
Sementara itu di luar negri tepatnya di apartemen Lolita. Terlihat dia sedang mencari handphonenya, dia berniat untuk menelponnya karena beberapa hari ini dia sudah kangen dan rindu pada Daddy dan sahabatnya tersebut.
Namun dia masih merasa bingung, mana yang harus lebih dulu dia hubungi.
"Aduuhh... mana sih, handphone ku" ucap Lolita sambil mengobrak abrik sofanya.
"ah... ini dia" ucap Lolita saat sudah menemukan handphone kesayangannya.
"Bagaimana keadaan mereka. Apa mereka baik-baik saja?. Baru beberapa hari disini sudah membuatku terus-terusan merindukan mereka" ucap Lolita sambil mengotak-atik handphonenya.
"Siapa dulu, yah. Yang harus aku telpon lebih dulu?" tanya Lolita berbicara sendiri sambil berpikir-pikir siapa yang akan lebih dulu dia hubungi.
"Ah.. lebih baik aku telepon Anita dulu deh" ucap Lolita memutuskan.
"Kenapa tidak di angkat?" tanya Lolita saat handphone di ujung telponnya tidak ada jawaban sambil memegang handphone di hadapan wajahnya.
Bagaimana tidak, Anita tidak membawa handphone saat dia memaksa membantu dan mengantarkan Alex di periksa.
"Ya sudah lah. Mungkin dia sedang sibuk" ucap Lolita tetap berpikir positif tentang sahabatnya.
"Kalau begitu aku telpon Deddy dulu deh" ucap Lolita antusias.
Kemudian Lolita segera membuat panggilan untuk ayahnya.
Lalu terdengar nada dering telepon di saku celana Alex yang sedang di papah Anita menuju mobil, setelah tadi mengambil obat di apotek.
"Hallo... Dad" ucap Lolita setelah mengetahui telponnya di angkat.
"Hallo... sayang. Bagaimana kabar putri cantik daddy disana?" tanya Alex saat sudah menerima telpon anaknya sambil masih di gandeng Anita.
Sementara Anita yang mendengar Alex sedang berbicara pada anaknya, diam-diam membuatnya mendadak gelisah karena takut ketahuan oleh Lolita.
"Apa, Lita menelpon?" tanya Anita dalam hati, merasa kaget mendengarnya.
"Bagaimana ini. Apa dia sudah tahu kalau aku beberapa hari ini telah bekerja pada ayahnya" ucap Anita dalam hati merasa bingung.
__ADS_1
"Aduh... kalau dia sampai tahu aku bekerja pada ayahnya, apalagi di rumahnya pasti aku akan amat malu sekali dan mungkin dia akan mengira yang tidak-tidak padaku" lanjut Anita merasa gelisah dan takut, mengingat dia pernah beberapa kali menolak tawaran Lolita untuk bekerja pada daddynya.
Meskipun saat itu Lolita menawarkannya bekerja di perusahaan ayahnya bukan di rumahnya. Namun saat itu Anita tidak mengira bahwa ayahnya adalah orang yang sering membuatnya kesal dan marah-marah.
"Hey kau. Berhenti dulu!" pekik Alex merasa dirinya di seret-seret karena Anita memapahnya sambil melamun.
"Hallo... Dad. Daddy tidak apa-apa, kan?" tanya Lolita saat mendengar ayahnya seperti sedang berbicara pada orang lain.
"Iya sayang, maaf. Tadi Daddy berbicara pada asisten pribadi dulu" ucap Alex pada anaknya.
"Asisten pribadi?. Maksud Daddy, Rafi?" tanya Anita penasaran.
"Bukan sayang..." ucap Alex keceplosan.
"Sudah lupakan. Itu tidak penting" lanjut Alex mengalihkan pembicaraan.
Membuat Anita yang mendengarnya menarik nafas kesal dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Bagaimana kabarmu, kamu belum menjawab pertanyaan Daddy. Dan juga kenapa baru menelpon Daddy sekarang. Apa kamu sengaja ingin mengabaikan Daddy mu ini?" tanya Alex terus-terusan pada anaknya.
"Yang ada juga Daddy mengabaikan aku. Buktinya Daddy tidak meneleponku lebih dulu. Apa Daddy sedang sibuk dengan calon mamihku?" ucap Lolita, membuat Alex merasa salah bicara dan sedikit tersindir sambil menelan salipanya cepat dengan melihat kepala Anita yang sedang merangkulnya.
"Ti..tidak. Kamu ini ngaco aja. Kamu tahu sendiri, kan Daddy itu sibuk kerja. Mana ada sibuk mencari calon mami buat kamu" ucap Alex sedikit terbata-bata saat merasa tersindir oleh anaknya sendiri.
Alex pun tidak tahu kenapa dirinya harus merasa tersindir oleh ucapan anaknya tersebut. Namun begitu, dia tidak terlalu ambil pusing dengan perasaannya tersebut.
Kemudian mereka pun mengobrol sambil Alex berjalan pelan-pelan ke dalam mobil dengan masih di tuntun oleh Anita.
Sementara Anita hanya diam dan mendengarkan Alex berbicara pada anaknya.
Setelah berada di dalam mobil dan pak Amin pun sudah siap berangkat.
"Ayo pak Amin, jalan" ucap Anita saat melihat Alex masih berbicara di telpon dan Alex mengangguk mengiyakan supaya pak Amin mengikuti ucapan Anita dari balik kaca spion.
Kemudian pak Amin pun segera jalan setelah menerima izin untuk mengikuti ucapan Anita.
__ADS_1
Sementara itu di ujung telpon Alex, Lolita merasa dia telah mendengar suara Anita dari ujung teleponnya.
"Kenapa sepertinya aku mendengar suara Anita. Apa Daddy sedang bersamanya. Tapi bagaimana mungkin, pagi-pagi begini" ucap Lolita dalam hati yang sudah tahu Daddynya sedang dekat dengan sahabatnya tersebut.
Namun dia merasa tidak mungkin jika pagi-pagi daddynya sedang bersama Anita sekarang ini. Lolita belum tahu jika Anita sudah berada di rumahnya sejak pertama kali dia meninggalkan bandara.
Sebenarnya Lolita berharap jika Anita dan ayahnya benar-benar ada hubungan serius di antara mereka berdua.
Meskipun dia sendiri masih bingung kenapa mereka tidak saling mengenal, saat dia melihat kabar berita tentang Anita dan ayahnya yang saat itu pergi ke pesta bersama.
Namun begitu Lolita tidak ingin bertanya lebih jauh mengenai hal itu.
Dia ingin mereka saling mengenal satu sama lain tanpa ada campur tangan dari dirinya. Sehingga nantinya tidak membuat Anita merasa malu ataupun merasa terpaksa jika sampai mereka berdua, Anita dan ayahnya dekat satu sama lain.
"Hallo.. Dad. Daddy sedang dimana sebenarnya" tanya Lolita penasaran saat tadi merasa mendengar suara sahabatnya tersebut.
"Ah.. Daddy sedang di mobil, lagi dalam perjalanan menuju kantor. Kenapa memangnya, sayang" ucap Alex sedikit bingung, tidak mau memberitahu dan tidak ingin membuat khawatir anaknya, bahwa dirinya habis dari rumah sakit memeriksa keadaan kakinya.
"Oh... ya sudahlah kalau begitu. Aku tutup dulu telponnya ya Dad. Nanti aku telpon lagi. Tapi ingat, Daddy juga jangan terlalu sibuk bekerja, sampai lupa pada anaknya sendiri apalagi lupa cari istri" ucap Lolita mengingatkan daddynya sebelum hendak menutup sambungan telponnya.
"Aku sudah dewasa, Dad. Daddy tidak perlu mengkhawatirkan aku terlalu berlebihan. Ini waktunya Daddy mencari pendamping hidup, supaya nanti saat aku pergi bersama pasanganku sendiri, Daddy sudah ada yang menemani dan tidak membuatku khawatir lagi" lanjut Lolita berbicara, sedikit membuat ayahnya merasa terharu mendengar ucapan anaknya yang di rasa sekarang sudah mulai berpikir dewasa untuknya.
Tanpa sadar, membuat Alex menangis dan tanpa sengaja terlihat oleh Anita.
Membuat Alex cepat-cepat ingin menutup telponnya, merasa malu.
"Ya sudah sayang. Daddy tutup dulu telponnya, ya. Nanti Daddy saja yang menelepon mu lebih dulu. Dah sayang" ucap Alex sambil menahan air matanya keluar kemudian menutup telponnya cepat.
Namun Anita yang pura-pura tidak melihatnya merasa tersentuh juga. Dia tidak menyangka bahwa Alexander Wijaya yang selama ini dia benci dan membuatnya marah-marah terus, bisa sesedih itu dan meneteskan air mata hanya karena anak perempuan satu-satunya.
Meskipun Anita sendiri tidak tahu apa yang mereka bicarakan sebenarnya.
"Lita kamu benar-benar beruntung memiliki ayah yang begitu menyayangimu seperti tuan Alex ini. Aku jadi merasa iri melihatnya" ucap Anita dalam hati dengan senyum tipisnya sambil diam-diam memperhatikan Alex yang sedang menghapus air matanya cepat.
"Heh... apa yang kau lihat. Apa kau tidak pernah melihat laki-laki ingusan, hah" ucap Alex sedikit kesal saat tanpa sengaja melihat Anita sedang menatapnya, tidak mau terlihat cengeng di depan Anita.
__ADS_1
"Yaah... meskipun ayahmu ini benar-benar bawel dan marah-marah terus" lanjut Anita dalam hati saat melihat ayah sahabatnya tersebut kembali dengan mode menyebalkannya.