
Tujuh tahun kemudian setelah kejadian itu, Anita rupanya telah pergi dari kota tempat tinggal Alex dan Lolita tinggal.
Dia tinggal di kota lain, dimana dia telah menghabiskan waktunya untuk berusaha melupakan Alex dan Lolita.
Dan selama itu pula, Lolita terus berusaha mengabaikan daddy nya dan memintanya untuk mencari sahabat sekaligus ibu sambungnya tersebut.
Rupanya Lolita telah mengetahui bahwa daddy dan sahabatnya tersebut sudah pernah menikah. Hal itu di ketahui Mbo Inah tanpa sengaja, saat dia sedang beres-beres merapikan pakaian Alex di lemarinya dan menemukan buku nikah Alex dan Anita.
Tentu setelah mengetahui itu, Mbo Inah langsung memberitahu Lolita. Melihat buku nikah daddy dan sahabatnya, membuat Lolita semakin marah dan kesal pada daddy nya tersebut.
Lolita meminta agar daddynya segera mencari sahabatnya tersebut. Dia merasa bahwa ayahnya tersebut telah keterlaluan memperlakukan Anita seperti itu.
Dia berpikir alasannya untuk mengusir Anita dan marah padanya adalah sesuatu hal yang tidak seharusnya dia lakukan.
Lolita juga berkata, seharusnya ayahnya tersebut memberitahu dirinya dan mencaritahu dulu kebenarannya.
Hingga akhirnya setelah Alex mendengar semua ucapan Lolita tentang restunya dan begitu dia menyayangi sahabatnya tersebut, membuat Alex menjadi semakin bersalah dan kepikiran terus tentang Anita.
Namun semua itu telah terlambat, dia harus menghabiskan waktu tujuh tahun untuk mencari Anita dan memikirkannya.
Tidak hanya itu, kini anaknya juga ikut menjauhinya sebelum dia dapat menemukan Anita dan membawanya kembali.
Di pagi hari sebelum Lolita dan Alex berangkat kerja ke kantornya.
"Mbo... aku sarapannya di mobil aja, tolong siapin bekelnya" ucap Lolita saat melihat ayahnya sudah duduk di kursi meja makan.
Rupanya Lolita masih tidak menghiraukan ayahnya tersebut, dia merasa karena daddynya sahabatnya jadi pergi dan menjauhinya juga tanpa kabar sedikit pun.
"Loh non, gak makan disini lagi?" tanya Mbo Inah.
"Enggak Mbo, males deket-deket sama pembohong. Udah tujuh tahun, katanya mau di cariin, tapi mana sampe sekarang gak ada kabarnya sama sekali" ucap Lolita sengaja di keraskan menyindir daddy nya yang hendak menyuap sandwich ke mulutnya.
Membuat Alex menghentikan sarapannya lebih dulu dan menarik nafasnya berusaha bersabar. Kemudian hendak berbicara pada anaknya tersebut.
"Sayang... maafkan Daddy. Daddy tahu, Daddy salah. Tolong jangan membuat Daddy tambah bersalah" ucap Alex pada anaknya berusaha mencoba kembali berbicara pada Lolita.
"Mbo tolong bilangin, Loli gak mau denger alasan apapun dan Loli gak mau bicara sebelum daddy nemuin sahabat Loli" ucap Lolita kembali menyindir ayahnya tersebut bertingkah seperti anak kecil.
__ADS_1
Mbo Inah yang melihat tuan dan anaknya seperti itu hanya bisa diam dan bingung tidak tahu harus melakukan apa.
"Kalau begitu aku berangkat kerja dulu ya Mbo" ucap Lolita pada Mbo Inah tanpa menyapa daddynya yang sudah sering dia abaikan.
Dan Alex hanya menarik nafas pasrah di perlakukan anaknya sendiri seperti itu.
Bahkan di kantornya pun, Lolita tidak mau siapapun tahu kalau Alex adalah ayahnya. Lolita sampai mengancamnya, bahwa dia tidak ingin bekerja di perusahaannya jika dia di perkenalkan sebagai anaknya tuan Alex.
Entah karena dia marah pada daddynya atau dia memang sengaja tidak ingin di kenal sebagai anak dari pengusaha sukses ternama seperti Alex.
Sementara itu di tempat lain di sore hari, Anita terlihat bahagia saat menatap seseorang sambil dia duduk di kursi tunggu. Kemudian seorang anak laki-laki berumur kurang lebih enam tahun berwajah tampan dan menggemaskan berlari ke arahnya.
"Mamah... mamah..." panggil anak tersebut sambil berlari memeluk Anita.
Rupanya anak itu anaknya Anita, anak tersebut terlihat begitu mirip dengan Alex.
"Sayang... bagaimana sekolah mu hari ini. Apa kau mendapat kesulitan?" tanya Anita dengan senyuman manisnya saat anak tersebut berada di hadapannya.
"Tidak Mah. Hari ini aku tidak mendapat kesulitan sama sekali. Tapi..." ucap anak tersebut, namun perlahan meredupkan keceriaannya dan ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu pada ibunya tersebut.
"Tapi kenapa Alexa?. Kenapa wajahmu di tekuk seperti itu. Apa ada yang menyakitimu?" tanya Anita pada anaknya, namanya terdengar persis seperti Alex. Entah apa yang membuat Anita memberanikan nama itu untuk anaknya tersebut.
Kemudian dia segera menatap ibunya tersebut tidak ingin membuat Anita merasa bersedih karena kata-katanya.
Walaupun sebenarnya dia merasa sedih karena merasa iri pada teman-temannya yang terlihat memiliki ayah dan membawakan hadiah oleh ayahnya masing-masing.
Namun karena terakhir kali dia menanyakan dimana ayahnya membuat ibunya terlihat bersedih dan diam-diam menangis di belakangnya. Dan anak tersebut mengetahui hal itu.
"Jadi... nanti kalau aku bertemu dengan ayah, aku akan meminta banyaaak hadiah darinya. Bukan begitu, mah" ucap anak tersebut tiba-tiba melanjutkan ucapannya dengan terlihat antusias dan tersenyum. Dia berpikir, dia tidak boleh terlihat bersedih di hadapan mamahnya, supaya mamahnya tidak merasa bersedih lagi.
Alexa selain anaknya tampan dan menggemaskan tapi di usianya yang terbilang masih sangat muda, dia sudah memahami perasaan ibunya sendiri.
Dan bukan hanya itu, dia juga bisa di katakan anak jenius. Karena kejeniusannya dia malah terlihat lebih dewasa pemikirannya di banding dengan anak-anak lain seusianya.
Tapi Anita yang memahami maksud anaknya tersebut, diam-diam dia merasa sedih dan teringat kembali pada Alex, bagaimana dia sampai hamil dan melahirkan anaknya tersebut.
"Maafkan mamah sayang... Mamah tidak bisa memberitahumu siapa dan dimana ayahmu sebenarnya saat ini. Mamah harap kamu mengerti. Mamah belum siapa kehilangan mu" ucap Anita dalam hati, juga tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di depan anaknya tersebut, sambil memeluknya menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
"Iya sayang... nanti mamah saja yang belikan kamu hadiah, ya. Tidak apa-apa, kan?" ucap Anita sambil menatap anaknya langsung namun tidak ingin menjanjikan sesuatu hal yang menurutnya sulit untuk di lakukan.
Yaitu menghadirkan ayahnya untuk membawakan hadiah seperti apa yang telah tadi anaknya katakan.
Kemudian mereka pun segera beranjak dan hendak pulang ke rumahnya.
Namun setelah mereka keluar dari gerbang sekolah, tiba-tiba ada seseorang yang menunggu mereka di samping mobil.
Dan Alexa mengenali orang tersebut hingga membuatnya berlari menghampirinya dan melepaskan tangannya dari tangan mamahnya.
"Paman Raja..." teriak Alexa dengan antusiasnya. Rupanya orang tersebut adalah Raja.
"Paman... Apa paman menjemput kami?" tanya Alexa dengan senyuman manisnya.
"Iya tentu saja. Paman sudah kangen sama kamu" ucap Raja sambil menggendong anak tersebut.
"Coba tebak. Hari ini paman bawa oleh-oleh apa buat kamu?" tanya Raja mencoba bersikap lebih dekat dengan Alexa.
"Paman bawa oleh-oleh untukku?" tanya Alexa terlihat bahagia saat mendengar Raja membawakannya oleh-oleh dan Raja mengedipkan matanya tanda memberi jawaban mengiyakan.
"Sungguh?" ucap Alexa memastikan.
"Sebentar... Paman ambilkan oleh-olehnya dulu di mobil" ucap Raja sambil menurunkan Alexa dari gendongannya dan segera mengambilkan oleh-oleh dari dalam mobilnya.
"Ini dia.." lanjut Raja setelah mengambil barang bawaannya dan menunjukannya pada Alexa.
"Bagaimana. Apa kamu suka?" tanya Raja setelah memberikan oleh-olehnya, dan membuat Alexa terlihat senang saat menerimanya.
Sementara itu, Anita yang melihat interaksi mereka dan perlakuan Raja pada anaknya merasa sedikit tidak enak hati pada Raja.
Selain dia telah menolak Raja saat menyatakan cintanya, namun Raja tetap membantunya selama ini. Dan dia juga memberi pekerjaan untuk Anita di kota yang saat ini dia tinggali.
Bagi Raja untuk mencarikan Anita pekerjaan adalah mudah, meski Anita sempat menolak untuk menerima bantuannya.
Tapi karena Raja tulus membantu Anita dan tidak mengharapkan balasan cinta sebagai penggantinya. Akhirnya Anita menerima bantuannya tersebut. Terlebih saat itu Anita juga sudah memiliki anak yang harus dia hidupi dengan layak.
Meskipun sebenarnya Raja masih mengharapkan Anita dapat berubah pikiran, tapi itu tidak menjadikannya egois.
__ADS_1
Dia berpikir selama dia masih dapat berhubungan baik dengan Anita, meskipun cintanya di tolak, hal itu tidaklah masalah untuknya.