
Anita mulai bingung dengan alasan apa yang harus dia ucapkan. Dia sendiri sudah terlanjur mengatakan bahwa dia sudah tidak punya keluarga dan yatim piatu saat wawancara kerja, ntah kenapa dia harus mengatakan hal itu saat wawancara berlangsung. Sementara dia masih punya nenek yang jauh dari jangkauan nya.
Meskipun selama ini Anita masih sering mengirimi neneknya uang lewat pos, setiap kali dia menerima gaji.
Kini hal itu membuat nya terjebak tidak dapat mengatakan alasan sebenarnya untuk siapa uang tersebut. Jika Anita mengatakan nya untuk nenek, tentu hal itu akan membuat mantan manager nya kembali bertanya-tanya lagi, kenapa Anita harus berbohong mengenai keluarga yang sebelumnya Anita bilang sudah tidak memiliki keluarga dan hidup sendiri.
"Anita... aku tanya untuk apa uang sebanyak itu kau gunakan" ucap Anto sedikit meninggikan suaranya hingga membuyarkan lamunan Anita. "Itu.... Maaf pak, saya tidak bisa mengatakan alasan nya pada bapak. Tapi saya benar-benar membutuhkan uang itu dan saya janji saya pasti akan membayar nya pak" ucap Anita sungguh-sungguh berusaha meyakinkan mantan manager nya tersebut.
"Maaf Anita. Jika kamu tidak bisa memberi ku alasan yang tepat, aku tidak bisa memberikan pinjaman sebanyak itu padamu dengan cuma-cuma" ucap Anto dengan nada sedikit rendah.
"Ta.. tapi pak. Saya mohon. Saya sangat membutuhkan uang itu" ucap Anita memohon. "Kalau begitu katakan alasannya dengan benar" ucap Anto pada Anita yang membuat nya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Sementara orang yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka, menunggu di balik pintu ruangan manager, terlihat seringai di bibirnya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu seraya berkata "dasar gadis bodoh" cibir orang tersebut sambil memandang Anita tanpa disadari oleh Anto dan Anita.
Ternyata orang di balik pintu tersebut adalah Alexander Wijaya, yang hendak menemui manager Anto untuk menanyakan perkembangan kafe tersebut. Namun tanpa di duga Alex bertemu dengan orang yang beberapa terakhir ini membuat nya kesal dan uring-uringan sendiri, yang membuat Alex berniat untuk membalas nya saat dia bertemu kembali. Dan saat itu adalah dimana Alex bertemu kembali dengan Anita.
__ADS_1
Kemudian terdengar Anto berbicara kembali pada Anita "Kalau kau masih tidak bisa mengatakan alasan nya. Maaf Anita.. Silahkan pergi, aku masih punya banyak urusan yang harus aku selesaikan" ucap Anto tega dan terpaksa, sehingga membuat Alex yang mendengarnya, yang berada dibalik pintu tersebut segera menutup pintu pelan dan pergi. Kemudian Anita pun terpaksa harus pergi dengan tangan kosong dan hati yang kecewa.
Setelah Anita menutup pintu, perlahan dia berjalan tak bersemangat dan berbicara sendiri, beruntung tidak ada orang yang lalu lalang di tempat tersebut sehingga tidak ada yang menganggap nya gila karena berbicara sendiri.
"Ya Tuhan bagaimana ini. Bagaimana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya" ucap Anita bingung pada diri sendiri "Lalu... kemana lagi aku harus meminjam uangnya" lanjut Anita dengan menengadah ke atas seolah meminta jawaban dari langit.
Tiba-tiba setelah Anita memohon pada Tuhannya, secara kebetulan ada suara jawaban yang seketika membuat Anita merasa kaget dan bertanya-tanya.
"Aku bisa membantu mu" ucap suara yang membuat Anita sedikit takut dan kaget, yang ntah darimana suara itu berasal. "su.. suara siapa itu. Bagaimana mungkin siang hari begini ada hantu" ucap Anita pelan, terbata-bata memelankan suaranya sambil celingak-celinguk mengedarkan pandangannya, namun tidak ada yang dilihat. "He..hey... jangan co..coba-coba menakuti ku. Keluar kalau kau memang manusia" ucap Anita terbata-bata menahan rasa takutnya.
"Selain ceroboh, ternyata kau gadis penakut juga ya" ucap sinis suara tersebut "hemm.. dasar bocil" lanjutnya sambil tersenyum sinis dengan tangan menyilang di dada dan bahu menyender ke tembok.
Setelah sadar, perlahan Anita berjalan menuju arah suara tersebut, memastikan kecurigaannya sambil mendekatkan tubuh pada tembok di sampingnya, merasa takut.
Kemudian melihat belokan di arah kanan yang belum dia lewati sebelumnya. Dan benar saja dugaan nya, setelah melihat orang tersebut dan berkata "an..da" ucap Anita sambil menunjuk ke orang tersebut yang ternyata adalah Alexander Wijaya "apa maksud anda, bukan nya anda sudah memecat saya" lanjut Anita, sambil bersikap biasa saja yang sebelumnya merasa takut.
__ADS_1
"Aku tahu itu. Tapi bukan berarti aku tidak bisa membantu mu, bukan" ucap Alex dengan senyum sinisnya sambil berjalan ke arah Anita.
Namun bukan nya Anita merasa senang, tapi malah curiga dengan niat Alex yang ingin membantunya seraya berkata dalam hati "kenapa dengan orang tua ini. Apa dia salah minum obat" ucap Anita ngawur dengan raut wajah bingung yang memperlihat kan dahinya berkerut "aku curiga dengan pak tua bangka ini, pasti dia menginginkan sesuatu dari ku" lanjut Anita merasa ngeri, sambil menutup dada dengan kedua tangan nya silang, memikirkan yang tidak-tidak.
Alex yang melihat raut wajah dan dada Anita yang tiba-tiba di tutup kedua tangan nya tersebut, perlahan terus mendekati Anita yang membuat Anita ikut melangkah mundur sambil tetap menutup dadanya erat lalu terhenti oleh tembok di belakang nya hingga membuat jarak di antara mereka begitu dekat.
Kemudian Alex berkata pada Anita yang sedang terlihat gerogi menelan salipanya cepat, saat wajah Alex semakin mendekati wajahnya hingga memperlihatkan wajah tampan Alex di matanya namun membuat Anita harus mendongak karna selisih tinggi di antara mereka cukup jauh "kau jangan berpikir yang tidak-tidak" ucap Alex di wajah Anita "aku tidak selera dengan gadis bocil seperti mu" lanjut Alex seolah tahu apa yang di pikir kan Anita tentang nya dan memberi kesan tatapan yang seolah tidak suka, dari ujung kaki sampai ujung kepala Anita.
Anita yang mendengar hinaan itu, seketika membuat matanya tajam, kesal, merasa terhina namun hanya bisa berkata dalam hati "sialan pak tua ini, seenaknya saja bicara. Dia pikir, dia yang paling hebat dan paling kuat.. e..e..ehh Kenapa aku jadi ingat lirik lagu begini" ucap Anita berimprovisasi sendiri dalam gurauan nya. "Dasar tua bangka, sok keren, sok ke gantengan. Dikiranya semua gadis dan wanita akan terpikat oleh nya, apa" lanjut Anita kesal, sambil memperlihatkan wajah kesal Anita pada Alex.
"Tentu saja. Jika aku mau, semua wanita dewasa dan gadis bocil seperti mu bisa saja aku dapatkan dengan mudah. Tapi aku tidak butuh semua itu" ucap Alex sombong seolah dapat mendengar apa yang Anita ucapkan dalam hati sehingga membuat Anita terperangah mendengar nya. "Astaga... Apa dia memiliki indra ke enam" tanya Anita dalam hati merasa heran, bagaimana perkataan dalam hatinya bisa di jawab oleh Alex. Namun itupun tidak di sadari oleh Alex sendiri.
"Cukup Tuan" ucap Anita menghentikan kesombongan Alex memikat para wanita "saya tahu tuan, anda orang kaya dan berwajah tampan" lanjut Anita merasa tidak selera untuk mendengarkan kenarsisan Alex, menurut nya "juga tua-tua keladi, makin tua makin menjadi" sesaat melanjutkan ejekan nya untuk Alex dalam hati , "tapi maaf, saya tidak butuh bantuan anda. jadi.. tolong menyingkir dari hadapan saya" ucap Anita tanpa menyembunyikan kekesalannya.
"Kurang ajar. Beraninya gadis bocil ini bersikap seperti itu pada aku. Apa dia belum tahu siapa aku" kesal Alex dalam hati, merasa terhina dengan sikap Anita tersebut "tenang Alex... tenang. Kau harus tenang menghadapi kucing kecil seperti dia ini. Kau harus bersikap baik, agar dia bisa masuk dalam perangkap mu dan dengan begitu kau bisa membalaskan dendam mu pada nya" ucap Alex dalam hati menenangkan pikiran nya sendiri.
__ADS_1
"Ok... baiklah kalau memang begitu. Aku tidak akan memaksa" ucap Alex sambil membuka jalan untuk Anita lewat "Tapi apa kau yakin, kau akan segera mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat. Jika kau mau, saat ini juga aku bisa memberikan nya padamu" lanjut Alex membuat langkah Anita terhenti dan berbalik merasa heran karna Alex mengetahui permasalahan nya saat ini.
"Bagaimana Anda tahu saya sedang membutuhkan banyak uang" ucap Anita heran "Oh... selain anda pria tua yang sok kegantengan anda ternyata tukang nguping juga ya. Gak nyangka orang terhormat seperti Anda, Alexander Wijaya tukang nguping pembicaraan karyawan nya sendiri" lanjut Anita sinis menerka-nerka, membuat Alex yang mendengar nya terlihat bertambah kesal dan semakin terhina "tapi maaf tuan. Sekali lagi saya katakan, saya tidak butuh bantuan anda" ucap Anita menegaskan tidak membutuhkan bantuan dari Alex sambil berlalu pergi meninggalkan Alex sendiri dengan perasaan terhinanya.