Jodohku Ayah Sahabatku

Jodohku Ayah Sahabatku
Kaget


__ADS_3

Kemudian setelah itu Anita berniat untuk mengambil handphonenya yang di sita oleh Alex.


"Maaf tuan" ucap Anita hendak meminta handphonenya dari Alex.


"Apalagi?" pekik Alex bertanya pada Anita dengan sedikit nada tinggi.


"I...itu tuan. Bisakah tuan mengembalikan handphone saya" pinta Anita dengan sedikit terbata-bata, merasa takut dengan auranya.


Lalu dengan sedikit malu-malu dan merasa takut ketahuan apa yang di lakukannya pada handphone Anita, Alex segera mengembalikan handphone tersebut kepada Anita.


Meskipun, Alex nampak terlihat panik namun tanpa disadari oleh Anita saat mengembalikan handphone tersebut, takut ketahuan bahwa dirinya sudah melihat-lihat handphone milik Anita tanpa seizin pemiliknya.


"Terima kasih, tuan" ucap Anita sambil menerima handphonenya kembali dan segera pergi hendak meninggalkan Alex di ruangannya.


"Tunggu" pinta Alex saat Anita hendak berjalan meninggalkannya.


"Iya tuan. Apa ada yang lainnya, yang tuan inginkan?" tanya Anita saat sudah berbalik menghadap Alex.


"Tentu saja" ucap Alex menanggapi pertanyaan Anita padanya.


"Aku ingin nanti malam, kau yang memasak untukku. Mengerti!" lanjut Alex mengatakan keinginannnya pada Anita.


"Baik tuan" ucap Anita menanggapinya.


"Baiklah. Sekarang kau boleh pergi dari hadapan ku" ucap Alex kemudian membiarkan Anita untuk keluar dari ruangannya sambil menggerakkan telunjuknya, menyuruh Anita pergi.


Setelah itu Anitapun benar-benar pergi dari ruangan Alex.


Tanpa harus melewati tatapan sinis Sonia.


Entah kemana Sonia pergi, padahal saat itu sudah beberapa kali Anita melewati bangku Sonia.


Kemudian setelah itu, Anita sudah berada di luar perusahaan Alex.


Anita sedang menunggu sopir yang bernama pak Amin membawa mobilnya. Sementara dia sendiri menunggu di depan perusahaan Alex.


Lalu pak Amin pun datang dan segera membawa Anita pulang ke rumah tuannya.


Di tengah perjalanan Anita tiba-tiba teringat pada Raja. Dia berniat untuk menelpon Raja kembali. Anita merasa tidak enak hati karena tadi sudah memutuskan telponnya begitu saja, meskipun yang melakukannya adalah Alex.


Tapi tetap saja Anita merasa perlu meminta maaf langsung pada Raja.


Di bukanya handphone miliknya sendiri, namun pada saat Anita membuka handphonenya dan mencari nama kontak Raja yang bertuliskan Azza mendadak tidak ada, hilang entah siapa yang melakukannya.


"Lah... kok gak ada. Perasaan tadi habis menelpon Azza. Bagaimana bisa tiba-tiba hilang begini nomor kontaknya" ucap Anita merasa kaget, saat melihat nomor kontak Raja sudah tidak ada di daftar kontaknya.


"Bagaimana ini. Mana aku tidak menghafal nomor kontaknya" ucap Anita merasa bingung saat dia menyadari dirinya tidak dapat menghafal nomor kontak Raja.


"Tapi siapa yang sudah berani mengotak-atik handphoneku" tanya Anita pada dirinya sendiri, sambil berusaha mengingat-ngingat siapa yang sanggup dan berani mengotak-atik handphone miliknya.


Kemudian Anita teringat sesuatu, yang mana handphonenya tadi sempat di pegang oleh Alex. Anita kemudian mulai mencurigai Alex sebagai pelakunya, yang telah mengotak-atik handphonenya tersebut

__ADS_1


"Apa?" ucap Anita saat menyadari bahwa yang terakhir kali memegang handphonenya adalah Alex.


"Aku tahu sekarang. Pasti si tua bangka itu yang sudah lancang mengotak-atik handphone milikku" ucap Anita merasa yakin siapa yang telah berani melakukannya.


"Tapi kenapa dia melakukannya. Apa haknya dia melakukan hal itu dan menghapus nomor kontak Raja dari handphone ku" ucap Anita merasa heran, kenapa Alex berani melakukan hal tersebut.


"Ya Tuhan.... Lolita... Aku benar-benar tidak habis pikir dengan bapakmu itu. Sebenarnya apa maksudnya dia melakukan ini semua" ucap Anita merasa bingung dengan bapak sahabatnya tersebut.


Kemudian pak Amin yang sedang fokus mengendarai mobil, sesaat merasa bingung saat tanpa sengaja melihat Anita seolah sedang berbicara sendiri dengan mimik wajah yang berbeda-beda dari balik kaca spion.


"Non... Apa non Anita baik-baik saja?" tanya pak Amin sambil mengendarai mobil tersebut dengan fokus.


"Sepertinya bapak lihat, non komat kamit sendiri. Apa non tidak kenapa-kenapa?" ucap pak Amin merasa penasaran.


"Tidak pak. Saya baik-baik saja. Saya habis nonton video di handphone, ceritanya bikin saya gemes jadi komat kamit sendiri" ucap Anita sedikit berbohong di akhiri dengan senyum yang terlihat di paksakan. Merasa malu ketahuan berbicara sendiri.


Kemudian pak Amin pun fokus kembali pada jalan di hadapannya.


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di rumah yang di tuju.


Pak Amin segera hendak membukakan pintu mobil untuk membantu Anita keluar.


Namun Anita yang merasa tidak enak hati segera menarik pintu mobil tersebut dan menurunkan kacanya agar dapat berbicara pada pak Amin.


"Enggak usah pak Amin, saya bisa sendiri" ucap Anita sambil menarik gagang pintu mobil tersebut saat melihat pak Amin sudah berada di depan pintu mobilnya.


"Tidak apa-apa, non. Biar saya bantu buka saja" ucap pak Amin berusaha untuk membuka pintu mobil tersebut.


"Jangan pak Amin, biar saya lakukan sendiri. Pak Amin tidak perlu memperlakukan saya seperti ini. Saya disini juga sama seperti pak Amin" ucap Anita merasa tidak enak hati di perlakukan seperti nyonya rumah.


"Tidak apa-apa, non. Biar saya bantu"


"Tida usah pak Amin"


"Gak apa-apa, non Anita"


Keduanya tidak mau mengalah, membuat mereka terlihat saling tarik menarik pintu mobil tersebut.


Hingga akhirnya Anita tidak sengaja melepaskan pegangan pintu mobil tersebut dan pas saat pak Amin terus berusaha membuka pintu mobil, membuat pak Amin tidak sengaja terjantuh ke lantai.


Anita yang melihatnya, segera keluar dari dalam mobil dan membantu pak Amin yang sudah tua itu kembali berdiri. Membuat Anita merasa bersalah kemudian meminta maaf padanya.


"Tuh kan pak Amin jadinya jatuh. Pak Amin baik-baik aja kan" ucap Anita terlihat khawatir dan merasa bersalah sambil membantu pak Amin untuk berdiri kembali.


"Maaf pak Amin saya gak sengaja" ucap Anita tulus, merasa bersalah telah membuat orang tua jatuh tersungkur kelantai.


"Tidak apa-apa non. Saya baik-baik a... aa... aww" ucap pak Amin tidak ingin membuat Anita merasa khawatir, tapi encok pak Amin berkata lain.


Membuat pak Amin langsung memegang encoknya yang terasa sakit.


"Pak Amin yakin gak apa-apa?" ucap Anita tambah khawatir saat melihat pak Amin tiba-tiba kesakitan.

__ADS_1


"Iya non. Bapak baik-baik saja. Ini mah udah biasa. Nanti minum jamu langsung segeran lagi" ucap pak Amin meyakinkan, tidak ingin membuat Anita merasa khawatir dan tidak ingin merepotkannya.


"Ya sudah kalau begitu bapak masuk dulu kedalam, ya. Nanti saya buatkan jamu yang biasa bapak minum" ucap Anita tidak ingin pak Amin kenapa-napa.


"Tidak usah non. Nanti saya minta Mbo Inah untuk membuatkannya" tolak pak Amin merasa tidak enak hati.


"Pak Amin... sudah cukup. Jangan ngebantah lagi. Biar saya nanti yang bikinin" ucap Anita tegas, seperti anak pada bapaknya tidak ingin terjadi sesuatu. Sehingga membuat pak Amin akhirnya mengalah juga.


Setelah itu Anita segera menuntun pak Amin untuk masuk kedalam untuk membuatkannya jamu, Anita menyuruh pak Amin untuk duduk dulu di kursi yang berada di dapur.


Kemudian setelah Anita selesai membuatkan pak Amin jamu, sambil ngobrol Anita mulai menyiapkan bahan makanan untuk sebentar lagi dia masak.


Namun sebelum Anita masak, Anita bertanya pada pak Amin tentang Alex dan sedikit curhat tentang unek-uneknya mengenai tuan Alex pada pak Amin.


"Ini pak jamunya. Bapak minum dulu habisin disini. Saya sambil nyiapin bahan-bahan dulu buat masak makan malam nanti, ya" ucap Anita pada pak Amin setelah membuatkannya jamu.


"Loh kok non yang masak, bukannya Mbo Inah yang biasa masak?" ucap pak Amin dan sedikit bertanya.


"Iya gak apa-apa, pak. Soalnya tuan Alex yang minta sendiri. Dia nyuruh saya buat masakin makan malam buatnya" ucap Anita menjelaskan dengan tutur katanya yang lembut.


"Oh iya pak. Menurut bapak tuan Alex itu seperti apa?" tanya Anita penasaran dengan pendapat pak Amin tentang Alex.


"Kenapa non Anita nanya seperti itu?" ucap pak Amin malah balik bertanya.


"Enggak apa-apa sih, pak. Pengen tahu aja" ucap Anita meyakinkan.


"Oh... Kalau menurut bapak mah. Tuan Alex baik, dia juga sangat menyayangi anaknya non Lolita. Tuan Alex sampai tidak mau menikah lagi, gara-gara takut. Kalau-kalau istrinya nanti tidak bisa baik pada anaknya, non Lolita" ucap pak Amin jujur, tanpa sadar membuat Anita merasa terkesan dan tersentuh dengan apa yang di katakan pak Amin tentang Alex.


"Tapi memang. Tuan Alex agak pemarah kalau melihat karyawannya bekerja tidak sesuai dengan yang dia mau. Tapi kalau bapak sih sudah maklum dengan sikapnya yang seperti itu" lanjut pak Amin bercerita tentang tuannya tersebut.


Namun hal itu malah membuat Anita bersemangat untuk mengeluarkan unek-uneknya tentang Alex saat bercerita pada pak Amin.


"Iya bener itu, pak. Tuan Alex itu memang benar-benar pemarah" ucap Anita merasa bersemangat.


"Saya benar-benar heran. Bisa-bisanya Lolita punya bapak kaya tuan Alex itu. Pada hal yang saya tahu Lolita itu manja dan penyayang beda banget sama bapaknya" lanjut Anita mengeluarkan unek-uneknya sambil membersihkan sayuran yang hendak di masak olehnya.


Sementara itu pak Amin hanya mendengarkan dan meminum jamunya yang sudah mulai dingin.


Namun saat Anita mulai berkata lagi dan masih mengeluarkan unek-uneknya tanpa Anita sadari orang yang sedang di omongin sudah berada di belakangnya.


Dan pas banget saat Anita membicarakan ke keburukan Alex, tanpa Alex mendengar cerita tentang Lolita sebelumnya.


"Sementara tuan Alex itu dikit-dikit marah, dikit-dikit ngebentak. Udah gitu dia kalau nyuruh suka seenaknya, sesuka hatinya. Pokoknya nyebelin banget deh, pak. Bener gak pak?" ucap Anita melanjutkan unek-uneknya sambil tetap mencuci sayurannya di wetafel dapur.


Sementara pak Amin yang hendak menghabiskan jamunya, merasa kaget saat melihat bos besarnya sudah berada di hadapannya, di depan meja dapur dan mendengarkan unek-unek Anita tersebut.


Kemudian tanpa berbicara Alex menyuruh pak Amin untuk segera pergi meninggalkan dapur tersebut.


Lalu pak Amin pun mengangguk dengan wajah takutnya dan diam-diam meninggalkan Anita yang sedang berbicara sendiri dengan Alex.


Kemudian saat pak Amin keluar dari dapur, pak Amin bertemu dengan Mbo Inah yang hendak ke dapur menyiapkan bahan makanan. Namun segera pak Amin melarang Mbo Inah untuk pergi ke dapur dan menceritakan alasannya.

__ADS_1


Sementara Anita yang masih bicara dan tidak mendengar jawaban dari pak Amin merasa heran dan segera berbalik untuk melihatnya.


Namun saat Anita berbalik malah membuatnya kaget dan berteriak saat melihat Alex sudah berada dekat di hadapannya.


__ADS_2