
Setelah Anita pergi, terlihat Alex diam-diam memperhatikan kepergian Anita. Seolah dia tidak mau melihat Anita pergi dari pandangannya.
Namun melihat Karina ada disampingnya, membuatnya juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Kemudian Alex kembali fokus pada Karina. Dia mencoba untuk mendengarkan ucapannya.
Lalu tiba-tiba Mbo Inah datang, memberitahu tuannya bahwa makan malam sudah siap di meja makan.
"Permisi tuan, maaf mengganggu. Apa tuan mau makan malam sekarang. Makan malamnya sudah siap di meja" ucap Mbo Inah.
"Iya Mbo, sekarang saja. Ayo Karin kita makan malam dulu. Pasti kamu juga belum makan malam, kan? ucap Alex lalu mengajak Karina untuk makan malam bersama.
Kemudian mereka segera menuju meja makan.
Terlihat Anita juga sedang berada di meja makan, sedang menata makanan di atas meja tersebut.
Kemudian hendak kembali ke dapur menyusul Mbo Inah. Namun Alex menghentikan langkah Anita, menyuruh dan memintanya untuk tetap di tempat seperti biasanya dia melakukan apa yang harus dia lakukan untuk Alex di depan meja makan.
"Tunggu. Kau mau kemana?" tanya Alex menghentikan langkah Anita.
Namun diam-diam membuat Karina kembali merasa heran. Tapi kali ini dia tidak terlalu memperdulikannya.
"Kembali ke dapur, tuan" ucap Anita polos.
"Kau lupa, apa tugasmu disini?" Hardik Alex tidak perduli ada Karina di hadapannya.
"Maaf, tuan" ucap Anita sambil menunduk.
Padahal maksud Anita hendak ingin kembali ke dapur, supaya dia tidak menggangu makan malam Alex dengan tamunya. Tapi apa mau dikata, Anita tidak dapat menolak permintaan Alex.
Kemudian mereka mulai mengambil apa yang ingin mereka makan. Di mulai dengan Karina yang telah di minta oleh Alex untuk lebih dulu mengambil makanannya.
Namun berbeda dengan Alex yang ingin segalanya di ambilkan oleh Anita.
Layaknya seorang Raja, Alex benar-benar tidak ingin orang lain yang mengambilkan makanan untuknya.
Bahkan saat Karina hendak ingin mengambilkan lauk untuknya, Alex segera menghentikannya dan lebih memilih meminta Anita yang mengambilkannya, meskipun dengan nada sinisnya pada Anita.
"Eumm.. Jangan Karin. Biarkan dia yang melakukannya. Itu sudah jadi salah satu tugasnya. Kalau dia hanya melihat saja untuk apa aku memperkerjakan nya" ucap Alex saat Karina ingin membantunya mengambilkan lauk.
"Hey.. kau. Cepat, jangan hanya diam dan melihat saja. Ambilkan ayam itu untukku!" ucap Alex dengan mode menyebalkannya pada Anita.
"I..iya, tuan. Maaf" ucap Anita sambil segera mengambilkan apa yang Alex mau.
__ADS_1
Namun sebenarnya diam-diam Anita kembali merasa kesal pada Alex. Dia tidak mengerti dengan sikap Alex yang lagi-lagi kembali dengan mode sinis dan dinginnya.
Padahal baru sebentar dia merasakan sikap perduli Alex padanya. Namun begitu, mau tidak mau dia tetap harus mengikuti perintah Alex.
Sementara itu, Karina yang tengah memperhatikan sikap Alex pada Anita, membuatnya merasa yakin, bahwa di antara mereka hanya sekedar hubungan asisten dan atasannya.
Membuatnya kembali lagi yakin bahwa dirinya masih punya kesempatan untuk mendapatkan perhatian Alex dan juga cintanya.
Makan malam pun berlangsung dengan tenang dan sesekali mereka terlihat saling berbincang satu sama lain.
Sementara Anita terlihat seperti seorang yang tidak di anggap sama sekali. Tapi dia tidak terlalu ambil pusing. Anita sudah mengerti, hal itu memang sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.
Namun ada yang aneh, saat Anita merasa ada sesuatu yang menggeliat di hatinya. Ketika melihat Alex begitu akrab dengan tamu yang tadi di ketahuinya sebagai teman dari mendiang istri tuannya tersebut.
"Huft... Dasar duda tua arogan, menyebalkan... Dia enak-enakan mengobrol sambil makan dengan santai sementara aku harus tetap berdiri seperti ini. Dia pikir aku ini patung, apa" gerutu Anita dalam hati sambil memberi bibir manyunnya pada Alex yang sedang fokus mengobrol dengan Karina.
"Menyebalkan sekali, aku harus jadi penonton untuk mereka. Apa dia tidak bisa, sebentar saja memanfaatkan tangannya sendiri. Atau dia sengaja ingin memamerkan kedekatannya dengan tamu cantiknya ini padaku... Tapi untuk apa?" lanjut Anita menggerutu dalam hati dan sedikit menerka-nerka.
"Ahh... lagi pula kenapa aku harus perduli dengan semua itu?. Bukan urusanku" gerutu Anita kembali, berpura-pura masa bodo dengan apa yang di lihatnya.
Kemudian mereka pun telah selesai makan malam. Dan setelah selesai Karina pura-pura pamit lebih dulu pada Alex.
Niatnya dia ingin melihat Alex menghentikan kepergiannya, namun apa yang terjadi malah sebaliknya.
"Tapi sepertinya sudah malam, lebih baik aku pulang dulu malam ini. Mungkin kamu mau langsung beristirahat setelah tadi menempuh perjalanan panjang" lanjutnya berpura-pura hendak pulang.
"Baiklah kalau begitu. Tapi jangan lupa untuk lain kali kembali lagi. Aku senang bisa melihatmu kembali lagi" ucap Alex pada Karina, langsung menyetujui niatnya untuk segera pulang, meski dengan basa basinya.
"Aku pikir dia akan menghentikan niatku untuk pulang. Padahal baru jam delapan malam. Tapi ya sudahlah, mungkin dia memang ingin segera beristirahat. Lagi pula dia sudah bilang untuk aku bisa kembali lagi kesini" ucap Karina dalam hati, sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang di pikirkannya.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Tapi kamu juga jangan lupa untuk segera beristirahat, supaya luka-lukamu juga cepat sembuhnya. Lain kali aku pasti kembali lagi" ucapnya sambil menyentuh tangan Alex, kembali berpura-pura tidak masalah, kemudian benar-benar pergi meninggalkan rumah Alex.
Sementara itu Anita yang sedang membereskan meja makan dengan di bantu Mbo Inah, berpura-pura tidak perduli dengan apa yang telah di lihatnya tadi.
Tapi berbeda dengan raut wajahnya yang nampak cemberut dengan bibir yang terlihat manyun menghiasi aura cemburunya tanpa dia sadari.
Namun Alex yang masih duduk di tempat, tidak sengaja melihat raut wajah Anita yang seperti itu, membuatnya sedikit tersenyum dan diam-diam menyukai ekspresi wajah Anita yang terlihat lucu di matanya.
"Tuan, kenapa tersenyum seperti itu saat melihatku?" tanya Anita saat dia tidak sengaja melirik Alex sambil membersihkan meja tersebut.
"Yeeh... gr, siapa juga yang tersenyum saat melihatmu" ucap Alex sambil menormalkan kembali bibirnya dan kemudian berbalik bangkit dari tempat duduknya menghindari tatapan Anita, lalu pergi meninggalkannya menuju kamar pribadinya.
"Gr kata dia?. Orang jelas-jelas dia tersenyum saat melihatku" ucap Anita dengan wajah betenya setelah dia melihat Alex pergi dari hadapannya.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu di wajahku yang membuatnya menertawakan aku. Ah... gak ada apa-apa" lanjut Anita berbicara sambil meraba-raba wajahnya sendiri, takut ada sesuatu yang menempel, pikirnya.
Kemudian datang Mbo Inah berniat untuk mengajak Anita makan malam bersamanya di dapur.
"Mbo. Apa Mbo melihat sesuatu di wajahku?" tanya Anita pada Mbo Inah, masih penasaran apa yang dilihat Alex dari wajahnya.
"Cantik" ucap Mbo polos sambil melihat-lihat wajah Anita.
"Mbo serius!" ucap Anita, dikiranya Mbo Inah malah bercanda.
"Iya Mbo serius. Wajah nak Anita memang cantik" ucap Mbo Inah jujur namun dengan wajah polosnya.
"Ah Mbo ini"
"Memangnya kenapa nak Anita?"
"Ah sudahlah Mbo, tidak penting juga"
"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita makan malam dulu. Nak Anita juga pasti belum makan, kan?" ucap Mbo Inah lalu segera mengajaknya makan malam.
"Iya, Mbo" lirih Anita terlihat tak bersemangat.
Kemudian Anita pun pergi mengikuti Mbo Inah ke dapur sambil menggandengnya manja. Sudah menganggap Mbo Inah sebagai neneknya sendiri.
Sementara itu Alex di kamarnya terlihat sedang menatap sebuah buku kecil berwarna merah marun dan hijau tua.
Dia tidak menyangka niat awal untuk mengantar Anita ke kampungnya malah pulang dengan membawa buku nikah pernikahan dia dan Anita.
Meski terselip ada senyum di wajah Alex saat melihat buku-buku kecil itu dan seolah merasa senang melihatnya.
Namun sesaat kemudian, dia merasa bingung tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan buku-buku itu.
Terlebih saat Alex mengingat Anita pernah berkata bahwa dia tidak ingin menikah dengan dirinya.
Hal itu, entah kenapa membuat Alex merasa kecewa dan sedih setiap kali mengingat Anita pernah berkata seperti itu.
Namun lagi-lagi dia menepis perasaannya pada Anita.
"Kenapa aku harus merasa bersedih. Itu haknya tidak ingin menikah denganku. Dan kenapa juga aku harus kecewa. Bodoh sekali kau ini, Alex" ucap Alex pada dirinya sendiri.
Kemudian pelan-pelan dia melempar buku-buku tersebut ke atas kasur, sebagai bentuk bahwa dia juga tidak perduli dengan pernikahan yang telah terjadi di antara dia dan Anita.
Lalu Alex masuk kedalam toilet untuk segera mandi dan selama beberapa menit, dia merendam tubuhnya di bak mandi dengan air hangat supaya luka-luka bengkak yang ada di badannya tidak terlalu sakit dan pegal.
__ADS_1