
Keesokan paginya, Anita terlihat sudah rapih dan formal namun tidak menghilangkan aura cantiknya.
Tapi hal itu membuat Alex dan Lolita yang melihatnya merasa heran dan bingung. Mereka tidak mengharapkan kalau Anita akan segera kembali bekerja.
"Mamah... apa mamah akan segera kembali bekerja?" ucap Alexa saat melihat ibunya yang berpakaian rapih seperti yang biasa dia lihat saat ibunya hendak berangkat bekerja.
"Iya sayang... hari ini mamah harus segera mulai bekerja. Mamah sudah seminggu lebih tidak masuk. Tapi kamu tenang saja, paman Raja sudah berbaik hati membantu mamah untuk dapat bekerja di kota ini. Jadi mamah tidak akan jauh-jauh kembali ke tempat kerja mamah yang lama" ucap Anita memberitahu anaknya.
"Kamu tidak apa-apa kan mamah tinggal bekerja dulu" lanjut Anita bertanya.
Membuat Alex dan Lolita merasa berat hati harus membiarkan Anita bekerja di tempat Raja.
"Anita... Aku ingin berbicara dengan mu" ucap Alex sambil menarik tangan Anita dan membawanya ke tempat yang tidak dapat di lihat oleh Lolita dan Alexa.
"Anita... kenapa kamu harus bekerja di tempatnya Raja.. dan... kalau kamu bekerja nanti siapa yang akan menjaga Alexa?" pekik Alex tidak suka jika Anita harus bekerja di tempat Raja.
"Anda tenang saja. Alexa sudah terbiasa saya di tinggal bekerja, lagi pula di rumah anda banyak pelayan dan juga ada Mbo Inah, kan" ucap Anita sambil melepaskan genggaman tangannya dari Alex. Dia tidak perduli dengan pemikiran Alex tentangnya.
"Dan kalau saya tidak bekerja, bagaimana saya akan menghidupi Alexa dan diri saya sendiri?" ucap Anita tidak bermaksud menyindir Alex tentang biaya kehidupan anaknya.
"Oh... begitu rupanya. Kau tenang saja, kau pikir aku tidak bisa membiayai kehidupan Alexa dan dirimu. Kalau itu masalahnya, kau tidak perlu bekerja lagi" ucap Alex merasa tersindir dan sedikit kesal.
"Sudahlah... Kau tidak akan mengerti. Lagi pula aku sudah cape terus berdebat dengan mu" ucap Anita biasa saja meskipun dia sedikit merasa kesal dan mulai berbalik kembali ke tempat anaknya menunggu.
"Atau mungkin karena kau ingin lebih dekat dengan Raja?" ucap Alex dengan sinisnya dan sesaat menghentikan langkah Anita.
Namun Anita kembali melangkahkan kakinya, mencoba untuk tidak memperdulikan ucapan Alex tentangnya dan meninggalkan Alex di tempat.
Namun sepertinya membuat Alex nampak menahan rasa kesalnya melihat sikap Anita yang masih acuh tak acuh padanya.
"Ya Tuhan... sabar Alex, sabar... Kau jangan sampai membuatnya kabur dan marah lagi padamu" ucap Alex pada dirinya sendiri dan menarik nafas jengah.
Sementara itu, Anita kembali mengajak anaknya dan Lolita untuk sarapan bersama.
"Ayo sayang kita sarapan dulu sekarang" ucap Anita pada anaknya.
"Ayo, Lit" lanjut Anita menatap sahabatnya.
Kemudian mereka pun segera duduk di kursinya masing-masing.
"Nit, kenapa kamu tidak istirahat dulu saja. Selama beberapa hari ini kan kamu sibuk jagain Alexa di rumah sakit" ucap Lolita pada Anita.
"Tidak apa-apa, Loli. Aku tidak enak dengan Raja. Dia sudah banyak membantuku selama ini. Jadi hari ini aku harus masuk kerja" ucap Anita jujur.
Sementara itu, Alex yang mendengar alasan Anita yang lagi-lagi menyebut Raja di hadapannya membuatnya kembali merasa cemburu namun tetap berusaha menahan rasa tidak sukanya, mendengar Anita yang seolah-olah terus membanggakan Raja.
__ADS_1
"Benarkan apa yang aku pikirkan. Dia ingin masuk kerja karena si Raja itu" ucap Alex dalam hati merasa kesal dan tidak suka sambil menatap Anita tajam setelah dia ikut duduk bersama mereka.
Kemudian setelah mereka sarapan dan berpamitan pada Alexa. Anita segera pergi lebih dulu.
"Loli, aku berangkat duluan ya" ucap Anita sambil cipika cipiki dengan Lolita di depan Alex tanpa berpamitan padanya.
"Tunggu, Nit. Biar Daddyku saja yang mengantarkan mu" ucap Lolita setelah Anita mulai berlari buru-buru ke luar rumah. Tadinya dia berharap Anita dapat mulai dekat dengan Daddynya tersebut.
"Tidak usah, Nit. Aku sudah pesan ojol, orangnya sudah menunggu di depan" ucap Anita sambil terburu-buru.
"Kamu sudah lihat sendiri, kan. Sahabatmu itu benar-benar terus menghindar dari Daddy. Jadi bagaimana Daddy bisa mendekatinya" ucap Alex setelah melihat Anita keluar dari rumahnya.
"Jadi... Daddy mau menyerah begitu saja" ucap Lolita menyindir ayahnya tersebut.
"Bukan begitu, sayang. Daddy hanya.... " ucap Alex merasa serba salah.
"Hanya apa Dad. Apa Daddy hanya bisa pasrah dan hanya bisa melihat Anita dengan laki-laki lain, begitu?" ucap Lolita bertanya sinis pada Alex.
"Tidak Loli. Daddy hanya tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk meyakinkan Anita bahwa Daddy benar-benar mencintainya" ucap Alex jujur namun nampak terlihat tak bersemangat.
"Kalau itu masalahnya, Daddy tenang saja. Aku bisa membantu Daddy. Yang penting Daddy jangan sampai menyerah untuk tetap berusaha mendapatkan hati Anita" ucap Lolita, nampak terlihat tersenyum menyemangati ayahnya.
"Kalau tidak, apa Daddy ingin melihat Alexa punya ayah baru?" lanjut Lolita menggoda ayahnya.
"Tentu saja tidak" ucap Alex sambil menatap anak laki-lakinya.
"Aku yakin Daddy pasti bisa mendapatkan hati Anita" lanjut Lolita berbicara pada ayahnya.
"Benar apa yang dikatakan Kak Loli. Bersemangat lah Daddy. Aku juga akan membantu Daddy supaya mamah tidak marah lagi dengan Daddy" ucap Alexa dengan senyuman polosnya seolah sudah mengerti apa sedang terjadi diantara kedua orangtuanya.
"Tapi ingat... Kalau Daddy membuat mamahku nangis, aku tidak mau tinggal di sini dan tidak akan menganggap mu sebagai Daddy ku lagi" lanjut Alexa sedikit mengancam dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah dengan expresi marah yang di tampakkannya.
"Wahh... Adikku ini memang hebat, luar biasa. Kecil-kecil sudah berani membela mamahnya" ucap Lolita nampak kagum dengan sikap sok dewasa adiknya tersebut sambil terlihat bertepuk tangan mengapresiasi ucapannya.
Namun berbeda dengan Alex, yang tiba-tiba merasa terkejut dan aneh mendengar ucapan dan ekspresi anak laki-lakinya yang sudah berani mengancam nya.
"Tentu saja tidak akan. Daddy kan sayang kalian bertiga" ucap Alex meyakinkan anaknya.
"Ya sudah kalau begitu, Daddy dan Kak Loli berangkat ke kantor dulu ya. Kamu baik-baik di rumah" lanjut Alex berbicara pada anak laki-lakinya.
Kemudian Alex dan Lolita segera berangkat ke kantor. Namun dengan mobilnya masing-masing.
Sementara itu, Anita yang baru seperempat jalan tiba-tiba motor ojol nya mogok, membuatnya bisa saja terlambat untuk datang bekerja.
"Aduh neng, maaf sepertinya bannya kempes" ucap ojol saat mengecek ke adaan motornya.
__ADS_1
"Abang, serius?" tanya Anita pada Bang Ojol.
"Iya neng. Tuh neng lihat sendiri, bannya kempes" ucap bang Ojol sambil menunjukkan ban kempesnya.
"Ya Sudah kalau begitu, saya naik taxi saja. Maaf ya, Bang" ucap Anita pada Bang Ojol sambil memberikan helmnya yang tadi sempat di gunakan.
"Tidak apa-apa. Saya juga minta maaf ya, neng" ucap bang Ojol merasa bersalah.
Kemudian Anita mulai menunggu taxi lewat, namun belum ada juga yang terlihat. Sesekali dia melihat ke arah jam tangannya, dia nampak terlihat cemas takut ke siangan masuk kerja.
Lalu dari jarak beberapa meter Lolita melihat Anita yang sedang menunggu sesuatu dan juga terlihat bang Ojol yang sedang melihat ke adaan bannya.
Lolita dapat memastikan bahwa Anita sedang menunggu kendaraan untuk mengantarkannya pergi ke tempat kerjanya.
Awalnya dia berniat untuk mengajaknya masuk ke dalam mobil dan mengantarkannya.
Namun sesaat kemudian, Lolita segera menghentikan mobilnya dan berpikir biar Daddynya yang mengantarkannya.
Tapi Alex yang tidak mengetahuinya, segera menghentikan mobilnya di samping mobil anaknya.
"Loli, kenapa berhenti?" ucap Alex setelah membuka kaca jendela mobilnya, saat melihat anaknya menghentikan mobil.
"Daddy... Lihat itu. Pasti Anita sedang menunggu taxi. Ini kesempatan Daddy untuk mendekatinya lagi. Pergunakanlah dengan baik" ucap Lolita memberitahu Alex dari dalam mobilnya.
"Cepat lah sebelum ada taxi lewat" lanjut Lolita segera menyuruh Daddynya.
"Semangat Daddy" ucap Lolita kembali, memberi semangat.
"Kau ini..." ucap Alex sambil menggelengkan kepalanya pelan, merasa anaknya tidak ada nyerahnya.
"Kalau begitu Daddy duluan. Kamu hati-hati di jalan" lanjut Alex berbicara, sambil hendak menancap gas mobilnya.
Sementara itu, Anita masih terlihat cemas. Dia masih belum juga mendapatkan taxi.
"Anita masuk lah. Biar aku antarkan kamu ke tempat kerjaan mu" ucap Alex menawarkan tumpangan nya.
Namun Anita masih terlihat ragu-ragu untuk masuk ke dalam mobil Alex.
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah aku tidak akan memaksa" lanjut Alex setelah beberapa saat melihat Anita yang masih terlihat ragu untuk masuk.
"Baiklah, tunggu... Aku ikut" ucap Anita saat melihat Alex mulai menutup kaca jendela mobilnya.
Rupanya gertakan Alex sedikit berhasil. Dia mulai menyadari bahwa wanita seperti Anita tidak dapat di paksa terus menerus.
Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang harus berdebat dulu meski hanya urusan sepele.
__ADS_1
Tapi kali ini entah benar dugaannya atau karena Anita memang sedang terburu-buru hingga membuatnya tidak butuh waktu lama untuk mengajak Anita ikut bersamanya.
Tapi apapun itu alasannya, setidaknya membuat Alex merasa sedikit senang dan diam-diam tersenyum menang karena berhasil mengajak Anita masuk kedalam mobil dan membuatnya dapat duduk dekat berduaan dengan Anita tanpa harus berdebat terlebih dahulu.