
Sementara itu di ruang tempat makan, terlihat seseorang sedang marah-marah menegur bodyguard dan baby siter yang tidak bisa menjaga seorang anak kecil yang di ketahui sebagai cucunya.
"Bagaimana kalian ini, bisa-bisanya kalian kehilangan cucuku saat dalam pengawasan kalian. Apa kalian ingin di pecat" pekik orang tersebut yang terlihat sudah kakek-kakek namun nampak tegas dan berwibawa.
"Cepat kalian cari lagi, kalau perlu suruh polisi datang kemari untuk membantu mencari cucuku" lanjutnya penuh emosi.
Membuat beberapa orang yang melihatnya dalam satu ruangan menjadikan mereka pusat perhatian karena tiba-tiba kehilangan cucu laki-lakinya.
"Sudah sayang, tenanglah. Cucu kita pasti akan segera ketemu. Mereka pasti akan menemukannya" ucap kakek tersebut pada istrinya mencoba menenangkan perasaannya.
"Bagaimana aku bisa tenang. Coba tadi kamu mendengarkan aku. Supaya aku lebih baik di rumah saja menjaga cucuku. Kamu tahu sendirikan cucu kita itu aktif luar biasa" ucap nenek tersebut sambil menangis.
"Sekarang bagaimana. Apa yang akan kita katakan pada anak dan menantu kita, nanti?" lanjut nenek tersebut merasa bingung dan bersalah.
Kemudian di saat kakek tersebut tidak dapat menjawab ucapan istrinya, ikut merasa bingung dan serba salah juga.
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang memanggil mereka dengan sebutan kakek dan nenek menghampiri mereka. Sontak membuat keduanya merasa senang dan kembali merasa lega.
"Kakek.... nenek..." teriak anak tersebut saat melihat nenek dan kakeknya.
Rupanya anak kecil tersebut anak kecil yang tengah di bawa Anita ke acara Alex dan kliennya tersebut.
"Hey tampan... Apa kau melihat orang tuamu di sini?" ucap Anita saat tiba-tiba mendengar anak kecil yang di bawanya berteriak memanggil nenek dan kakeknya.
Anak kecil tersebut segera mengangguk dan menarik tangan Anita yang masih di genggam anak itu dengan erat. Seolah anak tersebut tidak ingin melepaskan tangan penolongnya begitu saja.
Membuat Anita sedikit terkejut dan harus sedikit berlari mengikuti langkah anak kecil itu. Membuatnya mau tidak mau harus berhadapan dengan kakek dan nenek anak kecil tersebut.
"Nino... cucu nenek. Dari mana saja kamu, sayang. Kenapa kamu bisa pergi begitu saja. Nenek khawatir sama kamu" ucap neneknya sambil memeluk anak kecil tersebut yang di panggilnya Nino.
Namun ada yang menarik saat anak tersebut di peluk oleh neneknya sendiri, tampak dia tidak mau melepaskan tangan Anita begitu saja.
Membuat Anita merasa gugup saat berhadapan langsung dengan nenek dan kakeknya anak kecil tersebut.
"Nino siapa wanita cantik ini?" tanya nenek lembut sambil melepaskan pelukannya saat melihat Anita masih di genggam erat oleh tangan cucunya.
"Oh iya, nek. Ini peri penolongku. Tadi saat aku tidak tahu jalan pulang dan bersembunyi dari orang-orang jahat. Peri cantik ini berhasil menemukan aku dan sekarang membawaku pada nenek dan kakek" ucap anak kecil tersebut dengan polosnya sambil tetap memegang tangan Anita tidak berniat melepaskannya.
__ADS_1
"O ya.. Kalau begitu nenek dan kakek harus mengucapkan banyak terima kasih pada peri cantik ini" ucap nenek tersebut ikut senang mendengar ucapan cucunya tersebut.
Sementara itu Alex yang baru menyusulnya, berpura-pura tidak tahu saat melihat kakek anak tersebut ternyata kliennya sendiri.
"Tuan Adipati Xander?" tanya Alex memastikan pada kakek anak kecil tersebut yang berada di samping istrinya yang sedang berdiri sambil memegang bahu istrinya tersebut dan memperhatikan interaksi cucu kesayangannya dengan istri tercintanya.
Kemudian kakek tersebut melihat ke arah Alex dan mulai menghampirinya yang berada di samping Anita yang di kenalnya sebagai peri penolong cucunya.
"Oh ya benar. Tuan Alexander Wijaya?" ucap kakek Adipati memastikan juga, sambil memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alex.
"Maaf atas ketidak nyamanan ini" lanjut kakek Adipati merasa kurang sopan dengan apa yang tengah terjadi untuk menyambut Alex saat itu.
"Tidak perlu meminta maaf. Seharusnya saya yang meminta maaf karena sudah datang terlambat cukup lama" ucap Alex basa basi.
Padahal dia sudah tahu saat melihat anak kecil tadi berlari menghampiri kliennya tersebut. Anak kecil yang tadi di pikirnya sebagai pengganggu, kini membuat Alex berpikir sebaliknya.
"Oh iya, apa anda tidak jadi datang dengan keluarga anda?" ucap pak Adipati saat berpikir Alex datang sendiri ke acara makan malam tersebut tidak sesuai dengan apa yang di rencanakan sebelumnya.
"Tidak tuan. Saya datang berdua dengan istri saya" ucap Alex dengan yakin, tidak perduli Anita menanggapinya nanti seperti apa.
"Benarkah?" ucap kakek Adipati memastikan.
Seolah masih tidak terima, merasa kalah saing dengan anak kecil yang mendapatkan perhatian dari Anita, dan Alex tiba-tiba baru saja mendeklarasikan bahwa Anita adalah istri tercintanya.
Membuat Anita merasa tidak percaya dengan apa yang tengah di dengarnya. Sementara anak tersebut lagi-lagi menjulurkan lidahnya pada Alex saat dia mendapati Alex menatapnya.
Seolah anak tersebut tahu bahwa Alex sedang cemburu padanya, tiba-tiba dia mencium tangan Anita yang sedang berada di dalam genggamannya.
Sontak membuat Alex merasa tersulut emosi dan sesaat mengeluarkan matanya pada anak tersebut mencoba menakut-nakutinya namun tentu dengan tidak di sadari orang-orang di sekitarnya.
"Benarkah. Wah... ini suatu kebetulan yang luar biasa. Saya tidak menyangka, rupanya yang telah menolong cucu saya ternyata istri anda sendiri. Kalau begitu mari kita duduk dulu bersama-sama dan melanjutkan perbincangan ini di meja makan" ucap kakek Adipati merasa senang dan juga merasa tidak menyangka.
Kemudian merekapun segera duduk di kursinya masing-masing. Namun Nino yang masih tidak mau lepas dengan Anita meminta duduk di samping tempat duduk Anita.
Membuat mereka terlihat seperti seorang ibu dan anak yang tidak mau lepas dari jangkauan ibunya.
Membuat nenek dan kakek Nino takjub melihat kedekatan cucunya dengan Anita.
__ADS_1
Mereka berpikir mungkin karena Nino kurang kasih sayang dari ibunya, yang selama ini ikut sibuk, menjalani karirnya sendiri sebagai model internasional. Sehingga membuat Nino kurang mendapatkan sentuhan kasih sayang seorang ibu.
Terlebih Nino lebih sering menghabiskan waktu bermainnya di rumah kakek dan neneknya.
"Oh iya maaf tuan Alex, kalau boleh tahu siapa nama istri anda ini?" ucap neneknya Nino terdengar halus dan lembut yang tadi belum sempat bertanya langsung pada Anita sendiri.
"Namanya Anita Alexander Wijaya, nyonya" ucap Alex terlihat meyakinkan sambil mengaitkan namanya penuh di ujung nama Anita.
Membuat Anita yang mendengarnya tidak bisa berkata-kata lagi. Meskipun dari pertama tadi bertemu dengan nenek dan kakeknya Nino, Anita hanya bisa diam, memperhatikan mereka dan sesekali hanya menanggapinya dengan senyuman.
Lagipula Anita juga bingung harus berkata apa, namun saat Anita di ajak berinteraksi oleh Nino, baru dia bersuara. Tanpa memperdulikan tanggapan orang-orang yang mendengar ataupun melihatnya.
"Nenek apa aku boleh meminta peri cantik untuk menyuapiku?" ucap Nino dengan wajah polosnya.
Membuat orang-orang yang berada di meja tersebut melihat ke arahnya dan juga Anita.
"Tentu saja sayang, tapi kamu juga harus meminta izin dulu pada peri cantik ini dan juga suaminya" ucap nenek penuh kelembutan meski hanya sekedar memberitahunya.
"Kalau begitu, peri cantik apa aku boleh meminta untuk di suapi?" tanya Nino dengan wajah polos dan senyuman yang menggemaskan pada Anita.
"Tentu saja sayang" ucap Anita lembut.
"Pada Om Alex belum!" ucap kakek memberitahu Nino.
"Tidak.. Aku tidak mau bicara dengannya" ucap Nino tidak mau di paksa sambil menyilangkan kedua tangannya di samping Anita juga tidak lupa dengan bibir manyun menggemaskannya.
"Ya sudah kalau Nino tidak mau, lebih baik sekarang Nino makan dulu saja, ya" ucap Anita mencoba menenangkan kembali anak tersebut, meski ekspresi wajahnya membuat Anita merasa gemas melihatnya.
"Mohon maaf tuan Alex. Mohon untuk di maklumi tingkah laku cucu saya ini" ucap kakek merasa tidak enak hati dengan sikap cucunya tersebut. Namun tetap berusaha tersenyum pada Alex.
"Tidak apa-apa tuan Adipati. Namanya juga anak kecil, saya dapat memakluminya" ucap Alex berpura-pura memaklumi kenakalan anak kecil tersebut.
"Kalau begitu lebih baik kita pindah meja dulu untuk membicarakan kerjasama perusahaan kita lebih lanjut. Bagaimana?" ucap kakek Adipati menawarkan.
"Baiklah kalau begitu. Mari, silahkan, tuan" ucap Alex menanggapinya.
Kemudian mereka berdua segera bangkit dari tempat duduk sebelumnya dan berpindah meja supaya lebih fokus membicarakan kerjasama yang akan mereka jalin.
__ADS_1
Sementara itu Anita terlihat dekat dengan Nino sambil menyuapinya dengan tenang.
Membuat neneknya Nino terkesan dengan apa yang tengah di lakukan Anita terhadap cucu kesayangannya tersebut.