
Kemudian di rumah Alex, dia mendapat telepon dari Rafi yang menginformasikan bahwa Anita tanpa perlawanan sama sekali dan terlihat pasrah telah ikut ke kantor polisi atas apa yang telah di tuduhkan padanya.
Mendengar hal itu, Alex tidak habis pikir dengan cara berpikir Anita yang menerima begitu saja di bawa oleh mereka ke kantor polisi dengan pasrah.
"Apa kau yakin. Dia tidak melawan sama sekali ataupun memberontak?" pekik Alex meyakinkan apa yang telah di dengarnya.
"Benar tuan, saya yakin. Nona Anita benar-benar pasrah saat mereka membawanya ke kantor polisi" ucap Rafi di ujung telepon.
"Kalau begitu kau tetap harus terus mengawasi nya. Dan aku juga tidak mau mendengar penolakan lagi dari dirinya. Aku mau, kau harus membuatnya menandatangani kontrak itu. Bagaimana pun caranya. Mengerti!" marah Alex meluapkan kekesalannya pada Rafi.
Sebelum Alex mendengar tanggapan Rafi, dia sudah lebih dulu menutup telponnya.
Alex berpikir, kalau Anita terlihat pasrah saja saat di bawa oleh polisi, bagaimana dia bisa mengancam dan membawa Anita kerumahnya.
Tadinya niat Alex menyuruh Rafi untuk membawa para polisi tersebut ke tempat tinggal Anita hanya untuk menggertaknya supaya Anita mau dan menuruti semua perkataan Alex.
Tapi ternyata rencananya sia-sia, tidak seperti yang dia duga. Anita malah dengan pasrah dan bahkan tanpa perlawanan sama sekali ikut ke kantor polisi.
"Dasar sial... Dia benar-benar gadis keras kepala. Dia benar-benar tidak mau menurutiku sama sekali. Dan dia lebih memilih ikut ke kantor polisi" gerutu Alex berbicara sendiri.
"Baiklah... Rupanya kau tidak ada takut-takutnya padaku. Tapi tidak apa, itu membuatku semakin bersemangat untuk bermain-main denganmu. Aku ingin melihat sampai mana keberanianmu untuk terus melawan Alexander Wijaya" lanjut Alex berimprovisasi sendiri.
Sementara itu Anita sudah sampai di kantor polisi, dengan borgol masih di tangannya.
Namun sebelum Anita di masukan kedalam jeruji penjara, dia di bawa terlebih dahulu ke ruangan penerima tamu.
Ternyata di sana sudah ada Rafi dan salah satu pengacara Alex.
Mereka berniat untuk merubah pemikiran Anita dan mencoba bernegosiasi dengannya atas perintah Alex yang di wakilkannya pada Rafi dan juga pengacaranya.
"Selamat malam, Nona Anita" sapa Rafi sopan, saat melihat Anita sudah berada di hadapannya.
"Silahkan duduk dulu!" pinta Rafi pada Anita.
Sementara Anita terlihat tidak suka dengan wajah yang di tampakkannya.
"Kalau begitu, saya tinggalkan anda bersama mereka. Silahkan kalian berbicara bagaimana kelanjutan masalah ini akan di selesaikan. Permisi" ucap pak polisi yang dari tadi mengawasi Anita lalu pergi setelah berbicara pada Anita juga Rafi dan pengacara yang di bawa Rafi.
__ADS_1
Kemudian Rafi pun mulai berbicara pada Anita, meskipun terlihat wajah kesal Anita yang di tampakkan padanya. Namun dia pun dapat memahami apa yang tengah di rasakan Anita saat ini.
"Mohon kerjasama nya Nona Anita. Bisakah anda duduk dulu sekarang" pinta Rafi dengan sopan saat masih melihat Anita tetap berdiri.
"Sudahlah tuan Rafi. Tidak usah bertele-tele. Katakan saja apa yang sebenarnya tua bangka itu inginkan dariku" ucap Anita merasa cape.
"Tua bangka?" tanya Rafi merasa heran juga pengacara yang berada di sampingnya.
"Maksudku bos mu yang ngeselin itu" jawab Anita seloroh.
"Oh.." ucap Rafi baru paham.
"Baiklah kita langsung saja pada intinya. Jadi begini Nona Anita, jika anda ingin bebas dan keluar dari jeratan hukum yang saat ini menimpa anda. Anda harus menandatangani surat kontrak ini yang telah di buat oleh tuan Alex. Dan isinya... " ucap Rafi memberi tahu tapi terhenti saat Anita mulai komplen dengan adanya surat kontrak tersebut.
"Tunggu... maksudnya apa. Kenapa harus ada surat kontrak segala?" tanya Anita, merasa heran sampai harus ada surat kontrak untuk bisa mengeluarkannya dari jeratan hukum tersebut.
"Mohon maaf nona Anita. Kontrak ini dibuat, karena mengingat nona Anita tidak bisa memegang kata-kata dan janji nona sendiri pada tuan Alex. Itu sebabnya tuan Alex memerintahkan kami untuk membuat surat kontrak ini. Agar nona tidak lagi lagi mengingkari janji nona sendiri. Begitu yang beliau sampaikan pada kami" ucap Rafi menjelaskan.
"Apa?. Jadi dia pikir aku sengaja mengingkari janji dan kata-kata ku sendiri. Begitu?" ucap Anita sambil bertanya.
"Ok... baiklah. Tapi kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Anita tidak perduli dengan surat kontraknya.
"Tunggu... tunggu. Empat tahun penjara?" tanya Anita merasa kaget yang di jawab anggukan oleh pak pengacara tersebut.
"Membawa kabur uangnya?. Maksudnya bagaiman?. Jelas-jelas dia yang sudah menawarkan bantunya padaku. Bagaimana bisa itu di sebut membawa kabur uang nya?" tanya Anita, dan juga merasa tidak terima dengan tuduhan, telah membawa kabur uang tersebut. Hingga membuat Anita tidak bisa lagi duduk tenang.
"Tenang nona!" pinta Rafi mencoba menenangkannya.
"Itu benar nona Anita. Nona tenang dulu, jika anda dapat bekerjasama. Kami yakin masalah ini akan cepat selesai dan anda tidak perlu lagi merasa khawatir akan tinggal di balik jeruji" timpal pak pengacara mencoba bernegosiasi.
Sementara itu, Anita yang merasa bingung tidak menyangka jika hukumannya akan lumayan lama. Dia merasa empat tahun bukanlah waktu yang cepat untuk dia tinggal di penjara. Terlebih akan ada tambahan waktu jika tuduhan membawa kabur uangnya itu di terima hakim.
lama Anita berpikir, membuatnya merasa takut juga, jika benar-benar tuduhan tersebut membuatnya berlama-lama di penjara. Tentu hal itu tidak bisa Anita terima begitu saja.
Setelah Anita berlama-lama memikirkan segala resikonya dan membuatnya merasa benar-benar takut, akhirnya dengan terpaksa dia menyetujui syarat yang telah di berikan padanya.
Hingga akhirnya Anita bersedia menandatangani surat kontrak tersebut dan cerobohnya Anita, dia tidak berniat untuk membaca isi kontrak tersebut sedikitpun.
__ADS_1
Membuat Rafi merasa lega dapat terhindar dari amukan tuannya. Karena telah berhasil meyakinkan Anita untuk menandatangani surat kontrak tersebut.
"Baiklah. Dimana aku harus menandatangani surat kontraknya?" tanya Anita, sudah pasrah.
"Disini nona" ucap pak pengacara sambil menunjukan di mana saja Anita harus menandatangani surat kontrak tersebut, tanpa bertanya kembali untuk meyakinkan Anita membaca surat kontrak tersebut.
Setelah Anita selesai menandatangani surat kontrak tersebut. Akhirnya Anita dapat bebas dengan cepat.
Namun sebelum itu, Rafi telah menunggu di luar kantor polisi untuk membawa Anita segera kerumah tuannya, Alexander Wijaya. Sementara pak pengacaranya sudah pergi lebih dulu.
Kemudian Anita keluar dari kantor polisi setelah tadi juga harus menandatangani surat bebas penahanan dari kantor polisi.
Namun Anita yang melihat Rafi masih berada di sekitaran kantor polisi merasa bingung dan berbasa-basi menanyakannya.
"Tuan Rafi. Kenapa anda masih berada disini?" tanya Anita saat berhadapan dengan Rafi.
"Maaf nona. Saya sedang menunggu anda" sapa Rafi sopan, sambil terlihat sesaat menunduk cepat di hadapan Anita.
"Kenapa anda harus menunggu saya. Anda tidak perlu repot-repot mengantarkan saya pulang. Saya bisa pulang sendiri" ucap Anita heran, lalu berpikir Rafi hendak mengantarkannya pulang ke tempat tinggalnya.
"Tunggu nona. Tapi sesuai surat kontrak yang anda tanda tangani tadi, saya harus membawa anda ke rumah tuan Alexander Wijaya sekarang" ucap Rafi menghentikan langkah Anita.
Tidak hanya menghentikan langkah Anita, tapi kata-kata Rafi juga menghentikan sesaat detak jantung Anita karena merasa kaget dengan apa yang di katakan Rafi padanya.
Anita merasa mungkin dia salah mendengar, kalau Rafi mengatakan bahwa dia harus membawanya ke rumah Alexander Wijaya. Tentu itu tidak mungkin, pikir Anita.
Namun dia perlu memastikannya kembali. Lalu segera dia sadar dari rasa kagetnya dan mulai berbalik untuk memastikan apa yang tadi telah di dengarnya.
"Tunggu. Apa tadi yang anda katakan tuan?. Anda ingin membawa saya ke rumah tuan Alexander Wijaya. Begitu? tanya Anita memastikan saat berada di hadapan Rafi, yang di jawab anggukan olehnya.
"Ta..tatapi kenapa?" tanya Anita kembali dengan terbata-bata.
"Maksudnya apa?" tanya Anita lagi sebelum Rafi dapat menjawab pertanyaan tadi.
"Begini Nona. Karena anda tadi mungkin tidak membaca surat kontraknya terlebih dahulu. Jadi saya akan menjelaskan sedikit isi surat kontrak tersebut" ucap Rafi mencoba menjelaskan sedikit isi surat kontrak yang tadi tidak Anita baca sama sekali.
"Salah satu isi surat kontrak tersebut menjelaskan. Bahwa setelah anda setuju dan menandatangani surat kontrak tersebut. Tercantum di dalamnya, anda bersedia menjadi asisten pribadi tuan Alexander Wijaya selama anda belum dapat membayar lunas uang yang anda pinjam dari tuan Alex. Dan anda juga diharuskan untuk menetap di rumah tuan Alex untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Seperti, kemungkinan anda kabur atau lari dari tanggungjawab anda untuk melunasi uang pinjaman anda. Begitu kira-kira isi surat kontrak tersebut. Bagaimana nona, apa kita bisa pergi sekarang?" ucap Rafi menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
Namun Anita yang mendengarnya seakan tak percaya. Lagi-lagi dia membuat kecerobohan dengan tidak membaca surat kontrak tersebut terlebih dahulu.