
"Anita?"
"Azza?"
Pekik mereka berbarengan, saat mereka saling melihat satu sama lain.
"Maaf... maksud saya tuan Raja" ucap Anita membenarkan panggilannya saat sadar dia sedang berada di dalam ruangan Direktur yang pasti Raja adalah bosnya, pikir Anita begitu.
Raja tidak terlalu ambil pusing kata-kata Anita. Dia fokus pada lukanya, terlebih saat tahu, yang terluka adalah tangan Anita.
Spontan Raja mengambil jari tangan Anita lalu mengemut jari tangan yang terluka supaya tidak lagi berdarah tanpa perduli tangan Anita kotor habis mengelap tumpahan kopi.
Namun Anita buru-buru menarik tangannya, dia tahu tangannya pasti kotor dan tidak sepantasnya juga Raja melakukan hal itu.
"Cukup tuan" ujar Anita segera menarik tangannya.
"Tangan saya kotor, tidak baik Anda melakukan hal itu" lanjut Anita merasa malu sambil menundukan kepalanya dan memegang tangannya yang terluka. Lalu kembali hendak memungut pecahan gelas kaca yang belum selesai dia bersihkan.
"Kalau begitu biarkan aku mengobatinya. Aku minta maaf, Ini juga salahku membuatmu terkejut dan melukai tanganmu sendiri" ujar Raja merasa bersalah.
"Sudah Anita. Tidak perlu kamu bersihkan lagi" lanjut Raja menghentikan Anita yang ingin membersihkan pecahan gelas kaca tersebut.
"Tunggu sebentar" pinta Raja pada Anita, hendak mengambil kotak P3K keluar.
Namun Anita tidak mau mendengarkan Raja, segera Anita membersihkan serpihan kaca tersebut setelah Raja meninggalkannya sendiri di ruangan itu.
Kemudian Anita cepat-cepat keluar dan menghindar dari Raja.
Lalu beberapa menit kemudian Raja kembali ke ruangannya dengan membawa kotak P3K di tangannya, namun saat Raja membuka pintu, Anita sudah tidak ada di ruangan tersebut.
"Anita..." panggil Raja saat membuka pintu.
"Kemana dia?" tanya Raja pada dirinya sendiri sambil mengedarkan pandangannya ke ruangan tersebut, di lihatnya sudah bersih tempat dimana tadi tumpahan kopi dan serpihan kaca berserakan.
"Dasar keras kepala..." ujar Raja saat mengingat Anita tidak menuruti kata-katanya untuk tidak membersihkannya dan tidak pergi kemana-mana.
Sementara itu di luar Anita terlihat terburu-buru, dia takut Raja mengikutinya. Segera dia masuk ke dalam toilet perempuan setelah membuang serpihan gelas kaca yang tadi di bereskannya.
Kemudian Anita berbicara sendiri di kamar toilet tersebut sambil memegang jari yang terluka, masih terasa sakit.
"Ya Tuhan... Bagaimana ini. Ternyata Raja adalah bos ku sendiri. Aku tahu Raja anak orang kaya, tapi aku tidak tahu ternyata dia juga bos ku sekarang. Jika tahu begini, aku pasti akan merasa canggung kalau nanti bertemu dia lagi... haduuuhh... mana tadi dia mengajak ku makan malam dan aku sudah menyetujuinya... Ini situasi yang benar-benar aku benci" gerutu Anita meluapkan segala isi hatinya saat ini di dalam toilet.
Kemudian setelah Anita puas berbicara sendiri, dia segera mencuci jari yang tadi sempat terluka. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, meski kepalanya di rasa pusing karena pertemuan tadi dengan Raja yang membuatnya sedikit setres karena akan mengakibatkan ketidak nyamanan saat bertemu dengan Raja nanti.
Bukan Anita malu ketahuan bekerja sebagai cleaning servis di hotelnya. Melainkan dia tidak ingin merasa tidak nyaman dan merasa canggung yang slalu tiba-tiba datang jika tahu orang yang dekat dengannya mempunyai posisi tinggi dan kaya raya.
__ADS_1
Anita tidak ingin mendengar orang lain berkata bahwa dia dekat dengan orang kaya hanya karena uangnya, terlebih sekarang ini Raja adalah bosnya.
Dan dia sudah mengalami cibiran dari teman-teman kampus nya yang menganggap dirinya berteman dan bersahabat dengan Lolita hanya karena Lolita anak orang kaya.
Namun beruntung Lolita dapat meyakinkan Anita untuk tidak mendengarkan mereka. Karena Lolita yakin bahwa Anita bersahabat dengan nya tulus dari hati.
Sementara itu jam makan siang sudah waktunya. Segera Anita mengambil kotak makan siang dan memakannya di ruangan tempat para pekerja seprofesinya istirahat.
Baru Anita makan dua suapan, sudah berdering bunyi tanda pesan masuk di hpnya. Yang lain dan tidak bukan pesan dari Alex.
Namun sebelumnya Anita tidak pernah merasa mencantumkan nomor Alex di kontak hpnya. Namun tanpa Anita tahu sudah ada nama kontak yang di beri nama "Alexander no 1" yang saat ini memberi bunyi pesan masuk di hpnya.
Tentu hal itu membuat Anita menghentikan makan siangnya dan merasa heran. Segera ia mengecek isi pesannya yang membuat Anita tidak salah menebak.
"Dasar... sejak kapan aku memberi nama kontak pria tua bermasalah ini?. Tidak penting" pekik Anita merasa kesal saat melihat isi pesan yang membuatnya yakin itu dari Alex.
"Oh... aku ingat sekarang. Pasti kemarin saat aku sedang di permak, dia pasti menyuruh asistennya diam-diam mengecek hp ku dan mencantumkan namanya seperti ini" pikir Anita menerka-nerka.
"Kau pikir bisa mengotak atik hp ku seenakmu. Aku bisa menggantinya. Enak saja "Alexander no 1" bukan, tapi "Pria Tua ****** No 1" ehehehe" ujar Anita mengganti nama kontak Alex menjadi terdengar lebih kasar dan di akhiri dengan tawa gilanya.
Lalu tiba-tiba datang seorang teman seprofesi yang bernama Jono, bersamaan saat Anita sedang tertawa gila menertawakan nama kontak Alex yang tadi Anita ganti.
"Anita... Kau kenapa. Kau tidak gila, kan. Tertawa sendiri. Membuatku takut saja" seloroh Jono.
"Eh Jon.." seru Anita saat Jono ada di hadapannya.
"Tapi bukan untuk di konsumsi publik... hehehe" lanjut Anita bicara pada Jono.
"Ah .. kau ini" ucap Jono menanggapi Anita.
Kemudian Anita pun melanjutkan makan siangnya tanpa perduli apa yang telah di kirimkan Alex lewat pesan singkatnya.
Sementara Alex yang sudah mengirim pesan pada Anita merasa kesal karena lagi-lagi Anita mengabaikannya dan tidak membalas pesannya sama sekali.
Membuatnya kesal dan menggebrak meja, bersamaan saat Sonia masuk hendak mengantarkan makan siang Alex ke ruangannya. Hal itu tentu membuat Sonia kaget dan merasa takut.
"Ma...maaf tuan. Sa.. saya mau mengantarkan ma.. makan siang tuan" ucap Sonia mendadak gagap, merasa takut Alex menggebrak meja, marah karena kejadian saat itu, pikir Sonia kemana-mana.
"Taruh saja disitu" kesal Alex melampiaskannya pada yang ada.
Kemudian Sonia segera buru-buru keluar takut kena sabetan lidah Alex yang terlihat sedang dalam mode tidak baik-baik saja.
Setelah pintu tertutup dan Sonia keluar, Alex terlihat semakin kesal dan geram. Dia merasa Anita bertambah kurang ajar dan sulit di atur.
Alex tidak suka dengan pembangkang, pembohong, dan penipu seperti Anita. Dia harus melakukan sesuatu pada Anita, agar Anita tidak lagi membangkang dan membuatnya merasa di bohongi, pikir Alex tentang Anita.
__ADS_1
Sementara itu, Rio belum juga pulang dari rumahnya Lolita. Rio masih menunggu untuk sekedar mendengar suara Anita atau melihatnya dari layar pipih yang bernama telpon.
Segera dia meminta adik sepupunya tersebut untuk menghubungi sahabatnya. Karena jam di tangannya sudah menunjukkan masuk jam istirahat para pekerja pada umumnya.
Sebenarnya Lolita merasa ogah untuk menghubungi Anita di samping kakak sepupunya tersebut. Tapi karena melihat dari tadi pagi Rio menunggu sampai tidak mau pulang sebelum dia melihat Anita dan berbicara sebentar untuk sekedar menghilangkan rasa rindunya pada Anita.
Dan dengan terpaksa, akhirnya Lolita menelpon sahabatnya tersebut. Tentu hal itu membuat Anita langsung mengangkat panggilan telepon tersebut saat tahu itu dari Lolita.
"Hallo Lit..." sapa Anita saat menerima panggilan telepon Lolita sambil memakan kotak nasi yang belum selesai di habiskannya.
"Hallo Nit. Kamu lagi break, kan?" tanya Lolita basa basi sambil melihat Rio yang terus menatapnya.
"Iya. Ini lagi makan siang" jawab Anita jujur.
"Kenapa emangnya" tanya Anita sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Ini ada yang rindu berat sama kamu. Dia pengen ngomong langsung sama kamu" ucap Lolita dengan wajah kesalnya yang dia perlihatkan pada Rio.
"Siapa?" tanya Anita pura-pura perduli.
"Ini ngomong aja sendiri" Ucap Lolita sambil memberikan hpnya pada Rio dengan wajah betenya.
Namun Rio tidak perduli dengan raut wajah adik sepupunya yang di tampakkan padanya. Rio hanya menanggapinya dengan menjulurkan lidah tanda masa bodo.
"Hallo Nit. Apa kabar?" sapa Rio basa basi.
"Oh kak Rio... Aku baik"
"Syukurlah kalau begitu. Nit boleh kita video call lan?"
"Video call?... Oh boleh"
Kemudian Anita pun menyalakan videonya dan begitupun sebaliknya. Namun pada saat bersamaan Anita hendak mencuci tangan dan meminta tolong Jono untuk memegang hp nya terlebih dahulu.
Lalu saat video sudah menyala, terlihat Rio tersenyum sumeringah karena merasa hendak bertatap muka dengan Anita.
Tapi apa yang terjadi, malah muka Jono yang di lihat Rio. Jono malah sengaja mendekatkan wajahnya pada kamera hingga terlihat memenuhi layar di hp Rio dengan wajah usilnya. Tentu hal itu membuat Rio malah kaget dan berkata kasar.
Cilukba..... wajah Jono menghiasi layar hp Rio.
"Anj***..." kaget Rio saat melihat layar hpnya dipenuhi wajah konyol Jono. Sementara Lolita yang melihatnya malah tertawa terbahak-bahak.
"Woyy siapa lu?. Anita nya mana?" pekik Rio bertanya.
"Sorry bos. Anita nya lagi ke toilet, cuci tangan dulu" ujar Jono pada Rio
__ADS_1
"Sialan malah rempahan rengginang yang gua lihat" seloroh Rio sambil menjauhkan hpnya terlebih dahulu.