
"Kalau begitu aku ke atas dulu" ucap Alex nampak tergesa-gesa.
Namun saat Alex di tengah tangga, dia berpapasan dengan Lolita dan Alexa. Membuat mereka merasa heran dan bertanya-tanya melihat ayahnya yang setengah telanjang.
"Daddy?... Kenapa hanya memakai handuk saja. Apa yang Daddy lakukan?" ucap Lolita saat melihat ayahnya seperti itu.
Namun Alex tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan anak perempuannya tersebut. Tanpa berkata apapun, Alex hanya dapat menghindar dan buru-buru ke kamarnya lagi, merasa malu sendiri.
"Kak Loli. Apa Daddy kita sering melakukan hal itu?. Memalukan sekali" tanya Alexa pada Lolita, namun tanpa berniat mendengarkan jawabannya, Alexa sudah menilainya sendiri.
"Tidak sayang. Daddy kita tidak seperti itu. Barusan hanya kebetulan saja" ucap Lolita tidak ingin Daddynya di anggap yang tidak-tidak oleh Alexa.
Kemudian mereka pun segera turun untuk menemui Anita.
"Mamah..." teriak Alexa menemui ibunya.
"Apa mamah hari ini masak?" lanjut Alexa bertanya.
"Iya sayang. Mamah hari ini bantuin Mbo Inah" ucap Anita menanggapi anaknya.
"Apa kamu ingin mamah buatkan sesuatu untuk mu?" lanjut Anita bertanya pada Alexa.
"Iya, Mah. Aku ingin masakan buatan mamah, seperti yang sering mamah buatkan untuk ku" ucap Alexa dengan senyuman manisnya.
"Baiklah... Kalau begitu mamah akan buatkan untuk mu" ucap Anita sambil membalas senyuman anaknya.
"Terima kasih, mah"
"Kalau begitu, aku juga mau di buatin. Bolehkan?" ucap Lolita ikut nimbrung, sambil menggerakkan satu alisnya pada Anita.
Lalu tiba-tiba Mbo Inah datang dengan membawa sabun mandi yang di minta tuannya tadi.
"Loh... tuannya mana, Non?" tanya Mbo Inah pada Anita.
"Sudah kembali ke kamarnya, Mbo. Sini biar aku saja yang mengantarkan sabunnya" ucap Anita, berniat mengantarkan sabunnya pada Alex.
"Jadi... Daddy tadi habis nyari sabun, toh" ucap Lolita mengingat Daddynya yang tadi tiba-tiba keluar kamar hanya dengan menggunakan handuk saja.
"Ya ampun... bisa-bisanya Daddy nyempetin buat minta sabun sampe pake handuk doang. Ada-ada aja" ucap Lolita merasa heran dengan kelakuan ayahnya tersebut.
"Udah, biarin aja. Mungkin Daddy mu lupa kalau di rumah ini bukan cuma dia seorang" ucap Anita menanggapi ucapan Lolita.
"Ya sudah kalau begitu. Mbo anterin sabunnya dulu" ucap Mbo Inah hendak mengantar sabunnya, tidak berani menyuruh Anita meski dia sudah menawarkan diri untuk mengantarkannya.
"Ekhem..." ucap Lolita memberi kode supaya Mbo Inah dapat mengerti.
Namun sepertinya Mbo Inah masih belum memahami kode Lolita, supaya Mbo Inah membiarkan Anita yang tadi berniat untuk mengantarkan sabunnya sendiri ke kamar Daddynya.
__ADS_1
"Mbo, aku haus. Bisa tolong ambilkan air untuk ku... Akheemm..." lanjut Lolita sambil berusaha mengedip-ngedipkan matanya supaya Mbo Inah dapat memahami rencananya.
Beruntung akhirnya Mbo Inah dapat mengerti saat Lolita mengedipkan matanya pada sabun yang di arahkan pada Anita.
"Oh iya baik, Non" ucap Mbo Inah mengerti.
"Kalau begitu, maaf Non Anita. Ini sabunnya saya serahkan sama Non" lanjut Mbo Inah menyerahkan sabunnya pada Anita.
Kemudian Mbo Inah segera berpura-pura mengambilkan minum untuk Lolita.
"Ya sudah kalau begitu. Kalian nonton tv dulu saja sambil nunggu makan malamnya jadi, ya" ucap Anita pada Alexa dan Lolita.
"Mamah anterin ini dulu ke atas" lanjut Anita bicara pada Alexa.
Lalu Anita pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar Alex.
Sementara itu, Alex yang sudah berada di dalam kamarnya merasa ceroboh dan uring-uringan sendiri.
"Ya Tuhan... bisa-bisanya aku ceroboh dan lupa kalau di rumah ini sudah ada Anita dan Alexa. Kalau begini caranya, malu-maluin diri sendiri" ucap Alex pada dirinya di dalam kamar sambil mondar mandir gak jelas.
Tiba-tiba suara pintu kamarnya terdengar di ketuk. Rupanya Anita yang hendak mengantarkan sabun pada Alex sudah berada di depan pintu.
"Aduuh... itu pasti Anita" ucap Alex mendadak salah tingkah setelah mendengar suara pintu di ketuk, tidak biasanya yang selalu masa bodo dan arogan.
"Tunggu sebentar" ucap Alex di balik pintu sambil membuka pintunya pelan dan sedikit-sedikit.
"Ini tuan sabunnya" ucap Anita sambil menjulurkan tangannya masuk ke dalam kamar Alex tanpa berani masuk lebih dalam lagi.
Sementara Anita hanya terdiam dan mengangguk tanpa bersuara, kemudian segera kembali pergi ke dapur untuk memasak.
"Aduuh... memalukan. Gara-gara sabun aku harus jadi merasa malu seperti ini" ucap Alex merasa kesal.
"Mbo Inah pake lupa segala lagi naru sabunnya" lanjut Alex ngedumel.
Kemudian dia pun segera kembali ke kamar mandi untuk menyelesaikan bersih-bersihnya.
Sementara itu, Anita segera memasak menyiapkan apa yang di minta anak dan sahabatnya tersebut.
Hingga makan malam pun jadi dan mereka segera berkumpul dan duduk di kursi meja makannya masing-masing.
Alexa nampak antusias untuk mencicipi masakan ibunya yang sudah beberapa hari ini dia melewatkannya karena sakit.
Namun sebelum itu, mereka menunggu Alex yang belum kunjung datang ke meja makan.
Rupanya Alex masih bersiap-siap menyiapkan dirinya supaya terlihat menarik di depan Anita.
Seperti ABG yang hendak bertemu gebetannya, Alex mendadak bingung untuk memakai pakaian mana yang pantas di pakainya malam ini.
__ADS_1
Padahal dia hanya akan makan malam di rumahnya sendiri.
Tapi karena dia mengingat ada Anita di rumahnya, mendadak membuatnya harus terlihat nampak keren dan mengagumkan hanya untuk mendapatkan perhatian dari Anita.
Alex sampai menyemprotkan parfum nya lebih banyak.
Dia benar-benar mendadak jadi lebay, pada hal sebelumnya dia sudah berniat untuk melepaskan Anita dan membiarkanya begitu saja.
Namun rupanya perasaan hatinya tidak bisa di bohongi begitu saja.
Alex masih berusaha untuk mendapatkan perhatian Anita. Sepertinya dia sedang memanfaatkan keadaan, sambil menyelam minum air.
Mumpung Anita bersedia tinggal di rumahnya dan tentu akan membuat mereka sering bertemu dan dekat, jadi hal itu perlu di manfaatkan dengan sebaik mungkin, pikir Alex.
"Selamat malam semuanya" ucap Alex menyapa, saat sudah berada di depan meja makan dan setelah beberapa lama di kamarnya.
Membuat Anita dan Lolita merasa bingung dan bengong saat menatap Alex yang memang nampak keren dan tampan.
Tapi hal itu malah membuat Anita dan Lolita merasa aneh dan bengong sekaligus mulai bertanya-tanya pada Alex.
"Daddy mau pergi kemana. Kenapa terlihat rapih sekali. Apa Daddy ada meeting lagi malam ini?" tanya Lolita penasaran, mengira ayahnya akan kembali bekerja untuk meeting dadakan.
Tapi tidak mengira bahwa ayahnya berpenampilan seperti itu hanya untuk mendapatkan perhatian dari Anita.
"Tidak... Daddy hanya akan makan malam bersama kalian saja disini" ucap Alex dengan santai nya dan dengan percaya dirinya.
"Apa?" ucap Anita dan Lolita pelan bersamaan, merasa aneh dengan penampilan ayahnya yang seperti itu hanya untuk makan malam di rumah.
"Ya Tuhan... Daddy kenapa jadi aneh begitu" ucap Lolita dalam hati.
"Tapi... sepertinya dia sengaja melakukannya, untuk dapat terlihat menawan di hadapan Anita" lanjut Lolita sambil menatap sesaat Anita dan ayahnya bergantian.
"Hmm... ada-ada saja. Cari perhatian Anita sampai segitunya. Mana farpum nya nyengat banget lagi" ucap Lolita kembali dalam hati sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Tapi baguslah. Setidaknya Daddy ada usaha untuk mendapatkan Anita. Meskipun saat ini penampilannya terlihat berlebihan" ucap Anita berpikir kembali.
"Daddy tampan sekali" ucap Alexa jujur dengan senyum manisnya.
"Terima kasih, sayang. Apa kamu suka?" ucap Alex pada anak laki-lakinyanya. Merasa sedang di atas awan, gr luar biasa.
"Tentu saja" ucap Alexa.
Alex merasa tersanjung dan besar kepala saat anak laki-lakinya mulai memujinya, dia merasa penampilannya berhasil membuat Alexa kagum memuji, apalagi Anita.
Sementara, entah apa yang sedang di pikirkan Anita tentang Alex saat ini. Dia nampak terlihat biasa saja meski sebelumnya dia merasa sedikit aneh dengan penampilan Alex yang hanya sekedar makan malam di rumah dan tidak dia sangka-sangka melihatnya seperti itu.
"Kalau begitu ayo kita makan malam sekarang" ucap Alex mulai mengajak mereka untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Kemudian mereka pun mulai menyiapkan piringnya masing-masing dan mengambil apa yang ingin di makan.
Mereka nampak terlihat senang dan bahagia saat merasakan kebersamaan makan malam yang sudah lama tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.