot saat melihat dirinya tengah mencium pipi Alex. Sontak membuatnya repleks mendorong Alex hingga terpental jatuh ke lantai.


"gubrak" suara tubuh Alex yang terjatuh.

__ADS_1


"Aww.... Apa-apaan kau ini. Main dorong-dorong aja" ucap Alex dengan nada kesalnya saat terduduk di lantai.


"Ma..maaf tuan. Aku tidak sengaja" ucap Anita merasa bersalah.


"Lagian tuan kenapa bisa ada di depan pintu kamar saya?. Apa tuan sedang menguping?" selidik Anita.


"Ee... e.. ehh.. enak saja kalau ngomong. Cepat bantu aku berdiri!" ucap Alex mengelak dan sedikit memerintah.


Kemudian Anita pun segera membantunya berdiri.


"Aku bukannya sedang menguping. Tapi sedang mengawasi mu" ucap Alex lagi-lagi mengelak.


"Aku pikir aku sedang mendengar kuntilanak menangis" lanjut Alex sedikit menyelidik berpura-pura tidak tahu sambil melirik Anita dengan aneh.


"Kuntilanak?... Mana ada kuntilanak di rumah sebagus ini. Apa tuan sedang menyindirku?" ucap Anita pada Alex.


"Lagian... kenapa kau menangis malam-malam begini?" tanya Alex penasaran.


"Tit... tidak.. aku tidak menangis" ucap Anita terbata-bata, merasa tadi keceplosan bicara.


"Sudah ketahuan, masih saja berbohong. Lalu kenapa matamu bengkak dan merah begitu?" ucap Alex dan kembali bertanya.


Sementara Anita terlihat kebingungan, tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia berpikir, masa dirinya harus bilang bahwa hatinya tiba-tiba sakit saat melihat Alex bermesraan dan sempat di cium oleh Karina.


"Heh.. kau. Kenapa diam saja, apakah telingamu itu mendadak tuli, hah?" tanya Alex tidak sabaran.


"aaaah... ehek.. ehek.. " suara tangis Anita.


"Tuan, kenapa terus-terusan marah dan menghinaku. Sudah tahu aku habis menangis kenapa harus menghinaku juga" ucap Anita kembali menangis, merengek seperti anak kecil.


Tidak tahan lagi mendengar Alex yang terus-terusan marah dengan nada arogansinya.


Mengingat dirinya yang sedang sentimentil.


Sementara Alex yang melihat Anita kembali menangis seperti anak kecil, membuatnya sedikit bingung dan tidak mengerti bagaimana cara menghentikan gadis di hadapannya untuk berhenti menangis.


"Eehh... sudah cukup. Jangan menangis lagi, kenapa kau malah berlanjut. Kau bisa membuat orang lain menuduhku, aku yang telah membuat mu menangis seperti ini. Sudah cukup" ucap Alex berniat mencoba membuat Anita tidak menangis lagi, namun kata-katanya malah membuat Anita bertambah sedih dan ingin terus menangis.


"Memang tuan yang sudah membuat hatiku ingin terus menangis seperti ini. Tuan memang tidak perduli padaku. Tuan hanya perduli pada wanita itu" ucap Anita sambil tetap menangis dan tanpa sadar memberitahu Alex bahwa dirinya sedang cemburu.


Membuat Alex sedikit mengernyitkan dahinya merasa heran.


"Maksud mu, Karina?" tanya Alex memastikan.


"Iya.." pekik Anita kesal masih dengan isakan tangisnya.


Kemudian Anita segera kembali ke kamar sambil membanting pintu kamarnya, seolah dia memberitahu bahwa dirinya sedang benar-benar kesal dan marah juga pada Alex.


Membuat Alex sedikit kaget saat Anita berani membanting pintu di hadapannya. Namun juga membuatnya sedikit tersenyum karena dia merasa Anita sedang cemburu padanya.

__ADS_1


__ADS_2