
Perlahan Anita bangkit dan beranjak dari tidurnya. Sambil sesekali dia masih terlihat sesenggukan.
Kemudian dia segera melihat cermin yang tidak jauh dari kasur tempat dia tidur, terlihat dirinya yang lusuh dengan mata sembabnya kedalam cermin tersebut.
Namun kini dia tidak ingin berlarut-larut lagi dalam tangisan. Segera Anita mengusap matanya yang masih terlihat meneteskan air mata.
Kemudian Anita langsung kedalam kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya dan bersiap-siap menjalani harinya seperti biasa.
Meskipun dengan raut wajah yang tidak seceria sebelumnya.
Singkat cerita Mbo Inah sudah menyiapkan sarapan paginya dengan di bantu pelayan lain yaitu Mawar dan Icha.
Sepanjang memasak dua pelayan julid tersebut terus saja nyinyir tentang Anita. Sementara Mbo Inah hanya bisa geleng-geleng kepala meskipun sempat menegur mereka untuk tutup mulut dan cukup melakukan pekerjaannya masing-masing.
Namun karena sudah adat keduanya, membuat mereka tidak perduli dengan ucapan Mbo Inah yang menegur mereka.
Beruntung mereka sudah pergi saat Anita sudah datang dan segera membantu Mbo Inah meski dia merasa tidak enak hati karena membiarkan Mbo Inah memasak sendiri, pikir Anita.
"Mbo sudah menyiapkan semuanya" ucap Anita saat sudah melihat beberapa hidangan hampir tertata semuanya di atas meja makan.
"Maaf, Mbo. Aku bangun terlambat lagi. Aku jadi membuat Mbo kerepotan sendiri" ucap Anita merasa tidak enak hati.
"Tidak, nak Anita. Jangan bicara seperti itu. Mbo mengerti, kok" ucap Mbo Inah, merasa sudah tau apa yang menyebabkan Anita bangun terlambat seperti pagi ini. Sambil menata hidangan di atas meja tersebut.
"Terima kasih, Mbo" ucap Anita menanggapinya.
"Apa Mbo sendiri yang memasak semua ini?" tanya Anita saat melihat masakan yang sebagian telah terhidang di atas meja makan.
"Tidak juga. Tadi Mbo di bantu sama Mawar dan juga Icha. Tapi kamu tenang saja, Mbo sudah mengusir mereka untuk mengerjakan pekerjaan lain. Mbo tahu mereka itu sedikit iri sama kamu. Jadi Mbo usir saja mereka" ucap Mbo pada Anita dengan di akhiri rasa kesalnya pada dua pelayan julid tersebut.
"Mbo... jangan begitu. Bagaimana pun mereka tidak mengerti dengan keadaan Anita sehingga membuat mereka salah paham. Seperti...." ucapnya jujur menanggapi ucapan Mbo Inah, namun diakhiri dengan sedikit mengingatkannya pada kesalahpahaman Alex terhadapnya.
"Ya sudah... Tidak perlu diteruskan. Lebih baik nak Anita bantu Mbo mengambilkan buah-buahan dan air minum di dapur, ya" ucap Mbo Inah saat menyadari ucapan Anita yang mulai melemah mengingatkannya kembali pada tragedi lokal tersebut.
Namun Mbo Inah yang mengerti dengan ucapan Anita yang mau ke arah mana, segera mengalihkan pembicaraan dan akal pikirannya ke hal-hal lain.
__ADS_1
"I..iya Mbo" ucap Anita saat pikirannya kembali sadar.
"Kalau begitu saya bantu ambilkan ya, Mbo" lanjut Anita sambil menyeka air matanya yang hampir menetes kembali kemudian segera pergi ke dapur.
Sementara itu Alex sudah siap dengan pakaian rapihnya dan segera duduk di atas kursi meja makan. Namun sebelum itu, terlihat Alex celingak-celinguk seperti melihat-lihat keadaan seseorang.
Rupanya dia merasa khawatir jika tiba-tiba bertemu dengan Anita yang akan membuatnya merasa bersalah namun bingung harus berkata apa.
"Selamat pagi, tuan" sapa Mbo Inah saat melihat kehadiran Alex, sambil masih menyusun makanan di atas meja makan.
"Iya pagi, Mbo" ucap Alex menanggapi Mbo Inah dengan masih melihat-lihat kiri kanan sambil duduk di kursinya.
"Tuan, apa anda sedang mencari seseorang?" tanya Mbo Inah merasa bingung, saat melihat tuannya celingak-celinguk seperti mencari seseorang.
"Ah.. tidak. Tidak Mbo" ucap Alex berpura-pura bersikap biasa-biasa saja.
"Tuan, kenapa bibir anda bengkak dan memar seperti itu?" tanya Mbo Inah lagi, berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi pada bibir tuannya.
"I..ini" ucap Alex sedikit gelagapan, merasa bingung harus menjawab apa.
"Aahh .. sudahlah Mbo. Jangan banyak bicara terus. Lebih baik Mbo ambilkan saya minum, cepat" pekik Alex merasa kesal tidak dapat menjawab pertanyaan Mbo Inah dan lebih memilih mengalihkan pembicaraan tersebut.
Kemudian, tiba-tiba Anita datang dengan membawa air minum di tangannya. Namun sesaat menghentikan langkah kakinya, saat melihat Alex sudah berada di tempat duduknya, membuat Anita menarik nafas untuk menghilangkan kegugupan dan rasa takutnya terhadap Alex.
"Nah itu dia, tuan. Air minumnya sudah datang" ucap Mbo Inah tidak jadi mengambilkan air minum untuk tuannya, saat melihat Anita sudah datang dengan membawa air minum di tangannya.
Namun Alex yang baru menggigitkan roi ke mulutnya, tiba-tiba merasa terkejut dan byur mengeluarkan rotinya kembali, merasa tersedak saat melihat Anita datang dan menghampirinya.
"Aduh tuan. Hati-hati makannya" ucap Mbo Inah yang berada di sebrang meja Alex, merasa khawatir saat melihat tuannya tiba-tiba tersedak.
"Nak Anita. Cepat beri tuan air minumannya, kasihan tuan" pinta Mbo Inah pada Anita yang saat itu masih menahan langkahnya.
"I.. iya Mbo" ucap Anita sedikit terbata-bata karena melihat Mbo Inah yang terlihat khawatir pada tuannya.
Kemudian Anita segera mempercepat langkahnya, terpaksa menghampiri pria tua bangka yang sudah membuatnya marah besar namun tak berdaya meluapkan amarahnya secara langsung pada pria tersebut yang bernama Alexander Wijaya itu.
__ADS_1
"Ini minumlah!" ucap Anita sambil memberikan segelas air pada Alex dengan wajah manyunnya sambil perlahan ngabaliyer alias membuang muka dari wajah Alex.
"Terima kasih" ucap Alex lirih, tidak berani menegur sikap Anita tersebut yang terbilang tidak sopan pada dirinya. Karena Alex juga merasa bersalah pada Anita setelah apa yang telah di lakukan padanya.
Kemudian Anita pun berdiri kembali di samping Alex seperti biasanya, menunggu perintah Alex yang biasa banyak maunya untuk sekedar mengambilkan makanan dan lauk pauk yang Alex inginkan di atas meja makan.
Sementara Mbo Inah segera kembali ke dapur.
Namun berbeda kali ini, raut wajah Anita penuh dengan kekesalan dan rasa marah yang terpendam. Dan Alex juga tidak bisa mengomel-ngomel seperti biasanya.
"To.. tolong aa...ambilkan itu!" pinta Alex mendadak gelagapan pada Anita, sambil menunjuk makanan yang agak jauh dari jangkauan nya, merasa tertekan dengan ulahnya sendiri yang dia lakukan tadi malam terhadap Anita.
"Te.. terima kasih" ucap nya masih dengan terbata-bata, saat melihat Anita dengan wajah dinginnya yang tak bersuara. Seolah Anita enggan untuk berbicara dengan Alex. Dan Alex pun paham dengan sikap Anita tersebut.
Sementara itu, Anita yang terlihat tidak ingin bicara sama sekali pada Alex, diam-diam menggerutu dalam hatinya.
"Lihat pria tua bangka ini, tidak tahu malu. Bukannya minta maaf malah berlagak tidak ada masalah di hadapan ku" gerutu Anita dalam hati sambil terus melihat dan menatap Alex dari belakangnya yang sedang berusaha menghabiskan sarapan di samping nya.
"Aku tidak mengerti, bagaimana Lolita bisa terlahir dari benih tua bangka bej4d ini. Sikap mereka benar-benar begitu berbeda. Apa Lolita anak angkatnya?" lanjut Anita menerka-nerka hubungan Alex dengan sahabatnya tersebut. Merasa tidak percaya Alex adalah bapak dari sahabatnya, setelah apa yang dilaluinya semalam.
Sementara itu, Alex yang merasa terus di tatap oleh Anita dari belakang, membuatnya merasa tidak nyaman dan tidak bisa makan dengan tenang.
"Kenapa dia terus menatapku seperti itu. Apa dia ingin memukulku dari belakang" ucap Alex dalam hati saat dia mencoba melihat ke arah Anita.
"Kalau dia terus menatapku seperti itu, bagaimana aku bisa makan dengan kenyang dan tenang" lanjut Alex dalam hati.
"Ahh sudahlah. Lebih baik aku sudahi saja sarapan ini. Daripada aku ngebatin seperti ini" ucap Alex kembali dalam hati.
"A...aku su.. sudah selesai sarapannya. A..aku berangkat dulu" ucap Alex merasa tidak dapat menormalkan sikapnya setiap kali melihat Anita dihadapannya.
Kemudian Alex pun pergi meninggalkan Anita yang masih membuang muka darinya.
Lalu setelah Anita melihat tuannya pergi dia kembali mendadak berani lagi dengan berseloroh menendangnya dari jarak jauh.
"Dasar pria tua egois, bukannya minta maaf malah cepat-cepat pergi" ucap Anita saat melihat tuannya pergi sambil berseloroh menendang Alex, merasa kesal padanya.
__ADS_1
"Loh... nah Anita. Tuannya kemana?" ucap Mbo Inah saat melihat tuannya sudah tidak ada, sambil membawa buah-buahan yang tadi belum sempat Anita bawakan.
"Tidak tahu Mbo. Tuan pergi begitu saja. Mungkin ada pekerjaan penting yang harus segera di selesaikan" ucap Anita pada Mbo Inah, tidak perduli tuannya pergi buru-buru tanpa menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu.